Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2011

Serasi Tidak Harus Sama

Tadi saat saya sedang mengumpulkan konsentrasi untuk belajar, tiba-tiba saya teringat sepasang suami-istri yang dulu pernah saya lihat ketika sedang jalan di mal. Saat itu saya kasihan sekali dengan si Bapak yang waktu itu 'hanya' memakai kaos oblong dengan celana panjang dan sepatu sandal. Si Bapak terlihat kumus-kumus, begitu juga dengan anak laki-lakinya yang masih kecil yang saat itu ikut bersama mereka. Sedangkan, si Ibu tampil modis, dengan kulitnya yang sangat terawat, wajahnya yang full make up, bajunya dress terusan sedikit mini. Can you imagine how contrarily is it?
Nah, saya jadi ingin membahas tentang hal ini: keserasian. Menurut saya, serasi itu tidak harus sama. Misalnya memakai baju sarimbit, couple tee, dan sejenisnya. Ya, itu juga bisa dibilang serasi dan menurut saya lucu sih, keliatan kompak gitu kalau memakai baju kembaran dengan pasangan. Tapi apa iya kalau keluar dengan pasangan mesti memakai baju kembar? Tidak harus begitu juga, dong?
Bisa juga, kok, An…

Chapter 1 - ALAN

Hah, apa-apaan ini? Aku terpaksa mengikuti audisi semacam ini demi uang! Yah, tapi paling tidak ketampananku akan menunjang usahaku untuk menjadi artis. Yeah, aku harus bertahan untuk bergabung di antrian panjang ini. Hanya pekerjaan sebagai artis yang tidak membutuhkan ijazah sekolah dan menghasilkan banyak uang,’ keluhku.
Aku melempar pandangan berkeliling area pendaftaran audisi yang penuh dengan manusia berpakaian heboh. Lalu aku menangkap sosok gadis berbalut gaun hijau dengan sepatu supertinggi. Rambutnya ikal dengan semburat kemerahan tampak indah di atas gaun hijaunya.
Ah, ternyata ada pemandangan menarik, nih. Cukup untuk membantuku mengusir rasa bosan mengantri.
Gadis itu tidak ikut mengantri, melainkan hanya menonton kami ribut mencari posisi antrian terdekat dengan meja registrasi. Pandangannya tampak sombong dan merendahkan. Lalu tiba-tiba mata kami bertemu. Matanya gelap dan dipenuhi kilau kepercayaan diri menatapku tertarik. Aku sangat terbiasa dengan tatapan seper…

Ada Apa dengan Lagu Anak-Anak?

Saya sering bertanya-tanya, kemana aja nih para artis cilik? Maksud saya di sini, bukan artis cilik di zaman dulu saya kecil, yang notabene mereka sudah eksis sebagai artis remaja atau dewasa. Tapi, maksud saya, artis cilik seperti zaman saya kecil dulu, yang suka menyanyi lagu anak-anak. Sepertinya, para penulis atau pencipta lagu sudah tidak lagi berminat untuk menciptakan lagu anak-anak. Mengapa? Apa karena pasarnya kurang menjanjikan? Atau karena lagu anak-anak sudah tidak menarik lagi?

Saya ingat sekali, dulu waktu saya masih kecil saya suka sekali sebuah 'girl-boyband' yang judulnya Trio Kwek-kwek. Bahkan pernah ikut pentas tari dengan lagu mereka ketika saya masih TK. [Saat itu] saya juga suka dengan artis cilik lainnya, seperti Joshua, Maissy, Sherina, dan lain-lain. Bahkan Susan, yang setelah saya besar saya baru tahu ternyata dia adalah boneka biasa. hehehe..

Saya masih sedikit ingat lirik lagu seperti ini, "Masih kecil ku ditimaang-timang, dinyanyikan lagu saya…

Chapter 1 - LUNA (2)

Taman Heatburn ramai sekali pagi ini. Walaupun audisi belum dibuka, sudah banyak orang yang hendak mengantri untuk ikut audisi. Aku melihat jam tangan, untuk mengecek berapa lama lagi audisi akan dibuka.
Hmm, masih 2  jam lagi baru audisi akan dimulai. Berdandan tidak akan memakan waktu selama itu. Berganti baju di mobil yang sepertinya akan sedikit sulit, tapi tidak akan memakan waktu terlalu lama juga. Ah, tapi bagaimana aku bisa menyela dalam kerumunan itu? Sungguh, aku benci mengantri apalagi cuaca hari ini panas sekali,’ aku menggerutu dalam hati.
Aku pindah ke kursi belakang yang memang sudah kumodifikasi untuk menjadi studio pribadiku dan memulai dengan mengganti bajuku. Beruntung kaca mobilku gelap sehingga tidak terlihat dari luar. Aku memulai ritual berdandanku. Pertama aku memakai alas bedak kemudian menumpuknya dengan bedak tabur. Aku mulai merias mata dan bibirku senada dengan warna pakaianku. Dari kaca besar yang terpasang di jendela mobil belakang, kulihat ini adalah…

Cara Meredam Amarah yang Tidak Perlu

Marah mungkin adalah emosi yang paling sering kita rasakan ketika kecewa terhadap sesuatu. Kita bisa saja merasa marah karena orang lain bersikap tidak sesuai dengan keinginan kita, karena sakit hati, tersinggung, dan lain sebagainya. Intinya, banyak sekali hal yang bisa menjadi alasan untuk kita marah.
Namun, yang saya bahas di sini adalah apakah ada kemarahan tanpa alasan? Mungkin secara logika, jawabannya tidak ada. Tapi ternyata, dalam kenyataan, ada lho orang marah tanpa alasan! Bagaimana itu bisa terjadi?
Alasan yang saya maksud di sini adalah alasan yang pantas untuk membuat seseorang marah. Nah, ternyata tanpa ada alasan seperti itu pun seseorang bisa marah lho.. Mungkin karena mood sedang tidak bagus, mungkin juga karenaa.. pengen aja marah. Lho??
Begini ceritanya, saya mengamati beberapa teman. Mereka sendiri yang bercerita kepada saya bahwa mereka suka marah dengan pacar mereka (masing-masing). Ketika saya tanya, apa alasan mereka marah? Mereka jawab, 'nggak tahu, peng…

Terlambat Lebih Baik Daripada Tidak Sama Sekali ??

Pepatah di atas telah sering kita dengar sejak kita kecil dulu. Mungkinkah karena pepatah itu jam karet masih tren banget di Indonesia?
Nah, sejak saya kuliah, nih, saya baru merasa bahwa pepatah populer itu telah mengakar kuat di pikiran mahasiswa. Dulu, waktu masih duduk di bangku sekolah, sejak TK sampai SMA, jam masuk sekolah ditentukan dan yang terlambat biasanya mendapat hukuman, minimal sanksi batin malu dengan teman-teman yang tidak terlambat. Tapi sejak kuliah, kan, jam masuk customized, dosen juga sudah menganggap mahasiswa sudah dewasa, sehingga masalah terlambat pun sudah jarang sekali diangkat ke permukaan.
Tapi tahukah kamu, ketika kamu terlambat kamu memaksa sekian puluh orang di kelas untuk tidak memperhatikan dosen selama sekian puluh detik? Saya, sebagai salah satu dari sekian puluh orang itu, sering merasa kesal ketika sudah mendapatkan feeling untuk memperhatikan dosen, lalu tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah mahasiswa [kadang berbondong-bondong] ke dalam kelas.…

3 Alasan Membaca Novel Versi Orisinal & Tipsnya

Mungkin beberapa teman saya sesama penggemar novel tahu bahwa saya lebih suka membaca novel versi asli, yang belum diterjemahkan. Mereka sering protes kenapa kok beli versi asli, bukan yang terjemahan saja? Jadi, supaya kamu bisa tertarik untuk mulai membaca versi asli sebuah buku, berikut ini beberapa sensasi yang saya rasakan ketika memilih membaca buku asli dibandingkan terjemahan:

1. Lebih Cepat Update

Alasan pertama saya lebih suka membeli novel versi asli adalah novel asli selalu terbit duluan. "Ya pastilah, namanya juga versi asli!" Eits, jangan sewot dulu. Maksud saya di sini, setelah pengamatan panjang saya, novel terjemahan terbit jauuuuh lebih lama daripada novel orisinilnya. Hal ini mungkin tidak berlaku untuk novel-novel hit semacam Harry Potter. Tapi saya sudah membuktikan bahwa novel orisinil terbit 1 tahun [bahkan lebih] lebih dulu sebelum terjemahannya. Jadi bisa dibayangkan, betapa updatenya Anda jika memilih membaca buku orisinil! Inilah hal yang paling sa…

CHAPTER 1 - DON

“Car, apa kau tidak berpikir Luna sedang menyembunyikan sesuatu? Apa kau tidak mendengar jantungnya berdegup begitu kencang? Dia mungkin sedang berbohong tadi. Mengapa kau mengijinkannya pergi begitu saja?” cecarku pada Carla, kesal.
“Don, kalau tadi kita menahannya lebih lama hanya untuk bertanya-tanya hal yang tidak penting, dia pasti akan terlambat berangkat ke sekolah. Lagipula, siapapun akan gugup ketika meminta ijin pada orangtuanya untuk pergi kencan PERTAMAnya. Tidakkah kau pikir sungguh menyenangkan dunia Luna saat ini? Jatuh cinta, seperti kita dulu,”  kata Carla sambil tersenyum lebar.
“Tapi kita tidak tahu seperti apa laki-laki itu. Kau yakin membiarkan Luna pergi dengan laki-laki yang bahkan wajahnya kita tidak tahu?” tanyaku masih khawatir.
“Kau tenang saja, Don. Luna akan baik-baik saja. Dia putri kita, bukan?” jawab Carla lembut seraya menggenggam tanganku.
Kalau sudah begini, bahkan kekhawatiran tingkat akut pun akan hilang dalam sekejap.’ Aku memandang Carla yang m…

Mari Berbagi Ilmu

Apakah kamu lebih suka menyimpan informasi untuk dirimu sendiri? Apakah kamu senang menjadi satu-satunya orang yang tahu segalanya? Jika iya, sebaiknya kamu mulai bertanya pada diri sendiri, benarkah kamu 'bahagia'?
Sering sekali saya jumpai teman-teman yang menyimpan informasi untuk dirinya sendiri. Sampai saya dan teman yang lain tahu tentang informasi yang dipendamnya, dia tidak pernah cerita dan kemudian dengan bangga bilang bahwa dia tahu sejak lama. Mungkin dia menganggap dengan begitu dia terlihat update dengan informasi dan tahu segala hal. Tapi tahukah kamu bahwa saat kamu bersikap demikian, orang-orang di sekitarmu akan sakit hati? Tahukah kamu bahwa selanjutnya teman-temanmu akan merasa malas untuk memberimu informasi juga? Padahal adalah tidak mungkin bagimu untuk selalu tahu segala hal.
Ketika kamu mengucapkan kata-kata sakti untuk show off bahwa kamu tahu (seperti: iya emang, aku udah tahu kok. Udah dari kemaren tau ada berita itu..), orang yang berbicara dengan…

CHAPTER 1 - LUNA

Kriiiiiiiingg........ Suara alarm berbunyi nyaring mengganggu tidurku.
Ah, pagi sudah datang dan aku harus berangkat ke sekolah. Malas sekali. Mengapa harus ada hari Senin? Mengapa harus ada sekolah? Pada akhirnya pun aku tidak akan membutuhkan semua nilai itu setelah lulus. Bukankah untuk menjadi seorang model tidak memerlukan nilai ujian matematika, bahasa inggris, sains, dan semua pelajaran tolol itu? Ah, tapi bagaimanapun aku tetap terjebak dalam semua ketidakperluan itu dan harus mendapat nilai bagus supaya ayah dan ibu mau memberi uang saku,’ pikirku sambil menggeliat malas di tempat tidurku yang hangat.
“Luna! Ayo cepat bangun! Kau akan terlambat!” suara ibu yang nyaring menembus pintu kamarku. Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur yang nyaman dan keluar kamar untuk ikut sarapan bersama. Aku melihat ibu sedang di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Senandung lirih sedikit terdengar dari mulutnya, tapi aku tidak tahu dia menyanyikan lagu apa. Aku hanya bisa melihat b…

Tentang Cita-Cita dan Masa Depan

Topik di atas adalah topik yang dilematis sekali bagi saya. Sejak dulu saat baru lulus SMA hingga sekarang saya lebih suka menjawab pekerjaan apa aja yang penting nyantai, tidak terikat waktu, jadi mudah untuk jadi part-timer sebagai ibu rumah tangga (#ehh?). Tapi, pekerjaan seperti apakah yang seperti itu? Dimana-mana, yang namanya bekerja yaa harus keras, disiplin, apalagi di zaman sekarang ini dimana sulit sekali mencari sesuap nasi untuk keluarga. Hehe..
Dulu sekali, ketika saya masih SD, orang tua saya suka menasehati saya supaya rajin belajar, jadi pintar, supaya nanti saya tidak perlu mencari kerja, tapi pekerjaan yang mencari saya. Saya baru paham sekarang, kalau sebagai manusia, kita harus punyadiferensiasi, sesuatu keunikan yang tidak dimiliki orang lain, sehingga akan membuat kita dibutuhkan. Sama dengan sebuah produk, dimana setiap produk harus mempunyai kelebihan supaya konsumen mau membelinya. Untuk mendapatkan diferensiasi itu, kita harus memiliki keahlian yang bisa …

4 Langkah Mudah Membersihkan Wajah

Dulu, zaman saya masih SD-SMP, rasanya tidak pernah tuh bingung masalah kecantikan, kesehatan kulit, dan tetek-bengeknya. Waktu itu tiap pergi keluar rumah paling-paling pakai pelembab saja, padahal aktivitas di luar ruangan banyak sekali dan berlangsung sampai sore. Tapi masalah wajah seperti jerawat, muka gosong, dan lain-lain tidak pernah dipikirkan. Beda banget sama anak SD-SMP zaman sekarang yang udah perhatian sekali dengan hal-hal terkait kecantikan.Karena perkembangan zaman kah?
Well, menurut saya pribadi sih justru lebih baik mulai memperhatikan masalah kulit sejak dini, asal jangan berlebihan. Kalau anak umur belasan aja yang wajib ya sunblock dan bersihin muka baik-baik. Mereka masih belum perlu facial, apalagi peeling dan hal-hal semacamnya. Nah, kalau umur sudah mulai masuk kepala dua, baru deh boleh lebih lagi perawatannya. Apalagi biasanya umur kepala dua ini cewek-cewek lagi suka-sukanya melakukan eksperimen ke wajahnya. Jadi, perawatannya pun harus lebih ekstra juga.

Prolog - CARLA

Carla tersentak lemas begitu bayinya berhasil dia lahirkan. 'Sungguh rasanya sakit, tapi semua kesakitan itu terbayar begitu aku melihat bayiku lahir dengan selamat,' pikirnya.
“Nyonya, bayi Anda perempuan,” ucap dokter sambil menyerahkan bayi itu pada Carla. Carla memeluknya. Bayi itu sangat kecil, sangat tidak berdaya. Suara tangisnya pelan, kedengarannya seperti tangisan manja.
Cantik sekali. Banyak sekali pujian yang ingin kuberikan padamu, tapi aku kehabisan kata-kata saking bahagianya aku melihatmu. Selamat datang di dunia, Putriku yang cantik,’ ucap Carla dalam hati. Dia kehabisan tenaga, bahkan untuk berbicara pun dia tak mampu. Lalu tiba-tiba semua terasa gelap dan dia merasakan bayinya diambil dari pelukannya. Tangannya kosong dan suster-suster berseliweran di sekitarnya, sibuk membersihkan sisa-sisa persalinan. Carla merasakan semua kesibukan itu dan juga merasakan ketika tempat tidurnya didorong. Dia ingin tahu akan dibawa kemana dan oleh siapa dia dibawa. Dia ju…

Berhijab yang Syari, yuk!

Hijab, atau mungkin ada yang menyebutnya jilbab atau baju muslimah, akhir-akhir ini sedang populer sekali di kalangan muslimah Indonesia. Hal ini cukup menggembirakan mengingat zaman dulu, ibu-ibu kita sulit sekali memakai jilbab. Bukan karena faktor internal, tapi faktor eksternal seperti peraturan di tempat kerja, pandangan masyarakat umum dan lain-lain yang umumnya menjadi penghalang. Bahkan dulu sering saya dengar bahwa sebaiknya wanita baru berhijab setelah menikah saja, atau paling tidak setelah sudah dapat kerja. Why?

Ternyata hal ini tidak lain karena masih adanya anggapan bahwa hijab akan menghalangi seseorang untuk berkarir. Laki-laki pun akan menjadi tidak tertarik dengan wanita yang berpakaian tertutup dan hanya tampak wajah dan telapak tangan. Padahal, bukankah kita ingin agar perusahaan menilai kita dari kompetensi kita, bukannya dari penampilan fisik kita? Dan bukankah kita ingin calon suami memilih kita karena hati dan kepribadian kita, bukannya dari keseksian …

Prolog - DON

“Tuan Araun, istri Anda melahirkan bayi perempuan. Apakah Anda ingin menggendongnya sebentar sebelum dibawa ke ruang bayi?” tanya suster rumah sakit mengejutkan Don yang sedang terkantuk-kantuk di ruang tunggu operasi.
“Ya, tentu saja,” jawab Don Araun sambil bergegas berdiri, menerima sebuntal selimut berwarna merah yang diulurkan oleh suster.
Kecil sekali kau, Nak? Apa kau kekurangan makan selama dalam kandungan ibumu? Ah, kulihat kulit putihmu dan hidungmu yang mancung mirip dengan kulit dan hidungku, tapi rambutmu ikal kemerahan persis seperti ibumu. Begitu juga bibir mungilmu. Sayang sekali aku belum bisa melihat matamu,” pikir Don sambil menggendong putri pertamanya yang sedang tidur nyenyak. Sudah lama Don menantikan saat-saat ini, menggendong bayi yang telah dia tunggu kehadirannya selama lima tahun pernikahannya dengan istrinya.
“Tuan Araun, maaf, bayi Anda harus segera dibawa ke ruang bayi sekarang,” kata suster, tepat ketika pintu masuk ruang tunggu menjeblak …

Cara agar Tidak Menjadi Korban Mode

[PROLOG] Hari itu saya memang berencana pergi ke mall untuk mencari sepatu baru. Kenapa saya memilih mall? Karena di sana banyak toko dan banyak pilihan sehingga saya bebas memilih mana sepatu yang cocok di mata,cocok di kaki dan cocok di kantong. Pada intinya, ya karena di mall banyak pilihan baik dari sisi model, brand, hingga harga. [Perlu diketahui, saya bukan tipe customer yang brand-minded. Saya selalu beli barang karena saya suka dan harganya cocok di kantong dan cocok dengan kualitasnya.] Berhubung kebetulan saat itu tidak ada sepatu di department store, tempat biasanya saya belanja, yang cocok di hati akhirnya saya memutuskan untuk mencari di gerai sepatu 'luar', yang biasanya harganya lumayan 'menohok'. Tapi tak apalah, membeli sepatu bukan hal yang saya lakukan sebulan atau dua bulan sekali jadi anggap saja beli sepatu hari ini yang agak 'di luar kebiasaan' sebagai investasi beberapa bulan ke depan. Lagipula sepatu saya yang lama memang suda…