Prolog - CARLA


Carla tersentak lemas begitu bayinya berhasil dia lahirkan. 'Sungguh rasanya sakit, tapi semua kesakitan itu terbayar begitu aku melihat bayiku lahir dengan selamat,' pikirnya.

“Nyonya, bayi Anda perempuan,” ucap dokter sambil menyerahkan bayi itu pada Carla. Carla memeluknya. Bayi itu sangat kecil, sangat tidak berdaya. Suara tangisnya pelan, kedengarannya seperti tangisan manja.

Cantik sekali. Banyak sekali pujian yang ingin kuberikan padamu, tapi aku kehabisan kata-kata saking bahagianya aku melihatmu. Selamat datang di dunia, Putriku yang cantik,’ ucap Carla dalam hati. Dia kehabisan tenaga, bahkan untuk berbicara pun dia tak mampu. Lalu tiba-tiba semua terasa gelap dan dia merasakan bayinya diambil dari pelukannya. Tangannya kosong dan suster-suster berseliweran di sekitarnya, sibuk membersihkan sisa-sisa persalinan. Carla merasakan semua kesibukan itu dan juga merasakan ketika tempat tidurnya didorong. Dia ingin tahu akan dibawa kemana dan oleh siapa dia dibawa. Dia juga ingin tahu dimana putrinya sekarang. Apa putrinya juga dibawa bersamanya? Tapi Carla terlalu lemah untuk membuka mata, bahkan untuk berpikir.

Carla menghitung, satu detik, dua detik, tiga, empat... Dia mendengar pintu dibuka dan tempat tidurnya didorong masuk lalu tiba-tiba berhenti. Belum ada perubahan di dirinya, masih lemah. Carla terus menghitung, menunggu kekuatannya pulih. Paling tidak untuk membuka mata dan melihat lagi wajah bayinya.

“Nyonya, Anda masih lemah sekali sekarang. Sebaiknya Anda istirahat dulu sekarang. Bayi Anda sedang bersama suami Anda. Sedangkan Anda sekarang sudah saya pindah ke ruang perawatan. Akan saya sampaikan pada suami Anda bahwa sekarang Anda sudah bisa dijenguk,” kata seorang wanita, yang ditebaknya adalah salah satu suster di ruang operasi tadi. Carla diam saja, tidak sanggup menjawab perkataan suster itu. Tapi paling tidak sekarang dia sudah lega begitu mengetahui dimana bayinya berada dan kemana dia dibawa.

Carla melanjutkan menghitung, menanti perubahan di dirinya. Setidaknya ini sudah 15 menit sejak dia kehilangan kekuatannya. Carla berharap tidak lama lagi dia bisa membuka mata. Lalu dia mendengar pintu berderit terbuka diikuti suara langkah kaki mendekat. Suara langkah kaki itu berat dan berirama. Lalu dia merasakan kesejukan udara yang tiba-tiba bersama aroma mint yang menyerbak tercium oleh hidungnya. Don sudah datang. Begitu tenang hatinya tiba-tiba. Segala kekhawatiran dan pertanyaan-pertanyaan yang tadi dia rasakan hilang. Lalu Carla merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam tangannya dan akhirnya Carla merasakan aliran kekuatan mengalir deras ke dalam tubuhnya.

Carla membuka kelopak mataku dan dia melihat Don sudah duduk di samping tempat tidurnya. Sedikit kekecewaan muncul karena dia melihat Don datang seorang diri, tanpa membawa putri mereka. Lalu Carla tahu bahwa putrinya dibawa ke ruang bayi yang steril. Ya, Carla bisa merasakannya bahwa dia aman. Carla sudah pulih sekarang. Dia bahkan sempat berpikir untuk segera melompat turun dari tempat tidur dan menarik Don mengunjungi bayi mereka. Tapi Carla masih mengkhawatirkan luka operasi dan menghapus pikiran tadi.

Don memandangi Carla, tahu semua pikiran-pikiran sinting di kepalanya. Carla hanya membalas tatapannya dengan tersenyum.

Dia sangat mengkhawatirkan aku tadi. Kami berdua sama-sama ingin segera saling bertukar pikiran, tapi dia tahu aku belum pulih benar. Aku masih membutuhkan banyak kekuatan untuk menyembuhkan luka operasi ini dengan cepat. Ya, akan ada banyak waktu nanti untuk kami bertukar pikiran,’ Carla menenangkan diri. Dia meremas tangan Don, mencoba memberi isyarat padanya untuk bersabar.

“Carl, apa kau punya ide siapa nama untuk putri pertama kita?” tanya Don memecah pikiran Carla.

“Er, aku ingin nama yang manis untuknya. Jangan kau beri nama Cerberus seperti usul gilamu saat itu. Putri kita adalah gadis manis dan cantik! Bahkan kalaupun anak kita laki-laki, aku tidak akan suka jika dia diberi nama Cerberus,” jawab Carla merajuk.

“Iya, iya.. Tapi apa kau punya usul yang sangat bagus?” Kami berdua terdiam, tenggelam memikirkan nama untuk putri kami.

“Bagaimana kalau Luna?” usul Carla tiba-tiba.

“Luna? Cukup bagus. Baiklah, putri kita bernama Luna. Luna Araun..”

Comments