The 100th Post

Heheh, actually there's no topic in my mind to be written in here, but I want to complete my post number to 100. No point at all, is it? Kekeke..

So, today I did nothing.. I didn't go to campus, I didn't do my essay, I didn't do sewing.. Really nothing, but a job for office. So, I'm a bit tired right now, because I wasn't at home all day until night though. I went to my brother's house, visited him and his wife and my nephew-to-be, and gossiping all day long, then. :p

I ate Sambal Ikan Kayu for the first time too, my sister-in-law made, that was delicious. By browsing I found out that it is peculiar food from Aceh but Ikan Kayu my sister cooked was sent from Sulawesi. So I assume it is well-known in north part of Indonesia. #hammer

The taste is spicy-salty and a bit sour. It is mixture between red onions, chillies, and tomatoes plus Ikan Kayu itself, that been fried all together. Maybe that's all how to make Sambal Ikan Kayu, but actually I don't know, because my sister made it by herself, I didn't help her. :D

All I can say is, IT IS DELICIOUS!! This, I give you picture, but not the one I ate :D
Almost like this *drolling*
Okay, this is my 100th post. Thanks for you that read my posts till now :D

xoxo,

Marginal Utility in Reality

Wahh, saya capeek deh minggu-minggu terakhir ini setiap hari selalu rutinitas dan kesibukan yang sama: bangun pagi, ke kampus, entah nongkrong di departemen, atau mondar-mandir ke sana-kemari, pulang sore bablas ngerjain 'orderan', sampai malam terus ngerjain tugas-tugas lain terus teler tidur. Setiap hari dengan rutinitas yang hampir sama, cukup melelahkan walaupun rasanya cukup puas tidak melewatkan hari dengan mlongo 'merenungi' masa depan. Hehehe...

Hari ini juga baru bisa selesai semua jam 10-an tadi, dan masih banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan besok. Ahh, tetep semangat deh, jalani aja yang di depan mata.. Bismillah..

Tadi setelah menyelesaikan beberapa 'sesuatu' bersama beberapa teman, kami beristirahat dan ngobrol-ngobrol santai. Dan akhirnya membahas uang. Akhir bulan begini seperti anak perantauan pada umumnya, kami mulai mengencangkan ikat kepala, supaya semangat menahan nafsu beli ini-itu. Tentang begitu banyaknya barang yang notabene nggak terlalu penting yang mahal-mahal dan tetap saja diserbu pembeli. Tentang gaya hidup konsumtif yang digandrungi begitu banyak orang. Membayangkan, kalau punya uang banyak, yaa seperti itu yaa..

Sampai akhirnya teman saya menggeledah barang-barang di kamar saya dan menemukan setumpuk barang nggak penting. Saya bilang, 'itu muraaah banget, ambil aja satu-satu'. Karena itu barang memang nggak penting dan murah, saya paksa mereka untuk ambil, mengurangi tumpukan juga. Hehehe..

Saya akui, dulu saya sempat ada di periode konsumtif, dimana saya suka beli ini-itu yang mungkin menurut orang lain nggak penting banget dan hanya buang-buang uang saja. Namun sekarang saya sadar (atau ada di titik jenuh?) untuk tidak lagi membeli barang-barang yang tidak perlu. 

Seseorang, pasti ingin selalu meningkatkan tingkat kepuasannya. Ketika Anda mencoba membeli satu barang dan Anda merasa puas, selanjutnya Anda akan membeli dua barang, lalu tiga dan begitu seterusnya, hingga Anda bosan dan berhenti. Seperti saya, dulu suka-sukanya beli-beli suatu jenis barang, saya seriiiiing sekali beli, hingga bertumpuk-tumpuk dan akhirnya saya bosan dan merasa nggak penting lagi. Itulah muncul hukum 'The Law of Diminishing Utility'

Saya bayangkan, seseorang yang kaya raya, dia pasti mudah saja beli ini-itu sesuka hati. Akhirnya, dia merasa apapun yang menurut kita mahal, bagi dia tidak bernilai. Mungkin karena dia sudah bosan? Tidak ada lagi kepuasan yang dia dapatkan dari membeli barang-barang, tidak seperti ketika dulu dia masih menjadi orang biasa saja. Sebanyak apapun dia membeli barang, tidak akan muncul rasa puas, yang akhirnya dia akan terus mencoba membeli segala macam, mencoba memuaskan dirinya. Inilah awalnya, dia menjadi orang mubazir, bermewah-mewah, yang tidak dibolehkan oleh Tuhan. Mengapa hidup seperti itu dilarang? Menurut saya, selain menimbulkan kesenjangan sosial, juga karena hidup seperti itu menghapus rasa syukur di hati mereka. Bagaimana mereka bisa bersyukur kalau mereka terus tidak merasa terpuaskan?

Naudzubillahimindzalik..

Pelajaran Hari ini: Belajar Sabar

Well, bisa dibilang saya sakit hati. Seperti dipermalukan di muka umum. Tapi intinya di sini saya tidak ingin membicarakan tentang itu, melainkan sisi lain yang saya lihat di sini.

Suatu saat, kita bisa saja berbuat salah. Dan di saat itu kita memang perlu untuk diingatkan atau ditegur tentang kesalahan kita. Tapi ingat, jangan sampai teguran Anda menyakiti perasaan kita. Menegur, memiliki etika sendiri. Jangan menyakiti, jangan mempermalukan, jangan seenak mulut Anda sendiri. Oke, mungkin kali ini Anda benar, tapi apakah akan selalu seperti itu? Apakah Anda selalu benar? Bayangkan, ketika Anda menegur seseorang dan mempermalukannya, kemudian suatu saat Anda berbuat salah, apakah Anda tidak akan merasa dobel-dobel lebih malu? Ingat, manusia semua sama.. Apapun jabatan Anda, tidak berarti Anda berlaku seenaknya pada orang lain yang mungkin tampak tidak ada apa-apanya dibanding Anda.

Kecuali jika Anda memang gila hormat. Ingin semua orang menunduk-nunduk di depan Anda. Tapi jangan kaget kalau ternyata semua orang yang baik pada Anda hanyalah para penjilat yang berpura-pura di depan Anda. Mungkin kalau Anda gila hormat, orang-orang 'bertopenglah' yang cocok dengan Anda. Yang mungkin di belakang Anda mereka berkata sebaliknya.

Mungkin saya lebih baik berhenti menulis. Sorry for disturbing words.

[REVIEW] THE HUNGER GAMES : Suzanne Collins

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel The Hunger Games dan ceritanya sangaaaaaat bagus! Saya membelinya dalam paket berisi ketiga serinya karena saya penasaran sejak waktu itu saya mendengar komentar-komentar teman-teman yang sudah menonton filmnya. Bahkan filmnya baru saja saya tonton setelah menyelesaikan buku kedua Hunger Games, Catching Fire.



Dengan membaca buku ini, saya semakin kagum terhadap penulis buku-buku fiksi. Bagaimana mereka bisa berimajinasi begitu tinggi dan menakjubkan, membuat dunia yang bahkan tidak ada dan tidak mungkin untuk ada di dunia nyata.

Di buku ini, saya menangkap bahwa sebuah negara akan kuat jika seluruh bagian negara itu bersatu dan saling bekerja sama. Terkadang para pemimpin memimpin rakyatnya hanya untuk mencapai misi pribadinya dan oleh karena itu sebagai rakyat seharusnya kita memiliki tujuan ideal kita sendiri. Jangan mau hanya menjadi pion, tapi tunjukkan pada mereka bahwa kita bukan milik siapa-siapa. Kurang lebih isi keseluruhan novel ya tentang itu, namun dikemas dalam aksi permainan survival dan saling membunuh antar peserta permainan, pemberontakan, dan lain-lain. Baguuuus banget deh pokoknya!

Dan yang paling saya suka di novel ini, di ending cerita.
'Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandara kursi sampai kilasan-kilasan yang ada dalam benaknya lenyap. Aku bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mutt dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi - rasa lapar yang menguasaiku di pantai dulu - aku tahu ini memang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri punya banyak api. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apapun kami kehilangan. bahwa hidup bisa baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu'

Mungkin bagi Anda yang membaca di blog saya tidak tampak spesial quote di atas. Tapi saya menangkap arti yang sangat dalam di dalam ucapan Katniss Everdeen tersebut.

Regards,

My Opinion about Buying Expensive Cosmetic/Skincare


First of all, I want to say that I think ‘expensive’ is relative, depend on how much your income is. The higher your income level, the higher standard of price you will have.

Yesterday, I went for a walk with my friend when we looked for a skincare counter. Few days ago we bought a magazine that gave us voucher to buy that brand or sample size and gift when we purchase it. I know before that the product is soooo expensive (for me) and I think I will never buy it for any reason. But my friend (who actually rare to find her get attracted to a skincare brand, especially the expensive one), wanted to use the voucher.

Then we go to the counter, asking this or that. AND the beautician said that there is no sample, plus the gift will be given after a purchase worth 2 million! Soooo WOW!! Actually 2 million here, means you will get few things (only) because per item could be worth above IDR 500k, then you can estimate the average price of the other item.. #sigh

Well then, I knew that my decision in the beginning was right, that I will never buy it. Although the advertisement of that brand is so attractive, with a glowy clear skin woman in not-young-age anymore. Well, IT IS SEDUCTIVE! But, back to reality o:)

I ever bought a few of expensive skin product. Then sometimes I re-think, 'will I repurchase it when it out?' Then I get the answer 'Nope'. It is okay for buying expensive skin product, but why you spend much money just for one thing that won't you use again? I might say this, because I'm not kind of person who constantly use the same product for my skin and maybe I don't have a serious problem with mine so I don't take it seriously to use the same product again and again. That's why I think buying expensive skin product could be a waste for me. 

Once again, this is my opinion. What about yours?

Ganti Nomor HP dan Sadar

Judulnya tampak gak nyambung ya? Memang gak nyambung, kok, karena di post ini saya akan menceritakan dua hal yang berbeda namun terjadi sebab-akibatnya di hari ini.

Yahh, karena sesuatu dan lain hal, akhirnya saya menonaktifkan nomor HP yang saya pakai sejak SMP. Dan hari ini, hal itu tampaknya membawa dampak yang kurang menyenangkan. Sebenarnya saya sudah woro-woro ke teman-teman kalau nomor HP saya ganti dengan nomor baru. Sms pun sudah saya lakukan dengan nomor yang baru. Namun mungkin ada miss yang akhirnya saya ketinggalan sebuah jarkom penting, mungkin karena salah klik ke nomor lama. Bukan salah pengirim, tapi bukan salah saya juga. Yang salah ya nomor HPnya, ngapain pakai ganti" nomor segalaa.. Alhasil saya datang ke acara penting nelaaaaat banget!

Sebelumnya, saya nggak pernah telat selama itu. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang selalu berangkat awal, walaupun sejak kuliah saya mulai meremehkan ketepatan waktu, tapi tidak pernah saya telat sampai satu jam, apalagi di acara penting! Serius, saya merasa gak enaaaak banget sama teman-teman yang lain, merasa saya mengacaukan acara itu. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur, saya juga sudah minta maaf. Sekali lagi, deh, buat teman-teman yang bersangkutan dan kebetulan membaca post ini, saya sangaaaaat minta maaf. :(

Sampai sekarang pun, keadaan sudah malam dan tidak ada yang mempermasalahkan keterlambatan saya tadi, saya masih uring-uringan. Kemudian saya sadar, 'oya, dulu pernah ngisi kuis, dibilang saya orang yang melankolis'. Saya buka lagi analisa tentang sifat orang melankolis.

Orang melankolis itu terjadwal, suka berubah-ubah temperamennya, suka teori dan cenderung sulit bersosialisasi, pendendam, melihat masalah dari sisi negatif, mengingat negatif, tertekan, mudah merasa bersalah, terlalu menganalisa dan merencanakan, sensitif terhadap kritik yang menentang dirinya, serba tertib dan teratur, menghindari perhatian, dan lebih suka di belakang layar. Sebenarnya masih banyak lagi. Kalau mau tahu lebih lengkap, buka saja ini.

Saya kemudian sadar, ya ternyata benar, saya lebih suka hal yang terencana, bukan yang mendadak. Saya mudah tertekan dan merasa bersalah, memikirkan yang berat-berat dan negatif, sensitif, tidak suka menjadi pusat, cenderung diam saja, tidak bersosialisasi (sepertinya saya butuh psikiater). Saya selalu berusaha membuang pikiran negatif, tapi sulit sekali. Saya selalu berusaha cuek dan santai menghadapi masalah, tapi kok susah ya?

So, please, let me know if I'm start worrying too much. :)

Hari Ini : Pergi Sendiri

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya pergi atau jalan-jalan sendirian. Tapi sudah lama sejak terakhir kali saya jalan-jalan ke mall sendiri.

Nah, tadi siang sepulang dari kampus saya bertekad untuk mampir di mall terdekat dengan kampus, tujuannya sih untuk beli sesuatu yang saya butuhkan. Setelah dapat barang yang saya cari, kok rasanya nanggung banget kalau langsung pulang. Apalagi di jalan tadi hawanya panaaaas banget. Akhirnya, saya memutuskan untuk cari tempat duduk yang nyaman buat spending time.

Pilihan saya jatuh di J.Co karena kalau di fooodcourt kok rasanya ga nyaman ya buat duduk sendirian, apalagi tempat makan yang 'serius', malah gak enak buat duduk lama-lama. Jadilah saya ngendon di J.Co selama beberapa lama. Lihat kesibukan orang-orang di sekitar saya, rasanya ikut merasa seru. Sebentar-sebentar saya ingat zaman duluu awal-awal kuliah di Surabaya. Awal-awal jalan sama temen-temen. Gak kerasa sekarang udah masuk semester tua, udah mulai sibuk dengan kesibukan dan kehidupan masing-masing. Jadi jarang seru-seruan seperti dulu.. :(

Inget juga dulu, di tempat yang sama, saya pernah dicekokin dua teman saya donat J.Co lima biji buat saya sendiri, gara-gara kemarennya saya beli donat ga bagi-bagi ke mereka. Padahal waktu itu saya janji ga akan ke J.Co lagi saking eneg-nya. Hehehe..

Dan, duduk-duduk sendirian gitu sepertinya jadi sasaran empuk bagi SPG-SPG untuk mempromosikan barangnya ke saya. Berhubung saya gak ada teman ngobrol, jadi saya dengerin aja ocehannya tentang barang yang dia jual, walaupun ujung-ujungnya saya gak mau beli. Sampai akhirnya datanglah satu teman saya tanpa disangka, gara-gara iming-iming J.Co (padahal saya ga mau traktir). Dan berakhirlah acara duduk-duduk-sendirian saya.

Tapi bisa diulangi sih acara refreshing seperti tadi. Cukup menyenangkan buat cuci mata. Gak peduli deh dibilang 'seperti anak ilang'.. Hehehehe..

Novel vs Film


Akhir-akhir ini semakin banyak saja film yang dibuat based on novel, baik itu ber-genre fantasi, thriller, fiksi, dan lain-lain. Biasanya, film semacam itu disambut penonton dengan antusias, terutama jika novelnya adalah novel bestseller. Film yang based on novel yang saya suka adalah Harry Potter, Lord of the Rings, Twilight Saga, apa lagi yaa? Mungkin ada lagi tapi saya lupa. Ada juga film Indonesia seperti Laskar Pelangi, Perahu Kertas, apa lagi yaa?? Kok jadi blank gini sih kalo lagi diinget-inget?? hehe.. #abaikan

Tapi seriiing banget kejadian, penonton jadi kecewa setelah nonton film. Seringnya sih, banyak komentar ‘waahh, gak heboh seperti di novel!’, ‘wahh, cast-nya gak asik, gak sesuai!’, dan banyak lagi komentar kecewa. Kalau saya, sih, seringnya nonton film yang berdasarkan novel kecewa kalau ada bagian novel yang harusnya ‘heboh’ tapi di-skip, gak diceritain. Selebihnya, saya puas-puas aja, sih.

Menurut saya, film ya film, novel ya novel. Film based on novel, kan cuma inspirasi ceritanya aja yang berdasarkan cerita di novel, gak bisa dibandingin. Syukur-syukur kalo plek banget (yang jarang terjadi), tapi ya bebas aja sih kalo mau dibuat sedikit perbedaan.

Novel, cerita melalui kata-kata yang bisa menimbulkan imajinasi di benak pembaca. Imajinasi yang muncul juga pasti beda-beda per pembaca. Jadi ya wajar aja kalau setelah nonton film yang ternyata ga sesuai ‘bayangan’ kita, timbul sedikit kecewa. Tapi sekali lagi, film dan novel beda. Jadi, men-judge film ga bagus gara-gara gak sama dengan novelnya, menurut saya kurang fair.

Tapi ada lho, film yang (menurut saya, lagi) lebih bagus daripada novel yang ‘mendasarinya’, yaitu Lord of the Rings. Novel pertamanya, yang saya beli zaman SMP, sampai sekarang tidak saya tamatkan. Mungkin cara berceritanya yang ribet dan saya sering lupa cerita halaman sebelumnya. Kalau filmnya sih, bagus bangeet.

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang film yang diadaptasi dari novel?

Regards,

Rejeki Sudah Diatur


Hari ini saya mendapat kejutan. Walaupun sudah pernah membicarakan hal ini dengan teman-teman ‘sepermainan’ saya, tetap saja begitu kejadian ya kaget juga. Kami sudah tahu dari awal cepat atau lambat hal ini akan terjadi, tapi terkejut juga begitu kejadian.

Kebetulan, tugas kuliah KWU untuk membuat bisnis semester kemarin masih jalan sampai sekarang. Waktu itu sempet ngobrol sama salah satu temen, tentang contek-contekan barang. Sempet khawatir dan lain sebagainya. Sampai akhirnya kami mendapat kesimpulan, ‘Ya udah deh, kalo dicontek biar aja. Toh, rejeki sudah ada yang ngatur. Makanya itu, kita musti bikin inovasi terus’. Dan tenanglah kami setelah meyakini kesimpulan tersebut.

Tapi begitu kejadian beneran hari ini, yaa saya akui kaget juga sih. Sempet mikir, ‘Kok gitu sih?’ Tapi setelah ngobrol-ngobrol, yaa udahlah. Inget, ide yang mendasari kami juga berasal dari orang lain. Rejeki udah ada yang ngatur. Positifnya, bisa ‘memberdayakan’ orang lain.

Tenang deh. Dan bener, begitu kita mempercayakan pada Tuhan dan mengikhlaskan sesuatu, rasa tenanglah yang kita dapat. 

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...