Showing posts with label LUNA - Sebuah dongeng. Show all posts
Showing posts with label LUNA - Sebuah dongeng. Show all posts

Chapter 2 - ALAN


Aku memandangi surat berwarna krem di tanganku. ‘Aku sudah tahu, aku pasti lolos,’ pikirku sambil meremas kertas itu dan melemparnya ke sudut kamar. Aku duduk di kamar apartemenku yang kumuh. Sudah tiga bulan aku belum membayar sewa apartemen. Setelah ini, pasti akan aku lunasi biaya sewanya dan segera pindah ke tempat yang lebih baik.

Aku segera bangkit ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor manajemen artis yang telah meloloskanku di audisinya. Aku memakai kaos dan jeans casual, tidak mau terlihat antusias karena telah lolos audisi. Aku harus membuat mereka merasa merekalah yang membutuhkanku, bukan sebaliknya.
Setelah siap, aku bergegas menuju stasiun bawah tanah. Aku harus mengejar kereta ke arah MoonDale District pukul 9.00. Mungkin aku harus makan siang di sana, karena jadwal registrasi ulang peserta yang lolos audisi baru pukul 1.00 siang nanti.

Gudhiluvia memiliki lima distrik, yaitu Frontera, Smutek, EstrellaFall, MoonDale, dan PhoebusCrater. Frontera adalah distrik pinggiran, lebih sepi daripada distrik tempatku tinggal. Sangat sedikit orang yang tinggal di Frontera, mungkin karena daerahnya yang kurang bersahabat, terdiri dari hutan-hutan dan karang terjal dimana masih banyak hewan buas hidup di sana. Pemukiman penduduk di Frontera didominasi oleh orang-orang miskin yang hidup dengan mencari kayu bakar dan bekerja di pabrik pengolahan limbah di sana. Smutek, seperti juga Frontera, juga merupakan daerah pinggiran, hanya saja daerahnya lebih bersahabat daripada Frontera. Di Smutek, menjadi nelayan atau pedagang ikan menjadi mata pencaharian utama. Dikarenakan Smutek yang berbatasan dengan laut berpantai landai, yang memungkinkan perahu untuk menepi. Setelah Smutek adalah EstrellaFall, distrik yang menjadi pertemuan antara penjual dan pembeli barang murah dan barang mahal. Di sini banyak sekali pusat perbelanjaan, baik untuk kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas. Maka sudah pasti, EstrellaFall adalah pusat perbelanjaan terpadat dan terlengkap di Gudhiluvia.

MoonDale adalah bagian dari Kota Gudhiluvia yang menjadi pusat bisnis dan hiburan di kota tersebut. Pemukiman di distrik ini  didominasi oleh para pengusaha dan selebritis tingkat atas Gudhiluvia. Jika di EstrellaFall menjadi pusat jual-beli komoditas, di MoonDale dilakukan manajemen ‘balik layar’ komoditas-komoditas tersebut. Sedangkan PhoebusCrater adalah perbatasan Gudhiluvia dengan kota sebelahnya.

Walaupun MoonDale bisa disebut pusat kota, transportasi umum menuju distrik tersebut bisa dibilang tidak mudah. Hanya ada tiga kali kereta bawah tanah menuju distrik tersebut dari distrik tempatku tinggal, Smutek District, yaitu pagi pukul 8.00, siang pukul 3.00 dan malam pukul 9.00. Bisa jadi karena distrik tempatku tinggal adalah daerah pinggiran di Gudhiluvia, yang jarang sekali orang keluar dari distrik ini atau sebaliknya, menuju distrik ini. Jadi, mungkin pemerintah merasa kurang penting untuk memperbanyak jadwal transportasi umum dari/ke stasiun Smutek.

Aku berjalan cepat di trotoar yang sepi pejalan kaki. Jalan raya pun tidak ramai kendaraan. Sebagian besar penduduk distrik ini sibuk di pelelangan ikan atau pasar sayuran. Jarang yang bekerja di kantor, karena di sini yang disebut kantor hanyalah beberapa barbershop, tempat penukaran mata uang, bank, rumah sakit dan sekolah. Bisa dibayangkan betapa sederhananya kehidupan di distrik ini. Aku sendiri terpaksa memilih tinggal di sini karena hanya di sinilah aku bisa mendapat sewa apartemen yang sangat murah.

Akhirnya aku sampai di stasiun bawah tanah, tepat saat kereta memasuki stasiun. Stasiun itu tampak tidak terlalu sibuk. Hanya terlihat beberapa orang berpakaian seragam kantor yang mungkin akan berangkat kerja di MoonDale atau di stasiun distrik berikutnya, PhoebusCrater. Sebelum MoonDale ada EstrellaFall, distrik yang merupakan pusat perbelanjaan mewah. Di Gudhiluvia, jam kerja dimulai pukul 9.00 ke atas. Hanya beberapa instansi saja yang menetapkan jam kerja lebih awal dari itu, misalnya sekolah yang dimulai pukul 8.00 atau rumah sakit yang buka 24 jam.

Aku, bersama beberapa orang-orang berseragam itu, bergegas masuk ke kereta yang masih kosong. Stasiun ini adalah stasiun kedua, setelah stasiun kereta bawah tanah pertama di Frontera. Aku, seperti orang-orang lainnya, segera mencari sudut yang paling nyaman, karena untuk sampai di MoonDale akan dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Aku melihat pemandangan laut dari kejauhan bergantian dengan rumah pemukiman penduduk yang masih jarang. Hanya sedikit suara terdengar di gerbong ini. Sayup-sayup terdengar obrolan pelan orang berseragam tadi, mungkin membicarakan pekerjaan. Aku tidak peduli. Aku sibuk menyusun rencana karir baruku sebagai artis. Jelas, aku tidak bisa belama-lama menikmati pekerjaan itu. Mungkin hanya dua-tiga film, beberapa iklan dan kesemuanya harus tanpa skandal yang terlalu mencolok, sebelum akhirnya aku harus kembali menarik diri ke masyarakat umum, bersembunyi menghabiskan uang hasil kerjaku selama beberapa tahun sebelum harus mencari pekerjaan lainnya. Ya, aku tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun demi bisa berbaur dengan tenang di dunia ini.

Tiba-tiba aku teringat gadis bergaun hijau saat itu. Jelas dia adalah makhluk Bintang Calvera lainnya. Kalau begitu, besar kemungkinan ada lebih banyak makhluk Calvera yang lari ke bumi ini daripada dugaanku sebelumnya. Apakah gadis itu memiliki keluarga? Dia bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan kekuatannya. Siapakah dia?

Hmm, jika dia lolos audisi ini, hari ini aku pasti akan bertemu lagi dengannya. Mungkin akan ada banyak kesempatanku menggali informasi tentang makhluk Calvera sebentar lagi. Ya, aku harus lebih berhati-hati. Jika gadis itu salah satu seperti ayahku, aku benar-benar harus lebih hati-hati.

Chapter 2 - DON


Aku marah sekali. Benar-benar marah dengan ulah Luna mengikuti audisi untuk menjadi artis. Mungkin perasaanku ini lebih tepat disebut khawatir, bukan marah. Sudah bertahun-tahun aku dan Carla berbaur di dunia ini tanpa ada kecurigaan dari siapapun tentang identitas palsu kami. Bahkan, kami bertekad untuk membuat rantai keluarga baru yang lepas dari masa lalu kami dengan melahirkan Luna ke dunia. Tapi semua usaha kami itu bisa gagal begitu saja jika bertemu dengan orang yang salah. Orang yang mungkin saja akan kami temui jika kami terlalu menarik perhatian.

Aku sengaja tidak bekerja di luar rumah dan memanfaatkan kemampuanku memprediksi secara akurat untuk bekerja sebagai freelance penasihat keuangan perusahaan dan perorangan. Walaupun terkadang aku tetap harus membuat prediksiku salah, lagi-lagi supaya terlihat normal seperti manusia lainnya.  Semua itu aku lakukan demi keluarga kecil ini. Tapi ulah Luna kali ini bisa merusak segalanya.

Aku hampir saja lepas kendali tadi. Emosiku yang terlalu kuat bisa merusak keseimbangan dunia atas dan bawah. Hampir saja Luna melihat bayangan hitam yang mulai muncul sebagai akibat kecerobohanku tidak bisa mengendalikan amarahku tadi. Andai saja Carla tidak segera menenangkanku, rahasia kami berdua bisa terbongkar. Luna pasti merasa ketakutan sekali. Aku merasa perlu membuatnya ketakutan dan putus asa untuk meyakinkannya bahwa keputusannya mengikuti audisi adalah keputusan yang salah.

“Don, kau tenanglah. Kau harus mulai belajar mengendalikan emosimu. Ya, aku tahu kau sangat khawatir Luna merusak semua usaha kita selama ini, tapi bagaimanapun dia putri kita. Tidak baik kalau kau membuatnya ketakutan seperti itu,” kata Carla lembut padaku.

“Aku rasa aku perlu menakut-nakutinya, Car, supaya dia tidak lagi berani melanggar larangan kita. Ini semua aku lakukan demi kebaikan kita, terutama kebaikan Luna.”

Chapter 2 - LUNA


Akhirnya datang juga hari ini,hari dimana hasil dari audisi minggu lalu akan diumumkan. Aku sangat tidak sabar menunggu hari ini sampai-sampai bangun pagi pun aku tidak perlu dibangunkan. Dengan semangat aku mengikat rambut panjangku tinggi ke atas kepala dan turun ke ruang makan untuk sarapan. Aku menuruni tangga sambil bersenandung riang. Lalu aku lihat ibu sedang memasak di dapur.

Aku menghampirinya dan mencium pipinya, “Selamat pagi, Bu! Ibu terlihat cantik sekali hari ini,” pujiku gembira.

Ibu memandangku tidak percaya. “Ada apa? Suatu kejadian langka kau bangun sepagi ini tanpa ibu perlu meneriakimu, apalagi dengan wajah gembira seperti itu,” kata ibu sambil menyipitkan mata curiga.

“Tidak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya sedang bersemangat hari ini,” jawabku mulai khawatir ibu curiga.

“Kau bohong. Kau tahu, ibu mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, tapi ibu tahu apa yang sedang kau rasakan. Ada apa, Luna?” tanya ibu menyelidik.

“Tidak ada.”

“Lalu mengapa kau tiba-tiba khawatir? Padahal beberapa detik yang lalu kau sangat bersemangat?”

“Er, nanti ibu juga tahu. Tidak sekarang, aku akan menceritakan semua pada ibu, tapi nanti malam. Oke? Sekarang aku ingin sarapan, Bu, aku lapar sekali.”

Sesungguhnya aku masih ragu untuk menceritakan semua pada ibu dan ayah tentang keikutsertaanku dalam audisi minggu lalu. Tapi bagaimanapun, jika aku lolos audisi, mereka harus tahu, bukan? Aku tidak lolos pun, aku tetap harus bercerita pada mereka, karena aku sudah terlanjur janji pada ibu. Dan kurasa mereka akan tetap memarahiku. Setidaknya kalau aku lolos audisi, dimarahi ibu dan ayah rasanya akan ringan sekali dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan kurasakan.

Aku segera menghabiskan segelas susu cokelat yang ibu buatkan untukku dan menonton ibuku menyajikan sepiring besar omelet pedas di meja makan. Aku pun cepat-cepat mengambil piring, roti dan sepotong besar omelet pedas buatan ibu yang lezat. Aku memakan sarapanku dengan riang, sampai akhirnya ayah memasuki ruang makan, dengan koran pagi di tangan kirinya dan sepucuk amplop berwarna krem di tangan kanan. Tidak seperti biasanya, ayah tidak mengomel tentang anak laki-laki pengantar koran. Tapi aku segera merasakan emosi kemarahan besar yang ditujukan padaku. Dan aku pun segera tahu, amplop krem itulah penyebabnya. Pengumuman audisiku.

“Er, Ayah, aku bisa menjelaskan semua ini..” kataku lirih, mencoba menenangkan ayah, sebelum kemarahannya meledak.

“Menjelaskan? Tidak ada yang perlu kau jelaskan, Nona! Bukankah selama ini kami sudah melarangmu mengikuti audisi semacam ini? Kami telah berkali-kali menolak keinginanmu untuk menjadi model, artis, atau apapun yang akan membuatmu menarik perhatian! Apa kau tidak pernah berpikir sesulit apa kami berbaur di dunia ini? Apa kau tidak paham bahwa ini semua kami lakukan hanya untuk melindungimu? Kau benar-benar...”

Ayah tidak bisa lagi berkata-kata. Aku ketakutan melihat wajahnya memerah karena kemarahan. Sekilas aku melihat bayang-bayang hitam di sudut ruangan, tapi bayangan itu tidak ada ketika aku menoleh ke arahnya. Lalu aku merasakan ketakutan yang amat sangat menyelimuti diriku. Ada apa ini? Aku menatap ayah masih terdiam kaku di tempatnya, lalu beralih memandang ibu yang sedang memasang wajah khawatir memandang ayah.

Beberapa menit ruangan hening, tidak ada yang berani bersuara, hingga ibu menyentuh lengan ayah dengan lembut dan memberi isyarat padaku untuk segera pergi dari hadapan ayah. Aku memutuskan untuk cepat-cepat berangkat sekolah. Berangkat sekolah pada hari-hari biasanya terasa sangat membosankan, tapi khusus untuk hari ini, aku berangkat sekolah tidak dengan perasaan bosan. Hidupku terasa hampa saat ini dan aku tidak ingin sendirian ada di dalam kehampaan ini. Seluruh sekolah harus merasakan hal yang sama.

Chapter 1 - ALAN


Hah, apa-apaan ini? Aku terpaksa mengikuti audisi semacam ini demi uang! Yah, tapi paling tidak ketampananku akan menunjang usahaku untuk menjadi artis. Yeah, aku harus bertahan untuk bergabung di antrian panjang ini. Hanya pekerjaan sebagai artis yang tidak membutuhkan ijazah sekolah dan menghasilkan banyak uang,’ keluhku.

Aku melempar pandangan berkeliling area pendaftaran audisi yang penuh dengan manusia berpakaian heboh. Lalu aku menangkap sosok gadis berbalut gaun hijau dengan sepatu supertinggi. Rambutnya ikal dengan semburat kemerahan tampak indah di atas gaun hijaunya.

Ah, ternyata ada pemandangan menarik, nih. Cukup untuk membantuku mengusir rasa bosan mengantri.

Gadis itu tidak ikut mengantri, melainkan hanya menonton kami ribut mencari posisi antrian terdekat dengan meja registrasi. Pandangannya tampak sombong dan merendahkan. Lalu tiba-tiba mata kami bertemu. Matanya gelap dan dipenuhi kilau kepercayaan diri menatapku tertarik. Aku sangat terbiasa dengan tatapan seperti itu.

Tapi, tunggu dulu.. Sepertinya aku merasakan sesuatu dari gadis itu. Ya, auranya tidak asing lagi. Aura yang sama dengan yang dimiliki ayahku yang brengsek. Apa mereka memang berhubungan atau ini hanya kebetulan? Tapi aku tidak pernah menemukan aura semacam ini di manusia-manusia lain yang pernah aku temui.

Lalu gadis itu berjalan dengan langkah pasti ke arah meja registrasi. Aku hanya memandanginya, ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Begitu juga dengan orang-orang lain di antrian, memandang gadis itu dengan penasaran. Gadis itu berbicara sesuatu dengan suara pelan. Tidak lama kemudian petugas administrasi memberi nomor pendaftaran ke gadis itu, tanpa dia perlu antri bersama kami! Aku melotot memandang hal itu, kesal sekali karena kami semua harus mengantri sedangkan gadis itu tidak perlu repot-repot mengantri.

Apa yang gadis itu lakukan? Memberi petugas itu uang suap? Tapi sepertinya tidak. Aku tidak melihat gadis itu memberi petugas itu sesuatu apapun. Apa mereka bersaudara? Sepertinya juga tidak, mereka sama sekali tidak mirip..

Aku masih berpikir ketika tiba-tiba ada sebuah suara memasuki pikiranku, “dan begitu juga dengan kalian semua, Kawan, akan melupakan tindakanku barusan.” Lalu aku merasakan perasaan dingin yang menenangkan dan aku melihat beberapa orang di depanku mendadak tampak tenang, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi, setelah beberapa detik sebelumnya memelototi gadis itu dengan marah. Dan ketika itu pula aku tahu jawaban mengapa gadis itu bisa mendapat nomor pendaftaran tanpa mengantri: kompulsi.

... Dan itu berarti, dia salah satu dari makhluk-makhluk sialan itu. Seperti ayahku..’

Aku memperhatikan gadis itu berjalan memasuki ruang tunggu audisi dengan langkahnya yang ringan. Kuharap kami bisa bertemu lagi karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan salah satu dari Mereka, selain ayahku tentunya. Aku masih bertanya-tanya ketika dia menghilang di balik papan pembatas. Apakah gadis itu termasuk manusia Bintang Calvera?

Chapter 1 - LUNA (2)


Taman Heatburn ramai sekali pagi ini. Walaupun audisi belum dibuka, sudah banyak orang yang hendak mengantri untuk ikut audisi. Aku melihat jam tangan, untuk mengecek berapa lama lagi audisi akan dibuka.

Hmm, masih 2  jam lagi baru audisi akan dimulai. Berdandan tidak akan memakan waktu selama itu. Berganti baju di mobil yang sepertinya akan sedikit sulit, tapi tidak akan memakan waktu terlalu lama juga. Ah, tapi bagaimana aku bisa menyela dalam kerumunan itu? Sungguh, aku benci mengantri apalagi cuaca hari ini panas sekali,’ aku menggerutu dalam hati.

Aku pindah ke kursi belakang yang memang sudah kumodifikasi untuk menjadi studio pribadiku dan memulai dengan mengganti bajuku. Beruntung kaca mobilku gelap sehingga tidak terlihat dari luar. Aku memulai ritual berdandanku. Pertama aku memakai alas bedak kemudian menumpuknya dengan bedak tabur. Aku mulai merias mata dan bibirku senada dengan warna pakaianku. Dari kaca besar yang terpasang di jendela mobil belakang, kulihat ini adalah hasil dandanan tersempurna selama hidupku. Hari ini aku memakai gaun berbahan ringan berwarna hijau tua yang akan menonjolkan rambut ikal kemerahanku. Riasan wajahku kubuat senatural mungkin supaya tidak terlihat berlebihan di siang hari yang sangat panas ini. Tak lupa kuambil sepatu highheels kesayanganku yang berwarna hitam.

Sempurna. Hari ini adalah hari yang sangat penting. Hari yang akan menentukan debutku sebagai seorang artis,’ pikirku gembira. Aku pun keluar dari mobil untuk bergabung dengan kerumunan peserta audisi.

Ah, mereka semua terlihat biasa saja. Aku tidak menemukan hambatan sedikit pun untuk bisa lolos audisi,’ pikirku yakin. Aku berjalan dengan penuh percaya diri untuk menempatkan diriku lebih dekat dengan meja registrasi. Aku melihat jam, 15 menit lagi registrasi akan dibuka. Dengan tidak sabar aku memandang berkeliling. Lalu seketika pandanganku terfokus di satu titik, seorang laki-laki berbaju hitam dengan kalung rantai melingkar di lehernya. Entah mengapa ada suatu tarikan kasat mata yang cukup kuat membuatku ingin sekali berjalan menghampirinya. Tepat ketika aku hendak melangkahkan kakiku ke arahnya, petugas registrasi berjalan melewatiku. Segera aku urungkan niatku dan bergegas mendekat meja registrasi bersama ratusan peserta audisi lainnya.

Dalam beberapa detik saja, aku sudah tertinggal di belakang karena peserta audisi lainnya sungguh sangat brutal. ‘Malas banget kalo harus berdesakan dengan mereka. Bisa-bisa semua penampilanku kusut.’  Aku membiarkan mereka semua mengantri mendahuluiku, tapi aku mempunyai cara lain untuk bisa mendaftar tanpa mengantri. Senyum lebar mengembang di bibirku.

Aku berjalan mantap ke arah meja registrasi, melewati antrian panjang. Aku merasakan semua mata orang-orang di antrian memandang ke arahku, bahkan beberapa melotot curiga. Aku tetap cuek, meneruskan langkahku. Begitu aku sampai di depan meja registrasi, dimana terdapat petugas registrasi wanita sedang melayani pendaftaran seorang gadis mungil dengan dandanan heboh, aku mengulurkan kartu identitasku ke arah wanita petugas.

“Kau harus mengantri dulu, Nona,” kata petugas itu tegas. Orang-orang di antrian berhenti berbicara, menonton percakapanku dengan petugas wanita itu.

“Saya tidak punya banyak waktu untuk mengantri dan kau akan bersedia mendahulukanku untuk mendaftar,” ucapku yakin dengan suaraku yang menenangkan. Aku menatap mata pegawai itu dalam-dalam dan aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

“Baiklah, ini nomor audisi Anda, Nona. Semoga berhasil,” kata petugas itu dengan suara yang sedikit bergetar. Pandangannya masih kosong dan untuk terakhir kali aku menatap matanya lagi, berbisik, “Kau akan lupa semua ini, Nona, jangan khawatir.” Kemudian aku melayangkan pandanganku ke orang-orang di antrian, “dan begitu juga dengan kalian semua, Kawan.”

Lalu aku berjalan masuk tempat audisi dengan langkah riang, tidak menyadari ada sepasang mata yang mengamatiku  dengan seksama. Hari ini sungguh sempurna.

CHAPTER 1 - DON


“Car, apa kau tidak berpikir Luna sedang menyembunyikan sesuatu? Apa kau tidak mendengar jantungnya berdegup begitu kencang? Dia mungkin sedang berbohong tadi. Mengapa kau mengijinkannya pergi begitu saja?” cecarku pada Carla, kesal.

“Don, kalau tadi kita menahannya lebih lama hanya untuk bertanya-tanya hal yang tidak penting, dia pasti akan terlambat berangkat ke sekolah. Lagipula, siapapun akan gugup ketika meminta ijin pada orangtuanya untuk pergi kencan PERTAMAnya. Tidakkah kau pikir sungguh menyenangkan dunia Luna saat ini? Jatuh cinta, seperti kita dulu,”  kata Carla sambil tersenyum lebar.

“Tapi kita tidak tahu seperti apa laki-laki itu. Kau yakin membiarkan Luna pergi dengan laki-laki yang bahkan wajahnya kita tidak tahu?” tanyaku masih khawatir.

“Kau tenang saja, Don. Luna akan baik-baik saja. Dia putri kita, bukan?” jawab Carla lembut seraya menggenggam tanganku.

Kalau sudah begini, bahkan kekhawatiran tingkat akut pun akan hilang dalam sekejap.’ Aku memandang Carla yang menunggu jawabanku. ‘Ya, Luna sudah dewasa. Mungkin sudah tiba saatnya membiarkan dia hidup di luar bayang-bayang kami,’

‘Kau sudah paham sekarang, Don? Bahwa kita bukan manusia, bukan berarti kita akan hidup selamanya mendampingi Luna’ suara Carla  yang lembut berbisik di kepalaku. Aku hanya tersenyum memandang matanya yang bersinar-sinar gembira.

CHAPTER 1 - LUNA


Kriiiiiiiingg........ Suara alarm berbunyi nyaring mengganggu tidurku.

Ah, pagi sudah datang dan aku harus berangkat ke sekolah. Malas sekali. Mengapa harus ada hari Senin? Mengapa harus ada sekolah? Pada akhirnya pun aku tidak akan membutuhkan semua nilai itu setelah lulus. Bukankah untuk menjadi seorang model tidak memerlukan nilai ujian matematika, bahasa inggris, sains, dan semua pelajaran tolol itu? Ah, tapi bagaimanapun aku tetap terjebak dalam semua ketidakperluan itu dan harus mendapat nilai bagus supaya ayah dan ibu mau memberi uang saku,’ pikirku sambil menggeliat malas di tempat tidurku yang hangat.

“Luna! Ayo cepat bangun! Kau akan terlambat!” suara ibu yang nyaring menembus pintu kamarku. Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur yang nyaman dan keluar kamar untuk ikut sarapan bersama. Aku melihat ibu sedang di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Senandung lirih sedikit terdengar dari mulutnya, tapi aku tidak tahu dia menyanyikan lagu apa. Aku hanya bisa melihat bibirnya yang mungil berkomat-kamit dan mengeluarkan nada. Kadang aku heran, bagaimana bisa mulut kecil seperti itu menghasilkan suara nyaring yang bahkan dari kamarku saja terdengar sangat nyaring. Padahal kamarku ada di lantai dua.

Sambil terheran-heran (yang hampir selalu kurasakan setiap pagi) aku duduk di kursi meja makan. Tidak lama kemudian ayah muncul dari balik pintu teras, menyusul ke meja makan. Di tangannya terlihat dia sedang memegang koran pagi.

“Anak laki-laki pengantar koran itu lagi-lagi melemparkan korannya tepat ke wajahku! Apa dia tidak melihat aku yang sebesar ini sedang menyiram bunga di halaman? Sungguh menyebalkan! Lain kali akan kukejar dia untuk kuberi pelajaran!” kata ayahku bersungut-sungut. Ibu hanya menanggapi kejengkelan ayah dengan senyum manisnya. Tidak lama kemudian, wajah ayah kembali tenang, seakan tidak pernah ada kejengkelan sebelumnya.

Yah, ayahku memang sedikit emosional. Kesalahan kecil saja bisa membuatnya marah-marah, atau sedikitnya menggerutu. Tapi jika ada ibu bersamanya, ayah bisa lebih tenang. Aku juga tidak mengerti mengapa bisa begitu. Aku pikir siapapun akan merasa tenang jika berada di dekat ibu. Siapa yang sanggup marah-marah di depan tatapan ibu yang lembut dan senyumnya yang indah? Kurasa tidak ada yang akan sanggup.

Aku segera menghabiskan omelet lezat yang menjadi menu sarapan kami hari ini dan segelas susu cokelat kesukaanku. Kulihat ayah juga sedang asyik melahap omeletnya sambil membaca koran di tangan kirinya. Ibu masih bersenandung kecil sambil membereskan meja dapur. Sepertinya pagi ini semua orang sedang dalam suasana hati yang bagus.

Aku beranjak untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari ini aku akan mengikuti casting film dan orangtuaku tidak tahu tentang semua ini. Pakaian dan sepatu ganti serta alat berdandanku sudah aku masukkan diam-diam ke mobil semalam. Jadi yang kubutuhkan saat ini hanya menyiapkan alasan untuk pulang terlambat hari ini dan memasang wajah tenang.

Sebelum turun untuk (pura-pura) berangkat sekolah, aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku yang berdegup kencang karena hendak berbohong kepada ayah dan ibu yang pada dasarnya hampir mustahil dibohongi, kecuali ketika suasana hati mereka sedang sangat bagus sekali. Kuhitung sampai sepuluh, setelah itu aku berjalan menuruni tangga.

“Ayah, Ibu....,” kataku pelan. Mereka berdua menoleh kepadaku.

“Oh, Luna, kau mau berangkat sekolah sekarang? Sepulang sekolah nanti cepatlah pulang, aku ingin kita makan malam bersama,” kata ayahku sambil kembali mengalihkan pandangannya ke koran pagi yang belum juga selesai dibacanya.

“Eh, Ayah, aku.. Kurasa kalian terpaksa makan malam berdua saja. Aku ada janji dengan seseorang..” jawabku lirih, khawatir mereka curiga. Seketika pandangan ayah kembali padaku dengan sorot mata curiga. Sedangkan ibu mulai menyipitkan matanya kepadaku, tatapannya menyelidik.

“Aku.. Aku ada janji kencan, Ayah. Dia mengajakku makan malam,” tambahku cepat-cepat. Kurasa alasan kencan akan masuk akal untuk degupan jantung sekeras ini. Dan kurasa aku benar begitu melihat tatapan ibu kembali melembut dan tidak curiga lagi.

“Baiklah, Sayang, tapi tentu saja kau jangan pulang terlalu malam. Kami akan menikmati makan malam kami berdua. Kau juga harus bersenang-senang. Oke?” jawab ibu gembira.

“Eh, baik, Bu. Kalau begitu aku berangkat sekolah sekarang. Daaaa, Ayah,” kataku sambil berlari cepat-cepat ke garasi sebelum ayah yang sepertinya masih curiga mempengaruhi ibu yang sudah percaya.

Beginilah kalau berbohong ketika sebenarnya tidak perlu berbohong,’ pikirku sambil mendesah pelan dan menyalakan mesin mobil sport merahku. Aku pun berangkat ke Taman Heatburn, lokasi casting perdanaku.

Prolog - CARLA


Carla tersentak lemas begitu bayinya berhasil dia lahirkan. 'Sungguh rasanya sakit, tapi semua kesakitan itu terbayar begitu aku melihat bayiku lahir dengan selamat,' pikirnya.

“Nyonya, bayi Anda perempuan,” ucap dokter sambil menyerahkan bayi itu pada Carla. Carla memeluknya. Bayi itu sangat kecil, sangat tidak berdaya. Suara tangisnya pelan, kedengarannya seperti tangisan manja.

Cantik sekali. Banyak sekali pujian yang ingin kuberikan padamu, tapi aku kehabisan kata-kata saking bahagianya aku melihatmu. Selamat datang di dunia, Putriku yang cantik,’ ucap Carla dalam hati. Dia kehabisan tenaga, bahkan untuk berbicara pun dia tak mampu. Lalu tiba-tiba semua terasa gelap dan dia merasakan bayinya diambil dari pelukannya. Tangannya kosong dan suster-suster berseliweran di sekitarnya, sibuk membersihkan sisa-sisa persalinan. Carla merasakan semua kesibukan itu dan juga merasakan ketika tempat tidurnya didorong. Dia ingin tahu akan dibawa kemana dan oleh siapa dia dibawa. Dia juga ingin tahu dimana putrinya sekarang. Apa putrinya juga dibawa bersamanya? Tapi Carla terlalu lemah untuk membuka mata, bahkan untuk berpikir.

Carla menghitung, satu detik, dua detik, tiga, empat... Dia mendengar pintu dibuka dan tempat tidurnya didorong masuk lalu tiba-tiba berhenti. Belum ada perubahan di dirinya, masih lemah. Carla terus menghitung, menunggu kekuatannya pulih. Paling tidak untuk membuka mata dan melihat lagi wajah bayinya.

“Nyonya, Anda masih lemah sekali sekarang. Sebaiknya Anda istirahat dulu sekarang. Bayi Anda sedang bersama suami Anda. Sedangkan Anda sekarang sudah saya pindah ke ruang perawatan. Akan saya sampaikan pada suami Anda bahwa sekarang Anda sudah bisa dijenguk,” kata seorang wanita, yang ditebaknya adalah salah satu suster di ruang operasi tadi. Carla diam saja, tidak sanggup menjawab perkataan suster itu. Tapi paling tidak sekarang dia sudah lega begitu mengetahui dimana bayinya berada dan kemana dia dibawa.

Carla melanjutkan menghitung, menanti perubahan di dirinya. Setidaknya ini sudah 15 menit sejak dia kehilangan kekuatannya. Carla berharap tidak lama lagi dia bisa membuka mata. Lalu dia mendengar pintu berderit terbuka diikuti suara langkah kaki mendekat. Suara langkah kaki itu berat dan berirama. Lalu dia merasakan kesejukan udara yang tiba-tiba bersama aroma mint yang menyerbak tercium oleh hidungnya. Don sudah datang. Begitu tenang hatinya tiba-tiba. Segala kekhawatiran dan pertanyaan-pertanyaan yang tadi dia rasakan hilang. Lalu Carla merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam tangannya dan akhirnya Carla merasakan aliran kekuatan mengalir deras ke dalam tubuhnya.

Carla membuka kelopak mataku dan dia melihat Don sudah duduk di samping tempat tidurnya. Sedikit kekecewaan muncul karena dia melihat Don datang seorang diri, tanpa membawa putri mereka. Lalu Carla tahu bahwa putrinya dibawa ke ruang bayi yang steril. Ya, Carla bisa merasakannya bahwa dia aman. Carla sudah pulih sekarang. Dia bahkan sempat berpikir untuk segera melompat turun dari tempat tidur dan menarik Don mengunjungi bayi mereka. Tapi Carla masih mengkhawatirkan luka operasi dan menghapus pikiran tadi.

Don memandangi Carla, tahu semua pikiran-pikiran sinting di kepalanya. Carla hanya membalas tatapannya dengan tersenyum.

Dia sangat mengkhawatirkan aku tadi. Kami berdua sama-sama ingin segera saling bertukar pikiran, tapi dia tahu aku belum pulih benar. Aku masih membutuhkan banyak kekuatan untuk menyembuhkan luka operasi ini dengan cepat. Ya, akan ada banyak waktu nanti untuk kami bertukar pikiran,’ Carla menenangkan diri. Dia meremas tangan Don, mencoba memberi isyarat padanya untuk bersabar.

“Carl, apa kau punya ide siapa nama untuk putri pertama kita?” tanya Don memecah pikiran Carla.

“Er, aku ingin nama yang manis untuknya. Jangan kau beri nama Cerberus seperti usul gilamu saat itu. Putri kita adalah gadis manis dan cantik! Bahkan kalaupun anak kita laki-laki, aku tidak akan suka jika dia diberi nama Cerberus,” jawab Carla merajuk.

“Iya, iya.. Tapi apa kau punya usul yang sangat bagus?” Kami berdua terdiam, tenggelam memikirkan nama untuk putri kami.

“Bagaimana kalau Luna?” usul Carla tiba-tiba.

“Luna? Cukup bagus. Baiklah, putri kita bernama Luna. Luna Araun..”

Prolog - DON

“Tuan Araun, istri Anda melahirkan bayi perempuan. Apakah Anda ingin menggendongnya sebentar sebelum dibawa ke ruang bayi?” tanya suster rumah sakit mengejutkan Don yang sedang terkantuk-kantuk di ruang tunggu operasi.

“Ya, tentu saja,” jawab Don Araun sambil bergegas berdiri, menerima sebuntal selimut berwarna merah yang diulurkan oleh suster.

Kecil sekali kau, Nak? Apa kau kekurangan makan selama dalam kandungan ibumu? Ah, kulihat kulit putihmu dan hidungmu yang mancung mirip dengan kulit dan hidungku, tapi rambutmu ikal kemerahan persis seperti ibumu. Begitu juga bibir mungilmu. Sayang sekali aku belum bisa melihat matamu,” pikir Don sambil menggendong putri pertamanya yang sedang tidur nyenyak. Sudah lama Don menantikan saat-saat ini, menggendong bayi yang telah dia tunggu kehadirannya selama lima tahun pernikahannya dengan istrinya.

“Tuan Araun, maaf, bayi Anda harus segera dibawa ke ruang bayi sekarang,” kata suster, tepat ketika pintu masuk ruang tunggu menjeblak terbuka.

“Suster, suster! Tolong, anak saya sedang gawat! Dia kehabisan darah akibat usaha pembunuhan! Tolong, selamatkan dia..” teriak seorang laki-laki berteriak panik meminta pertolongan sambil menggendong seorang gadis berlumuran darah. Kontan saja beberapa perawat rumah sakit yang sedang bertugas jaga di ruang UGD yang ada di sebelah ruang operasi bergegas ke arah laki-laki itu sambil membawa tempat tidur beroda lalu dengan tangkas memindahkan gadis itu dari gendongan ayahnya ke tempat tidur. Salah seorang perawat laki-laki berbicara pelan ke ayah gadis itu kemudian mengikuti perawat lainnya yang sedang mendorong tempat tidur beroda itu ke UGD.

Laki-laki itu terduduk lemas begitu melihat anaknya masuk ke ruang UGD untuk diselamatkan. Don tertegun bersama suster yang menggendong putrinya melihat kehebohan yang terjadi barusan. Pasti laki-laki itu sangat panik melihat putrinya terluka begitu parah. Sekejap dia bisa merasakan apa yang dirasakan laki-laki itu begitu dia membayangkan jika kejadian serupa menerpa putrinya. Segera dia mengusir pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba memasuki pikirannya. Lalu suara tangisan memecah keheningan. Putri kecilnya yang tadi tertidur dengan nyenyak tiba-tiba menangis keras sekali. Tangisannya terdengar sedih, seperti meratap. Atau itu hanya imajinasi Don saja?

“Tuan, kalau begitu sekarang saya bawa putri Anda ke ruang bayi. Silahkan jika Anda ingin menjenguk istri Anda. Beliau sudah dipindah ke ruang perawatan nomor 11. Sebaiknya Anda segera memutuskan nama untuk putri Anda supaya akta kelahiran bisa segera diurus,” kata suster itu lalu mengangguk pelan dan membawa bayinya yang masih menangis keras meninggalkan Don sendiri bersama laki-laki yang sedang bersedih.

Begitu suster itu menghilang di balik pintu yang menuju ruang bayi, pintu UGD membuka dan keluarlah beberapa perawat bersama seorang dokter wanita. Sontak laki-laki yang masih lemas itu berdiri dan bergegas mendatangi dokter.

“Bagaimana, Dok, keadaan putri saya? Dia selamat, kan?” tanyanya tidak sabar.

“Maafkan kami, Tuan. Putri Anda kehabisan terlalu banyak darah. Nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Kami sudah melakukan apapun yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan putri Anda, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Semoga Anda sekeluarga diberi kesabaran,” kata dokter sambil menepuk pundak laki-laki itu. Dia lalu pamit untuk bergegas ke ruang operasi di sebelahnya. Seketika raut pengharapan laki-laki itu hilang dan menangis histeris.

Don sudah tidak tega lagi melihat laki-laki itu menangis sedih meratapi kepergian anaknya, maka Don bergegas ke kamar tempat istrinya dirawat setelah melahirkan. Don berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi menuju kamar perawatan pasca melahirkan dan berhenti di depan pintu nomor 11. Dibukanya pintu itu dan dia melihat istrinya sedang tertidur lelap.

Apa dia kelelahan? Apa dia baik-baik saja?’ Sejuta pertanyaan muncul di kepalanya. Don menggenggam tangan istrinya dan dia terbangun. Sejenak dia pandangi wajah istrinya yang seperti memikirkan sesuatu, lalu seulas senyum terbentuk di bibirnya. Cantik sekali. Seketika  hatiku terasa ringan dan tenang.

Ya, dia baik-baik saja.

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...