Kalau Bukan Untukku, Untuk Siapa Lagi?

Dear readers,
Buat kamu yang sedang jenuh
Buat kamu yang sedang lelah
Buat kamu yang rindu keluarga di rumah
Buat kamu yang mempertanyakan apa yang kamu lakukan sekarang
Sering aku liat di shared photo timeline teman, atau status medsos mereka, atau sekedar link di Facebook, tentang 'cemoohan' buat pemuda-pemuda yang terikat jam kantor, terjebak kemacetan (khususnya Jakarta), usia muda dihabiskan untuk berangkat pagi-pulang malam. Atau 'sindiran' nikmatnya jadi bos di usaha sendiri daripada jadi cunguk di perusahaan gede.
Well, terserah sih seseorang mau share apa di medsos-nya. Mungkin kalo positive thinking, anggap aja dia bersyukur hidupnya ga terikat jam kantor, bisa ketemu keluarga kapan pun dia mau, atau bahkan punya bisnis sendiri. Tapi anggaplah aku hari ini lagi bete atau badmood, I can't see the point of your INTIMIDATING quotes. That's hurt, you know?
Kalau bisa memilih, siapa yang ga mau milih stay di rumah sendiri? Siapa yang ga mau milih kerja santai-santai tapi ngehasilin duit banyak buat nafkahin anak-istri? Siapa yang mau bangun pagi cuma buat gabung di kemacetan, terus kerja ngurusin usaha orang lain, pulang malam gara-gara kejebak macet?
Bahkan kalau bisa, kita mau kerja di rumah sambil berkumpul dengan keluarga, kuliah dengan dosennya yang dateng ke rumah jadi ga perlu kita jauh-jauh ke luar kota/negeri terus jadi anak kos susah di sana. Tapi bagaimana?
Life's a choice, bro. Who are you to judge other's choice? Oke, bukan nge-judge. Tapi status/quote itu cukup mengintimidasi orang lain. Cukup membuat seseorang menyesal akan pilihannya. Cukup bikin orang yang udah capek kerja/sekolah, rindu keluarganya, atau bahkan mulai jenuh dengan rutinitasnya, untuk semakin down.
Bersyukurlah buat kamu yang ga perlu jauh dari keluarga, udah bisa kerja bagus, sekolah tinggi, ga capek di jalan.
Tapi buat kamu yang 'kurang beruntung'?
Kamu beruntung. Keluar dari comfort zone, menghadapi tantangan-tantangan baru, bertemu dengan 'kehidupan' baru. That's life! Sudah pasti pengetahuan kamu bertambah. Mental kuat juga sudah dijamin kamu dapetin. Pengalaman-pengalaman itulah harta berhargamu.
Bertemu orang-orang baru yang beragam. Tinggal di lingkungan yang bisa saja sama sekali berbeda dari tempat asalmu. 'Terpaksa' menghadapi segala situasi sendiri. Semua itu ga ternilai. Kalau kamu lulus, dimanapun kamu berada, pasti kamu bisa hidup.
Terus berkembang. Terus berusaha. Untuk siapa? Untuk kamu sendiri. Yakin, dimanapun kamu berada, keluarga selalu mendoakan dan mendukungmu. Doa akan selalu 'mengumpulkan' kalian walaupun berjauhan.
Terus berjuang, kawan.
Xoxo

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...