WANITA - Movie Review (habibieainun)

Masih kebawa emosi nonton film Habibie&Ainun sore tadi. Film yang menginspirasi, baguus sekali menurut saya.
Saat awal film, Bu Ainun, wanita yang cantik, sopan, pintar pula, disukai banyak laki-laki. Para lelaki itu datang bersama pangkat, jabatan, prestasi, bahkan kekayaan mereka, dengan sangat manis mereka bugkus untuk 'dihadiahkan' pada Bu Ainun. Saat itu beliau tidak perduli. Beliau justru memilh Pak Habibie yang datang dengan naik becak, tidak membawa apa-apa. Pak Habibie hanya membawa cita-cita, tujuan hidup dan keyakinannya, keoptimisannya tentang hidup. Ya, begitulah seharusnya pandangan kita. Wanita, seharusnya tidak melihat materi dan jabatan laki-laki, tapi usahanya dan cita-citanya lah yang lebih make sense untuk dijadikan pertimbanga. Bagaimana dia melihat masa depannya, apa yang diusahakannya untuk tujuan jangka panjangnya, itulah yang terpenting. Karena hal itulah yang akan menentukan, ke arah mana kita, wanita, akan dipimpinnya.
Bukannya saya bilang materi itu tidak penting. Tapi apa artinya banyak harta kalau hati merasa tidak nyaman? Kalau kita tidak merasakan 'kepemimpinan' suami. Kalau begitu jadinya, sama saja dong dengan kita hidup sendiri, kerja sendiri, malah lebih bebas. Saya jadi bingung menjelaskannya, tapi semoga Anda mengerti maksud saya. Hehehe..
Selanjutnya, setelah menikah, Bu Ainun ikut Pak Habibie ke Jerman. Di sini saya melihat, tidak ada sedikitpun keegoisan di diri  Bu Ainun, yang merupakan wanita pintar dan berpendidikan. Mari kita lihat di sekitar. Tidak sedikit wanita zaman sekarang yang lebih mementingkan karir daripada keluarganya sendiri. Bahkan, saya tahu sendiri ada seorang istri yang lebih memilih untuk tinggal di kota yang berbeda bukan untuk bekerja tapi hanya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya! Naudzubillah..
Kembali ke cerita Habibie&Ainun. Saya kagum melihat kesetiaan dan pengabdian Bu Ainun kepada Pak Habibie. Di sini saya benar-benar melihat arti dari pepatah yang mengatakan 'di balik laki-laki yang sukses ada wanita yang kuat'. *anyway,bener ga ya pepatahnya bilang gitu?tapi intinya dapet kan?kkk*
Bu Ainun terus percaya pada segala keyakinan dan keputusan Pak Habibie. Beliau selalu mendampingi dan mengabdi kepada Bapak, di saat apapun. Bahkan ketika beliau sendiri sakit, beliau masih mengkhawatirkan kesehatan Bapak dan membuat catatan obat yang harus diminum Bapak setiap hari. Tidak pernah sedikitpun keluar kata-kata mengeluh dari Ibu, bahkan ketika mereka berdua hidup susah saat awal menikah, bahkan ketika beliau sakit dan hanya bisa berbaring.
Begitu pula Pak Habibie. Di balik wataknya yang keras kepala, beliau begitu lembut dan mencintai istri dan keluarganya. Apapun yang beliau lakukan adalah untuk keluarga dan negara. Beliau sangat optimis dan percaya akan mimpi-mimpinya. Mungkin kepecayaan itulah yang memberinya kekuatan berjuang untuk masa depan keluarga dan negara yang lebih  baik, tanpa memikirkan imbalan materi yang akan beliau dapatkan. Sepertinya itulah contoh 'bekerja sebagai bentuk ibadah'.
Mungkin saya tidak perlu memberi kesimpulan saya untuk posting kali ini. Anda semua pasti sudah bisa menarik kesimpulan sendiri dari tulisan saya.
Best regards,

Mother Day

Wahh,sudah lama sekali tampaknya saya tidak muncul di dunia blogger. Akhir-akhir ini, selain tidak ada topik menulis, saya juga lagi suka menceritakan pikiran saya melalui gambar. Kalau mau lihat,bisa follow di Instagram saya #promosi hehehe..

By the way, hari ini 22 Desember 2012, bertepatan dengan hari ibu. Wahh, jadi kangeen sama ibu. Hari ibu, menurut saya mungkin lebih memperingatkan kita bahwa ibu kita telah berjuang keras untuk membuat kita 'ada'. Tidak hanya ibu, sebenarnya, ayah juga. Tanpa mereka, kita tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang. Bahkan, kita tidak akan ada tanpa keberadaan mereka. 

Kebetulan, beberapa hari yang lalu kakak ipar saya melahirkan anak pertama. Mendengar ceritanya saat menjelang proses melahirkan, kebayang banget perjuangannya menahan sakit sebelum bayi lahir. Hmm, kita masih 'mau ada' saja udah menyakiti ibu yaa.. Masa' sekarang udah besar masih mau menyakiti lagi?

Nah, ingat-ingat deh, sudah berapa kali dalam hidup kita mengecewakan orang tua? Membohongi mereka, melawan mereka, membentak, tidak patuh.. Berapa kali kita melihat ibu menangis karena kita? Berapa kali pula ibu dan ayah memeluk setelah memarahi kita yang melakukan salah? Menasehati kita dengan lembut supaya tidak mengulangi kesalahan, supaya kita menjadi anak yang baik..

Dulu saat saya kecil, ibu selalu ngotot untuk mengajari matematika setiap hari. Saat saya tidak mood belajar, saya tidak paham-paham apa yang beliau ajarkan, sampai menangis pun kami berdua, beliau terus mengajari saya sampai bisa. Ibu pula yang dulu selalu memaksa saya untuk makan hingga suapan terakhir. Ibu yang hampir setiap hari mengantar-jemput saya sekolah dan les setiap hari. Menunggui hingga saya selesai belajar. Ibu yang memperkenalkan dengan buku cerita, novel dan tulis-menulis. Hingga saya SMA, ibu selalu menjadi orang pertama yang mendengarkan cerita saya dari sekolah setiap hari. Saya kuliah dan tinggal jauh dari beliau, hampir tidak ada yang terlewat tidak saya ceritakan pada beliau.

Ibu, sungguh banyak sekali cerita saya tentang beliau. Yang tidak mungkin saya tulis semua di sini saking banyaknya. Hari ibu tidak lebih hanya sebagai momen, dan kita harus selalu mencintai dan menghormati ibu setiap hari. Tidak hanya ibu, ayah juga.. 

Love you both, Mom and Dad..

Note for Myself

Okay, not for the very first time I experience this. Sometimes people doubt my religion.  I mean, they ask 'are you moslem?' to me. Err, but 'are you chinesse or javanese' question is more often, though.  #noSARA
But today, I experience it cause by my own fault.  Because one or two reasons, I didn't wear my veil. First reason is, I lost my needle and when I try to wear it without needle, it got messed up while I must go home on motorcycle. Second, I thought I will straightly go home, I will meet nobody AND I wear helmet, so I think nobody will recognise me.
Then, it happened. My friend and I drop by a stall to buy food. We met people, we had conversation and one of them asking my religion after knowing where I study. PLUS, one of them know my college friend. Oh NO!
Okay, the point is, I find out that hijab is our identity as a muslimah. It makes you more comfortable and have no worry on anything.
Sorry for my babbling english. This just random post about a WARNING for me today.

Time is Running Out

Weekend ini menyenangkan sekali..Selain karena long weekend, dimana semuanya libur dan begitu pula bagi saya yang notabene sudah tidak punya rutinitas yang terlalu mengikat, juga karena orang tua saya yang menghabiskan long weekend ini di Surabaya. Artinya, saya bisa ndempel selama beberapa hari. Hehe..
Tadinya ada rencana untuk menghabiskqn long weekend ini ke Semarang, tapi karena suatu hal, rencana batal. Kalau saya sih ya seneng-seneng aja walaupun beberapa hati kemaren cukup excited membayangkan perjalanan ke luar kota yang udah jarang-jarang kami lakukan.  Tapi intinya, dimanapun bareng keluarga, saya senang sekali. Terlebih lagi, sepupu-sepupu juga liburan di sini. Ramee deh..
Kalau dihitung mulai rabu, 4 hari 4 malam cukup lama mengingat biasanya bisa kumpul rame-rame lama selain lebaran ya paling 2-3 hari saja. Tapi waktu yang cukup lama itu, dirasakannya sebentar sekali. Tahu-tahu saja besok sudah hari minggu, pagi-pagi ortu udah harus pulang.. nih, mulai deh mellow lagi..
Tapi ada yang saya renungkan, dan semakin membuat saya mellow total. Waktu berjalan cepat, jadi kalau kita santai-santai terus, yang ada ya waktu terbuang percuma begitu saja. Melihat orang tua saya, semakin hari semakin tua, tidak mungkin selamanya bisa ngeloni kita. Saya jadi gundah, memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk mereka? Melihat mereka mau melakukan apapun untuk membuat kita bahagia. Ah, kalau begini saya jadi menggebu-gebu mencari cara untuk membuat mereka bahagia, membalas sebisa mungkin semua jasa mereka pada hidup saya. Walaupun tetap mustahil membalas SEMUANYA, paling tidak melihat mereka tersenyum bahagia melihat yang saya lakukan.
Yahh,besok adalah hari baru, mencoba melakukan awal yang baru. Bismillah..

Alkohol Dimana-Mana

Akhir-akhir ini beberapa kali saya membicarakan topik ini dengan teman dan orang lain. Yaa, kebetulan aja sih, kok alkohol ini jadi trending topic di kepala saya.. hehe..

Sebelumnya, yang akan saya tulis di sini hanya pemikiran saya sendiri. Bukan berarti saya ahli agama atau apa, jadi besar kemungkinan apa yang akan saya tuliskan ternyata salah. Boleh kok berbagi pikiran melalui comment di bawah. Hehee..

Sudah jelas dalam agama saya, Islam, khamr adalah minuman yang diharamkan. Khamr ini, zaman sekarang sering disamakan dengan minuman beralkohol yang notabene memabukkan. Kenapa diharamkan? Karena membuat peminumnya yang mabuk kehilangan akal, tidak bisa berpikir jernih dan benar. Pada akhirnya, orang-orang berpendapat bahwa apapun yang beralkohol adalah haram.

Lalu, bagaimana dengan tape? Durian? Kan beralkohol semua? Nah, untuk dua makanan itu, halal kan? Selama makannya gak berlebihan. Kalo berlebihan, ya ujung-ujungnya mabuk.. Mabuk tape, mabuk duren.. Hehe.. Eh, eh, tapi kan bener kalau segala sesuatu yang berlebihan, walaupun tadinya halal, kalau belebihan jadi haram. Bahkan nasi pun kalau makannya berlebihan jadi haram, apalagi kalau sampai muntah-muntah makannya. Karena, IMHO, apapun yang berlebihan, akhirnya tidak akan membuat kita bersyukur. Coba kamu makan mi, terus kebanyakan, terus perutnya sakit, akhirnya ga bersyukur, malah badmood. Begitu pula untuk makanan yang kamu tidak suka/jijik, walaupun halal, jadi haram buat kamu. Karena kalau kamu dipaksa makan, kamu bukannya bersyukur bisa makan makanan itu, tapi malah ngomel-ngomel dalam hati. Hehehe

Balik lagi ke urusan alkohol. Ada pertanyaan, 'lah, kalau alkohol yang dicampur dengan cokelat, cake, obat, itu gimana?' Pertanyaan ini juga dilontarkan oleh teman saya beberapa hari yang lalu. Menurut saya, boleh-boleh saja, toh dalam mengkonsumsinya kan ga bikin mabuk. Lagi-lagi, selama mengkonsumsinya tidak berlebihan. Seperti membuat jamu, misalnya, untuk mencampur sari-sari bahan herbal tidak bisa kalau tidak pakai alkohol, karena bahan-bahan jamu biasanya berdasar minyak yang tidak akan bercampur jika menggunakan air. Hal ini pernah diterangkan oleh seseorang kepada saya. Lagipula, tujuan kita mengkonsumsi kan tidak untuk mabuk-mabukan. Berbeda dengan orang yang minum khamr, apalagi di Indonesia yang cuacanya panas [yang tidak butuh menghangatkan badan], kalau tidak untuk lifestyle, 'menghilangkan stres', dll.

Pernah juga saya kaget, membaca sebuah artikel bahwa kosmetik yang mengandung alkohol juga haram. Kaget sekali waktu itu dan segera saja saya membongkar kotak kosmetik dan skincare saya untuk melihat komposisi-komposisinya. Ternyata, hampir semuanya mengandung alkohol dan turunannya. Bahkan, saat itu saya baru saja beli skincare yang jelas-jelas beralkohol karena nama produknya saja 'Wine Therapy'. Segera saya browsing kemana-mana, dan akhirnya lega karena menemukan satu artikel yang mengatakan bahwa alkohol diharamkan karena dia diartikan sebagai khamr, yaitu minumana yang memabukkan. Yang haram adalah 'makna' alkohol yang memabukkan, bukan zatnya. Kalau tentang ini pernah ada hadis yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah mengharamkan khamr, para sahabat menumpahkannya di jalan-jalan. Nah, jika khamr najis, tidak mungkin Rasulullah membiarkan khamr itu tumpah di jalan-jalan.

Sekali lagi, yang saya tulis di sini adalah pendapat saya. Boleh kok kalau mau bertukar pendapat. Kita kan sama-sama belajar. :D

Sakit Itu Nggak Enak

Sejak kecil, saya memang lumayan sering sakit, terutama batuk, pilek, masuk angin, demam.. Seingat saya, sih, saat kelas 2 SD saya untuk pertama kalinya merasakan sesak napas gara-gara batuk. Sampai sekarang pun, seringnya saya asma ya gara-gara batuk. Sungguh mengganggu, apalagi batuk juga sering sepaket dengan pilek. Walaupun kedengarannya penyakit yang sederhana, tapi cukup membuat saya nggak enak keluar rumah, males mau ngapa-ngapain, pokoknya lemeees banget, gak bersemangat. Apalagi mau long weekend gini dan ada rencana liburan keluar kota, malah sakit gini, bete-nya jadi dobel-dobel deh.

Nah, mau bagi-bagi cerita tentang apa yang saya lakukan ketika menghadapi sakit batuk-pilek-asma gini, nih.. Daripada saya geletakan gak berguna kek sarung kotor, mending nulis blog agak geje dikit, gapapa kan?hehe..

Pertama, kalau udah ngerasa tenggorokan agak nggak enak, ada tanda-tanda mau batuk, saya STOP minum es, makanan ringan macam chiki dkk, goreng-gorengan yang berminyak banget. Saya banyakin minum air putih, tapi paling enak ya minum teh/lemontea hangat agak panas. Di tenggorokan rasanya 'nyoss' legaa banget. Ini akan saya lakukan selama tenggorokan saya mulai gak enak, sedang batuk, atau sedang asma.

Kedua, kalau udah beneran batuk dan asma, saya olesin Vicks Vaporub di leher sampe dada, minyak kayu putih di perut, terus balut-balutin selendang di leher. Kipas angin atau AC DILARANG nyala, kecuali kalau udah mendesak banget. Dijamin deh, tidur akan terasa mandi keringat dingin, keringat mengucur deras, tapi harus ditahan.

Ketiga, akhir-akhir ini saya diperkenalkan dengan permen Fisherman's Friend yang cukup membantu melegakan tenggorokan, walaupun sifatnya agak temporary. Tapi kalau mau sabar, bisa kok sedikit menyembuhkan sakit tenggorokan/batuknya, selama belum terlalu parah. Dan, baru-baru ini juga, saya diperkenalkan dengan semacam obat cina, namanya Lo Han Kuo Infusion. Itu semacam bubuk yang dipadatkan, terus nanti dikasih air hangat kemudian diminum. Obat ini (atau jamu, lebih tepatnya) bisa mengencerkan dahak, menyembuhkan panas dalam, menguatkan paru-paru juga. Ini kata tulisan di bungkusnya, sih..hehe

Keempat, sekarang saya berusaha seminimal mungkin minum obat. Kalau udah gak nahan, baru minum obat batuk. Obat asma saja akhir-akhir ini gak pernah pakai. Dulu kalau minum obat asma, separo tablet aja udah tremor sebadan. Kalau pakai obat semprot, tetep tremor walaupun cuma di bagian tangan yang kerasa. Kalau bisa, saya cuma makan permen, minum-minuman hangat, kerokan.. Hehehe

Tapi intinya, sakit itu nggak enak. Sangat mengganggu aktivitas, merusak selera makan, menurunkan mood dan semangat. Jangan sampai sakit, deh, yaa...

Chapter 2 - ALAN


Aku memandangi surat berwarna krem di tanganku. ‘Aku sudah tahu, aku pasti lolos,’ pikirku sambil meremas kertas itu dan melemparnya ke sudut kamar. Aku duduk di kamar apartemenku yang kumuh. Sudah tiga bulan aku belum membayar sewa apartemen. Setelah ini, pasti akan aku lunasi biaya sewanya dan segera pindah ke tempat yang lebih baik.

Aku segera bangkit ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor manajemen artis yang telah meloloskanku di audisinya. Aku memakai kaos dan jeans casual, tidak mau terlihat antusias karena telah lolos audisi. Aku harus membuat mereka merasa merekalah yang membutuhkanku, bukan sebaliknya.
Setelah siap, aku bergegas menuju stasiun bawah tanah. Aku harus mengejar kereta ke arah MoonDale District pukul 9.00. Mungkin aku harus makan siang di sana, karena jadwal registrasi ulang peserta yang lolos audisi baru pukul 1.00 siang nanti.

Gudhiluvia memiliki lima distrik, yaitu Frontera, Smutek, EstrellaFall, MoonDale, dan PhoebusCrater. Frontera adalah distrik pinggiran, lebih sepi daripada distrik tempatku tinggal. Sangat sedikit orang yang tinggal di Frontera, mungkin karena daerahnya yang kurang bersahabat, terdiri dari hutan-hutan dan karang terjal dimana masih banyak hewan buas hidup di sana. Pemukiman penduduk di Frontera didominasi oleh orang-orang miskin yang hidup dengan mencari kayu bakar dan bekerja di pabrik pengolahan limbah di sana. Smutek, seperti juga Frontera, juga merupakan daerah pinggiran, hanya saja daerahnya lebih bersahabat daripada Frontera. Di Smutek, menjadi nelayan atau pedagang ikan menjadi mata pencaharian utama. Dikarenakan Smutek yang berbatasan dengan laut berpantai landai, yang memungkinkan perahu untuk menepi. Setelah Smutek adalah EstrellaFall, distrik yang menjadi pertemuan antara penjual dan pembeli barang murah dan barang mahal. Di sini banyak sekali pusat perbelanjaan, baik untuk kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas. Maka sudah pasti, EstrellaFall adalah pusat perbelanjaan terpadat dan terlengkap di Gudhiluvia.

MoonDale adalah bagian dari Kota Gudhiluvia yang menjadi pusat bisnis dan hiburan di kota tersebut. Pemukiman di distrik ini  didominasi oleh para pengusaha dan selebritis tingkat atas Gudhiluvia. Jika di EstrellaFall menjadi pusat jual-beli komoditas, di MoonDale dilakukan manajemen ‘balik layar’ komoditas-komoditas tersebut. Sedangkan PhoebusCrater adalah perbatasan Gudhiluvia dengan kota sebelahnya.

Walaupun MoonDale bisa disebut pusat kota, transportasi umum menuju distrik tersebut bisa dibilang tidak mudah. Hanya ada tiga kali kereta bawah tanah menuju distrik tersebut dari distrik tempatku tinggal, Smutek District, yaitu pagi pukul 8.00, siang pukul 3.00 dan malam pukul 9.00. Bisa jadi karena distrik tempatku tinggal adalah daerah pinggiran di Gudhiluvia, yang jarang sekali orang keluar dari distrik ini atau sebaliknya, menuju distrik ini. Jadi, mungkin pemerintah merasa kurang penting untuk memperbanyak jadwal transportasi umum dari/ke stasiun Smutek.

Aku berjalan cepat di trotoar yang sepi pejalan kaki. Jalan raya pun tidak ramai kendaraan. Sebagian besar penduduk distrik ini sibuk di pelelangan ikan atau pasar sayuran. Jarang yang bekerja di kantor, karena di sini yang disebut kantor hanyalah beberapa barbershop, tempat penukaran mata uang, bank, rumah sakit dan sekolah. Bisa dibayangkan betapa sederhananya kehidupan di distrik ini. Aku sendiri terpaksa memilih tinggal di sini karena hanya di sinilah aku bisa mendapat sewa apartemen yang sangat murah.

Akhirnya aku sampai di stasiun bawah tanah, tepat saat kereta memasuki stasiun. Stasiun itu tampak tidak terlalu sibuk. Hanya terlihat beberapa orang berpakaian seragam kantor yang mungkin akan berangkat kerja di MoonDale atau di stasiun distrik berikutnya, PhoebusCrater. Sebelum MoonDale ada EstrellaFall, distrik yang merupakan pusat perbelanjaan mewah. Di Gudhiluvia, jam kerja dimulai pukul 9.00 ke atas. Hanya beberapa instansi saja yang menetapkan jam kerja lebih awal dari itu, misalnya sekolah yang dimulai pukul 8.00 atau rumah sakit yang buka 24 jam.

Aku, bersama beberapa orang-orang berseragam itu, bergegas masuk ke kereta yang masih kosong. Stasiun ini adalah stasiun kedua, setelah stasiun kereta bawah tanah pertama di Frontera. Aku, seperti orang-orang lainnya, segera mencari sudut yang paling nyaman, karena untuk sampai di MoonDale akan dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Aku melihat pemandangan laut dari kejauhan bergantian dengan rumah pemukiman penduduk yang masih jarang. Hanya sedikit suara terdengar di gerbong ini. Sayup-sayup terdengar obrolan pelan orang berseragam tadi, mungkin membicarakan pekerjaan. Aku tidak peduli. Aku sibuk menyusun rencana karir baruku sebagai artis. Jelas, aku tidak bisa belama-lama menikmati pekerjaan itu. Mungkin hanya dua-tiga film, beberapa iklan dan kesemuanya harus tanpa skandal yang terlalu mencolok, sebelum akhirnya aku harus kembali menarik diri ke masyarakat umum, bersembunyi menghabiskan uang hasil kerjaku selama beberapa tahun sebelum harus mencari pekerjaan lainnya. Ya, aku tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun demi bisa berbaur dengan tenang di dunia ini.

Tiba-tiba aku teringat gadis bergaun hijau saat itu. Jelas dia adalah makhluk Bintang Calvera lainnya. Kalau begitu, besar kemungkinan ada lebih banyak makhluk Calvera yang lari ke bumi ini daripada dugaanku sebelumnya. Apakah gadis itu memiliki keluarga? Dia bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan kekuatannya. Siapakah dia?

Hmm, jika dia lolos audisi ini, hari ini aku pasti akan bertemu lagi dengannya. Mungkin akan ada banyak kesempatanku menggali informasi tentang makhluk Calvera sebentar lagi. Ya, aku harus lebih berhati-hati. Jika gadis itu salah satu seperti ayahku, aku benar-benar harus lebih hati-hati.

GELAP: Au Revoir Ujang!! (Rest in Peace)

GELAP: Au Revoir Ujang!! (Rest in Peace): Lelaki itu berjalan dengan ceria Bersenandung akan lagu pujaan Perutnya yang tambun bergoyang riang Seirama dengan langkah kakinya ...

Rumah dan 'Rumah'

Masih melekat dalam ingatan, saat dulu aku belajar kata-kata Bahasa Inggris dengan Bu Guru, aku pernah bertanya, "Apa bedanya home dan house, Bu?". Saat itu bu guru tersenyum dan menjawab sekenanya, "Kalau house itu bangunan rumahnya, sedangkan kalau home itu rumah dimana ada keluargamu." Aku sempat bingung saat itu. Otak kecilku belum bisa membedakan antara rumah dan 'rumah'. Bukankah keluarga ya ada di bangunan rumah? Ah, aku jadi bingung menjelaskannya..

Tapi kini aku mengerti, perbedaan kata home dan house. Kau mungkin mempunyai banyak rumah di dunia ini. Kini pun aku memiliki lebih dari satu rumah untuk kutinggali, yaitu di Jember, dimana aku belajar dan beranjak dewasa, dan di Surabaya dimana aku merantau dan belajar dewasa. 

Keduanya rumah bagiku, dimana ada keluarga yang selalu menantikan kehadiranku di tengah-tengah mereka. Tapi hanya satu 'rumah' bagiku. Tempat dimana hatiku ingin pulang, sembunyi dalam sangkar yang aman. Dimana pun itu, di sanalah ada bapak dan ibu. Aku tidak peduli apakah itu di Jember, di Surabaya, atau di kota lain, aku merasa ada di 'rumah' saat di tengah-tengah mereka. 

Entahlah, apa aku merasa jenuh atau lelah akhir-akhir ini. Hatiku selalu membujuk untuk kembali ke 'rumah'. Di sana aku merasakan kehangatan, rasa aman dan ketenangan. Seakan-akan aku bisa menghabiskan bertahun-tahun hidup di rumah tanpa keluar kemana-mana. Seperti 'rumah' itu terus memanggil-manggilku untuk kembali. 

Ataukah sebenarnya aku ingin lari? Lari dari semua tanggung jawab di perantauanku? Tapi mau sampai kapan? Selalu kuingatkan diriku sendiri, bahwa aku sudah dewasa. Saatnya berusaha menjalani semua sendiri, pelan-pelan lepas dari punggung orang tua. Tidak mungkin selamanya aku bisa ada dalam pelukan mereka. Ah, bahkan aku mendengar suara bapak dan ibu di telepon saja sudah ingin menangis.

Bapak, Ibu, kalianlah 'rumah' pertamaku. Maafkan aku yang masih sering menghindar dari kedewasaan. Selalu ingin tenggelam dalam pelukan kalian. Aku masih belajar untuk 'hidup'. Aku masih sering mengecewakan dan merepotkan kalian, dengan tingkahku yang manja, malas, rewel. Aku malu. Bapak dan ibu selalu menuruti semua mauku, sedangkan aku masih sering lupa bersyukur. Suara bapak dan ibu di telepon, ingatan-ingatanku tentang gurauan, senyum dan tawa kalian, sungguh semua membuatku rindu. Bahkan omelan dan wajah cemberut kalian saat aku mulai berulah pun selalu membuatku ingin kembali ke masa kecil. Masa dimana aku sering merengek minta es krim atau sekedar mampir ke pasar malam. Dimana kalian sering melerai pertengkaranku dengan kakak. Memarahiku karena aku menyembunyikan novel di balik buku pelajaran. Begitu banyak kenangan indahku bersama kalian. Untuk itu, aku berusaha untuk menjadi anak yang membuat kalian bahagia. Maafkan aku, Pak, Bu, telah banyak mengecewakan kalian, membuat kalian marah dan sedih. Maafkan aku yang masih sering lupa menjalankan amanah kalian, melupakan tugasku sebagai putri kalian. Terima kasih untuk selalu ada di saat aku ingin pulang. Terima kasih, karena Bapak-Ibulah aku ada.
Aku rindu...

Derma Bright - Day 4 (Serum Review)

Hehehe, this may be unimportant post to review a skincare product but I think is okay to share my opinion about this once a while. #endhel

Well, this is my first trying on serum product. I never buy one before because serums are often pricey for me, but this time, err, I bought it impulsively.  --v
FYI, I bought made-in-indonesia product this time, because.. Hmm, I don't know the reason WHY I bought it, okay?  
This product comes from Martha Tilaar, named Biokos, Derma Bright line. The shopkeeper said that it's good for brightening as well anti-wringkle, reduce hyperpigmentation and dark spots, brighten the skin tone and make it glows. It also slows aging process.
I've tried it for 4 days now and the result, hmm, I don't know. Maybe you or other people can see the before-after difference, because me myself can't notice my own appearance. Just sometimes I see my face turning brighter, glowy, a little bit more radiance and over all my face get better! But for dark spot, I think still no advance (still 4 days trial, remember?).

This the product picture
picture taken from thelivingroom14.blogspot.com

While this serum is pricey enough, about 260k for 30ml (yes, it IS expensive!) and I'm not the type of loyal consumer, means I rarely buy same things repeatedly. So, I think I will not repurchase this product and try another product/brand instead. Hehehe..

Cahaya Gelap

Bukan satu tapak yang kujalani. Selama ini ternyata aku hanya diam. Bahkan lebih buruk dari diam. Maju selangkah lalu mundur dua langkah. Ah, seperti permainan masa kecil. Padahal yang kuhidupi bukan permainan, tapi kenyataan. Atau selama ini aku melihat hidup ini hanya permainan?

'Hei, bangunlah', kata otak. 'Lihat di depanmu, hidup terus berjalan. Hidup harus berjalan atau kau mati hingga diam. Mereka menolak keberadaanmu, itukah alasanmu untuk sembunyi? Atau mereka mendiamkanmu lalu kau berlari? Apapun yang kau lakukan tidaklah berarti, tapi cukup untuk memberimu alasan untuk hidup. Untuk terus berjuang dan membuktikan bahwa kau ada!' Ah, seperti
kata Dewa 19, hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti. Dan jika kau berhenti, itu berarti kau mati.

Tapi apa esensinya jika aku mulai? Hanya akan selesai satu kemudian yang lain akan mulai lagi. Dan kembali lagi dari awal. Terus begitu hingga aku bosan. Ah, ini semua hanya gurauan. Toh apa yang aku dapat? Mungkin akan ada penolakan kedua, ketiga, dan seterusnya. Itu akan lebih menyakitkan. Mungkin diam lebih baik daripada aku maju dan kesakitan.

'Aku tahu kau ingin maju. Jauh di hatimu kau ingin melangkah, bukannya diam di sini, terperangkap. Cobalah, cari jawaban, bukan hanya diam dan mengira-ngira,' otak memberi alasan dan sedikit angin segar dalam pengapnya kepalaku.

Aku mulai goyah. Sedikit melihat secercah cahaya yang sudah menyala sejak lama. Namun cahaya itu begitu terang. Diriku yang begitu gelap, begitu kotor lama meringkuk di sini, terlalu silau melihatnya. Aku menutup mata. Aku tidak ingin terbakar melihat silaunya. Aku lebih tidak ingin cahaya itu meredup tertutupi gelapku.

'Sudahlah, jangan mencari alasan. Aku tahu kau telah mendapat jawaban, kau hanya tidak mau mengakuinya. Jadi, kau hanya akan terus sembunyi di sini? Dasar kau pengecut sombong! Selalu mencari-cari alasan untukmu tetap tenggelam,' otak mulai mencemooh kesal.

Aku terkesiap. Aku memang mencari-cari alasan. Karena tidak ada cahaya yang tertutupi gelap. Selamanya cahaya menerangi. Dan aku kembali bersembunyi di sudut, ketakutan menyadari kenyataan. Cahaya tidak bisa meraihku. Dia hanya sempat menyinari sedikit diriku, lalu kemudian hilang. Dan aku tenggelam.

Anak dan Harta

Semakin banyak saja saya lihat di mall dan pusat-pusat keramaian para orangtua yang jalan-jalan dengan membawa anak-anaknya, bahkan yang masih bayi dengan menggunakan kereta bayi. Kereta itu didorong ke sana kemari, dengan bayinya tidur, terbangun, raut muka bingung, ataupun bersemangat. Para orang tua itu tampak bangga dengan kelucuan bayinya, terkadang tampak tidak peduli dan sibuk dengan kegiatannya berbelanja sementara si bayi bersama dengan si mbak babysitter.

Apakah membawa bayi berbelanja merupakan bentuk perhatian orang tua yang tidak ingin meninggalkan bayinya sendiri di rumah? Apakah itu cara mereka menunjukkan kedekatannya dengan bayi mereka? Kalau ya, mengapa bayinya ditinggal dengan babysitter? Mengapa baju dan barang-barang toko tampak lebih menarik daripada melihat bayinya? Mengapa tidak berkumpul di rumah saja dengan suasana yang lebih nyaman dan tenang bagi bayi?

Pernah saya ngobrol dengan seorang teman tentang membawa bayi ke mall. Saat itu dia bilang, kalau punya bayi, dia  juga ingin membawa bayinya ke mall atau keramaian seperti itu. "Lucu, kan, Ci.. Ntar bayiku aku dandani lucuu, terus bertiga jalan-jalan.". Saya bertanya, "lalu apa gunanya? Supaya orang-orang tahu lucunya si bayi? Berarti pamer? Padahal bayi diajak ke tempat ramai gitu kan kasihan, dia nggak nyaman.. Walaupun tampaknya dia biasa saja atau tertidur, pasti dia capek." Tapi pada akhirnya teman saya tetap berpendapat hal itu baik-baik saja, tidak ada yang salah.

Begitu juga malam ini, saya ngobrol dengan seorang teman yang lain. Walaupun dia berpendapat nggak oke kalau masih bayi diajak jalan-jalan, tapi oke-oke saja kalau sudah anak-anak atau agak besar (baca: bisa jalan). Saya, sih, berpendapat ya nggak apa-apa kalau kadang-kadang diajak jalan, tapi nggak oke kalau sering.

Intinya, saya berpendapat sekarang semakin banyak orang yang suka 'memamerkan' anak-anak mereka. Sah-sah saja mengenalkan anak pada dunia luar, tapi jangan pamer. Pernahkah Anda mendengarkan seseorang bercerita tentang anaknya bisa begini-begitu, pintar ini-itu, sudah meraih gelar ini-itu dan seterusnya? Kalau tujuannya sharing pengalaman, sih, tidak apa-apa. Namun seringnya saya mendengarkan topik itu diangkat tanpa ada tujuan sharing di baliknya, hanya pamer belaka.

Mungkin itu yang dimaksud oleh firman Allah dalam Surat Al Kahfi ayat 46, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Allah (Tuhanmu) serta lebih baik untuk menjadi harapan." Allah juga mengingatkan, "Ketahuilah bahwa harta dan anak-anak kamu itu merupakan ujian, dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar," (QS. Al Anfal :28)

Seperti pada harta, manusia cenderung ingin 'memamerkan' kehebatan anak-anaknya dibanding anak-anak orang lain. Anak yang pintar, baik, sempurna, dan seterusnya, akan menjadi cobaan bagi orang tuanya untuk tetap rendah hati dan tidak pamer/sombong. Sedangkan anak yang nakal, tidak terlalu pintar, dan seterusnya merupakan ujian bagi orang tuanya agar sabar dan mau terus membimbing anaknya agar menjadi lebih baik.

Saya kurang setuju dengan sikap para orang tua zaman sekarang yang suka mengajak anaknya sejak dini ke mall atau pusat keramaian semacam itu. Selain 'rentan' pamer, menurut saya hal itu akan cukup memberi 'pelajaran' bagi anak tentang gaya hidup konsumtif sejak dini. Ini menurut saya, lhoo.. Saya sendiri belum merasakan memiliki anak. Silahkan jika Anda yang sudah maupun belum memiliki anak jika berpendapat lain. Kekekee :D

Oya, harta dan rezeki juga bisa jadi cobaan lhoo.. Selain bisa membuat kita mendekati kesombongan dan tindakan mubazir, juga membuat kita sibuk bukan main dan capek dalam 'menerima rezeki' tersebut. Contohnya, akhir-akhir ini pesanan produk DASTANE kami sedang banjir (ini pamer gak ya?) dan kami kewalahan nggarap orderan. Tapi karena rezeki tidak boleh ditolak, yaaa alhamdulillah saja lah yaa... Doakan saya dan teman-teman saya, ya.. Semoga lancar bisnis dan skripsi serta kerjaan lainnya.. Amin :)

Today, Had a Blast and Little Thoughts [about Hallyu]

Today, me and friends went to karaoke. By the way, this is the first time I go together with them, intentionally  to sing Kpop song. kekeke.. *devillaugh

Aaaand, they know sooo many Kpop song, while I know only a few of it AND I know most are SNSD's, T-Ara's, and f(x)'s. But it was fun though, karaoke-ing (I dunno the proper vocab, heheh) Kpop almost till the end. After we done karaoke-ing, we ate late lunch on a Korean resto. The food names, I don't know them. The price? Don't ask. Taste? So-so.. However, I love Indonesian food's taste more. :p

Sometimes, I think about this, Korean wave, or hallyu you call it? How can it happen in sudden? Yes, not so sudden, of course there must be a process but it is so fabolous for them managed this hallyu. The beautiful faces on TV, always make us, viewers, adore them MUCH! How can they be that pretty, handsome, have beautiful body? The drama, romance, lifestyle, up-to-date fashion, scenery, are great.

I noted, beauty in Korea is very important. Boys and girls, are the same. They very concerned about their appearance. Boys do make up, dressed well. I heard that there is motto 'there is no place for ugly people' there. Even government subsidize people's insurance for skincare and plastic surgery. Nearly 15% of the cost borne by the government. So, it's not weird that Korean very obsessed on their appearance. Plus, the artists there 'hypnotized' them with their beautiful faces and bodies EVERYDAY!

After all, I'm proud of Indonesia. We have our own beauty, not always white-pale-pink skin, sharp-edged nose, small face, wide eyes, etc..We might have brown/tanned skin, narrow eyes, not-so-sharp nose (read: pesek), but this is us. God creates you with blend of the best, harmonized perfectly. Do make up is okay, but remember the point: it just to make you looked fresh and clean, not to beautify you, because you are beautiful *Cherrybelle song as backsoung* #plakk

Lately, I'm not that Healthy

No, I'm not sick or being hurt or anything in between. But I think that lately I drink and eat not-so-healthy food and beverages. I drank too much soda and sweet beverages, ate too many fast food and grilled or fried or greasy meat. Not so many fruits and vegetables, some lazy time, some 'overthink things' time. Conclusion: Such unhealthy life!

So, finally I decided to sign a membership at a sport club with my friend this month. Last Friday was the first time for our attendance there. We did aerobic, dance, and try some fitness tools and the result is: MUSCLE SORENESS SINCE THEN!! Aww,, it's annoying you know, to feel uncomfortable while you move your body.

However, I have to endure it. Moreover I have paid the expense for next 2 months. Yeah, FIGHTING!!

By the way, our first attendance in dance class is the first time we (or only me??dunno..) were called by using 'cece' DIRECTLY!! So, should we call them back using 'meme'?? *thinkdeeply*

Aku dan Saya

Kadang aku lebih tepat daripada saya. Di lain waktu, saya lebih benar daripada aku. Entah apa beda antara aku dan saya, namun yang jelas kedua kata itu selalu saya pakai di waktu yang berbeda.

Di sini, dimana yang ada adalah saya, hadirlah seseorang yang diperuntukkan untuk konsumsi publik. Seseorang yang diijinkan untuk dikenali oleh banyak orang. Seseorang yang selalu muncul untuk berinteraksi dengan sekitarnya.

Namun di tempat lain, justru hanya ada aku. Sosok yang bersembunyi di balik bayang-bayang saya. Sosok yang tidak dikenal atau diketahui manusia lain. Mungkin hanya saya yang tahu aku dan sayalah yang menutupi aku. Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya aku, tapi cukup banyak orang yang mengenali saya.

Ahh, aku terkadang tersesat di dalam dunia yang ramai ini. Tidak benar-benar tahu apa yang ingin kulakukan. Hmm, yang seharusnya kulakukan, lebih tepatnya. Aku selalu saja bersembunyi di balik saya, seolah-olah hanya saya yang menguasai tubuh ini. Apa karena saya selalu tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan? Setidaknya untuk keperluan melindungi aku?

Saya sungguh egois. Tidak mengijinkan aku untuk muncul. Saya mengingkari apa yang kurasakan, yang kuinginkan. Saya sering bertolak pendapat denganku. Dan saya selalu menang. Aku lebih suka mengalah dan berpikir realistis. Karena memang saya yang benar, yang sesuai tuntutan realita. 

Tolooong, selamatkan aku dari saya. Aku tidak hilang, tidak akan pernah. Aku hanya bersembunyi. Hingga saat ini, hanya saya yang bisa menolong. Hanya saya yang peduli. Akankah suatu saat nanti hanya saya yang akan ada? Akankah suatu saat itu akan terjadi? Mungkin akan begitu jika tidak ada lain yang peduli. Lagipula, bagaimana akan peduli jika aku tidak dikenal? 


Oke, saya dan aku bingung.. Suatu saat kau akan tahu, apa beda aku dengan saya. Suatu saat...

Mata Empat, Bukan Empat Mata

Saya menyadari bahwa akhir-akhir ini saya mulai keranjingan baca novel, sampai-sampai uang bulanan pun habis di toko buku. Beneraan, saya lagi bosen banget, entah kenapa. Padahal ya tiap hari nggak ada sesuatu yang benar-benar membutuhkan ekstra tenaga atau pikiran. Yaaa, ada sih beberapa hal yang memeras pikiran dan tenaga, tapii not THAT much. Tapi yang jelas, setiap hari pengennya tiduran, baca novel, ngemil, dengerin musik, tidur, dst. Mualeees banget deh pokoknya.

Nah, kebiasaan saya dari dulu, kalau baca novel itu ya sambil tiduran. Kalau sambil duduk, saya nggak betah lama-lama. Yang leher capek lah, punggung pegel lah, pokoknya gak PW deh. Entah ada hubungannya atau tidak, sejak SMP saya akhirnya pakai kacamata, walaupun nggak tebel-tebel amat, tapi sangat membantu untuk membaca tulisan dari jauh atau berpapasan dengan orang dari jauh. Hehe..

Tapi sejak kuliah, saya jadi males pakai kacamata. Yang bikin sebel itu, ntar ada 'jejak' kacamata di hidung saya. Jadi gak oke kan.. #endhelmode:on Hehehe.. Pokoknya pengen gak pake kacamata. Jadinya saya pakai kacamata waktu kuliah tok, selesai kuliah langsung lepas. Lama-kelamaan kacamata jadi terlupakan, apalagi di saat sekarang, jarang ada kuliah dan jarang memerlukan membaca jarak jauh. Kacamata jadi tergeletak begitu saja. Anyway, sebenernya nggak pakai kacamata bikin wajah-wajah orang di sekitar kadang-kadang buram, jadi saya jarang ngeliat juga kalau ada wajah yang saya kenal. Dan gangguan itu saya hiraukan. :p

Intinya, akhir-akhir ini, entah kenapa sering sakit kepala, migrain.. Apakah ada hubungannya dengan absennya kacamata saya setelah sekian lama plus kebiasaan membaca yang mulai kambuh? Jadi males kan, sekarang jadi pakai lagi deh kacamata, males pula buat periksain mata.

Bagi Anda yang masih memiliki mata normal, sayangilah mata Anda. Karena mata adalah jendela dunia. #kekiklan

Maaf, hari ini sangat sangat random.

The 100th Post

Heheh, actually there's no topic in my mind to be written in here, but I want to complete my post number to 100. No point at all, is it? Kekeke..

So, today I did nothing.. I didn't go to campus, I didn't do my essay, I didn't do sewing.. Really nothing, but a job for office. So, I'm a bit tired right now, because I wasn't at home all day until night though. I went to my brother's house, visited him and his wife and my nephew-to-be, and gossiping all day long, then. :p

I ate Sambal Ikan Kayu for the first time too, my sister-in-law made, that was delicious. By browsing I found out that it is peculiar food from Aceh but Ikan Kayu my sister cooked was sent from Sulawesi. So I assume it is well-known in north part of Indonesia. #hammer

The taste is spicy-salty and a bit sour. It is mixture between red onions, chillies, and tomatoes plus Ikan Kayu itself, that been fried all together. Maybe that's all how to make Sambal Ikan Kayu, but actually I don't know, because my sister made it by herself, I didn't help her. :D

All I can say is, IT IS DELICIOUS!! This, I give you picture, but not the one I ate :D
Almost like this *drolling*
Okay, this is my 100th post. Thanks for you that read my posts till now :D

xoxo,

Marginal Utility in Reality

Wahh, saya capeek deh minggu-minggu terakhir ini setiap hari selalu rutinitas dan kesibukan yang sama: bangun pagi, ke kampus, entah nongkrong di departemen, atau mondar-mandir ke sana-kemari, pulang sore bablas ngerjain 'orderan', sampai malam terus ngerjain tugas-tugas lain terus teler tidur. Setiap hari dengan rutinitas yang hampir sama, cukup melelahkan walaupun rasanya cukup puas tidak melewatkan hari dengan mlongo 'merenungi' masa depan. Hehehe...

Hari ini juga baru bisa selesai semua jam 10-an tadi, dan masih banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan besok. Ahh, tetep semangat deh, jalani aja yang di depan mata.. Bismillah..

Tadi setelah menyelesaikan beberapa 'sesuatu' bersama beberapa teman, kami beristirahat dan ngobrol-ngobrol santai. Dan akhirnya membahas uang. Akhir bulan begini seperti anak perantauan pada umumnya, kami mulai mengencangkan ikat kepala, supaya semangat menahan nafsu beli ini-itu. Tentang begitu banyaknya barang yang notabene nggak terlalu penting yang mahal-mahal dan tetap saja diserbu pembeli. Tentang gaya hidup konsumtif yang digandrungi begitu banyak orang. Membayangkan, kalau punya uang banyak, yaa seperti itu yaa..

Sampai akhirnya teman saya menggeledah barang-barang di kamar saya dan menemukan setumpuk barang nggak penting. Saya bilang, 'itu muraaah banget, ambil aja satu-satu'. Karena itu barang memang nggak penting dan murah, saya paksa mereka untuk ambil, mengurangi tumpukan juga. Hehehe..

Saya akui, dulu saya sempat ada di periode konsumtif, dimana saya suka beli ini-itu yang mungkin menurut orang lain nggak penting banget dan hanya buang-buang uang saja. Namun sekarang saya sadar (atau ada di titik jenuh?) untuk tidak lagi membeli barang-barang yang tidak perlu. 

Seseorang, pasti ingin selalu meningkatkan tingkat kepuasannya. Ketika Anda mencoba membeli satu barang dan Anda merasa puas, selanjutnya Anda akan membeli dua barang, lalu tiga dan begitu seterusnya, hingga Anda bosan dan berhenti. Seperti saya, dulu suka-sukanya beli-beli suatu jenis barang, saya seriiiiing sekali beli, hingga bertumpuk-tumpuk dan akhirnya saya bosan dan merasa nggak penting lagi. Itulah muncul hukum 'The Law of Diminishing Utility'

Saya bayangkan, seseorang yang kaya raya, dia pasti mudah saja beli ini-itu sesuka hati. Akhirnya, dia merasa apapun yang menurut kita mahal, bagi dia tidak bernilai. Mungkin karena dia sudah bosan? Tidak ada lagi kepuasan yang dia dapatkan dari membeli barang-barang, tidak seperti ketika dulu dia masih menjadi orang biasa saja. Sebanyak apapun dia membeli barang, tidak akan muncul rasa puas, yang akhirnya dia akan terus mencoba membeli segala macam, mencoba memuaskan dirinya. Inilah awalnya, dia menjadi orang mubazir, bermewah-mewah, yang tidak dibolehkan oleh Tuhan. Mengapa hidup seperti itu dilarang? Menurut saya, selain menimbulkan kesenjangan sosial, juga karena hidup seperti itu menghapus rasa syukur di hati mereka. Bagaimana mereka bisa bersyukur kalau mereka terus tidak merasa terpuaskan?

Naudzubillahimindzalik..

Pelajaran Hari ini: Belajar Sabar

Well, bisa dibilang saya sakit hati. Seperti dipermalukan di muka umum. Tapi intinya di sini saya tidak ingin membicarakan tentang itu, melainkan sisi lain yang saya lihat di sini.

Suatu saat, kita bisa saja berbuat salah. Dan di saat itu kita memang perlu untuk diingatkan atau ditegur tentang kesalahan kita. Tapi ingat, jangan sampai teguran Anda menyakiti perasaan kita. Menegur, memiliki etika sendiri. Jangan menyakiti, jangan mempermalukan, jangan seenak mulut Anda sendiri. Oke, mungkin kali ini Anda benar, tapi apakah akan selalu seperti itu? Apakah Anda selalu benar? Bayangkan, ketika Anda menegur seseorang dan mempermalukannya, kemudian suatu saat Anda berbuat salah, apakah Anda tidak akan merasa dobel-dobel lebih malu? Ingat, manusia semua sama.. Apapun jabatan Anda, tidak berarti Anda berlaku seenaknya pada orang lain yang mungkin tampak tidak ada apa-apanya dibanding Anda.

Kecuali jika Anda memang gila hormat. Ingin semua orang menunduk-nunduk di depan Anda. Tapi jangan kaget kalau ternyata semua orang yang baik pada Anda hanyalah para penjilat yang berpura-pura di depan Anda. Mungkin kalau Anda gila hormat, orang-orang 'bertopenglah' yang cocok dengan Anda. Yang mungkin di belakang Anda mereka berkata sebaliknya.

Mungkin saya lebih baik berhenti menulis. Sorry for disturbing words.

[REVIEW] THE HUNGER GAMES : Suzanne Collins

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel The Hunger Games dan ceritanya sangaaaaaat bagus! Saya membelinya dalam paket berisi ketiga serinya karena saya penasaran sejak waktu itu saya mendengar komentar-komentar teman-teman yang sudah menonton filmnya. Bahkan filmnya baru saja saya tonton setelah menyelesaikan buku kedua Hunger Games, Catching Fire.



Dengan membaca buku ini, saya semakin kagum terhadap penulis buku-buku fiksi. Bagaimana mereka bisa berimajinasi begitu tinggi dan menakjubkan, membuat dunia yang bahkan tidak ada dan tidak mungkin untuk ada di dunia nyata.

Di buku ini, saya menangkap bahwa sebuah negara akan kuat jika seluruh bagian negara itu bersatu dan saling bekerja sama. Terkadang para pemimpin memimpin rakyatnya hanya untuk mencapai misi pribadinya dan oleh karena itu sebagai rakyat seharusnya kita memiliki tujuan ideal kita sendiri. Jangan mau hanya menjadi pion, tapi tunjukkan pada mereka bahwa kita bukan milik siapa-siapa. Kurang lebih isi keseluruhan novel ya tentang itu, namun dikemas dalam aksi permainan survival dan saling membunuh antar peserta permainan, pemberontakan, dan lain-lain. Baguuuus banget deh pokoknya!

Dan yang paling saya suka di novel ini, di ending cerita.
'Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandara kursi sampai kilasan-kilasan yang ada dalam benaknya lenyap. Aku bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mutt dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi - rasa lapar yang menguasaiku di pantai dulu - aku tahu ini memang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri punya banyak api. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apapun kami kehilangan. bahwa hidup bisa baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu'

Mungkin bagi Anda yang membaca di blog saya tidak tampak spesial quote di atas. Tapi saya menangkap arti yang sangat dalam di dalam ucapan Katniss Everdeen tersebut.

Regards,

My Opinion about Buying Expensive Cosmetic/Skincare


First of all, I want to say that I think ‘expensive’ is relative, depend on how much your income is. The higher your income level, the higher standard of price you will have.

Yesterday, I went for a walk with my friend when we looked for a skincare counter. Few days ago we bought a magazine that gave us voucher to buy that brand or sample size and gift when we purchase it. I know before that the product is soooo expensive (for me) and I think I will never buy it for any reason. But my friend (who actually rare to find her get attracted to a skincare brand, especially the expensive one), wanted to use the voucher.

Then we go to the counter, asking this or that. AND the beautician said that there is no sample, plus the gift will be given after a purchase worth 2 million! Soooo WOW!! Actually 2 million here, means you will get few things (only) because per item could be worth above IDR 500k, then you can estimate the average price of the other item.. #sigh

Well then, I knew that my decision in the beginning was right, that I will never buy it. Although the advertisement of that brand is so attractive, with a glowy clear skin woman in not-young-age anymore. Well, IT IS SEDUCTIVE! But, back to reality o:)

I ever bought a few of expensive skin product. Then sometimes I re-think, 'will I repurchase it when it out?' Then I get the answer 'Nope'. It is okay for buying expensive skin product, but why you spend much money just for one thing that won't you use again? I might say this, because I'm not kind of person who constantly use the same product for my skin and maybe I don't have a serious problem with mine so I don't take it seriously to use the same product again and again. That's why I think buying expensive skin product could be a waste for me. 

Once again, this is my opinion. What about yours?

Ganti Nomor HP dan Sadar

Judulnya tampak gak nyambung ya? Memang gak nyambung, kok, karena di post ini saya akan menceritakan dua hal yang berbeda namun terjadi sebab-akibatnya di hari ini.

Yahh, karena sesuatu dan lain hal, akhirnya saya menonaktifkan nomor HP yang saya pakai sejak SMP. Dan hari ini, hal itu tampaknya membawa dampak yang kurang menyenangkan. Sebenarnya saya sudah woro-woro ke teman-teman kalau nomor HP saya ganti dengan nomor baru. Sms pun sudah saya lakukan dengan nomor yang baru. Namun mungkin ada miss yang akhirnya saya ketinggalan sebuah jarkom penting, mungkin karena salah klik ke nomor lama. Bukan salah pengirim, tapi bukan salah saya juga. Yang salah ya nomor HPnya, ngapain pakai ganti" nomor segalaa.. Alhasil saya datang ke acara penting nelaaaaat banget!

Sebelumnya, saya nggak pernah telat selama itu. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang selalu berangkat awal, walaupun sejak kuliah saya mulai meremehkan ketepatan waktu, tapi tidak pernah saya telat sampai satu jam, apalagi di acara penting! Serius, saya merasa gak enaaaak banget sama teman-teman yang lain, merasa saya mengacaukan acara itu. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur, saya juga sudah minta maaf. Sekali lagi, deh, buat teman-teman yang bersangkutan dan kebetulan membaca post ini, saya sangaaaaat minta maaf. :(

Sampai sekarang pun, keadaan sudah malam dan tidak ada yang mempermasalahkan keterlambatan saya tadi, saya masih uring-uringan. Kemudian saya sadar, 'oya, dulu pernah ngisi kuis, dibilang saya orang yang melankolis'. Saya buka lagi analisa tentang sifat orang melankolis.

Orang melankolis itu terjadwal, suka berubah-ubah temperamennya, suka teori dan cenderung sulit bersosialisasi, pendendam, melihat masalah dari sisi negatif, mengingat negatif, tertekan, mudah merasa bersalah, terlalu menganalisa dan merencanakan, sensitif terhadap kritik yang menentang dirinya, serba tertib dan teratur, menghindari perhatian, dan lebih suka di belakang layar. Sebenarnya masih banyak lagi. Kalau mau tahu lebih lengkap, buka saja ini.

Saya kemudian sadar, ya ternyata benar, saya lebih suka hal yang terencana, bukan yang mendadak. Saya mudah tertekan dan merasa bersalah, memikirkan yang berat-berat dan negatif, sensitif, tidak suka menjadi pusat, cenderung diam saja, tidak bersosialisasi (sepertinya saya butuh psikiater). Saya selalu berusaha membuang pikiran negatif, tapi sulit sekali. Saya selalu berusaha cuek dan santai menghadapi masalah, tapi kok susah ya?

So, please, let me know if I'm start worrying too much. :)

Hari Ini : Pergi Sendiri

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya pergi atau jalan-jalan sendirian. Tapi sudah lama sejak terakhir kali saya jalan-jalan ke mall sendiri.

Nah, tadi siang sepulang dari kampus saya bertekad untuk mampir di mall terdekat dengan kampus, tujuannya sih untuk beli sesuatu yang saya butuhkan. Setelah dapat barang yang saya cari, kok rasanya nanggung banget kalau langsung pulang. Apalagi di jalan tadi hawanya panaaaas banget. Akhirnya, saya memutuskan untuk cari tempat duduk yang nyaman buat spending time.

Pilihan saya jatuh di J.Co karena kalau di fooodcourt kok rasanya ga nyaman ya buat duduk sendirian, apalagi tempat makan yang 'serius', malah gak enak buat duduk lama-lama. Jadilah saya ngendon di J.Co selama beberapa lama. Lihat kesibukan orang-orang di sekitar saya, rasanya ikut merasa seru. Sebentar-sebentar saya ingat zaman duluu awal-awal kuliah di Surabaya. Awal-awal jalan sama temen-temen. Gak kerasa sekarang udah masuk semester tua, udah mulai sibuk dengan kesibukan dan kehidupan masing-masing. Jadi jarang seru-seruan seperti dulu.. :(

Inget juga dulu, di tempat yang sama, saya pernah dicekokin dua teman saya donat J.Co lima biji buat saya sendiri, gara-gara kemarennya saya beli donat ga bagi-bagi ke mereka. Padahal waktu itu saya janji ga akan ke J.Co lagi saking eneg-nya. Hehehe..

Dan, duduk-duduk sendirian gitu sepertinya jadi sasaran empuk bagi SPG-SPG untuk mempromosikan barangnya ke saya. Berhubung saya gak ada teman ngobrol, jadi saya dengerin aja ocehannya tentang barang yang dia jual, walaupun ujung-ujungnya saya gak mau beli. Sampai akhirnya datanglah satu teman saya tanpa disangka, gara-gara iming-iming J.Co (padahal saya ga mau traktir). Dan berakhirlah acara duduk-duduk-sendirian saya.

Tapi bisa diulangi sih acara refreshing seperti tadi. Cukup menyenangkan buat cuci mata. Gak peduli deh dibilang 'seperti anak ilang'.. Hehehehe..

Novel vs Film


Akhir-akhir ini semakin banyak saja film yang dibuat based on novel, baik itu ber-genre fantasi, thriller, fiksi, dan lain-lain. Biasanya, film semacam itu disambut penonton dengan antusias, terutama jika novelnya adalah novel bestseller. Film yang based on novel yang saya suka adalah Harry Potter, Lord of the Rings, Twilight Saga, apa lagi yaa? Mungkin ada lagi tapi saya lupa. Ada juga film Indonesia seperti Laskar Pelangi, Perahu Kertas, apa lagi yaa?? Kok jadi blank gini sih kalo lagi diinget-inget?? hehe.. #abaikan

Tapi seriiing banget kejadian, penonton jadi kecewa setelah nonton film. Seringnya sih, banyak komentar ‘waahh, gak heboh seperti di novel!’, ‘wahh, cast-nya gak asik, gak sesuai!’, dan banyak lagi komentar kecewa. Kalau saya, sih, seringnya nonton film yang berdasarkan novel kecewa kalau ada bagian novel yang harusnya ‘heboh’ tapi di-skip, gak diceritain. Selebihnya, saya puas-puas aja, sih.

Menurut saya, film ya film, novel ya novel. Film based on novel, kan cuma inspirasi ceritanya aja yang berdasarkan cerita di novel, gak bisa dibandingin. Syukur-syukur kalo plek banget (yang jarang terjadi), tapi ya bebas aja sih kalo mau dibuat sedikit perbedaan.

Novel, cerita melalui kata-kata yang bisa menimbulkan imajinasi di benak pembaca. Imajinasi yang muncul juga pasti beda-beda per pembaca. Jadi ya wajar aja kalau setelah nonton film yang ternyata ga sesuai ‘bayangan’ kita, timbul sedikit kecewa. Tapi sekali lagi, film dan novel beda. Jadi, men-judge film ga bagus gara-gara gak sama dengan novelnya, menurut saya kurang fair.

Tapi ada lho, film yang (menurut saya, lagi) lebih bagus daripada novel yang ‘mendasarinya’, yaitu Lord of the Rings. Novel pertamanya, yang saya beli zaman SMP, sampai sekarang tidak saya tamatkan. Mungkin cara berceritanya yang ribet dan saya sering lupa cerita halaman sebelumnya. Kalau filmnya sih, bagus bangeet.

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang film yang diadaptasi dari novel?

Regards,

Rejeki Sudah Diatur


Hari ini saya mendapat kejutan. Walaupun sudah pernah membicarakan hal ini dengan teman-teman ‘sepermainan’ saya, tetap saja begitu kejadian ya kaget juga. Kami sudah tahu dari awal cepat atau lambat hal ini akan terjadi, tapi terkejut juga begitu kejadian.

Kebetulan, tugas kuliah KWU untuk membuat bisnis semester kemarin masih jalan sampai sekarang. Waktu itu sempet ngobrol sama salah satu temen, tentang contek-contekan barang. Sempet khawatir dan lain sebagainya. Sampai akhirnya kami mendapat kesimpulan, ‘Ya udah deh, kalo dicontek biar aja. Toh, rejeki sudah ada yang ngatur. Makanya itu, kita musti bikin inovasi terus’. Dan tenanglah kami setelah meyakini kesimpulan tersebut.

Tapi begitu kejadian beneran hari ini, yaa saya akui kaget juga sih. Sempet mikir, ‘Kok gitu sih?’ Tapi setelah ngobrol-ngobrol, yaa udahlah. Inget, ide yang mendasari kami juga berasal dari orang lain. Rejeki udah ada yang ngatur. Positifnya, bisa ‘memberdayakan’ orang lain.

Tenang deh. Dan bener, begitu kita mempercayakan pada Tuhan dan mengikhlaskan sesuatu, rasa tenanglah yang kita dapat. 

My 'Me Time'

Saya rasa, semua orang wajib memiliki 'me time' dalam kesehariannya. Me time bukan berarti harus sendirian, menurut saya, pokoknya saat-saat apapun yang kita suka menurut saya bisa disebut me time. Karena pada dasarnya me time ada adalah untuk refresh semangat dan mood supaya tidak ada yang namanya kata stress.

Dulunya, waktu jadwal kuliah masih lumayan padat, saya suka sekali menghabiskan waktu dengan main internet, baca novel sambil denger musik sambil nyamil, jalan-jalan, atau sekedar nongkrong di kos temen. Justru sekarang setelah udah jadi mahasiswa semester akhir-akhir, saya jadi bingung mau ngapain ngisi waktu kosong, saking banyaknya waktu kosong, hehehe.. Baca novel sambil denger musik sambil nyamil jadi tidak lagi menarik. Main internet juga sudah mulai bosan. Nah, jadilah saya suka mengisi waktu dengan maskeran, ato ngapainin muka..Hehehe... Tapi balik lagi deh, kalo udah ga mood, males beneeeer mau ngapa-ngapain. Pengennya tiduraaan melulu, palingan mikir ini-itu ke sana kemari. Ga jelas deh pokoknya. Tapi menurut saya itu juga termasuk 'me time' karena bikin relax. Kecuali kalo mikir 'ke sana kemari'nya negatif, malah gak relax, jadi makin stress.

Secara umum, me time yang biasanya saya lakukan adalah kegiatan yang menjadi hobi saya, seperti baca-baca, nulis-nulis (seperti ngeblog ini), tiduran sambil denger lagu, browsing atau cuma ngobrol sama orang yang ada di rumah. Kadang-kadang nonton film atau jalan-jalan. Yang jelas, apapun yang bisa bikin fun, lakukan. Menurut saya, itu semua penting supaya hidup kita bisa balance, gak dapet pusingnya doang gara-gara mikir kerjaan/kewajiban.

Oke, selamat ber-me time ria!! :D


Surat dari Masa Lalu – September 2007


PROLOG:
Sebelum membaca, perlu saya beritahu dulu, di bawah ini bukan hasil tulisan saya, tapi cukup menginspirasi saya selama ini dalam 'mengarahkan' pikiran saya. Mungkin juga bisa berguna bagi Anda, para pembaca. Tulisan ini sudah saya edit di sana-sini supaya bisa menjadi konsumsi umum. 


Beberapa tahun lalu, saat usiaku 17 tahun, aku pernah berdoa,
                “Kini aku memohon pada-Mu Tuhan, tolong aku supaya menjadi dewasa, bukan lagi bersenang-senang, melainkan mempertimbangkan masa depan. Belajar menjadi dewasa ternyata susah, harus bisa mengalah, tidak berat sebelah. Bukan ‘lari dari..’ melainkan belajar memecahkan masalah dan mau meminta maaf jika bersalah. Menjadi dewasa berarti jujur terhadap dunia, tidak berpura-pura, menyimak yang baik, mengabaikan yang tidak baik, dan memperbaiki yang buruk. Aku harus belajar melihat dua puluh tahun ke depan, apakah aku akna menjadi orang yang bertanggung jawab, mau berkorban, dan penuh pengabdian? Apakah aku mawas diri? Apakah kualitas kepribadian ada pada diri sendiri, mampu memberi, mau melayani? Bukannya meminta.. Tolonglah aku mempercayakan diri dan berpasrah bahwa Tuhan besertaku bertumbuh ke masa cerah. Dampingilah aku aku bertumbuh ke kedewasaan, matangkan diriku untuk berperilaku. Tolonglah aku saat membuat pilihan dan tolonglah aku berkembang agar aku pantas menjadi pilihan. Aku percaya seseorang telah Kau siapkan, Kau matangkan dan Kau dewasakan. Sebab itu, pada-Mu kupercayakan diri. Engkau punya maksud indah, sehingga hidup bukan kuhadapi seorang diri, melainkan bersama Engkau, Tuhan, teman hidup sejati.”

Dalam perjalanan hidup ini, seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai saja. Sungguh semua itu menghadirkan nelangsa di dalam jiwa manusia. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu.

Manusia diciptakan memiliki kehendak tetapi tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tidak perlu kita tangisi. Rejeki, jodoh, dan kematian, memang menjadi bagian dari diri kita selama hidup di dunia dan pasti akan Tuhan sampaikan. Tapi apa yang memang bukan milik kita, tidak akan bisa kita memilikinya, meski ia di dekat kita, menghampiri kita, meski kita mati-matian mengejarnya.

Terkadang, kita tidak sadar sedang mendikte Tuhan, bukannya meminta yang terbaik. ‘Pokoknya harus itu, Tuhan, harus dia.. Karena aku sangat mendambakan itu semua, blablabla...’ Seakan-akan kita lebih berkuasa dari-Nya, seakan kita yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya, kalaupun Tuhan memberikannya, maka tidak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Tuhan tidak mengulurkannya dengan kelembutan, melainkan melemparkan dengan marah karena niat kita terkotori. Setelah ini, harus benar-benar dipikirkan, karena seorang yang baik tidak hidup untuk dunia, namun menjadikan dunia untuk hidup yang sesungguhnya. Maka janganlah kita tangisi apa yang bukan milik kita.

Aku tuliskan kembali itu semua, sebagian pelajaran dan nasehat tentang perjalanan hidupku. Aku pernah nyaris melupakannya. Aku mencintai terlalu sangat hingga aku tidak menyadari, aku sungguh terbang terlalu tinggi karena itu jatuhnya pun sangat sakit. Aku juga terlalu cepat membuat piringnya penuh hingga aku terjatuh dari pinggirnya. Aku sempat berhenti meski sejenak, lalu aku berjalan lagi. Aku berjalan dengan luka yang masih melekat di tubuhku dan aku tidak punya pintu lagi untuk dibukakan.

Ada lima peraturan sederhana untuk hidup bahagia:
1.  Bebaskan dirimu dari kebencian
2.  Bebaskan pikiranmu dari kesusahan
3. Jangan hidup berlebihan
4.  Berilah lebih
5. Kurangilah harapan

Tiada seorang pun bisa kembali dari awal  dan memulainya lagi dengan memutar kembali waktu. Setiap orang bisa mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru. Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, panas tanpa hujan. Tuhan menjanjikan kekuatan untuk hari ini, air mata untuk kebahagiaan dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai ‘polisi tidur’, akan memperlambatmu sesaat tetapi selanjutnya kau akan menikmati jalan rata. Karenanya, janganlah berhenti terlalu lama, berjalanlah terus! Ketika kau kecewa tidak mendapatkan apa yang kau kehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang menyiapkan yang lebih baik untuk dirimu.

Saat sesuatu terjadi padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya. Suatu kejadian dalam kehidupan, mengajarimu bagaimana lebih sering tertawa dan menangis tidak terlalu keras.

-Anonim-

Saya, Penikmat Karya


Saya selalu mengagumi seseorang yang bisa menulis. Bagaimana mereka bisa merangkai kata dan mengajak kita menyelami alam imajinasi mereka. Bagaimana mereka bisa membuat dunia sendiri yang bahkan tidak ada sumbernya di dunia nyata.

Saya suka cara mereka menyampaikan pikiran mereka. Darimana mereka menemukan ide cemerlang untuk menulis sesuatu yang menginspirasi orang lain? Bagaimana memilih kata-kata yang pas dari semesta kata yang kaya?

Saya adalah penikmat bahasa, rangkaian kata dan suara. Bahasa, penghubung komunikasi antar manusia. Kata-kata, begitu diubah rangkaiannya, akan berubah pula maknanya. Suara, seperti musik dan lagu, tidak selalu kata-kata, bisa juga hanya berupa rangkaian nada, bisa membawa emosi pendengarnya.

Mungkin satu yang masih belum saya nikmati, karya lukis. Saya kurang bisa menilai sebuah gambar atau lukisan. Gambar, bagi saya hanya gambar, tidak membawa emosi saya ke titik tertentu. Namun, saya juga menikmati karya film. Walaupun hanya untuk hiburan, terkadang renungan.

Satu hal yang sejak kecil saya suka adalah membaca dan menulis. Sangat menakjubkan mengingat saya adalah tipe orang yang mudah bosan akan sesuatu dan sering ‘anget-anget tahi ayam’. Musik juga saya suka dari kecil, walaupun tidak pernah menjadi pelaku, hanya penikmat. Sampai sekarang.

Saya: pembaca, penulis, pendengar.

Hidup Ini Relatif

"Apa yang kamu pikir salah di sini, bisa jadi sahih di tempat lain. Racun bisa jadi obat. Obat bisa jadi racun." Tristan berhenti. "Oke, oke, maksud saya... relax! Matahari saja tidak muncul 12 jam di suatu tempat! Semua bergantung dimana kakimu berpijak." (Dikutip dari Akar, Dee).

Hidup ini relatif, tergantung perspektif Anda melihat suatu masalah dari sudut mana. Semua di sekitar kita diliputi kerelatifan. Saya melihat Anda egois, sebaliknya Anda yang menganggap saya egois.

Suatu saat kita berpegang teguh pada mana yang baik dan mana yang salah, di saat lain kita menemukan yang sebaliknya. Pernah saya melihat seseorang yang begitu sempurna, baik fisiknya, karirnya, semuanya. Tapi siapa tahu di balik itu semua ada hal negatif yang dia tanggung? Siapa tahu di pihaknya ada sesuatu yang dia envy ada di orang lain? Lagi-lagi semuanya relatif, boy.. Tergantung dari sisi mana Anda melihatnya...

Satu hari Anda melakukan sesuatu, akan ada yang memuji Anda, dan akan ada pula yang menghujat Anda. Tergantung pada kesamaan pandangan Anda dengan orang lain. Tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak ada pula yang sepenuhnya salah di dunia ini. Benar dan salah, itu adalah hak Tuhan. Hak kita sebagai manusia hanya.. melakukan apa yang kita ANGGAP benar. Menurut saya, selama alasan yang mendasarinya bisa dipertanggungjawabkan, kenapa tidak?

Sepertinya pagi ini saya hanya meracau. Sekali lagi, sorry for the inconvenience..

Regards,

Have You Ever Stop Thinking?

I always feel that I never stop thinking about anything. Various thoughts always spinning in my head, good and bad thoughts as well. It happens agan and again, I'm thinking and thinking again. Usually, they're about future, desicions, plans, or just random things. How can I stop this? CAN I stop this? I mean, stop thinking randomly.

Then I found out that it's just human nature to think and over-think things. --a

Imajinasi Saya Sepanjang perjalanan






Bersyukur deh ada blogging assistant d hp yang lumayan membantu kebosanan di jalan.. hehe..

Jadi, tadi di jalan menuju pacitan, saya paham kata orang-orang tentang jalannya yang katanya naik-turun gunung. Ternyata beneraaan jalannya berliku-liku naik-turun.. kanan-kiri yang ada jurang, tebing batu, pohon-pohon tinggi meranggas, sungai berbatu di bawah, sawah terasering.. semuanya perpaduan warna hijau dan coklat, abu-abu dan biru bebatuan.. Fantastis!

bisa juga pikiran 'fantastis' itu hanya ada di kepala saya, karena  saya membayangkan hal-hal lainnya. Di kepala saya, yang ada seolah-olah kami terkurumg oleh tebing batu yang tuinggi itu. Seolah-olah kami ada di dunia goblin di bawah tanah. Atau di dunia elf, hutan-hutan rapat. Yang untuk menuju ke sana kami harus menembus terowongan rahasia. Hehehe

Imajinasi saya ketinggian ya?? But that's it.. saya berusaha mengambil beberapa foto, tapi sulit dengan keterbatasaan kamera hp dan laju mobil. Ditambah, lama-kelamaan saya pusing akibat jalan yang berliku-liku dan naik-turun. jadi akhirnya saya berhenti mengambil gambar dan memutuskan relaks dan merem gak lihat jalan. --''

saya lampirkan beberapa foto yang saya ambil, walaupun kalo foto saja sepertinya tidak terlalu terlihat efek 'fantastis' yang tergambar di kepala saya.. hehe

Published with Blogger-droid v2.0.4

Akhirnya, ada acara mudik..




Jarang-jarang nih keluarga ada agenda mudik ke luar surabaya. Biasanya, lebaran gini stay di surabaya aja. Jadi sejak kuliah, bisa dibilang saya gak mudik kemana pun.

Dari tahun ke tahun, agenda 'mudik' keluarga yang pasti surabaya, kadang-kadang aja ke jawa tengah, jogja atau semarang. Itu kalo ada acara kumpul keluarga bapak, tapi jarang sekali dan tergantung bapak lagi fit atau nggak. Soalnya bapak gak pernah memercayakan urusan nyopir luar kota ke kita-kita.. hehee..

Tapi tahun ini beda. Tidak direncanakan sebelumnya, keluarga ada acara mudik ke Pacitan. Sebelumnya, saya tidak pernah pergi ke pacitan. Katanya sih pacitan itu jauh, biasanya kalo jalan normal sekitar 7 jam, kalo macet gini, gatau deh berapa jam..

Tapi untung, pada dasarnya saya suka ada di perjalanan. Mudik gini, saya lebih suka di jalannya daripada di tempat tujuannya, walaupun bukan berarti saya ga suka pas udah sampai. Tapii, yaa suka aja liat mobil-motor pada tumplek blek di jalan, panas-panas gini. Banyak yang bisa dilihat dan disyukuri.

Published with Blogger-droid v2.0.4

5W 1H

There are so many 'Question Words' exist in this world of words. They are 'What', 'When', 'Where', 'Who', 'Why', and 'How'. Among all those words, in my opinion, 'Why' is perhaps the important one. Why is it important? (Nah, just now I'm asking using 'why' word, heheh)

Honestly, I found this statement in someone's blog, and I do have the same opinion. So, I want to share my thinking (again) here in my own blog. 'Why' wants reason as the answer. For me, the reason you do something is the most important one. Reasons show people's perspective for their doing. And that's the point of all.

I do really appreciate people who have reason for everything they've done. However strange their actions or decisions, I will appreciate it, as far as the reasons are rational. Just, they will be the responsible one for the outcome of their decisions.

And again, the next word that I think important after 'why' is 'how'. 'How' demands the process as the answer. How you do something, how you achieve your goals, is important. Because, for me, when you walk on the good process, you will gain good results in a long term. However hard the process is, you have to believe, you will get the best in the end.

But anyway, the other question words are important too. It will be better if you get answer from all the six basic question. Heheh..

Regards,

T O D A Y

Hari ini sungguh spesial buat saya. Sejak saya kuliah, sepertinya ini hari kelahiran yang kembali berkumpul dengan banyak keluarga, termasuk ibu, adek, kakak, dll. Sayangnya bapak masih di kampung halaman, belum balik ke Surabaya. Tapi, intinya, saya senang sekali. Plus, hari ini bertepatan dengan malam takbiran. Malam terakhir Ramadhan.

Malam takbiran ini, saya merasa antara senang dan sedih. Senang, karena berkumpul dengan begituuuu banyak saudara. Selain itu, entah kenapa setiap tahun saya selalu menanti-nanti hari idul fitri. Padahal kalau dipikir-pikir, sepertinya dari tahun ke tahun saya masih belum melakukan perbaikan apapun.

Saya merasa, di akhir Ramadhan ini, begitu banyak hal yang saya lewatkan. Di saat 'harga' pahala seperti 'didiskon' besar-besaran, saya belum memaksimalkan 'hunting' pahala. Banyak waktu yang saya lewatkan dengan tidur, main, dan hal-hal gak penting lainnya. Bukannya berbuat kebaikan, saya masih sering 'nakal', bikin orang sebel.. 

Tahun ini sepertinya adalah tahun yang sangaaat menyenangkan buat saya. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Saya berdoa, semoga seiring berkurangnya jatah umur ini, saya bisa semakin handle waktu dan hati saya sendiri. Juga selalu dilancarkan segala urusan dan diberikan segala hal yang terbaik oleh Allah.. Amiiin...

Selamat Idul Fitri semuanyaa.. Minal aidzin wal faidzin yaa :)

An Issue About Perfection

Katanya sih, orang Jawa itu nrimo, menerima apa adanya, pasrah. Yaa, maksud saya bukan pasrah yang berdiam diri, tapi pasrah yang menyerahkan segalanya pada Tuhan, mengikuti alur, let it flow...

Is there such a person like that in this world? Accepting you just what you are? Padahal hidup ini menuntut kesempurnaan. Perfection always WIN in any matters in this world! Lihat aja sekarang, sudah banyak teknologi yang membantu manusia menyempurnakan dirinya, misalnya operasi plastik, implan, dan lain-lain. Banyak cara untuk menyempurnakan pekerjaannya, baik secara jujur maupun curang. Orang yang lebih sempurna, selalu lebih diterima daripada yang berkekurangan. Itulah awal dari keberadaan sebuah penilaian. Yang bernilai lebih baik akan menjadi pemenang. See?

Society insist perfection. Anda yang tidak sempurna, akan mengalami seleksi alam. Untuk dapat diterima, mungkin Anda hanya bisa terkungkung di lingkungan tertentu, yang mungkin sama kekurangan denganmu. Atau ada cara lain, menjadikan diri Anda sempurna, bagaimanapun caranya. Toleransi hanya isu zaman sekarang. Buktinya, Anda hidup dalam tuntutan. Menjadikan Anda seseorang yang bukan diri Anda. Menjadi orang lain yang menurut Anda ideal dan diinginkan masyarakat.

Kalimat 'Nothing's Perfect' sekarang hanya slogan. Semuanya berlomba-lomba untuk menghilangkan ketidaksempurnaannya, setidaknya menutupinya di depan manusia lainnya. Karena semuanya tahu, Anda akan lebih dihargai kalau Anda sempurna.

I'm not perfect either. This posting is just.. saying what I'm thinking.. One more random post :)

Few Things Captured in My Room

Taken by: My Sisters
These photos are taken when I wasn't there, then I found out that things they're taken are soooo random.
Here they are.. :D










Sorry for the inconvenience..
cc: elfirdha.tumblr.com

Renungan Dalam Lagu [My Chemical Romance - I Don't Love You]

Gak usah banyak prolog deh ya, langsung saya tulis liriknya..

Well, when you go
Don't ever think I'll make you try to stay
And maybe when you get back
I'll be off to find another way

And after all this time that you still owe
You're still a good-for-nothing I don't know
So take your gloves and get out
Better get out while you can

When you go would you even turn to say
"I don't love you like I did yesterday" ?

Sometimes I cry so hard from pleading
So sick and tired of all the needless beating
But baby when they knock you down and out
It's where you oughta stay

Well after all the blood that you still owe
Another dollar's just another blow
So fix your eyes and get up
Better get up while you can

When you go would you even turn to say
"I don't love you like I did yesterday" ?

Well, come on, come on!
When you go would you have the guts to say
"I don't love you like I loved you yesterday" ?


The point is in these sentence "when you go, don't ever think I'll make you turn to say and maybe when you get back I'll be off to find another way". It's already clear what it means, but here, the main character (in my point of view is a girl) just want to convince herself by asking him that he doesn't love her anymore. Asking him to say "I don't love you like I did yesterday".

She said "sometimes I cry so hard from pleading, so sick and tired of all the needless beating". Here, she confesses that she's hurt and really cry for him leaving, but there is no words needed to make him stay, so she's just in silence. Rather than making quarrel, she let him just leave.

Yes, just leave and live his decision.

Sabar dan Jalani Saja..

Inget dulu sama temen-temen kkn selaluuu aja motto ini disebut. Setiap ada sesuatu yang salah, selalu jawabannya 'sabar dan jalani saja'. Kata-kata yang tampaknya mudah dan sederhana ketika diucapkan, tapi suliiiit sekali untuk diamalkan..

Pada hakikatnya, menurut saya, sabar dan jalani saja bisa membuat kita tenang dan santai menjalani hidup. Pokok udah usaha kan, ntar diliat aja, apapun hasilnya sabar dan jalani saja sebaik mungkin. Tapi ternyata, kalo saya, tetap saja kok ga bisa setenang itu ya? Seriiing perasaan ga karuan, ga tenang, entah badmood ato uring-uringan, pokoknya saya merasa perasaan saya selalu di titik ekstrim. Pengennya sih santai, biasa aja sama semuanya, karena apapun itu ketika ada embel-embel 'sangat', pada akhirnya akan menyakiti diri sendiri. Tapi kok ngatur hati sendiri untuk tetap di level 'biasa aja' itu kok sulit? Apa saya kurang sabar? Apa saya kurang bisa 'jalani saja'?

Mungkin iya, mungkin saya kurang bisa bersabar. Jadi saya ingin segera mendapat apa yang saya inginkan. Saya juga mungkin kurang bisa 'jalani saja', melainkan selalu ingin semuanya berjalan sesuai keinginan saya. Mungkin saya harus bisa menata hati, supaya semua kembali di level 'biasa aja', ga ada embel-embel 'sangat' untuk semua hal. Mungkin dengan begitu saya bisa mulai menjalani hidup dengan 'sabar dan jalani saja'.

Posting agak geje nih, bangun tidur kesiangan mungkin bisa disalahkan :D

Published with Blogger-droid v2.0.4

Sejatinya Sibuk itu Memang 'Menyenangkan'

Ini saya lagi di kereta dan lagi nyoba posting blog pake hp..jadi yang akan saya tulis sepertinya tidak akan banyak-banyak..

Pikir-pikir topik apa yang ingin saya tulis,kemudian saya teringat pembicaraan dg teman-teman saya beberapa hari yang lalu dan dengan seseorang semalam. Yaitu tentang perasaan negatif yang muncul ketika kita menganggur.

Ternyata bukan saya seorang yang merasa uring"an ga jelas, bete, badmood, khawatir, pokoknya ga enaaaak banget perasaan ini. Itu terjadi setiap saya menganggur, ga ada kerjaan apa-apa. Tapi begitu diri saya disibukkan oleh sesuatu, atau paling tidak melakukan sesuatu, baik bermanfaat ataupun tidak, 'aura' negatif itu berkurang, dan semakin lama kegiatan itu dilakukan, akan semakin nyaman pula perasaan saya.

Ternyata teman-teman saya yang lain waktu itu mengutarakan hal yang sama pula. Jadi, saya menyimpulkan, pada hakikatnya manusia lebih menikmati dirinya saat mereka memiliki suatu kesibukan. Walaupun ketika kita sibuk kita mengeluh ingin istirahat/malas-malasan.

Udah, gitu aja posting saya, ini masih nyobain juga. Jangan-jangan udah nulis panjang-panjang ternyata ga bisa --"

Published with Blogger-droid v2.0.4

Renungan Dalam Lagu [Paramore - Misguided Ghosts]

Sepertinya lagi suka nulis-nulis lirik lagu ya.. Dua hari berturut-turut saya posting lirik lagu terus. Kelihatan lagi ga ada bahan tulisan ya?? Hehehe...

Jadi inget zaman SD-SMP dulu, suka nulis lirik lagu di buku, sampe berhalaman-halaman isinya lirik-lirik lagu. Kurang kerjaan banget deh emang, tapi memang saya suka dengerin lagu dari zaman dulu sih.. Iseng-iseng yang kurang bermanfaat sepertinya..

Nah, kali ini saya ingin menulis tentang lagunya Paramore yang judulnya Misguided Ghosts. Artinya.. arwah penasaran?? Baca dulu liriknya dan dengarkan lagunya dulu aja, deh.. Cekidooot :D


Misguided Ghosts


1, 2, 3, 4


I am going away for a while
But I'll be back don't try and follow me
Cause I'll return as soon as possible
See I'm tryin' to find my place
But it might not be here where I feel safe
We all learn to make mistakes,



And run from them
From them
With no direction
We'll run from them
From them
With no conviction



Cause I'm just one of those ghosts
Traveling endlessly
Don't need no roads
In fact they follow me
And we just go in circles



Now I'm told that this is life
Pain is just a simple compromise
So we can we get what we want out of it
Will someone care to classify
A broken heart and twisted minds
So I can find, someone to rely on,



And run to them
to them
Full speed ahead
Oh you are not
Useless
We are just



Misguided ghosts
Traveling endlessly
The ones we trusted the most
Pushed us far away
And there's no one road
We should not be the same
I'm just a ghost
And still they echo me
They echo me in circles.



Lagu Misguided Ghosts ini, menurut saya bercerita tentang manusia yang selalu mencari jati dirinya. Di hidupnya, manusia akan selalu menemui masalah, "Now I'm told that this is life, pain is just a simple compromise" dan "We all learn to make mistakes". Manusia seperti arwah penasaran, selalu 'berjalan' kesana-kemari terkadang terarah dan terkadang tanpa arah, berjalan terus sampai akhirnya waktu yang menghentikan. 

Semua manusia adalah sama, tidak ada yang tidak berguna, semuanya sama-sama mencari tujuannya masing-masing. Saya jadi berpikir, bahwa sebenarnya tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak ada yang sepenuhnya salah di dunia ini. Karena semua manusia pasti melakukan suatu tindakan didasari tujuan dan niatnya masing-masing, dan bukan hak kita sebagai sesama manusia untuk men-judge tindakan mereka salah atau benar.

"The ones we trusted the most, pushed us far away. And there's no one road. We should not be the same". Kalimat itu membuat saya berpikir, memang benar bahwa kita semua diciptakan berbeda-beda. Tidak seharusnya semua manusia sama. Kita harus menghormati orang lain yang pasti memiliki pandangan berbeda dengan kita. Tidak perlu untuk kita mengikuti pandangan orang lain dan sebaliknya, yang harus dilakukan adalah memahami dan mencoba melihat dari berbagai pandangan yang berbeda. Dengan begitu, kita bisa selalu belajar untuk menghormati orang lain, juga membuka pikiran kita terhadap berbagai pendapat yang berbeda-beda.


"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...