Dua Sisi

Pasti kita pernah marah tentang sesuatu. Merasa dikhianati, dibohongi, diinjak-injak.. Sudahkah kita melihat lebih jauh, apa sebenarnya yang membuat kita marah? Sudahkan kita melihat segala sisi mengenai hal itu? Apakah dari semua sisi sudah menjawab kita boleh marah?

Kodrat manusia untuk berpikir dan melihat dari segala sisi. Seharusnya hal itu cukup untuk memberi kita alasan untuk marah atau tidak. Segala hal punya dua sisi. Setiap orang punya alasan melakukan sesuatu, sesuai perspektifnya, dan itu tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Pikirkan dulu bagaimana jalan pikiran orang lain, dan kita akan tahu bahwa kita tidak sepenuhnya benar dan tidak pula sepenuhnya salah. Setidaknya hal ini berlaku bagi saya.

Salah-benar,baik-buruk, itu relatif. Tergantung bagaimana standar yang kita tetapkan. Benar bagi Anda, belum tentu benar bagi saya, begitu pula sebaliknya. Maka jangan seenaknya menilai atau mengejek orang lain sesuka hati Anda. Silahkan Anda menilai, tapi bukankah sebaik-baiknya penilaian itu adalah penilaian yang berimbang? Bukan subjektif sesuka hati Anda..

Yahh, kita hidup tidak sendiri. Begitu banyak dan beraneka ragam macam-macam orang yang kita temui. Satu hal yang saya pelajari melalui beberapa pengalaman hidup mengenai dua sisi, bahwa dua sisi itu selalu ada. Mungkin tidak tampak sekarang atau lusa, tapi suatu hari kita pasti akan tahu kebenarannya. Maka jangan terburu-buru menilai seseorang, marah, atau membenci seseorang. Dia berhak memberi alasan, dia berhak menjelaskan. Itulah fungsi sebuah kedewasaan, untuk bersabar, belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain. Pelajari pola pikir orang lain, terbukalah, jangan hanya memakai emosi. Apa bedanya kita dengan makhluk lain kalau tidak menggunakan pikiran? Padahal satu-satunya hal yang membedakan kita dengan ciptaan Tuhan yang lain adalah kemampuan berpikir.

Dua sisi. Dua kata yang memiliki banyak dimensi dan definisi. Bersabarlah, buka pikiran, mungkin dua sisi dan sisi-sisi lainnya akan terbuka, dan memberikan cukup alasan untuk memaafkan.

No comments:

Post a Comment

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...