New Year Again = UAS di Depan Mata

Wah, gak kerasa tiba-tiba tahun sudah berubah lagi. Benar-benar waktu berlari begitu cepat..Hmmm..Apa ada perubahan dari tahun-tahun sebelumnya? Apa ada rencana perubahan untuk tahun ini?

Kalau saya pikir-pikir lagi, sepertinya tidak ada perubahan apapun dari diri saya [poor me].. Memang saya adalah tipe orang yang tidak pernah mematok target A B C, bikin plan A sampe Z, membuat resolusi harus begini harus begitu.. Saya terbiasa mengalir begitu saja, mengikuti mood saya mengajak saya kemana. Yeah, mungkin dari sini terlihat sekali saya orang yang belum mempunyai pendirian, eh?

Tapi prinsip saya, saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Yah, intinya saya juga mau dong menjadi manusia yang lebih baik lagi, walaupun kalau diminta menjelaskan 'lebih baik lagi' yang bagaimana saya juga tidak bisa menjelaskan. Intinya, saya akan terus memandang ke depan, belajar dari kesalahan-kesalahan yang lalu dan berusaha memperbaiki yang bisa diperbaiki, tidak mengulangi yang tidak bisa diperbaiki. Dengan begitulah cara saya menjadi manusia yang lebih baik. Hehe...

Tahun 2012 ini, semoga kita semua tidak mengulangi kesalahan 2011, melanjutkan kebaikan 2011, menjadi manusia yang semakin berguna dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Dan ada doa terpenting di tahun baru ini. Semoga UAS berjalan lancar, diberi kemudahan, petunjuk, dan semoga ada keajaiban nilai-nilai saya lulus semua. Amiiiiin...

Fighting!! 

My Hometown (Jember) Travel Destination

Akhir-akhir ini sering sekali saya mendengar rencana teman-teman untuk berlibur di san-sini, bahkan cukup sering mendengar Kota Jember, khususnya Pantai Papuma, menjadi tujuan wisata. Wah, ternyata Pantai Papuma sudah mulai terkenal, nih. Dari pendapat beberapa teman dari luar kota yang sudah ke sana, sih, Papuma memberi kesan positif. Ada yang bilang bagus, bagus banget, hingga ada yang merekomendasikan lawan bicara untuk ke sana.

Begitu juga dengan teman saya yang ingin berlibur dan sedang survey tempat, sering menanyakan pendapat saya tentang Papuma, dengan asumsi saya kan orang Jember, jadi dianggap bisa memberi info yang akurat tajam terpercaya. Padahal saya sendiri jarang sekali ke sana. Pertama kali saya ke sana [yang saya sadar] hampir sekitar 3 tahun yang lalu. Dulunya sih [katanya] saya pernah ke sana, tapi waktu masih kecil, jadi saya lupa. hehe..

Menurut saya, sih, dari kunjungan terakhir saya ke Papuma [3 tahun lalu], Papuma cukup bagus dan indah. Pantainya cukup bersih, walaupun tidak bersih-bersih amat. Memang, saya jarang rekreasi ke pantai, tapi saya masih bisa kok memberi pendapat tentang bagus-tidaknya sebuah pantai. Jadi, intinya, Papuma adalah pantai yang cukup bagus untuk dikunjungi, asal tidak sedang waktu-waktu ramai. Bisa saya bayangkan, saat ramai Papuma akan seperti dawet, karena pantainya tidak terlalu luas. Plus, Papuma sudah menjadi tujuan 'kencan' pasangan-pasangan muda yang terkadang tidak enak 'dilihat'. Hehe..

penampakan dari atas. sepertinya sedikit ada editan tuh :p
Pas sepi
Nah, di sebelah Pantai Papuma, ada pantai Watu Ulo, yang merupakan pantai selatan sehingga ombaknya besar. Saya sendiri tidak pernah ke Watu Ulo-nya karena takut ombak besar. Hehe

Konon katanya, nama Watu Ulo yang dalam Bahasa Indonesia berarti Batu Ular, berasal dari legenda tentang seekor naga raksasa yang menjelma menjadi penunggu tanah pesisir selatan Pulau Jawa. Ada yang bilang kalau ular naga tersebut sangat besar. Ekor ular tersebut itu saja ada di pesisir kota Banyuwangi, sehingga tipe ombak di situ yang cenderung 'menyabet' dan berbahaya bagi pengunjung. Sedangkan badan ular tersebut berada di Watu Ulo yang ada di sebelah Pantai Papuma sehingga tipe ombaknya cenderung menggulung dan ganas. Oleh karena itu, Pantai Watu Ulo termasuk daerah terlarang untuk berenang para pengunjung. Dan kepala ular tersebut ada di Kota Puger, sehingga tipe ombak di daerah ini cenderung mencaplok dan juga berbahaya bagi pengunjung.

Selain Pantai Papuma dan Watu Ulo, ada tempat wisata lain di Jember yang masih jarang dibicarakan. Namanya Taman Nasional Meru Betiri atau nama lainnya Bandealit. Lokasinya di Desa Andongrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Jaraknya +/- 60 km dari kota. Di sana terdapat banyak tumbuhan [namanya juga taman nasional], khususnya tanaman berkhasiat jamu, juga ada olahraga turun tebing Gunung Sodung, ada Goa Jepang dengan tinggi 20dpl, ada Teluk Meru dan Teluk Bandealit dengan pasir putihnya yang bisa untuk olahraga jet ski, selancar angin, berenang, kano, memancing, dan lain-lain, bahkan perkembangbiakan penyu.

Dulu, saya pernah ke sana. Lagi-lagi di zaman kecil saya, tapi saya masih ingat karena efek perjalanan ke sana yang cukup keras. Jalannya masih berbatu [baca: bergelombang], yang bahkan Anda akan berasa naik perahu padahal naik mobil saking guncangnya. Jadi, jangan sekali-kali membawa mobil sedan untuk ke sana. Dulu saja saya naik ambulan. Hehe.. Tapi bisa disimpulkan, dengan akses jalan yang masih buruk seperti itu, keindahan alami lah yang akan didapat karena belum banyak tangan-tangan usil yang menjamah. Berdasarkan sisa-sisa ingatan masa kecil saya, saya menyimpulkan, Meru Betiri sangat recommended untuk dikunjungi.
indah banget yaa... :D
Banteng Jawa, jagoan di TN Meru Betiri. Mirip sapi ya?? Hehe..
Pantai Bandealit
Pantai Rajegwesi
Teluk Damai
Jembatan di TN
Selain itu, TN Meru Betiri memiliki potensi satwa dilindungi yang terdiri dari 29 jenis mamalia dan 180 jenis burung. Satwa tersebut diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), macan tutul (Panthera pardus melas),rusa (Cervus timorensis russa), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), bajing terbang ekor merah (lomys horsfieldii), merak (Pavo muticus), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu ridel/lekang (Lepidochelys olivacea) dan ajag (Cuon alpinus javanicus). TN Meru Betiri juga dikenal sebagai habitat terakhir harimau loreng jawa (Panthera tigris sondaica) yang langka dan dilindungi. Sampai saat ini, satwa tersebut tidak pernah dapat ditemukan lagi dan diperkirakan telah punah.

Ada lagi objek wisata alam Air Terjun Tancak. Kalau yang satu ini, saya tidak pernah mengunjungi. Jadi, saya beri fotonya saja, yaa.. hehe


Setahu saya, jalan ke air terjun ini juga masih cukup 'menantang' jadi bisa diperkirakan keadaan alamnya masih natural. Air terjun Tancak memiliki ketinggian 82 meter dan debit air 150 meter kubik per detik. Namun, sejak terjadi banjir bandang yang menyerang Desa Suci Panti, tempat keberadaan air terjun ini, pada tahun 2005, jalan satu-satunya menuju air terjun hilang, sehingga jarang sekali wisatawan yang berkunjung.

Sebenarnya masih ada lagi tempat wisata di Jember, tapi lebih bersifat komersil dan banyak campur tangan manusia, sehingga saya malas menulis di sini. Saya beri fotonya saja, yaa...

tempat wisata Rembangan
trek downhill di Rembangan
pemandangan sepanjang perjalanan ke Rembangan
Taman Botani. Katanya sih, ada kolam renang khusus muslimahnya, lho, sekarang :D

Oh iya, kalo datang di Bulan Agustus [kalau gak salah], biasanya di Jember juga ada acara hiburan yang bagus banget. Judulnya adalah Jember Fashion Carnival, sebuah karnaval dengan kostum unik yang temanya selalu berbeda setiap tahunnya. Jadi ini acara ibarat peragaan busana, yang biasanya unik, dengan catwalk jalan raya yang cukup jauh. Jadi para peserta harus berlenggak-lenggok dan menari di beberapa spot sepanjang jalan. Jadi, acara akan berlangsung dari siang hingga malam. Nih, beberapa gambarnya...






Nah, jadi, sekarang kalau mau liburan di Jember, jadi banyak pilihan kan mau rekreasi dimana? Lumayan, lah, daripada suntuk di Kota Surabaya yang rekreasi mall melulu..Hehe...

Curhat Sedikit Tentang Hasil Survey Hari Ini

Hari ini saya dan beberapa teman saya cuci mata ke Madura untuk survey tempat KKN saya bulan depan. Bagi beberapa teman saya, tadi adalah survey kedua, sedangkan bagi saya masih yang pertama.

Perjalanan ke sana berlangsung cukup menyenangkan. Pemandangan juga indah. Hamparan sawah luas sejauh mata memandang, gunung di kejauhan, rumah tidak terlalu rapat. Yah, seperti daerah-daerah desa pada umumnya. Jalannya pun cukup bagus, walaupun cukup sering menemui jalan yang tidak mulus dan aspal yang lubang-lubang, tapi semua masih bisa ditolerir.

Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di desa calon tempat tinggal kami selama sebulan. Serius, desanya masih desa sekali, bahkan lebih desa daripada Desa Pancakarya. Ya, memang saya tidak pernah tahu Desa Pancakarya yang sampai ke dalam-dalam sih, tapi dilihat dari kemudahan jangkauan transportasi dan tingkat kebersihannya sih bisa saya asumsikan bahwa Desa Pancakarya masih sangat 'kota' daripada desa yang tadi saya kunjungi.

Pertama kami datang, kami disuguhi teh manis [sekali] hangat. Saya dengar dari cerita teman pasca survey pertama, sih, air itu berasal dari air sungai. Tapi tadi saya melihat rupa airnya cukup jernih, seperti air teh pada umumnya, jadi ya saya minum saja. Alhamdulillah, sampai sekarang, sekitar 8 jam pasca minum, perut saya baik-baik saja. Saya lega, berarti saya masih bisa selamat dari dehidrasi di sana. 

Lalu kami berjalan ke rumah seorang ustad yang mengajar di TK dan Madrasah di sana. Perjalanan cukup menyenangkan, melewati pematang sawah yang lebar, tidak berlumpur [karena tidak hujan], juga tidak terlalu jauh. Tapi saya jadi tahu, kalau desa yang akan kami tempati itu panas. Jadi saya sepertinya tidak perlu khawatir terserang penyakit-akibat-kedinginan saya saat KKN nanti. 

Sebelum kami beranjak pulang, saya menyempatkan diri untuk melihat secara langsung ICON dari desa saya : Jamban Cemplung, yang mendadak terkenal sejak survey pertama teman-teman saya dan selalu menjadi trending topic setiap rapat kami. Kemarin-kemarin sih, saya akhirnya bisa menata mental melihat foto jamban itu. Tapi tadi, setelah saya melihat secara langsung, OH NO! Jamban itu dihiasi cipratan-cipratan berwarna kuning yang tidak jelas [maaf, agak jorok]!! Bagaikan melihat emas, saya akhirnya mundur teratur, mengurungkan diri untuk melihat lebih dekat. Sayangnya ingatan itu terlanjur melekat kuat di kepala saya dan mental saya yang sudah tertata kemarin-kemarin runtuh sudah.


jamban dari luar..monggo diintip...


ini namanya jamban cemplung, icon desa kami yang happening banget jadi bahan pikiran..


Akhirnya, kami pulang dengan berjuta cita-cita tentang program kerja kami nanti berdasar hasil survey hari ini. Saya sendiri semakin bingung dengan program kerja ekonomi karena melihat pola hidup mereka yang sudah stagnan, lahan yang potensial tapi belum dimanfaatkan, hasil bumi yang banyak tapi belum menambah nilai dan lain-lain. Sebenarnya ada cita-cita mau bikin ini-itu,tapi sumber daya manusia yang saya punya sepertinya tidak menguasai. Sampai akhirnya lamunan saya terpecah karena kami berhenti di puskesmas pembantu untuk bertanya masalah tingkat kesehatan desa.

Beberapa lama kami di sana, 'mewawancarai' bu bidan yang bertugas di puskesmas itu. Ya, bu bidan, bukan dokter, bersama suaminya yang perawat.puskesmasnya kecil saja, dengan 1 toilet pasien yang bersih, 2 ruang periksa, dan 1 ruang tunggu yang kecil. Puskesmas itu bersebelahan dengan rumah dinas bu bidan yang juga kecil tapi bersih. Kami duduk-duduk di ruang tunggu dan berbincang-bincang dengan bu bidan. Sampai akhirnya ada 1 pertanyaan penting [untuk cewek] yang sejak awal menjadi misteri bagi kami sekelompok.

Percakapan antara kami (K) dan Bu Bidan (B):
K: "Oh iya, Bu, kalau orang sini datang bulan, pakai apa, Bu?"
B: "Pakai softek kok, Mbak"
K: "Terus buangnya gimana? Dicuci dulu baru dibuang atau langsung dibuang begitu saja, Bu?"
B: "Nah, kalau orang sini ya langsung dibuang, Mbak...."
K: (berpikir, mencerna perkataan Bu Bidan)
B: "Masalahnya, mereka buangnya di sungai, Mbak..." (dengan wajah yang masih tenang)
K: (Shock) "Lhah, kan kalo minum pakai air sungai, Bu, tapi kok..." (sudah tidak sanggup berkata-kata)
B: "Ya itu dia masalahnya..."

Wah, berita di atas menjadi penutup perjalanan kami yang menakjubkan...

Dan pikiran yang masih tersisa di benak saya sampai sekarang, bagaimana bisa di dunia yang serba modern seperti sekarang ini, masih ada desa seperti itu yang tersisa..Wallahualam...

Guru itu...

Awalnya saya mengajari adik sepupu saya yang masih SMP mengerjakan soal-soal matematika. Saya heran kok sepertinya dia tidak bisa sama sekali mengerjakan soal faktorisasi aljabar. Lalu akhirnya saya semakin heran mendengarkan ceritanya tentang guru matematikanya. Guru itu akan marah jika ada siswa bertanya, bahkan mengancam akan mencoret wajah siswa yang bertanya. Nah lho, guru macam apa itu?

Bukankah guru seharusnya senang kalau ada siswa yang bertanya? Artinya, kan, siswa memperhatikan dan mau berpikir sehingga menemukan sesuatu yang tidak dia mengerti. Tapi juga jangan yang tanya terus juga sih, malu-maluin malah.. Hehe..

Menurut saya, guru zaman sekarang aneh. Banyak yang tidak suka menerangkan pelajaran di kelas dengan alasan supaya siswa lebih aktif mencari sendiri ilmunya. Padahal, menurut saya pribadi, siswa juga manusia, yang banyak dari mereka punya karakter X seperti saya yang akan malas mencari-cari sampai 'disodorkan' di hadapan saya. Jadi, bagaimanapun, menerangkan materi tetap menjadi kewajiban guru, lalu bisa dilanjutkan memberi tugas atau apa yang 'memaksa' siswa untuk eksplorasi sendiri. cmiiw

Keanehan yang kedua, guru selalu menekan siswa untuk mendapat nilai bagus. Sebenarnya bukan hanya guru, tapi juga orang tua dan lingkungan sekitar (agak oot nih), tapi orang tua dan lingkungan, kan, bisa dibilang 'guru' 
kita juga. Nah, tekanan tentang nilai ini merupakan hal yang bisa berimbas negatif untuk siswa. Akhirnya siswa 'terpaksa' untuk nyontek, ngerpek, dan lain-lain demi nilai bagus, tapi gak dapet ilmu yang sebenarnya. Dapet, sih, ilmu ngerpek. Hehehe, ini alibi bukan?

Jadi ingat film Gokusen dari Jepang, sama film God of Study dari Korea, yang menunjukkan sosok guru yang sesungguhnya. Menekankan pada siswa, bahwa yang penting adalah proses, bukan hasil. Bahwa guru memang adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Lha, guru sekarang justru memberi peluang untuk siswa nyontek saat UAN? Hehe..

Nih, sayakasih spoiler cover filmnya.. Hehee, gak penting --a
Film Gokusen dari Jepang

Film God of Study dari Korea

Saya jadi berpikir, bahwa guru berkewajiban tidak hanya mengajarkan kepada siswa pelajaran, melainkan guru juga harus menanamkan kesadaran pada siswa bahwa yang mereka butuhkan adalah ilmu, bukan nilai. Guru harus bisa memotivasi siswa supaya mau terus belajar bagaimanapun caranya. Bahkan guru tidak hanya wajib mengajari siswa tentang ilmu pelajaran, tapi juga mengajari moral kepada siswa. Itulah mengapa guru adalah orang tua kedua. Dan itulah mengapa guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Karena guru 'yang benar' memberi kita ilmu yang bermanfaat yang akan kita gunakan di kehidupan sampai kita mati. 

Banyak Pilihan, Memudahkan atau Menyulitkan?

swatch pilihan warna di kulit orang lain. Enaknya kalo 'mampu' beli langsung banyak gituu..hehehe

Pilihan warna produk. Ini masih satu produk, gimana kalo banyak??? Belum merk yang lain  >,<

Keberagaman, katanya sih akan memudahkan konsumen memilih barang mana yang paling cocok untuknya. Karena semakin banyak pilihan, konsumen bisa memilih satu per satu produk mana yang bernilai paling sesuai dengan nilai yang diharapkan konsumen. Namun, menurut saya pribadi, kenyataannya justru sebaliknya. Semakin banyak jenis barang, konsumen akan semakin sulit memilih mana yang paling baik untuk dirinya. Ataukah hanya saya saja yang merasakan demikian?

Jujur, saya adalah konsumen yang labil. Saya mudah sekali tergoda dengan iklan, yang umumnya menawarkan value produk yang menggiurkan. Intinya saya sering jadi korban iklan deh. Bisa dibilang, saya bukan konsumen loyal, yang akan memakai satu produk tertentu jika cocok. Saya cenderung akan mencoba produk lain walaupun sudah cocok dengan satu produk dan akan terus begitu sampai saya sadar bahwa tidak ada produk yang secocok produk pertama. Bisa dibayangkan betapa labilnya saya? Hehehee..

Ada satu kegiatan yang paling membuat saya kesal dalam hal 'banyak pilihan' ini, yaitu ketika ingin membeli produk kosmetik via online. Kenapa online? Karena lebih murah. Kenapa bingung? Karena terlalu banyak pilihan. Ada banyak sekali produk, dan masing-masing produk memiliki warna yang berbeda. Sulitnya ketika membeli kosmetik online adalah kita tida bisa mencoba langsung ke kulit kita dan melihat kecocokannya. Tidak seperti ketika membeli baju via online yang hanya lihat model, deskripsi produk, ukuran dan membandingkan harga dari satu toko ke toko lain, ketika membeli kosmetik online kita juga harus melihat review dari forum satu ke forum lain, bahkan mencari swatch warna kosmetik yang ada. Namun, sayangnya kulit tiap orang berbeda.

Yang membuat saya heran, dengan semua kerempongan itu, mengapa saya masih mau membeli kosmetik via online? Jawaban saya yang pasti, karena harganya jauh lebih murah daripada membeli via offline. Padahal, in my humble opinion, membeli kosmetik via online sejatinya justru akan menghabiskan lebih banyak uang kita. Mengapa? Karena akan menstimuli kita membeli beberapa warna sekaligus dengan asumsi 'sekalian ongkirnya deh,daripada beli satu ternyata warnanya nggak cocok?' Selain itu membeli kosmetik via online cenderung membuat kita memebeli dua kali, jika terlanjur beli satu atau beberapa ternyata nggak cocok dengan jenis atau warna kulit kita.

Menurut saya, semua itu pada dasarnya akibat begitu banyak pilihan produk di sekitar kita. Coba hanya tersedia satu produk atau beberapa produk dengan satu macam warna saja. Kita kan tinggal memilih berdasarkan harga, atau berdasarkan merk, atau dasar penilaian kita yang lain.
Jadi, apakah banyak pilihan selalu berarti baik??

Dahsyatnya Toko Online

Dewasa ini, hampir semua produk memasarkan produknya dengan memanfaatkan teknologi internet. Bahkan tidak jarang mereka menggenjot penjualan lebih besar fokus pada penjualan online.

Saya pertama kali membeli barang via online sekitar dua tahun lalu, tepatnya awal saya kuliah di luar kota. Maklum, rumah saya dulu tidak terjangkau pos (sepertinya), jadi saya tidak pernah coba-coba beli online daripada barang tidak sampai. Tapi sejak saya mencoba belanja online dulu, jujur saya sempat ketagihan. Setidaknya hampir setiap bulan saya belanja online satu kali. Bisa dibayangkan bagaimana borosnya saya?

Ya, saya merasakan sensasi tersendiri ketika membeli barang via online. Pertama, melihat-lihat barang yang sangaaat beragam di internet, lalu menemukan yang paling sreg dan yang paling murah di antara barang sejenis. Akhirnya deal untuk purchase barang tersebut, lalu transfer uang. Beberapa hari kemudian, biasanya 2 hari, barang sampai. Bapak jasa pengiriman datang dan berteriak, "Paket!" sambil ketok-ketok pagar dan menyerahkan bungkusan. Saat itu, saya berasa dapat kado, bingkisan, nggak sabar untuk segera membuka. Padahal, saya bayar kan untuk bingkisan itu, tapi entah mengapa kok tetap merasa seperti dapat kado. Hehehe..

Pernah, sih, setelah membeli barang timbul kekecewaan. Misalnya ketika beli baju online, ternyata bajunya kekecilan (yang kemudian disambut senyuman adik sepupu). Menyesal sekali, sudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak bisa dipakai. Tapi kadang-kadang barang yang saya beli memuaskan, tapi saya tetap menyesal. Mengapa? Hal itu biasa terjadi di pertengahan sampai akhir bulan ketika uang mulai menipis dan mulai timbul pertanyaan, 'ngapain kemarin beli barang nggak penting gitu, ya?'

Saya terkadang berpikir, apa saya saja yang merasa demikian? Merasa sensasi ketagihan dan penyesalan (kadang-kadang)? Dan ternyata jawabannya melegakan, karena saya tidak sendiri. hehehe... Beberapa waktu yang lalu, ada teman saya yang baru pertama kali membeli barang via online, beli baju lebih tepatnya. Sejak saat itu, saya lihat dia rajin sekali memantau perkembangan toko online dan membeli online lagi beberapa kali. Sempat juga saya bertanya kepada teman yang lain, apa pernah dia menyesal setelah belanja online? Dia jawab pernah. Kadang ketika akan transfer, tapi sudah terlanjur pesan dan nggak enak mau membatalkan pesanan. Kadang juga karena barang yang dibeli tidak cocok dan akhirnya tidak terpakai. Yes, ternyata saya tidak sendiri. Hehe..

Setelah lama saya amati, saya mulai mengerti mengapa toko online bisa berjaya. Alasan yang klise karena menarik, banyak pilihan, praktis, dan nggak sungkan kalau mau lihat-lihat atau tanya-tanya saja. Tapi menurut saya, yang paling membuat toko online laris adalah karena impuls membeli terjadi lebih cepat. Konsumen melihat barang yang menarik, bisa saja langsung memutuskan untuk membeli dan membuat perjanjian transaksi dengan penjual. Sedangkan di toko konvensional, pembeli bisa memilih barang jalan-jalan dulu, cobain barangnya dulu, banding-bandingin dulu, bahkan kadang kalau capek, malah nggak jadi beli. Hehehe..


Berdasarkan pengalaman, sebenarnya efek 'kecanduan' belanja online ini bisa dihilangkan, tapi butuh waktu juga sih.. Ini kalau saya, lho, ya.. Bisa juga karena saya mudah bosan, jadi di titik tertentu saya bosan deh belanja online. Rasanya sudah tidak ada yang menarik lagi gitu. Mungkin juga karena sudah beberapa kali saya 'dikecewakan' jadi malas beli online. Atau mungkin karena saya sudah tambah dewasa dan mulai memikirkan tabungan jadi sayang mau buang-buang uang?? Gak tau lagi deh.. Hehehee...

Intinya, coba tanyakan ke diri sendiri setiap melihat barang menarik, baik online atau langsung (konvensional). Apakah barang itu penting? Sudah punya atau belum? Benar-benar sreg atau tidak? Dan yang penting, uangnya masih ada atau tidak? Hehehe....

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...