My Kind of True Love

Who are you calling 'Your Half'? Is he someone you love? Is he someone you need? Does he mean so much for your life? Why?

I've read somewhere about true love. It's not someone who you love endlessly, forever. Because love fades. It's not someone who you adore by his looks, attitude or anything. Because people changes. True love is when you have someone and you can't stop caring about him. Forever. Your silence, his silence, it doesn't mean you stop caring. Until you both growing old, you just need him to be there. Just the presence is enough.

And I saw that kind of True Love. Not telling 'I love you', but I know the unspoken words that 'I care about you'. The woman is very straight forward, the man is the romantic one. The woman is the 'stay cool' type, and the man is more to 'tender' one. I saw the big gap of character between them, but still, they last until forever.

And one of them is sick now. I know how heartbreaking it is to the other person, but she remains strong.

I'm not a sweet girl who can tell romantic stories. But I write this, my-kinda-romantic-story, just to send them a big hope that everything will be alright. That their love will remains in my heart forever.

That I wish I will have this kind of True Love in my life.

That I believe, True Love is not as sweet as in fairytale.

Yeah, but I want it, though >,<.

Well then,

Regards,

Another History, Another Family

Dear readers,

Again, long time no see you guys. After last 'busy' rotation, got chance to experience a WONDERFUL journey.

Dulu, sekitar 10 tahun lalu, zaman masih SMP, aku gabung di tim inti Pramuka di SMP. Waktu itu sih niat gabung ya supaya nambah temen, nambah aktivitas di sekolah dan entah kenapa waktu pemilihan bisa kepilih gitu. Padahal aku ringkih gini kan, tapi yaudahlah dengan menguatkan tekad aku maju dan ga mengundurkan diri.

Dulu sih di Pramuka, kita digembleng untuk ga menye, survive di alam luas yang minim fasilitas, belajar disiplin dan kuat. Kulit item, rambut kusam, bukan masalah. Yang utama sih harus kompak, kerja sama, persamaan. Satu salah, semua push up. Waktu dihukum push-up, lupa halsduk (itu loh dasi merah-putih) ga dimasukin baju trus kena tanah, dihukum lagi push up. Dikit-dikit push up, lari, sit up.

Dan yang paling aku ingat,waktu mau lomba PBB, kami dilatih oleh tentara. Kalo sikap hormat salah, tangan dipukul-pukul ke tanah sampe bener sikap tangannya. Semua harus bener, disiplin. Tapi yaa jaman SMP dulu paling latiannya di sekolah. Atau campingnya di area perkemahan yang walaupun alam terbuka, masih tergolong gampang lah, ga ekstrim. Jadi tekanannya lebih ke pelatihannya, bukan di medannya.

Tapi, tiga hari kemarin aku dapet pengalaman baru dari acara Character Building MDP Smartfren. Challenge sama: disiplin, kerja sama, saling percaya, mental dilatih biar ga menye PLUS medannya bener-bener di hutan, sungai, dan bukit yang 5 kali lipat lebih berat daripada jaman sekolah dulu. Lebih real lah tantangannya.

Sejak hari pertama, baruu aja sampai di kantor untuk kumpul dan mau berangkat ke lokasi, kami lagsung dihukum push-up karena terlambat. Berangkat naik truk tentara, sampai lokasi di Bogor, dihukum lagi untuk berguling-guling. Terus disuruh menghilang dalam 10 detik (yang kami semua bingung gimana caranya menghilang coba hahaha). Akhirnya kami semua lari ke arah rerumputan dan pepohonan. Karena waktunya singkat, aku terjun ke semak-semak terus tiarap.Terus dihitung lagi untuk lari balik ke posisi semula. Sport jantung banget lah sumpah >,<

Lalu kami berangkat ke site perkemahan. Melewati sungai yang airnya masih jernih dan dingiiiin banget, lompat dari batu ke batu. Terus mendaki bukit, turun bukit. Aku hampir jatuh ke jurang waktu turun bukit dengan berpegangan tali. Gara-gara kurang olahraga nih kayanya, jadi ototnya ga kuat nahan badan sendiri :(

Tapi syukurlah hari itu sampai dengan selamat di dataran perkemahan. Bangun tenda, makan siang, sampe akhirnya masak buat makan malam pake kayu bakar dan hari ditutup dengan me-review lesson learnt dari pengalaman yang didapat dari perjalanan sejak pagi hingga malam.

Tidur malam di tenda nyaman banget sih. Beda sama jaman sekolah dulu yang tendanya ala kadarnya, kemarin tendanya udah modern dan kita dikasih matras + sleeping bag satu-satu. Jadi alas tidurnya empuk dan badan hangat. Tidur nyenyak diiringi suara serangga-serangga malam walaupun sempat kebangun bentar karena merasa tidur udah lama tapi belum ada suara dibangunin (takut bangkong ga punya alarm), tapi over all tidur malam itu enaaaak banget rasanya.

Besoknya pagi biasa aja sholat Subuh jamaah, renungan pagi, sarapan daaaan tracking LAGI! Medannya lebih berat dan lebih jauh. Atau bisa jadi karena udah capek jadi kerasa lebih berat. Tapi menyenangkan sih, challenging gitu. Tujuan kita saat itu adalah air terjun, untuk nantinya body rafting! Waaaah, seumur hidup, ini nih yang belum pernah aku lakuin. Rafting pake perahu karet aja belom pernah, ini cuma pake rompi pelampung! EXCITED!

Sepanjang jalan kita cuma dibawain clue di kertas gitu. Semacam lintas alam tapi medannya lebih riil agak berat gitu. Dan dengan adanya kegiatan seperti itu, kerasa banget pentingnya kerja sama tim, saling percaya, saling bantu. Seneng banget! Setelah lamaaa kita jalan dan paha udah kerasa panasnya, sampe deh di sungai.

Turunnya pake tali karena tanahnya miring dan licin. Masuk air langsung cesssss, duingin banget! Dingin harus ditahan karena nunggu gantian kita bergerak mengikuti arus, sambil dibrief dasar-dasar cara lompat ke dalam air. Dan finally, kita disuruh lompat ke air dari atas air terjun ke bawah! Ga tinggi banget sih emang, paling sekitar 8-10 meter, tapi lumayan juga sensasi adrenalinnya. Another first >,<

Setelah kedinginan, foto-foto, terus naik bukit lagi makan ubi rebus plus teh manis hangat terlezat seumur hidup, kita jalan lagi menuju air terjun kedua dan lompat lagi ke bawah. Ga setinggi yang pertama, jadi lebih nyantai lah. Dari ujung kepala sampai kaki basah kuyup dingin banget. Selama ini setiap ada acara masuk air di setiap outing/ospek/kemah yang aku ikutin, ga pernah sama sekali aku masuk air karena takut dingin. Tapi kemarin aku merasa harus bisa dan alhamdulillah semua baik-baik saja.

Akhirnya kita jalan lagi balik mendaki bukit. Terasa sedikit lebih susah karena sepatu basah dan lebih licin, badan juga gemeteran kedinginan. Tapi akhirnya kita sampai dengan selamat di bumi perkemahan. Mandi, bersih-bersih, sholat, makan siang.. Lalu sore, jalan LAGI untuk berburu.

Aku pikir berburu bagaimana. Ternyata berburunya itu, udah ada bahan makanan di dalam plastik di tempat-tempat tertentu gitu. Kita disuruh ambil dibekali senapan paintball, dan ada sniper di atas gitu yang nembakin kita. Lucu banget dah, kita tiarap-tiarap berusaha maju sambil nembakin sniper yang (udah pasti) missed tembakannya. Sedangkan sniper di atas keliatan kita banget yang kepalanya nongol-nongol ga jelas ditambah skill nembak mereka luar biasa. Tapi alhamdulillah bahan makanan berhasil terambil dan makan malam kita saved!

Masak pake kayu bakar kaya malam sebelumnya, tapi malam itu aku dapet skill tambahan: nyalain bara api dengan niup-niup pake mulut! Hahahaha, diajarin mas-mas tim trainer gegara aku ga kebagian piring atau apapun buat ngipasin kayu. Hebat ya mereka survival skill nya >,<

Overall malam itu lebih tenang, kita tidur awal. Dan sebelum tidur ngobrol sama temen satu tenda, aku berhusnudzon bahwa malam akan baik-baik aja sampe besok pagi. Ga ada jurit malam. Ga ada ditakut-takutin malam-malam. Dan kita tidur dengan nyenyak, sampai ngigau. Hingga entah jam berapa, malam masih gelap, tenda goyang-goyang hebat sambil ada suara teriak-teriak. Antara masih mimpi, linglung belum sadar betul, cari-cari kerudung di kegelapan, kita keluar tenda dengan muka cengok diiringi para pelatih teriak bangunin kaya marah-marah gitu. Cuma aku ga takut atau apa karena mencerna kata-kata aja masih belum sanggup hehehe.

Ternyata ada acara tengah malam. Bukan jerit malam. Namun semacam disuruh merenung gitu deh. Kita disebar sendiri-sendiri di titik-titik tertentu dibekali lilin, korek api, dan garam. Disuruh bawa matras dan sleeping bag. Terus disuruh nulis harapan kita untuk masa depan, ucapan terima kasih untuk coach selama program MDP, sama surat untuk orang yang paling dicintai. Dingin, gelap, sendirian.. Otomatis dapet banget feelnya nulis begituan, apalagi pas bagian surat untuk orang yang paling dicintai. Nangis banget sampe bingung mau buang ingus gimana ga bawa tisu apapun (kok jadi jorok ya?)

Sampe pagi deh itu acara renungan walaupun waktu menjelang Subuh kita udah balik ke saung tempat kumpul, terus kita diajarin cara tidur berkualitas (walaupun tanpa diajarin aku juga pinter banget kalo urusan tidur). Sampe siang acara beres-beres bersih-bersih dan akhirnya pulang ke peradaban.

Kalo di review lagi, outbond kemarin lebih banyak menyenangkan dari pada menakutkannya. Capek iya, tapi saya tetep ngerasa tenang karena toh ada tentara, trainer dan banyak teman-teman, jadi pasti aman lah. Ga kayak perjalanan dulu ke Pulau Sempu yang bareng orang-orang ga berpengalaman hahaha. Kalau pengen tau ceritanya, dulu pernah aku share di sini (waktu belom punya blog).

Aku yakin acara kemaren pasti akan jadi memori ga terlupakan seumur hidup. Dan aku bersyukur banget dipertemukan dengan teman-teman hebat, yang selalu memotivasi, saling support, udah kayak keluarga. Semoga kita semua tetep rukun sampe selamanya, aamiin.


Regards,

"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...