Zaman Dulu, Zaman Sekarang

Beberapa bulan yang lalu, saya kaget karena tiba" digit pertama umur saya sudah berubah.. Sungguh tidak terasa waktu berjalan..

Saya ingat, dulu ketika saya masih kecil, saya ingin sekali segera dewasa, tumbuh besar, tinggi, pokoknya pengen cepat-cepat besar deh. Alasan saya saat itu adalah karena saya ingin segera bisa ikut dandan pakai lipstik seperti ibu saya, memakai sepatu berhak seperti ibu saya, memakai pakaian seperti orang dewasa, dan lain-lain. Begitu pula dengan adik saya. Di usia yang terpaut jauh dengan saya, dia sudah mengerti bagaimana berdandan. Berbeda dengan saya, yang dulu hanya asal mencoreng-coreng mata,pipi dan bibir pakai lipstik milik ibu, adik saya sudah tahu apa dan bagaimana menggunakan alat-alat make up seperti foundation,eyeshadow, blush on, lipstik,mascara, dan lain-lain. Mungkin karena dulu di zaman saya wanita yang saya lihat ya ibu saya yang tidak pernah memakai make up apa-apa kecuali lipstik dan bedak, sedangkan adik saya saat ini memiliki panutan baru, yaitu kakaknya yang sedang masa-masa hampir tua. Hehehe...

Dulu, zaman saya masih kecil, tontonan saya dan kakak saya adalah Power Ranger, Satria Baja Hitam, Ultraman, itupun harus numpang nonton di puskesmas sebelah rumah saya dulu. Sedangkan adik saya saat ini lebih suka menonton Barbie, Tokyo Mewmew, pokoknya film anak cewek yang unyu-unyu, yang notabene di dalamnya sudah ada unsur percintaan. Wajar saja kalau anak sekarang sudah tahu pacaran (cinta monyet) sejak di bangku SD, dimana saya dulu masih memikirkan bagaimana bisa monster yang tadinya kecil bisa jadi besar sekali dan menginjak-injak kota. Hmmm...

Dulu, zaman saya TK sampai SD (lupa kelas berapa), saya suka mendengarkan lagu anak-anak, macam susan, trio kwek-kwek, Dea Ananda, dan lain-lain. Sedangkan adik saya sekarang, masih SD kelas 5, sudah hafal lagu Avril Lavigne, Katy Perry, Bruno Mars, dan lain-lain, yang saya sendiri gak hafal, kadang gak tahu lagunya.

Dari perbandingan-perbandingan di atas, saya jadi bisa mengerti mengapa anak kecil zaman sekarang menjadi lebih cepat dewasa. Tidak heran kalau banyak sekali ababil (ABG labil) dewasa ini. *nyambung gak sih?hehe..

Saya jadi ingat tulisan di salah satu slide mata kuliah saya, bahwa ketika kita tidak menyediakan fasilitas rekreasi yang sesuai untuk anak-anak, berarti kita merampas impian dan cita-cita mereka. Masuk akal, karena saat ini tempat rekreasi adalah mall, jadilah anak-anak tumbuh sebagai manusia konsumtif, berkiblat pada tren yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa [yang sudah bisa memilih mana yang penting untuknya dan mana yang tidak]. Anak-anak sekarang lebih suka terkungkung di dalam rumah, bersama televisi, komputer dan internet, dan handphone, yang itu semua tidak merangsang ide kreatif kekanak-kanakan mereka, yang mungkin bisa menjadi ide besar nantinya. Terbukti, adik saya sulit sekali diajak untuk keluar rumah, misalnya ikut ayah saya kerja, atau ikut ke rumah teman orang tua. Berbeda dengan saya dulu ketika masih kecil yang senang sekali diajak keluar rumah, walau hanya ke rumah teman orang tua.

Ternyata, zaman sudah benar-benar berubah. Apa beberapa tahun ke depan akan semakin banyak perubahannya? Jika ya, saya harap perubahannya ke arah yang lebih baik, bukan semakin buruk. Gara-gara melihat perubahan zaman ini, saya jadi kepikiran, kalau punya anak nanti, tv dan komputer saya gembok dan boleh dibuka di waktu tertentu aja di bawah pengawasan orang tua. Hehehe..
Tapi menurut saya, yang paling penting tetap penanaman agama dan akhlak pada anak sejak kecil, supaya mereka bisa memfilter informasi yang menyerang mereka yang mungkin belum waktunya mereka dapat.

No comments:

Post a Comment

"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...