Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

The Warrior - Episode 1 (Prep)

Aku dilahirkan sebagai pengawal. Di sini, pengawal ada secara turun temurun. Ayah dan ibuku juga pengawal. Lebih tepatnya, ibuku kini sudah pensiun, sejak beliau melahirkan adikku.

Di sini, seorang pengawal wanita diberi dua pilihan setelah menjadi seorang ibu, untuk melanjutkan karirnya sebagai pengawal (yang artinya mendapat gaji 50% lebih besar dari sebelumnya) atau pensiun dan tidak mendapat apa-apa. Ibuku memilih opsi yang kedua, walau itu artinya kami hidup serba kekurangan, bergantung dari gaji ayahku. Tapi paling tidak, kami punya ibu yang bebas resiko mati demi orang lain.

Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Aku Nadezd, lahir di kota Agavia, dimana penduduknya terbagi menjadi 3 kelompok, bangsawan, pengawal, dan pekerja. Aku memiliki seorang adik laki-laki, Nic, yang saat ini masih balita. Ayahku adalah pengawal senior. Beliau dipercaya oleh kerajaan untuk mengawal salah seorang bangsawan terhormat anggota parlemen, Osten Sachine. Aku sendiri jarang bertemu ayahku, karena beliau bertugas di hampir seluruh waktunya, terutama ketika masa-masa politik atau ketika si Bangsawan melakukan tour keluar kota.

Terkadang aku merasa seluruh kehidupan yang kami jalani ini tidak adil. Kami diberi hidup hanya untuk melindungi orang lain. Hidup kami bukanlah untuk diri kami, melainkan demi kehidupan para Bangsawan yang sombong dan tidak peduli itu. Well, bukannya tidak ada Bangsawan yang baik, hanya sebagian besar dari mereka hanya hidup untuk bersenang-senang dan menghamburkan kekayaannya. Di samping kegemaran mereka berkelahi antar sesamanya, yang berarti kami lah yang bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan mereka demi sepercik anggur yang tidak sengaja tumpah mengenai pakaian sutranya.

Kalau kalian bertanya mengapa kami harus menjadi pengawal para Bangsawan itu, ceritanya panjang. Singkatnya, nenek moyang para Bangsawan itu dulunya adalah pemilik tanah hampir seluruh Agavia. Anggota Parlemen Agavia pun didominasi oleh para tuan tanah tersebut, sehingga peraturan pajak pun selalu memihak tuan tanah. Sementara untuk pindah ke kota lain tidak memungkinkan karena sistem hubungan penduduk dengan luar kota sangat dibatasi oleh Parlemen, pilihan kami sebagai rakyat biasa hanyalah bekerja keras demi membayar pajak. Hingga akhirnya sekelompok orang memberontak dan berusaha menyerang Parlemen yang mengakibatkan begitu banyak rakyat yang mati dihukum.

Sejak saat itu, Parlemen menetapkan pajak tanah semakin tinggi, yang menjadikan banyak dari kami menjadi budak para tuan tanah demi bisa melunasi pajak dengan tenaga kami. Namun serangan-serangan tidak pernah berhenti. Selalu ada tuan tanah yang mati, atau paling tidak terluka. Namun pada akhirnya, serangan-serangan itu bukannya berdampak baik bagi rakyat biasa, melainkan semakin memperburuk situasi. Nyawa budak bagaikan semut yang seenaknya dibunuh, sebagai 'tameng' tuannya.

Kalau dipikir-pikir, keluargaku masih cukup beruntung karena masuk ke dalam kelompok pengawal. Setidaknya, kami masih diberi bayaran atas pekerjaan yang kami lakukan, meskipun bayaran yang kami terima masih membuat ibuku harus mencari cara lain untuk menjaga dapur tetap mengepul. Salah satunya adalah dengan menjadi pengasuh bayi-bayi istri muda para bangsawan.

Ah, sudah cukup membicarakan para bangsawan. Aku harus segera bergegas ke lapangan pelatihan pengawal muda hari ini. Ya, ini hari pertamaku harus mengikuti pelatihan pengawal sejak minggu lalu usiaku genap menginjak 15 tahun. Aku merasa sedikit gugup karena ayahku termasuk salah satu pelatih pengawal, yang itu artinya ayahku akan melihat hasil latihanku saat tes kemampuan nanti. Sudah 10 tahun aku melatih kemampuan bertarungku secara otodidak. Terkadang ayah menyempatkan diri untuk menjadi lawan bertarung, meski lebih sering aku berlatih sendiri dengan kayu latihan di rumah. Dan hari ini akan menjadi hari penentuan kelas kemampuan, dilihat oleh ayahku. Sungguh perpaduan yang menegangkan!

Aku sungguh berharap tes hari ini berjalan lancar. Jika hasil tesku bagus, aku memiliki kesempatan untuk masuk kelas kemampuan yang lebih tinggi, yang berarti aku memiliki kesempatan lebih besar untuk mengawal kaum Elite. Menjadi pengawal kaum Elite berarti gaji yang lebih tinggi, meskipun resiko mati lebih besar. Tapi menurutku itu sepadan. Toh kita digaji untuk hidup dan kalaupun aku mati di pertempuran aku tidak membutuhkan uang lagi, kan?

Oh iya, aku lupa aku harus segera bergegas. Aku akan update lagi nanti. Doakan aku semoga berhasil!

Tak Berdaya

Apalah aku
Yang tidak mengerti maksud kata-katamu

Apalah aku
Yang merasa kelu untuk menyampaikan pikiranku

Aku tidak bisa apa-apa
Selain menyingkir dan melakukan apa yang kubisa
Seperti robot
Bekerja tanpa mengerti maknanya

Kecil sekali rasanya hati ini
Menyadari bahwa aku tak berdaya
Terhenyak dalam kesadaran

Aku bukanlah apa-apa tanpa pertolongan-Nya


  
Jakarta, 11 November 2016

Page Number X


Let's back to Page Number X.
That was the first.
She smiled, surprised.
She was the happiest girl in the world.
She felt she could beat the world.

Let’s back to Page Number X.
The happiness gone.
Time passed, things changed.
She couldn’t feel anything.
Her smile washed away.
Lost.

Let’s back to Page Number X.
Everything was so blurry.
She tried to find a way.
She decided to start a journey.
Where new life she hoped to be there.
Another chance, maybe.
Wished it would be a better one.

Another surprise.
Different, but same surprise.
‘Is it for me?’ ask her to herself.
Happy, she hugs the present.
‘This will be different,’ she thinks.
She changes, people changes, time changes.
Everything has changed.
Assured. Blessed. Happy.
Everything.

Let’s back to Page Number X.
No.
Not everything has changed.
Certain things remain the same.
She feels empty.
Will that Page Number X come over again?

2016, February 2nd      

Mimpi

Mimpi. Bertahun-tahun berlalu sejak terakhir dia memejamkan mata dengan mimpi yang sama. Harapan yang tidak mungkin, yang membuatnya kehilangan arah. Kemana? Bagaimana? Mengapa? Dia bahkan tidak tahu siapa dia tanpa mimpi.

Muak! Dia muak bermimpi. Mimpi buruk, mimpi indah, ah semua sama. Pada akhirnya pun dia harus bangun. Bangun menuju kenyataan yang dia tidak tahu bagaimana ada kenyataan tanpa adanya mimpi. Ah, lagi-lagi dia mengigau. Sudah jelas kenyataan dan mimpi itu berbeda, mengapa dia tidak berpikir? Benar-benar dia ingin tidur tanpa mimpi, bangun tanpa angan-angan.

Lepas, bebas, bagai angin. Pernah dia rasakan itu. Hingga dia melayang terlalu tinggi, terlalu sombong merasa mampu mengalahkan sang mimpi. Tanpa berpikir lagi, dia berteriak lantang, menantang mimpi untuk datang. Merasa kuat dan bisa tetap tidur dengan nyenyak seindah atau seburuk apapun mimpi itu. Ya, dia menjadi sombong. 

Hingga suatu saat mimpi itu benar-benar datang. Entah buruk atau indah,  dia sendiri tidak tahu. Atau tidak peduli? Apapun itu, ternyata mimpi itu tetap membuatnya tersentak. Tersadar, dia tidak sekuat itu. Seperti anak kehilangan induknya, dia kebingungan.

Dia telah berubah. Berbeda. Tidak sama. Begitu pula mimpinya sudah tidak lagi sama. Waktu benar mengubah banyak hal. Bahkan di luar perkiraannya, dia selalu terbangun dengan kebingungan. Ternyata dia hanya sedikit mengingat mimpi yang dulu selalu menghantuinya. Ataukah mimpinya sendiri yang memang telah berubah?

Mimpinya telah menjadi semakin indah. Telalu indah. Dia tidak ingin terbangun, terus ingin bermimpi. Melenakan. Menakutkan.

Sungguh dia takut terbangun dan sadar bahwa ternyata semua hanya bunga tidur. Sungguh dia ingin mimpinya menjadi nyata. Sungguh dia ingin mengikatkan dirinya pada mimpi. Mustahil. Hanya putri tidur yang bisa tidur selamanya. Itupun karena kutukan.

Apakah mimpi itu kutukan? Jika pun iya, dia mencintai kutukan itu.

Kembali dia terjebak seperti bertahun lalu. Bedanya, sekarang dia tidak  bangun. Tidak mau bangun.

The Court - A Story

Tanya Vladimir memandangi seragam abu-abu yang dikenakannya. Seragam yang serupa juga dikenakan ayah dan ibunya yang sedang duduk di depannya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Metro Court, tempat akan diadakannya Peradilan Besar yang dilakukan setiap tahun di Metropolis. 

Kereta yang mereka tumpangi berderit pelan penuh dengan penumpang berseragam abu-abu yang sama. Sesuai peraturan pemerintah Metropolis, seluruh warga diharuskan menghadiri Peradilan Besar ini, dimana akan dibuat peraturan-peraturan negara baru dan penjatuhan hukuman-hukuman bagi para pemberontak di hadapan semua orang. Maka pada hari ini semua aktivitas sehari-hari warga ditunda, sekolah-sekolah diliburkan, seluruh kegiatan berpusat di Metro Court, Metropolis.

Para penumpang kereta mengobrol pelan dalam kelompok-kelompok kecil. Tanya memperhatikan dari tahun ke tahun, tampaknya posisi duduk di kereta tidak pernah berubah. Kalaupun ada perubahan, tampaknya tidak banyak. Selama 16 tahun hidupnya, Tanya belajar bahwa warga Metro cenderung sulit mempercayai orang lain, khususnya orang-orang di luar klan familinya. Bahkan Tanya diajarkan oleh orang tuanya untuk tidak mempercayai orang lain selain dirinya sendiri. Sampai saat ini pun Tanya masih tidak mengerti alasannya. Dia hanya memandang pemandangan ladang di luar jendela kereta yang tampak sepi ditinggalkan para petani ke Metropolis.

Tanya melamun sepanjang perjalanan hingga akhirnya kereta melambat dan akhirnya berhenti di Stasiun Fin. Satu per satu para penumpang turun dan berbondong-bondong berjalan ke pusat kota, tempat Metro Court berada. Sejauh Tanya memandang, yang dilihatnya adalah gelombang manusia dalam seragam abu-abu berjalan berkelompok ke arah yang sama.

Sementara itu Tanya dan kedua orang tuanya, bersama beberapa orang keluarga Vladimir yang tersisa, berjalan pelan. Menurut cerita orang tuanya, ada masa ketika klan Vladimir cukup memiliki kekuasaan di Metropolis. Namun, suatu saat ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa Alastair Vladimir, kakek buyut Tanya, merencanakan sebuah pemberontakan melawan Metropolis yang selalu menarik pajak tinggi dari kota-kota yang mengelilinginya. Rumor itu memicu perburuan Alastair dan beberapa anggota klan Vladimir yang dicurigai terlibat pemberontakan. Mereka dijatuhi hukuman saat Peradilan besar dan sejak saat itu seluruh anggota klan Vladimir sering menjadi kambing hitam setiap ada pemberontakan yang terjadi. Oleh karena itu pula, hampir tidak ada anggota klan lain yang berani dekat dengan klan Vladimir, khawatir akan dikait-kaitkan jika ada masalah.

Metro, sebuah negara kecil yang tampak tenang dan damai. Warganya hidup sederhana di kota-kota kecilnya dari hasil bertani dan berdagang. Pemerintahan Metro berpusat di Metropolis, tempat semua persaingan bergejolak di balik setiap sikap terhormat dan ramah para pejabat pemerintahan. Mereka bersitegang tanpa kata-kata, saling menghancurkan dengan tetap menyunggingkan senyum di wajah mereka, seolah tidak terjadi apa-apa. Jabatan. Satu hal yang diinginkan oleh setiap orang di Metropolis: kekuasaan.

Dan Metro Court adalah satu kesempatan untuk menunjukkan kekuasaan. Atau menambah kekuasaan, jika memungkinkan.

Tanya menghela napas. Warga Metro tampak damai, tapi dibalik semua itu, mereka semua ketakutan akan kekuasaan pemerintah. Metropolis bisa saja tiba-tiba memberi tuduhan palsu, demi menyajikan pemberontak di Metro Court. Satu kambing hitam saja, cukup untuk mengingatkan warga tentang kekuasaan mereka. Jika memang ada kiamat, Tanya yakin mungkin ini adalah awal dari kiamat. Saat penguasa tidak lagi adil dan mencintai rakyatnya, saat rakyat sudah tidak lagi berani memperjuangkan keadilan. Singkat kata, saat ketidakadilan sudah menjadi hal biasa.

Jalanan semakin ramai. Titik pertemuan seluruh warga Metro sudah dekat. Para warga berjubel memasuki gerbang besar Metro Court. Kemudian berbaris dua-dua memasuki pintu besar dengan diperiksa terlebih dahulu oleh petugas keamanan, memastikan tidak ada warga yang membawa senjata dan berinisiatif memprovokasi acara tahunan ini.

Tanya, bersama orang tua dan keluarganya, ikut berdesakan mengantri masuk Gedung Metro Court. Setelah menunjukkan kartu identitas dan petugas keamanan melaksanakan pemeriksaan standar, Tanya melangkahkan kakinya memasuki Gedung. Tampaknya pilar Gedung semakin besar, mengimbangi Gedung yang dipertinggi dan diperluas.Tangga berliku menyambut Tanya, membimbing warga untuk menuruninya memasuki Hall, tempat semua orang berkumpul dan menyaksikan Peradilan Besar.

Tanya masih tidak mengerti mengapa Metro Court dibangun dengan konstruksi yang aneh. Gedung ini dibangun di sebuah lembah, namun atapnya begitu tinggi hingga melebihi dataran. Di dalam Gedung ini semua orang merasa sangat kecil melihat atap Gedung yang terasa sangat tinggi dari dalamnya. Namun bisa dirasakan manfaat pembangunan Gedung yang sangat tinggi ini, di dalamnya terasa sejuk walaupun diisi begitu banyak manusia. Tanya juga berpikir, apa mungkin adanya tangga berliku dan dataran ada jauh di atas bertujuan untuk menghapus ide konyol untuk kabur atau mengendap-endap keluar di tengah acara?

Tanya berpisah dengan keluarganya, berkumpul bersama anak-anak sebayanya. Tanya berdiri diam, menonton beberapa anak di dekatnya bermain dalam kelompok kecil sembari menunggu Peradilan dimulai. Salah satu dari anak itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

"Hei, lihat! Ini mainan baru buatan ayahku! Kata ayah, benda ini bisa berputar tanpa henti jika dijatuhkan dengan keras ke lantai!" serunya, menarik anak-anak lain di sekitarnya menoleh ingin tahu. Tidak lama kemudian, anak tersebut menjatuhkan mainan yang terbuat dari besi tersebut ke lantai.

Suara denting besi bertemu lantai terdengar cukup nyaring di tengah suara-suara bergumam warga yang tidak berani bersuara keras. Selama beberapa detik, mainan besi tersebut terdiam di lantai. Tanya menahan dengusan kecewa, mainan itu tidak bisa berputar seperti ucapan anak itu tadi. Anak-anak lainnya, termausk si pemilik mainan, juga tampak kecewa melihat mainan besi yang terdiam di lantai. Beberapa detik keheningan berlangsung, lalu anak-anak sudah tidak lagi memandang ingin tahu terhadap mainan itu. Semua mulai berpaling dan mencari hal menarik lain.

Tanya, yang merasa tidak ada hal lain yang menarik, tetap memandangi mainan besi itu. Beberapa menit berlalu, mainan yang terabaikan di lantai itu pelan-pelan menunjukkan sedikit pergerakan, Awalnya hanya bergerak pelan, lama-kelamaan berputar. Putarannya makin lama makin cepat, sehingga mainan itu tampak sedikit melayang. Tanya terus memperhatikan mainan itu, begitu pula anak-anak lain di sekitarnya.

Tiba-tiba saja mainan itu membesar, seiring perputarannya yang semakin cepat. Suara berdesing mengiringi keluarnya mata pisau di sisi-sisi mainan bulat itu. Mainan itu mulai melompat-lompat terpantul di lantai dan terpental ke salah satu pilar. Pelan tapi pasti, pilar besar itu tergores dan serpihan-serpihan batu mulai rontok akibat gesekan panas. Tanya mulai merasakan kekhawatiran aneh merambati perasaannya. Meskipun tampak tidak mungkin mainan sekecil itu bisa memotong pilar raksasa Gedung Metro Court, tapi melihat putaran mainan yang tidak berkurang karena gesekan dan mata pisau yang semakin lama tampak beberapa milimeter lebih panjang, Tanya merasa hal mustahil itu mungkin saja terjadi. Kepanikan mulai menjalar dalam dirinya. Ayah, ibu. Mereka harus diberitahu, Gedung akan hancur.

Tanya berlari menerobos kerumunan anak-anak yang masih tertegun memandangi mainan besi, melompati pagar besi rendah pemisah antar kelompok usia seraya melempar pandangan ke segala arah mencari sosok ayah dan ibunya. Para orang dewasa tampak berdiri diam, hanya sedikit yang mengobrol dengan orang di sebelahnya. Hingga akhirnya Tanya menemukan sosok ayahnya, berdiri diam seakan tidak ada orang di sekitarnya.

"Ayah!" panggil Tanya dengan suara sepelan mungkin, walaupun sepelan apapun suaranya akan tetap terdengar di tengah gumaman pelan orang di sekitarnya.

"Hei, Tanya, apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau tidak boleh melewati pagar pembatas itu!" Ayah berkata panik.

"Ayah, Gedung akan hancur! Tadi ada salah satu anak membawa mainan besi yang berputar memotong pilar! Ayo segera kita cari ibu, kita harus segera keluar dari sini!"

"Hei, anak kecil! Mana mungkin pilar raksasa Gedung bisa hancur hanya karena sebuah mainan? Kau mungkin mengigau, Nak!" cemooh seorang laki-laki tua.

Tanya tidak mempedulikan cemooh laki-laki tua itu. Tanya menarik ayahnya, ingin menunjukkan langsung hal yang tadi dia ceritakan. Ayahnya bergegas mengikuti langkah Tanya. Sesampainya di tengah kerumunan anak-anak yang memperhatikan mainan besi, ayah Tanya tertegun. Dia sadar, pilar raksasa itu mungkin saja bisa rusak karena sebuah mainan. Mainan besi itu sendiri kini sudah semakin besar, hampir seukuran piring dan putarannya tidak berkurang sedikit pun.

"Tanya, ayo kita segera pergi dari Gedung, cari ibu. Kau larilah dulu ke tangga dan langsung naik keluar. Biar Ayah yang mencari ibu," perintah ayahnya.

Tanya berlari ke tangga, dengan mata anak-anak lain mengikutinya. Tanya mengerti akan ada hukuman bagi siapapun yang keluar dari Gedung sebelum acara selesai, apalagi sebelum acara dimulai.
'Ah, masa bodoh Peradilan Besar. Lagipula, siapa yang akan memberi hukuman? Gedung ini sendiri akan runtuh mengubur kita semua kalau kita tidak segera kabur keluar,' pikir Tanya.

Saat Tanya sampai setengah perjalanan naik keluar, terdengar suara berdebum batu yang jatuh. Ternyata di belakangnya sudah terjadi keributan besar. Tanya sibuk dengan pikirannya, sehingga tidak menyadarinya sama sekali. Tapi perintah ayahnya jelas, dia harus lari keluar.

Tanya terengah-engah menaiki anak tangga. Hingga sampai di atas, dia mendorong pintu besar Metro Court. Dia menepi dan menyandarkan tubuhnya ke tembok, menanti ayah-ibunya sambil mengatur nafasnya. Beberapa detik kemudian, barulah banyak orang menghambur keluar sambil terengah-engah, disusul suara debuman batu kedua. Dua pilar sudah runtuh. Tanya tidak mengkhawatirkan keluarga Vladimir lain, toh dia tidak cukup dekat dengan mereka. Dia hanya mengkhawatirkan ayah dan ibunya.

BUUUMMM.. Dentuman ketiga. Tanya mulai khawatir.  Berapa pilar yang diperlukan untuk menjaga Metro Court tetap berdiri? Tanya hanya berharap, waktu yang tersisa cukup bagi ibu dan ayahnya untuk keluar dari Metro Court. Tidak lama kemudia, dia melihat ayahnya bersama warga lainnya berdesakan keluar dari pintu keluar. Tapi tanpa ibunya.

"Ayah! Ayah! Aku di sini!" teriak tanya sambil berlari ke arah ayahnya. Dia menuntun ayahnya yang kehabisan nafas ke tembok Metro Court untuk bersandar. "Yah, ibu mana?" tanyanya begitu ayahnya sudah tenang bersandar di tembok.

"Ayah tidak bisa mencari ibu di tengah keributan itu. Ayah sudah berlari ke barisan para wanita, tapi semuanya berlarian panik setelah melihat pilar pertama yang runtuh. Hingga pilar kedua runtuh, Ayah masih belum berhasil menemukan ibumu. Akhirnya Ayah berlari keluar, mungkin ibu sudah bersama wanita-wanita lainnya keluar dari Gedung," cerita ayah Tanya.

Tanah bergetar seperti ada gempa bumi. Tanya menarik ayahnya menjauhi tembok, khawatir tembok akan runtuh. Suara gemuruh mengiringi getaran tanah, sekejap saja atap melengkung Metro Court runtuh. Tanya dan ayahnya membeku takjub melihat atap Metro Court yang sebelumnya tampak megah dan kokoh berdiri di permukaan, tiba-tiba saja tinggal berupa reruntuhan.

Ibu...


Kita tidak pernah tau, sesuatu yang begitu hebat akan sampai kapan mampu bertahan. Sesuatu yang tampaknya kokoh, kuat, dan selama ini mengagumkan sehingga semua orang menjadikannya pegangan, mempercayakan semuanya, suatu saat akan hancur dan tidak ada bedanya dengan debu. Dan seringnya, perusak yang menggerogoti kekokohan itu justru muncul dari dalam, hal kecil yang semula ditertawakan dan dianggap tidak berarti dibandingkan hal besar itu. Dan yang pasti, tidak ada sesuatu bernama keabadian. Apapun itu pasti ada akhir yang menunggu.

Agustus 2013

Kilasan hitam-putih dalam kepalaku
68 tahun lalu tidak seperti ini
Jalan masih sepi, hanya lalu lalang kendaraan pengangkut barang yang kulihat
Atau segelintir kendaraan pejabat dan penjajah
Sebentar kudengar suara tembakan dan teriakan-teriakan
Atau tanah bergetar terguncang bom yang meledak
Api melahap apa yang bisa dilahapnya, apapun yang bisa dijangkaunya
Teriakan anak kecil dan ibunya yang berlindung pasrah
Teriakan para lelaki yang berjuang melindungi keluarga dan negaranya


Ahh, dunia sudah jauh lebih baik
Tidak ada lagi tangis kesakitan, terluka, terkena tembakan
Tidak ada lagi penjajah berkeliaran
Kini anak-anak bermain dengan gembira, tidak peduli dengan apapun di sekitarnya
Tidak seperti dulu, ketakutan, atau bermain bersama temannya dengan alat seadanya
Para pemuda tidak lagi khawatir tentang adanya penjajah, tidak perlu lagi mengangkat senjata dan maju ke medan perang
Mereka hanya khawatir tentang.. ah, entahlah, mungkin tidak ada yang mereka khawatirkan
Hidup adalah milik mereka, terlena menikmati segalanya
Masa bodoh tentang kesusahan di luar sana
Sementara tanah ini terus menerus memanjakan mereka
Dengan segala kekayaan dan keindahan yang dihasilkannya


Ahh, dunia sudah jauh lebih baik
Kulihat gedung-gedung dibangun tinggi
Cahaya menyilaukan memecah gelapnya malam
Tidak lagi bisa kulihat beda siang dan malam
Malam tak lagi gelap, keramaian tak pula surut
Tidak seperti dulu, ketika hanya bulan dan lampu minyak yang memberi penerangan
Saat anak-anak harus buru-buru belajar sebelum minyak habis dan cahaya menghilang
Aku tengok langit malam, bintang pun kalah dengan semua cahaya ini
Aku tengok sekitar, pohon-pohon jauh berkurang, mengapa?
Ohh, aku ingat sekarang
Pohon-pohon telah ditebang untuk semua gedung ini
Ya, manusia tidak perlu lagi berteduh di bawah pohon untuk mencari sedikit kesejukan
Benar-benar hebat, bukan?


Ahh, dunia sudah jauh lebih baik..
Atau lebih buruk?



16 Agustus 2013

Collision (A Short Story)

Hari itu hari biasa. Tidak terlalu biasa, memang, karena Bia dan teman-temannya akan mengunjungi 
Pesta Rakyat di Kota yang diadakan setahun sekali. Ini kali pertama Bia mengunjungi Pesta Rakyat sehingga dia merasa antusias sekali mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawanya, terlebih lagi dia dan teman-temannya berencana untuk berkemah di Padang Rumput dan kembali pulang ke Desa keesokan harinya.

'Apa lagi ya, yang perlu kubawa? Makanan, pakaian, kantong tidur, kaus kaki cadangan...' Bia memeras otak, mencoba mengingat-ingat barang apa yang sekiranya terlupa olehnya. Kemudian terdengar ketukan di pintu kayu rumahnya. 'Hmm, Sol? Dia sudah datang?'  Bia segera menghambur ke pintu rumahnya, untuk melihat siapa yang datang.

"Bi, sudah siap? Kau tidak perlu membawa makanan banyak-banyak. Di Kota nanti pasti banyak penjual makanan lezat! Bawa saja uang yang cukup, tapi simpan di tempat terpisah. Kita tidak tahu kapan nasib buruk akan menghampiri," Sol segera mencerocos panjang lebar dan menghambur masuk rumah Bia begitu pintu terbuka.

Bia tidak menjawab celotehan Sol, karena memang Sol berbicara tidak meminta jawaban. Bia hanya cepat-cepat mengemasi barang bawaannya dan mengangkatnya ke bahunya. "Oke, Sol, aku siap. Ayo kita berangkat. Ini aku bawa sup daging untuk makan siang di jalan. Kau yang bawakan ya, berat sekali karena porsinya cukup untuk kita semua." Sol menerima panci susun kecil berisi sup daging untuk makan siang dan menyampirkannya di bahunya yang lain.

Bia dan Sol kemudian berjalan menuju stasiun kereta. Mereka berjanji berkumpul dengan teman-temannya yang lain di sana. Bia dan Sol bertetangga, karena itu mereka berdua sering pergi bersama-sama. Saling menguntungkan. Bia sering membawa makanan lebih, Sol sering membantu membawakan.

Setelah sepuluh menit berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di stasiun kereta. "Sol, kau lihat teman-teman tidak? Aku lupa tidak membawa kacamataku, nih," ujar Bia. Sol memandang berkeliling dan menunjuk ke suatu arah. Bia berjalan mengikuti Sol.

"Bia, Sol, kalian terlambat, seperti biasa. Untung keretanya belum datang," sergah Kyrie.

Bia hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Kyrie. Dia dan Sol memang sering datang paling akhir tiap berkumpul dengan teman-temannya. Selain karena mereka memang terlalu santai untuk berangkat, seringkali ada barang Bia yang tertinggal sehingga harus kembali lagi ke rumah.

"Ah, paling-paling kau juga baru datang kan, Ky?" Sol bertanya balik.

"Iya, Sol, Kyrie  baru datang juga, paling hanya selisih dua menit dari kedatangan kalian," kata Norah. Luppi dan Sam mengangguk setuju.

Tidak lama kemudian kereta api datang. Bia dan teman-temannya segera bergegas mencari tempat duduk ternyaman untuk perjalanan ke Kota dua jam selanjutnya. Mereka memilih kompartemen di  gerbong paling depan. Perjalanan dimulai, makan siang sup daging dibuka dan dimakan bersama-sama. Supnya masih hangat dan lezat sekali dimakan di tengah perjalanan seperti itu. Dua jam kemudian mereka sampai di stasiun Kota dan turun untuk melanjutkan perjalanan ke Padang Rumput dengan menyewa sebuah kereta kuda.

Sesampainya di Padang Rumput, segera mereka membangun tenda dan mengatur barang-barang mereka supaya menyisakan tempat mereka tidur. Dari kejauhan, mereka melihat kesibukan orang-orang di sekitar yang juga  akan berkemah di Padang Rumput malam itu, juga lalu-lalang kereta kuda dan sepeda yang sibuk membawa perlengkapan dan barang-barang untuk Pesta Rakyat yang dimulai petang nanti. 

Bia dan teman-temannya bercakap-cakap merencanakan apa saja yang ingin mereka lakukan di Pesta Rakyat. Bia ingin bermain Tembak Jitu dan berencana mendapat banyak hadiah dari permainan Pukul Air. Sol ingin mencicipi domba panggang yang konon katanya merupakan makanan terlezat di Kota. Luppi dan Kyrie ingin menonton pesta tarian di pusat Pesta Rakyat. Norah ingin membeli banyak kembang api dan ikut bermain di Festival Kembang Api saat tengah malam. Sedangkan Sam mau saja mengikuti teman-temannya kemana-mana, melihat-lihat apa yang nanti terlihat menarik.

Tidak terasa langit matahari semakin condong ke barat. Bia dan teman-temannya segera bersiap-siap dan berjalan santai ke ujung lain Padang Rumput, dimana Pesta Rakyat dilakukan. Begitu banyak orang dari berbagai Desa yang berbondong-bondong untuk melihat Pesta Rakyat. Bia dan teman-temannya terkagum-kagum melihat begitu banyaknya permainan dan toko di sana. Mereka bermain, makan, dan berkeliling hingga malam, kemudian mereka berkumpul di Festifal Kembang Api.

Baru kali itu Bia dan teman-temannya melihat kembang api yang begitu menakjubkan. Kembang api yang bisa membentuk berbagai formasi indah di langit malam Kota. Bia melihat kembang api yang berbentuk naga, unicorn, bahkan bunga. Semua orang terkagum-kagum melihat Festival Kembang Api yang merupakan acara penutup Pesta Rakyat. Hingga kembang api terakhir melesat ke langit malam, semua orang masih terkesima terbius indahnya kumpulan cahaya itu.

Akhirnya Pesta Rakyat selesai. Bia dan teman-temannya, bersama begitu banyak pengunjung lainnya, berbondong-bondong berjalan untuk keluar dari area Pesta Rakyat. Toko-toko dan arena permainan juga mulai berkemas membereskan sisa-sisa barang mereka. Sampai tiba-tiba semua orang tersentak mendengar suara ledakan dari suatu tempat, seperti ada sesuatu yang meledak menghantam tanah. Semua terdiam, untuk mendengar lebih jauh apa yang terjadi. Beberapa detik kemudian ledakan lain menyusul. Bia memandang ke langit. Terkejut, dia menunjuk sesuatu seperti batu raksasa sedang melintasi langit di atasnya. Norah dan Luppi menjerit, Sam terpana mengikuti arah jatuh batu raksasa itu, begitu juga Sam dan Kyrie yang hanya membelalakkan matanya. Sol segera menarik tangan Bia untuk berlari ke arah manapun yang kosong, yang bisa mereka pakai untuk berlari bebas keluar dari area Pesta Rakyat. Norah, Luppi, Sam dan Kyrie berlari mengikuti.

"Kita harus segera keluar dari area ini! Jika di sini terus, kita seperti tikus yang terjebak, menunggu dihantam oleh batu-batu itu! Ayo, lari lebih cepat!" teriak Sol. Bia dan yang lain panik mengikuti arah Sol berlari. Tanpa henti mereka membagi pandangan ke atas dan ke depan, antara berjaga-jaga ada batu yang jatuh ke arah mereka dan mencari rute jalan keluar yang bercabang-cabang.

"Sol! ada batu yang menuju arah depanmu!" teriak Sam. Mereka berbalik arah ke kanan, menghindari batu yang menuju arah depan.

"Kanan! Awas Norah, kananmu!!" teriak Kyrie histeris sambil menarik Norah menjauh dari sebelah kanannya. Batu-batu terus berjatuhan. Kyrie, Norah, dan Luppi terpisah dari Bia, Sol, dan Sam akibat batu-batu yang terus berjatuhan di sekitar mereka. Jeritan-jeritan panik terdengar dari segala penjuru.

"Kita tidak bisa bersama-sama! Nanti kita bertemu di Padang Rumput! Jaga diri kalian! Ky, jaga mereka!" teriak Sol dari balik kepulan asap benturan batu. Kyrie dan lainnya mendengarkan, dan berlari kembali mencari jalan keluar yang lain.

"Sol, bagaimana ini? Sam, kau ada ide?" tanya Bia ketakutan. Di depan mereka hanya ada satu jalan ke arah kiri. Jadi, mereka tidak mempunyai pilihan lain selain berlari mengikuti jalan itu. 

"Sam, perhatikan langit di atas, jika ada batu ke arah kita, kita harus segera berlindung di bawah meja-meja atau apapun yang bisa dijadikan tempat berlindung,"  kata Sol. Sam mengangguk. Selanjutnya mereka terus maju, bergantian antara merayap di bawah meja menghindari serbuan batu-batu dan berlari sebisa mungkin saat tidak terlihat ada batu ke arah mereka. Sepertinya hanya mereka yang ada di jalan itu, mungkin karena batu besar yang jatuh menutup jalan dan memisahkan rombongan mereka dengan Norah dan lainnya.

"Sol, Sam, aku rasa semakin lama batu-batu yang jatuh semakin kecil, intensitasnya pun semakin jarang. Mungkin ini akan segera berakhir," ujar Bia, sambil berlari mengikuti Sol dan Sam. Sol dan Sam memandang ke atas, mereka setuju dengan Bia. Mereka pun mulai memelankan laju lari mereka. Mereka lelah. Jalan-jalan keluar tertutup batu raksasa, sehingga mereka harus mencari jalan keluar lain yang mungkin tidak tertutup.

"Menurut kalian, tadi itu apa? Meteor? Batu luar angkasa?" tanya Bia.

"Mungkin ada meteor jatuh dan itu tadi serpihan-serpihannya," jawab Sam. Sol hanya mengedikkan bahunya.

Tiba-tiba ada satu batu kecil yang jatuh ke arah mereka. Cukup mengagetkan, karena mereka sudah tidak terlalu waspada. Batu itu memantul di tanah dan tanpa sempat menghindar, batu itu mengenai tangan Bia.

"Aduh, panas!" kata Bia kaget. "Untung saja batunya kecil, tidak terlalu sakit." Bia melihat tangannya, tempat  batu tadi mengenainya. Dia melihat serangga kecil, mirip lalat berwarna merah-jingga, menempel kuat di tangannya. "Hiii, apa ini?" Bia jijik, mengibas-ngibaskan tangannya di udara, berharap serangga itu terlepas dari tangannya.

Sam dan Sol mendekat, ingin melihat ada sebenarnya di tangan Bia.

"Lalat?" tanya Sol begitu melihat serangga, yang tidak terlepas sekuat apapun Bia mengibas-ngibaskan tangannya. Sol meraih serangga itu dan melepaskannya dari tangan Bia. "Dia seperti menancap di tanganmu, Bi. Tapi kau tidak merasakan apa-apa, kan?" Bia menggeleng.

Akhirnya Sol, Sam, dan Bia memutuskan untuk berjalan lagi. Bia melihat ke arah atas, batu-batu kecil melesat ke arah mereka. 

"Hati-hati, Sam, Sol!" teriak Bia. Sam dan Sol mundur, menghindari batu-batu kecil itu. Anehnya, batu itu memantul lagi begitu menyentuh tanah, seperti batu yang mengenai Bia tadi. Sol tidak berhasil menghindari batu, batu itu mengenai sikunya. Yang mengejutkan, di bagian batu tadi menyentuh Sol, ada serangga serupa, seperti yang tadi menancap di tangan Bia. 

"Ini aneh. Batu tidak akan memantul setinggi itu jika mengenai tanah," kata Sam. Sol mengernyitkan dahinya, berpikir, sementara dia melepaskan serangga aneh itu dari sikunya.

Hari sudah pagi. Langit pelan-pelan menjadi terang, seiring matahari terbit. Sol, Sam, dan Bia mulai mendengar suara-suara orang di kejauhan. Tampaknya mereka sudah menemukan jalan yang tidak terisolir. Mungkin jalan keluar. Mereka bertiga berjalan cepat, tidak sabar keluar dari area Pesta Rakyat yang kacau balau.

"Norah, Luppi, dan Kyrie.. Bagaimana keadaan mereka? Ayo cepat, kita kembali ke kemah kita..." kata Bia, kelelahan.

Begitu mereka masuk di keramaian, mereka tersadar. Semua orang ini berbeda. Tidak seperti orang-orang Desa yang mengunjungi Pesta Rakyat semalam. Orang-orang ini memakai pakaian putih bersih, terusan dari bahu hingga mata kaki. Bia tidak bisa membedakan mana laki-laki dan mana perempuan. Ini aneh. Sol, Sam dan Bia menghentikan langkah mereka, memandang berkeliling. Mencari-cari, seandainya ada Norah, Kyrie dan Luppi di antara mereka, atau orang Desa lain yang mungkin mereka kenali wajahnya.

Namun tiba-tiba saja, dalam satu detik, semua orang berpakaian putih menoleh ke arah mereka. Mata mereka yang hitam kelam terpusat pada Bia dan Sol. Sam yang melihatnya, mulai merasa ketakutan, mundur.

"Ini dia dua yang tersisa, akhirnya menampakkan diri," kata salah seorang dalam kerumunan itu, menyeringai menghampiri Bia dan Sol.

"Kau siapa?" tanya Sol, sedikit agresif.

"Kami Manusia Putih, utusan dari Langit. Menawarkan kerja sama pada Bumi untuk bergabung dalam koalisi angkasa. Kalian salah satu, ehm, salah dua wakil Bumi, harus ikut dengan kami untuk berunding," jawabnya.

"Kenapa kami? Kami tidak mau ikut! Lagipula kami tahu kalian bohong. Mana ada utusan Langit. Manusia Putih? Omong kosong.." jawab Bia berani.

Kemudian Manusia Putih itu mencengkeram lengan Bia. Semua menjadi gelap, Suara-suara menghilang. Bia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Bia juga tidak tahu apa yang terjadi kemudian pada Sol dan Sam, juga teman-temannya yang lain.

Chapter 2 - ALAN


Aku memandangi surat berwarna krem di tanganku. ‘Aku sudah tahu, aku pasti lolos,’ pikirku sambil meremas kertas itu dan melemparnya ke sudut kamar. Aku duduk di kamar apartemenku yang kumuh. Sudah tiga bulan aku belum membayar sewa apartemen. Setelah ini, pasti akan aku lunasi biaya sewanya dan segera pindah ke tempat yang lebih baik.

Aku segera bangkit ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor manajemen artis yang telah meloloskanku di audisinya. Aku memakai kaos dan jeans casual, tidak mau terlihat antusias karena telah lolos audisi. Aku harus membuat mereka merasa merekalah yang membutuhkanku, bukan sebaliknya.
Setelah siap, aku bergegas menuju stasiun bawah tanah. Aku harus mengejar kereta ke arah MoonDale District pukul 9.00. Mungkin aku harus makan siang di sana, karena jadwal registrasi ulang peserta yang lolos audisi baru pukul 1.00 siang nanti.

Gudhiluvia memiliki lima distrik, yaitu Frontera, Smutek, EstrellaFall, MoonDale, dan PhoebusCrater. Frontera adalah distrik pinggiran, lebih sepi daripada distrik tempatku tinggal. Sangat sedikit orang yang tinggal di Frontera, mungkin karena daerahnya yang kurang bersahabat, terdiri dari hutan-hutan dan karang terjal dimana masih banyak hewan buas hidup di sana. Pemukiman penduduk di Frontera didominasi oleh orang-orang miskin yang hidup dengan mencari kayu bakar dan bekerja di pabrik pengolahan limbah di sana. Smutek, seperti juga Frontera, juga merupakan daerah pinggiran, hanya saja daerahnya lebih bersahabat daripada Frontera. Di Smutek, menjadi nelayan atau pedagang ikan menjadi mata pencaharian utama. Dikarenakan Smutek yang berbatasan dengan laut berpantai landai, yang memungkinkan perahu untuk menepi. Setelah Smutek adalah EstrellaFall, distrik yang menjadi pertemuan antara penjual dan pembeli barang murah dan barang mahal. Di sini banyak sekali pusat perbelanjaan, baik untuk kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas. Maka sudah pasti, EstrellaFall adalah pusat perbelanjaan terpadat dan terlengkap di Gudhiluvia.

MoonDale adalah bagian dari Kota Gudhiluvia yang menjadi pusat bisnis dan hiburan di kota tersebut. Pemukiman di distrik ini  didominasi oleh para pengusaha dan selebritis tingkat atas Gudhiluvia. Jika di EstrellaFall menjadi pusat jual-beli komoditas, di MoonDale dilakukan manajemen ‘balik layar’ komoditas-komoditas tersebut. Sedangkan PhoebusCrater adalah perbatasan Gudhiluvia dengan kota sebelahnya.

Walaupun MoonDale bisa disebut pusat kota, transportasi umum menuju distrik tersebut bisa dibilang tidak mudah. Hanya ada tiga kali kereta bawah tanah menuju distrik tersebut dari distrik tempatku tinggal, Smutek District, yaitu pagi pukul 8.00, siang pukul 3.00 dan malam pukul 9.00. Bisa jadi karena distrik tempatku tinggal adalah daerah pinggiran di Gudhiluvia, yang jarang sekali orang keluar dari distrik ini atau sebaliknya, menuju distrik ini. Jadi, mungkin pemerintah merasa kurang penting untuk memperbanyak jadwal transportasi umum dari/ke stasiun Smutek.

Aku berjalan cepat di trotoar yang sepi pejalan kaki. Jalan raya pun tidak ramai kendaraan. Sebagian besar penduduk distrik ini sibuk di pelelangan ikan atau pasar sayuran. Jarang yang bekerja di kantor, karena di sini yang disebut kantor hanyalah beberapa barbershop, tempat penukaran mata uang, bank, rumah sakit dan sekolah. Bisa dibayangkan betapa sederhananya kehidupan di distrik ini. Aku sendiri terpaksa memilih tinggal di sini karena hanya di sinilah aku bisa mendapat sewa apartemen yang sangat murah.

Akhirnya aku sampai di stasiun bawah tanah, tepat saat kereta memasuki stasiun. Stasiun itu tampak tidak terlalu sibuk. Hanya terlihat beberapa orang berpakaian seragam kantor yang mungkin akan berangkat kerja di MoonDale atau di stasiun distrik berikutnya, PhoebusCrater. Sebelum MoonDale ada EstrellaFall, distrik yang merupakan pusat perbelanjaan mewah. Di Gudhiluvia, jam kerja dimulai pukul 9.00 ke atas. Hanya beberapa instansi saja yang menetapkan jam kerja lebih awal dari itu, misalnya sekolah yang dimulai pukul 8.00 atau rumah sakit yang buka 24 jam.

Aku, bersama beberapa orang-orang berseragam itu, bergegas masuk ke kereta yang masih kosong. Stasiun ini adalah stasiun kedua, setelah stasiun kereta bawah tanah pertama di Frontera. Aku, seperti orang-orang lainnya, segera mencari sudut yang paling nyaman, karena untuk sampai di MoonDale akan dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Aku melihat pemandangan laut dari kejauhan bergantian dengan rumah pemukiman penduduk yang masih jarang. Hanya sedikit suara terdengar di gerbong ini. Sayup-sayup terdengar obrolan pelan orang berseragam tadi, mungkin membicarakan pekerjaan. Aku tidak peduli. Aku sibuk menyusun rencana karir baruku sebagai artis. Jelas, aku tidak bisa belama-lama menikmati pekerjaan itu. Mungkin hanya dua-tiga film, beberapa iklan dan kesemuanya harus tanpa skandal yang terlalu mencolok, sebelum akhirnya aku harus kembali menarik diri ke masyarakat umum, bersembunyi menghabiskan uang hasil kerjaku selama beberapa tahun sebelum harus mencari pekerjaan lainnya. Ya, aku tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun demi bisa berbaur dengan tenang di dunia ini.

Tiba-tiba aku teringat gadis bergaun hijau saat itu. Jelas dia adalah makhluk Bintang Calvera lainnya. Kalau begitu, besar kemungkinan ada lebih banyak makhluk Calvera yang lari ke bumi ini daripada dugaanku sebelumnya. Apakah gadis itu memiliki keluarga? Dia bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan kekuatannya. Siapakah dia?

Hmm, jika dia lolos audisi ini, hari ini aku pasti akan bertemu lagi dengannya. Mungkin akan ada banyak kesempatanku menggali informasi tentang makhluk Calvera sebentar lagi. Ya, aku harus lebih berhati-hati. Jika gadis itu salah satu seperti ayahku, aku benar-benar harus lebih hati-hati.

Cahaya Gelap

Bukan satu tapak yang kujalani. Selama ini ternyata aku hanya diam. Bahkan lebih buruk dari diam. Maju selangkah lalu mundur dua langkah. Ah, seperti permainan masa kecil. Padahal yang kuhidupi bukan permainan, tapi kenyataan. Atau selama ini aku melihat hidup ini hanya permainan?

'Hei, bangunlah', kata otak. 'Lihat di depanmu, hidup terus berjalan. Hidup harus berjalan atau kau mati hingga diam. Mereka menolak keberadaanmu, itukah alasanmu untuk sembunyi? Atau mereka mendiamkanmu lalu kau berlari? Apapun yang kau lakukan tidaklah berarti, tapi cukup untuk memberimu alasan untuk hidup. Untuk terus berjuang dan membuktikan bahwa kau ada!' Ah, seperti
kata Dewa 19, hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti. Dan jika kau berhenti, itu berarti kau mati.

Tapi apa esensinya jika aku mulai? Hanya akan selesai satu kemudian yang lain akan mulai lagi. Dan kembali lagi dari awal. Terus begitu hingga aku bosan. Ah, ini semua hanya gurauan. Toh apa yang aku dapat? Mungkin akan ada penolakan kedua, ketiga, dan seterusnya. Itu akan lebih menyakitkan. Mungkin diam lebih baik daripada aku maju dan kesakitan.

'Aku tahu kau ingin maju. Jauh di hatimu kau ingin melangkah, bukannya diam di sini, terperangkap. Cobalah, cari jawaban, bukan hanya diam dan mengira-ngira,' otak memberi alasan dan sedikit angin segar dalam pengapnya kepalaku.

Aku mulai goyah. Sedikit melihat secercah cahaya yang sudah menyala sejak lama. Namun cahaya itu begitu terang. Diriku yang begitu gelap, begitu kotor lama meringkuk di sini, terlalu silau melihatnya. Aku menutup mata. Aku tidak ingin terbakar melihat silaunya. Aku lebih tidak ingin cahaya itu meredup tertutupi gelapku.

'Sudahlah, jangan mencari alasan. Aku tahu kau telah mendapat jawaban, kau hanya tidak mau mengakuinya. Jadi, kau hanya akan terus sembunyi di sini? Dasar kau pengecut sombong! Selalu mencari-cari alasan untukmu tetap tenggelam,' otak mulai mencemooh kesal.

Aku terkesiap. Aku memang mencari-cari alasan. Karena tidak ada cahaya yang tertutupi gelap. Selamanya cahaya menerangi. Dan aku kembali bersembunyi di sudut, ketakutan menyadari kenyataan. Cahaya tidak bisa meraihku. Dia hanya sempat menyinari sedikit diriku, lalu kemudian hilang. Dan aku tenggelam.

Chapter 2 - DON


Aku marah sekali. Benar-benar marah dengan ulah Luna mengikuti audisi untuk menjadi artis. Mungkin perasaanku ini lebih tepat disebut khawatir, bukan marah. Sudah bertahun-tahun aku dan Carla berbaur di dunia ini tanpa ada kecurigaan dari siapapun tentang identitas palsu kami. Bahkan, kami bertekad untuk membuat rantai keluarga baru yang lepas dari masa lalu kami dengan melahirkan Luna ke dunia. Tapi semua usaha kami itu bisa gagal begitu saja jika bertemu dengan orang yang salah. Orang yang mungkin saja akan kami temui jika kami terlalu menarik perhatian.

Aku sengaja tidak bekerja di luar rumah dan memanfaatkan kemampuanku memprediksi secara akurat untuk bekerja sebagai freelance penasihat keuangan perusahaan dan perorangan. Walaupun terkadang aku tetap harus membuat prediksiku salah, lagi-lagi supaya terlihat normal seperti manusia lainnya.  Semua itu aku lakukan demi keluarga kecil ini. Tapi ulah Luna kali ini bisa merusak segalanya.

Aku hampir saja lepas kendali tadi. Emosiku yang terlalu kuat bisa merusak keseimbangan dunia atas dan bawah. Hampir saja Luna melihat bayangan hitam yang mulai muncul sebagai akibat kecerobohanku tidak bisa mengendalikan amarahku tadi. Andai saja Carla tidak segera menenangkanku, rahasia kami berdua bisa terbongkar. Luna pasti merasa ketakutan sekali. Aku merasa perlu membuatnya ketakutan dan putus asa untuk meyakinkannya bahwa keputusannya mengikuti audisi adalah keputusan yang salah.

“Don, kau tenanglah. Kau harus mulai belajar mengendalikan emosimu. Ya, aku tahu kau sangat khawatir Luna merusak semua usaha kita selama ini, tapi bagaimanapun dia putri kita. Tidak baik kalau kau membuatnya ketakutan seperti itu,” kata Carla lembut padaku.

“Aku rasa aku perlu menakut-nakutinya, Car, supaya dia tidak lagi berani melanggar larangan kita. Ini semua aku lakukan demi kebaikan kita, terutama kebaikan Luna.”

Chapter 2 - LUNA


Akhirnya datang juga hari ini,hari dimana hasil dari audisi minggu lalu akan diumumkan. Aku sangat tidak sabar menunggu hari ini sampai-sampai bangun pagi pun aku tidak perlu dibangunkan. Dengan semangat aku mengikat rambut panjangku tinggi ke atas kepala dan turun ke ruang makan untuk sarapan. Aku menuruni tangga sambil bersenandung riang. Lalu aku lihat ibu sedang memasak di dapur.

Aku menghampirinya dan mencium pipinya, “Selamat pagi, Bu! Ibu terlihat cantik sekali hari ini,” pujiku gembira.

Ibu memandangku tidak percaya. “Ada apa? Suatu kejadian langka kau bangun sepagi ini tanpa ibu perlu meneriakimu, apalagi dengan wajah gembira seperti itu,” kata ibu sambil menyipitkan mata curiga.

“Tidak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya sedang bersemangat hari ini,” jawabku mulai khawatir ibu curiga.

“Kau bohong. Kau tahu, ibu mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, tapi ibu tahu apa yang sedang kau rasakan. Ada apa, Luna?” tanya ibu menyelidik.

“Tidak ada.”

“Lalu mengapa kau tiba-tiba khawatir? Padahal beberapa detik yang lalu kau sangat bersemangat?”

“Er, nanti ibu juga tahu. Tidak sekarang, aku akan menceritakan semua pada ibu, tapi nanti malam. Oke? Sekarang aku ingin sarapan, Bu, aku lapar sekali.”

Sesungguhnya aku masih ragu untuk menceritakan semua pada ibu dan ayah tentang keikutsertaanku dalam audisi minggu lalu. Tapi bagaimanapun, jika aku lolos audisi, mereka harus tahu, bukan? Aku tidak lolos pun, aku tetap harus bercerita pada mereka, karena aku sudah terlanjur janji pada ibu. Dan kurasa mereka akan tetap memarahiku. Setidaknya kalau aku lolos audisi, dimarahi ibu dan ayah rasanya akan ringan sekali dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan kurasakan.

Aku segera menghabiskan segelas susu cokelat yang ibu buatkan untukku dan menonton ibuku menyajikan sepiring besar omelet pedas di meja makan. Aku pun cepat-cepat mengambil piring, roti dan sepotong besar omelet pedas buatan ibu yang lezat. Aku memakan sarapanku dengan riang, sampai akhirnya ayah memasuki ruang makan, dengan koran pagi di tangan kirinya dan sepucuk amplop berwarna krem di tangan kanan. Tidak seperti biasanya, ayah tidak mengomel tentang anak laki-laki pengantar koran. Tapi aku segera merasakan emosi kemarahan besar yang ditujukan padaku. Dan aku pun segera tahu, amplop krem itulah penyebabnya. Pengumuman audisiku.

“Er, Ayah, aku bisa menjelaskan semua ini..” kataku lirih, mencoba menenangkan ayah, sebelum kemarahannya meledak.

“Menjelaskan? Tidak ada yang perlu kau jelaskan, Nona! Bukankah selama ini kami sudah melarangmu mengikuti audisi semacam ini? Kami telah berkali-kali menolak keinginanmu untuk menjadi model, artis, atau apapun yang akan membuatmu menarik perhatian! Apa kau tidak pernah berpikir sesulit apa kami berbaur di dunia ini? Apa kau tidak paham bahwa ini semua kami lakukan hanya untuk melindungimu? Kau benar-benar...”

Ayah tidak bisa lagi berkata-kata. Aku ketakutan melihat wajahnya memerah karena kemarahan. Sekilas aku melihat bayang-bayang hitam di sudut ruangan, tapi bayangan itu tidak ada ketika aku menoleh ke arahnya. Lalu aku merasakan ketakutan yang amat sangat menyelimuti diriku. Ada apa ini? Aku menatap ayah masih terdiam kaku di tempatnya, lalu beralih memandang ibu yang sedang memasang wajah khawatir memandang ayah.

Beberapa menit ruangan hening, tidak ada yang berani bersuara, hingga ibu menyentuh lengan ayah dengan lembut dan memberi isyarat padaku untuk segera pergi dari hadapan ayah. Aku memutuskan untuk cepat-cepat berangkat sekolah. Berangkat sekolah pada hari-hari biasanya terasa sangat membosankan, tapi khusus untuk hari ini, aku berangkat sekolah tidak dengan perasaan bosan. Hidupku terasa hampa saat ini dan aku tidak ingin sendirian ada di dalam kehampaan ini. Seluruh sekolah harus merasakan hal yang sama.

Chapter 1 - ALAN


Hah, apa-apaan ini? Aku terpaksa mengikuti audisi semacam ini demi uang! Yah, tapi paling tidak ketampananku akan menunjang usahaku untuk menjadi artis. Yeah, aku harus bertahan untuk bergabung di antrian panjang ini. Hanya pekerjaan sebagai artis yang tidak membutuhkan ijazah sekolah dan menghasilkan banyak uang,’ keluhku.

Aku melempar pandangan berkeliling area pendaftaran audisi yang penuh dengan manusia berpakaian heboh. Lalu aku menangkap sosok gadis berbalut gaun hijau dengan sepatu supertinggi. Rambutnya ikal dengan semburat kemerahan tampak indah di atas gaun hijaunya.

Ah, ternyata ada pemandangan menarik, nih. Cukup untuk membantuku mengusir rasa bosan mengantri.

Gadis itu tidak ikut mengantri, melainkan hanya menonton kami ribut mencari posisi antrian terdekat dengan meja registrasi. Pandangannya tampak sombong dan merendahkan. Lalu tiba-tiba mata kami bertemu. Matanya gelap dan dipenuhi kilau kepercayaan diri menatapku tertarik. Aku sangat terbiasa dengan tatapan seperti itu.

Tapi, tunggu dulu.. Sepertinya aku merasakan sesuatu dari gadis itu. Ya, auranya tidak asing lagi. Aura yang sama dengan yang dimiliki ayahku yang brengsek. Apa mereka memang berhubungan atau ini hanya kebetulan? Tapi aku tidak pernah menemukan aura semacam ini di manusia-manusia lain yang pernah aku temui.

Lalu gadis itu berjalan dengan langkah pasti ke arah meja registrasi. Aku hanya memandanginya, ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Begitu juga dengan orang-orang lain di antrian, memandang gadis itu dengan penasaran. Gadis itu berbicara sesuatu dengan suara pelan. Tidak lama kemudian petugas administrasi memberi nomor pendaftaran ke gadis itu, tanpa dia perlu antri bersama kami! Aku melotot memandang hal itu, kesal sekali karena kami semua harus mengantri sedangkan gadis itu tidak perlu repot-repot mengantri.

Apa yang gadis itu lakukan? Memberi petugas itu uang suap? Tapi sepertinya tidak. Aku tidak melihat gadis itu memberi petugas itu sesuatu apapun. Apa mereka bersaudara? Sepertinya juga tidak, mereka sama sekali tidak mirip..

Aku masih berpikir ketika tiba-tiba ada sebuah suara memasuki pikiranku, “dan begitu juga dengan kalian semua, Kawan, akan melupakan tindakanku barusan.” Lalu aku merasakan perasaan dingin yang menenangkan dan aku melihat beberapa orang di depanku mendadak tampak tenang, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi, setelah beberapa detik sebelumnya memelototi gadis itu dengan marah. Dan ketika itu pula aku tahu jawaban mengapa gadis itu bisa mendapat nomor pendaftaran tanpa mengantri: kompulsi.

... Dan itu berarti, dia salah satu dari makhluk-makhluk sialan itu. Seperti ayahku..’

Aku memperhatikan gadis itu berjalan memasuki ruang tunggu audisi dengan langkahnya yang ringan. Kuharap kami bisa bertemu lagi karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan salah satu dari Mereka, selain ayahku tentunya. Aku masih bertanya-tanya ketika dia menghilang di balik papan pembatas. Apakah gadis itu termasuk manusia Bintang Calvera?

Chapter 1 - LUNA (2)


Taman Heatburn ramai sekali pagi ini. Walaupun audisi belum dibuka, sudah banyak orang yang hendak mengantri untuk ikut audisi. Aku melihat jam tangan, untuk mengecek berapa lama lagi audisi akan dibuka.

Hmm, masih 2  jam lagi baru audisi akan dimulai. Berdandan tidak akan memakan waktu selama itu. Berganti baju di mobil yang sepertinya akan sedikit sulit, tapi tidak akan memakan waktu terlalu lama juga. Ah, tapi bagaimana aku bisa menyela dalam kerumunan itu? Sungguh, aku benci mengantri apalagi cuaca hari ini panas sekali,’ aku menggerutu dalam hati.

Aku pindah ke kursi belakang yang memang sudah kumodifikasi untuk menjadi studio pribadiku dan memulai dengan mengganti bajuku. Beruntung kaca mobilku gelap sehingga tidak terlihat dari luar. Aku memulai ritual berdandanku. Pertama aku memakai alas bedak kemudian menumpuknya dengan bedak tabur. Aku mulai merias mata dan bibirku senada dengan warna pakaianku. Dari kaca besar yang terpasang di jendela mobil belakang, kulihat ini adalah hasil dandanan tersempurna selama hidupku. Hari ini aku memakai gaun berbahan ringan berwarna hijau tua yang akan menonjolkan rambut ikal kemerahanku. Riasan wajahku kubuat senatural mungkin supaya tidak terlihat berlebihan di siang hari yang sangat panas ini. Tak lupa kuambil sepatu highheels kesayanganku yang berwarna hitam.

Sempurna. Hari ini adalah hari yang sangat penting. Hari yang akan menentukan debutku sebagai seorang artis,’ pikirku gembira. Aku pun keluar dari mobil untuk bergabung dengan kerumunan peserta audisi.

Ah, mereka semua terlihat biasa saja. Aku tidak menemukan hambatan sedikit pun untuk bisa lolos audisi,’ pikirku yakin. Aku berjalan dengan penuh percaya diri untuk menempatkan diriku lebih dekat dengan meja registrasi. Aku melihat jam, 15 menit lagi registrasi akan dibuka. Dengan tidak sabar aku memandang berkeliling. Lalu seketika pandanganku terfokus di satu titik, seorang laki-laki berbaju hitam dengan kalung rantai melingkar di lehernya. Entah mengapa ada suatu tarikan kasat mata yang cukup kuat membuatku ingin sekali berjalan menghampirinya. Tepat ketika aku hendak melangkahkan kakiku ke arahnya, petugas registrasi berjalan melewatiku. Segera aku urungkan niatku dan bergegas mendekat meja registrasi bersama ratusan peserta audisi lainnya.

Dalam beberapa detik saja, aku sudah tertinggal di belakang karena peserta audisi lainnya sungguh sangat brutal. ‘Malas banget kalo harus berdesakan dengan mereka. Bisa-bisa semua penampilanku kusut.’  Aku membiarkan mereka semua mengantri mendahuluiku, tapi aku mempunyai cara lain untuk bisa mendaftar tanpa mengantri. Senyum lebar mengembang di bibirku.

Aku berjalan mantap ke arah meja registrasi, melewati antrian panjang. Aku merasakan semua mata orang-orang di antrian memandang ke arahku, bahkan beberapa melotot curiga. Aku tetap cuek, meneruskan langkahku. Begitu aku sampai di depan meja registrasi, dimana terdapat petugas registrasi wanita sedang melayani pendaftaran seorang gadis mungil dengan dandanan heboh, aku mengulurkan kartu identitasku ke arah wanita petugas.

“Kau harus mengantri dulu, Nona,” kata petugas itu tegas. Orang-orang di antrian berhenti berbicara, menonton percakapanku dengan petugas wanita itu.

“Saya tidak punya banyak waktu untuk mengantri dan kau akan bersedia mendahulukanku untuk mendaftar,” ucapku yakin dengan suaraku yang menenangkan. Aku menatap mata pegawai itu dalam-dalam dan aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

“Baiklah, ini nomor audisi Anda, Nona. Semoga berhasil,” kata petugas itu dengan suara yang sedikit bergetar. Pandangannya masih kosong dan untuk terakhir kali aku menatap matanya lagi, berbisik, “Kau akan lupa semua ini, Nona, jangan khawatir.” Kemudian aku melayangkan pandanganku ke orang-orang di antrian, “dan begitu juga dengan kalian semua, Kawan.”

Lalu aku berjalan masuk tempat audisi dengan langkah riang, tidak menyadari ada sepasang mata yang mengamatiku  dengan seksama. Hari ini sungguh sempurna.

CHAPTER 1 - DON


“Car, apa kau tidak berpikir Luna sedang menyembunyikan sesuatu? Apa kau tidak mendengar jantungnya berdegup begitu kencang? Dia mungkin sedang berbohong tadi. Mengapa kau mengijinkannya pergi begitu saja?” cecarku pada Carla, kesal.

“Don, kalau tadi kita menahannya lebih lama hanya untuk bertanya-tanya hal yang tidak penting, dia pasti akan terlambat berangkat ke sekolah. Lagipula, siapapun akan gugup ketika meminta ijin pada orangtuanya untuk pergi kencan PERTAMAnya. Tidakkah kau pikir sungguh menyenangkan dunia Luna saat ini? Jatuh cinta, seperti kita dulu,”  kata Carla sambil tersenyum lebar.

“Tapi kita tidak tahu seperti apa laki-laki itu. Kau yakin membiarkan Luna pergi dengan laki-laki yang bahkan wajahnya kita tidak tahu?” tanyaku masih khawatir.

“Kau tenang saja, Don. Luna akan baik-baik saja. Dia putri kita, bukan?” jawab Carla lembut seraya menggenggam tanganku.

Kalau sudah begini, bahkan kekhawatiran tingkat akut pun akan hilang dalam sekejap.’ Aku memandang Carla yang menunggu jawabanku. ‘Ya, Luna sudah dewasa. Mungkin sudah tiba saatnya membiarkan dia hidup di luar bayang-bayang kami,’

‘Kau sudah paham sekarang, Don? Bahwa kita bukan manusia, bukan berarti kita akan hidup selamanya mendampingi Luna’ suara Carla  yang lembut berbisik di kepalaku. Aku hanya tersenyum memandang matanya yang bersinar-sinar gembira.

CHAPTER 1 - LUNA


Kriiiiiiiingg........ Suara alarm berbunyi nyaring mengganggu tidurku.

Ah, pagi sudah datang dan aku harus berangkat ke sekolah. Malas sekali. Mengapa harus ada hari Senin? Mengapa harus ada sekolah? Pada akhirnya pun aku tidak akan membutuhkan semua nilai itu setelah lulus. Bukankah untuk menjadi seorang model tidak memerlukan nilai ujian matematika, bahasa inggris, sains, dan semua pelajaran tolol itu? Ah, tapi bagaimanapun aku tetap terjebak dalam semua ketidakperluan itu dan harus mendapat nilai bagus supaya ayah dan ibu mau memberi uang saku,’ pikirku sambil menggeliat malas di tempat tidurku yang hangat.

“Luna! Ayo cepat bangun! Kau akan terlambat!” suara ibu yang nyaring menembus pintu kamarku. Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur yang nyaman dan keluar kamar untuk ikut sarapan bersama. Aku melihat ibu sedang di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Senandung lirih sedikit terdengar dari mulutnya, tapi aku tidak tahu dia menyanyikan lagu apa. Aku hanya bisa melihat bibirnya yang mungil berkomat-kamit dan mengeluarkan nada. Kadang aku heran, bagaimana bisa mulut kecil seperti itu menghasilkan suara nyaring yang bahkan dari kamarku saja terdengar sangat nyaring. Padahal kamarku ada di lantai dua.

Sambil terheran-heran (yang hampir selalu kurasakan setiap pagi) aku duduk di kursi meja makan. Tidak lama kemudian ayah muncul dari balik pintu teras, menyusul ke meja makan. Di tangannya terlihat dia sedang memegang koran pagi.

“Anak laki-laki pengantar koran itu lagi-lagi melemparkan korannya tepat ke wajahku! Apa dia tidak melihat aku yang sebesar ini sedang menyiram bunga di halaman? Sungguh menyebalkan! Lain kali akan kukejar dia untuk kuberi pelajaran!” kata ayahku bersungut-sungut. Ibu hanya menanggapi kejengkelan ayah dengan senyum manisnya. Tidak lama kemudian, wajah ayah kembali tenang, seakan tidak pernah ada kejengkelan sebelumnya.

Yah, ayahku memang sedikit emosional. Kesalahan kecil saja bisa membuatnya marah-marah, atau sedikitnya menggerutu. Tapi jika ada ibu bersamanya, ayah bisa lebih tenang. Aku juga tidak mengerti mengapa bisa begitu. Aku pikir siapapun akan merasa tenang jika berada di dekat ibu. Siapa yang sanggup marah-marah di depan tatapan ibu yang lembut dan senyumnya yang indah? Kurasa tidak ada yang akan sanggup.

Aku segera menghabiskan omelet lezat yang menjadi menu sarapan kami hari ini dan segelas susu cokelat kesukaanku. Kulihat ayah juga sedang asyik melahap omeletnya sambil membaca koran di tangan kirinya. Ibu masih bersenandung kecil sambil membereskan meja dapur. Sepertinya pagi ini semua orang sedang dalam suasana hati yang bagus.

Aku beranjak untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari ini aku akan mengikuti casting film dan orangtuaku tidak tahu tentang semua ini. Pakaian dan sepatu ganti serta alat berdandanku sudah aku masukkan diam-diam ke mobil semalam. Jadi yang kubutuhkan saat ini hanya menyiapkan alasan untuk pulang terlambat hari ini dan memasang wajah tenang.

Sebelum turun untuk (pura-pura) berangkat sekolah, aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku yang berdegup kencang karena hendak berbohong kepada ayah dan ibu yang pada dasarnya hampir mustahil dibohongi, kecuali ketika suasana hati mereka sedang sangat bagus sekali. Kuhitung sampai sepuluh, setelah itu aku berjalan menuruni tangga.

“Ayah, Ibu....,” kataku pelan. Mereka berdua menoleh kepadaku.

“Oh, Luna, kau mau berangkat sekolah sekarang? Sepulang sekolah nanti cepatlah pulang, aku ingin kita makan malam bersama,” kata ayahku sambil kembali mengalihkan pandangannya ke koran pagi yang belum juga selesai dibacanya.

“Eh, Ayah, aku.. Kurasa kalian terpaksa makan malam berdua saja. Aku ada janji dengan seseorang..” jawabku lirih, khawatir mereka curiga. Seketika pandangan ayah kembali padaku dengan sorot mata curiga. Sedangkan ibu mulai menyipitkan matanya kepadaku, tatapannya menyelidik.

“Aku.. Aku ada janji kencan, Ayah. Dia mengajakku makan malam,” tambahku cepat-cepat. Kurasa alasan kencan akan masuk akal untuk degupan jantung sekeras ini. Dan kurasa aku benar begitu melihat tatapan ibu kembali melembut dan tidak curiga lagi.

“Baiklah, Sayang, tapi tentu saja kau jangan pulang terlalu malam. Kami akan menikmati makan malam kami berdua. Kau juga harus bersenang-senang. Oke?” jawab ibu gembira.

“Eh, baik, Bu. Kalau begitu aku berangkat sekolah sekarang. Daaaa, Ayah,” kataku sambil berlari cepat-cepat ke garasi sebelum ayah yang sepertinya masih curiga mempengaruhi ibu yang sudah percaya.

Beginilah kalau berbohong ketika sebenarnya tidak perlu berbohong,’ pikirku sambil mendesah pelan dan menyalakan mesin mobil sport merahku. Aku pun berangkat ke Taman Heatburn, lokasi casting perdanaku.

Prolog - CARLA


Carla tersentak lemas begitu bayinya berhasil dia lahirkan. 'Sungguh rasanya sakit, tapi semua kesakitan itu terbayar begitu aku melihat bayiku lahir dengan selamat,' pikirnya.

“Nyonya, bayi Anda perempuan,” ucap dokter sambil menyerahkan bayi itu pada Carla. Carla memeluknya. Bayi itu sangat kecil, sangat tidak berdaya. Suara tangisnya pelan, kedengarannya seperti tangisan manja.

Cantik sekali. Banyak sekali pujian yang ingin kuberikan padamu, tapi aku kehabisan kata-kata saking bahagianya aku melihatmu. Selamat datang di dunia, Putriku yang cantik,’ ucap Carla dalam hati. Dia kehabisan tenaga, bahkan untuk berbicara pun dia tak mampu. Lalu tiba-tiba semua terasa gelap dan dia merasakan bayinya diambil dari pelukannya. Tangannya kosong dan suster-suster berseliweran di sekitarnya, sibuk membersihkan sisa-sisa persalinan. Carla merasakan semua kesibukan itu dan juga merasakan ketika tempat tidurnya didorong. Dia ingin tahu akan dibawa kemana dan oleh siapa dia dibawa. Dia juga ingin tahu dimana putrinya sekarang. Apa putrinya juga dibawa bersamanya? Tapi Carla terlalu lemah untuk membuka mata, bahkan untuk berpikir.

Carla menghitung, satu detik, dua detik, tiga, empat... Dia mendengar pintu dibuka dan tempat tidurnya didorong masuk lalu tiba-tiba berhenti. Belum ada perubahan di dirinya, masih lemah. Carla terus menghitung, menunggu kekuatannya pulih. Paling tidak untuk membuka mata dan melihat lagi wajah bayinya.

“Nyonya, Anda masih lemah sekali sekarang. Sebaiknya Anda istirahat dulu sekarang. Bayi Anda sedang bersama suami Anda. Sedangkan Anda sekarang sudah saya pindah ke ruang perawatan. Akan saya sampaikan pada suami Anda bahwa sekarang Anda sudah bisa dijenguk,” kata seorang wanita, yang ditebaknya adalah salah satu suster di ruang operasi tadi. Carla diam saja, tidak sanggup menjawab perkataan suster itu. Tapi paling tidak sekarang dia sudah lega begitu mengetahui dimana bayinya berada dan kemana dia dibawa.

Carla melanjutkan menghitung, menanti perubahan di dirinya. Setidaknya ini sudah 15 menit sejak dia kehilangan kekuatannya. Carla berharap tidak lama lagi dia bisa membuka mata. Lalu dia mendengar pintu berderit terbuka diikuti suara langkah kaki mendekat. Suara langkah kaki itu berat dan berirama. Lalu dia merasakan kesejukan udara yang tiba-tiba bersama aroma mint yang menyerbak tercium oleh hidungnya. Don sudah datang. Begitu tenang hatinya tiba-tiba. Segala kekhawatiran dan pertanyaan-pertanyaan yang tadi dia rasakan hilang. Lalu Carla merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam tangannya dan akhirnya Carla merasakan aliran kekuatan mengalir deras ke dalam tubuhnya.

Carla membuka kelopak mataku dan dia melihat Don sudah duduk di samping tempat tidurnya. Sedikit kekecewaan muncul karena dia melihat Don datang seorang diri, tanpa membawa putri mereka. Lalu Carla tahu bahwa putrinya dibawa ke ruang bayi yang steril. Ya, Carla bisa merasakannya bahwa dia aman. Carla sudah pulih sekarang. Dia bahkan sempat berpikir untuk segera melompat turun dari tempat tidur dan menarik Don mengunjungi bayi mereka. Tapi Carla masih mengkhawatirkan luka operasi dan menghapus pikiran tadi.

Don memandangi Carla, tahu semua pikiran-pikiran sinting di kepalanya. Carla hanya membalas tatapannya dengan tersenyum.

Dia sangat mengkhawatirkan aku tadi. Kami berdua sama-sama ingin segera saling bertukar pikiran, tapi dia tahu aku belum pulih benar. Aku masih membutuhkan banyak kekuatan untuk menyembuhkan luka operasi ini dengan cepat. Ya, akan ada banyak waktu nanti untuk kami bertukar pikiran,’ Carla menenangkan diri. Dia meremas tangan Don, mencoba memberi isyarat padanya untuk bersabar.

“Carl, apa kau punya ide siapa nama untuk putri pertama kita?” tanya Don memecah pikiran Carla.

“Er, aku ingin nama yang manis untuknya. Jangan kau beri nama Cerberus seperti usul gilamu saat itu. Putri kita adalah gadis manis dan cantik! Bahkan kalaupun anak kita laki-laki, aku tidak akan suka jika dia diberi nama Cerberus,” jawab Carla merajuk.

“Iya, iya.. Tapi apa kau punya usul yang sangat bagus?” Kami berdua terdiam, tenggelam memikirkan nama untuk putri kami.

“Bagaimana kalau Luna?” usul Carla tiba-tiba.

“Luna? Cukup bagus. Baiklah, putri kita bernama Luna. Luna Araun..”

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...