Note for Myself

Okay, not for the very first time I experience this. Sometimes people doubt my religion.  I mean, they ask 'are you moslem?' to me. Err, but 'are you chinesse or javanese' question is more often, though.  #noSARA
But today, I experience it cause by my own fault.  Because one or two reasons, I didn't wear my veil. First reason is, I lost my needle and when I try to wear it without needle, it got messed up while I must go home on motorcycle. Second, I thought I will straightly go home, I will meet nobody AND I wear helmet, so I think nobody will recognise me.
Then, it happened. My friend and I drop by a stall to buy food. We met people, we had conversation and one of them asking my religion after knowing where I study. PLUS, one of them know my college friend. Oh NO!
Okay, the point is, I find out that hijab is our identity as a muslimah. It makes you more comfortable and have no worry on anything.
Sorry for my babbling english. This just random post about a WARNING for me today.

Time is Running Out

Weekend ini menyenangkan sekali..Selain karena long weekend, dimana semuanya libur dan begitu pula bagi saya yang notabene sudah tidak punya rutinitas yang terlalu mengikat, juga karena orang tua saya yang menghabiskan long weekend ini di Surabaya. Artinya, saya bisa ndempel selama beberapa hari. Hehe..
Tadinya ada rencana untuk menghabiskqn long weekend ini ke Semarang, tapi karena suatu hal, rencana batal. Kalau saya sih ya seneng-seneng aja walaupun beberapa hati kemaren cukup excited membayangkan perjalanan ke luar kota yang udah jarang-jarang kami lakukan.  Tapi intinya, dimanapun bareng keluarga, saya senang sekali. Terlebih lagi, sepupu-sepupu juga liburan di sini. Ramee deh..
Kalau dihitung mulai rabu, 4 hari 4 malam cukup lama mengingat biasanya bisa kumpul rame-rame lama selain lebaran ya paling 2-3 hari saja. Tapi waktu yang cukup lama itu, dirasakannya sebentar sekali. Tahu-tahu saja besok sudah hari minggu, pagi-pagi ortu udah harus pulang.. nih, mulai deh mellow lagi..
Tapi ada yang saya renungkan, dan semakin membuat saya mellow total. Waktu berjalan cepat, jadi kalau kita santai-santai terus, yang ada ya waktu terbuang percuma begitu saja. Melihat orang tua saya, semakin hari semakin tua, tidak mungkin selamanya bisa ngeloni kita. Saya jadi gundah, memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk mereka? Melihat mereka mau melakukan apapun untuk membuat kita bahagia. Ah, kalau begini saya jadi menggebu-gebu mencari cara untuk membuat mereka bahagia, membalas sebisa mungkin semua jasa mereka pada hidup saya. Walaupun tetap mustahil membalas SEMUANYA, paling tidak melihat mereka tersenyum bahagia melihat yang saya lakukan.
Yahh,besok adalah hari baru, mencoba melakukan awal yang baru. Bismillah..

Alkohol Dimana-Mana

Akhir-akhir ini beberapa kali saya membicarakan topik ini dengan teman dan orang lain. Yaa, kebetulan aja sih, kok alkohol ini jadi trending topic di kepala saya.. hehe..

Sebelumnya, yang akan saya tulis di sini hanya pemikiran saya sendiri. Bukan berarti saya ahli agama atau apa, jadi besar kemungkinan apa yang akan saya tuliskan ternyata salah. Boleh kok berbagi pikiran melalui comment di bawah. Hehee..

Sudah jelas dalam agama saya, Islam, khamr adalah minuman yang diharamkan. Khamr ini, zaman sekarang sering disamakan dengan minuman beralkohol yang notabene memabukkan. Kenapa diharamkan? Karena membuat peminumnya yang mabuk kehilangan akal, tidak bisa berpikir jernih dan benar. Pada akhirnya, orang-orang berpendapat bahwa apapun yang beralkohol adalah haram.

Lalu, bagaimana dengan tape? Durian? Kan beralkohol semua? Nah, untuk dua makanan itu, halal kan? Selama makannya gak berlebihan. Kalo berlebihan, ya ujung-ujungnya mabuk.. Mabuk tape, mabuk duren.. Hehe.. Eh, eh, tapi kan bener kalau segala sesuatu yang berlebihan, walaupun tadinya halal, kalau belebihan jadi haram. Bahkan nasi pun kalau makannya berlebihan jadi haram, apalagi kalau sampai muntah-muntah makannya. Karena, IMHO, apapun yang berlebihan, akhirnya tidak akan membuat kita bersyukur. Coba kamu makan mi, terus kebanyakan, terus perutnya sakit, akhirnya ga bersyukur, malah badmood. Begitu pula untuk makanan yang kamu tidak suka/jijik, walaupun halal, jadi haram buat kamu. Karena kalau kamu dipaksa makan, kamu bukannya bersyukur bisa makan makanan itu, tapi malah ngomel-ngomel dalam hati. Hehehe

Balik lagi ke urusan alkohol. Ada pertanyaan, 'lah, kalau alkohol yang dicampur dengan cokelat, cake, obat, itu gimana?' Pertanyaan ini juga dilontarkan oleh teman saya beberapa hari yang lalu. Menurut saya, boleh-boleh saja, toh dalam mengkonsumsinya kan ga bikin mabuk. Lagi-lagi, selama mengkonsumsinya tidak berlebihan. Seperti membuat jamu, misalnya, untuk mencampur sari-sari bahan herbal tidak bisa kalau tidak pakai alkohol, karena bahan-bahan jamu biasanya berdasar minyak yang tidak akan bercampur jika menggunakan air. Hal ini pernah diterangkan oleh seseorang kepada saya. Lagipula, tujuan kita mengkonsumsi kan tidak untuk mabuk-mabukan. Berbeda dengan orang yang minum khamr, apalagi di Indonesia yang cuacanya panas [yang tidak butuh menghangatkan badan], kalau tidak untuk lifestyle, 'menghilangkan stres', dll.

Pernah juga saya kaget, membaca sebuah artikel bahwa kosmetik yang mengandung alkohol juga haram. Kaget sekali waktu itu dan segera saja saya membongkar kotak kosmetik dan skincare saya untuk melihat komposisi-komposisinya. Ternyata, hampir semuanya mengandung alkohol dan turunannya. Bahkan, saat itu saya baru saja beli skincare yang jelas-jelas beralkohol karena nama produknya saja 'Wine Therapy'. Segera saya browsing kemana-mana, dan akhirnya lega karena menemukan satu artikel yang mengatakan bahwa alkohol diharamkan karena dia diartikan sebagai khamr, yaitu minumana yang memabukkan. Yang haram adalah 'makna' alkohol yang memabukkan, bukan zatnya. Kalau tentang ini pernah ada hadis yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah mengharamkan khamr, para sahabat menumpahkannya di jalan-jalan. Nah, jika khamr najis, tidak mungkin Rasulullah membiarkan khamr itu tumpah di jalan-jalan.

Sekali lagi, yang saya tulis di sini adalah pendapat saya. Boleh kok kalau mau bertukar pendapat. Kita kan sama-sama belajar. :D

Sakit Itu Nggak Enak

Sejak kecil, saya memang lumayan sering sakit, terutama batuk, pilek, masuk angin, demam.. Seingat saya, sih, saat kelas 2 SD saya untuk pertama kalinya merasakan sesak napas gara-gara batuk. Sampai sekarang pun, seringnya saya asma ya gara-gara batuk. Sungguh mengganggu, apalagi batuk juga sering sepaket dengan pilek. Walaupun kedengarannya penyakit yang sederhana, tapi cukup membuat saya nggak enak keluar rumah, males mau ngapa-ngapain, pokoknya lemeees banget, gak bersemangat. Apalagi mau long weekend gini dan ada rencana liburan keluar kota, malah sakit gini, bete-nya jadi dobel-dobel deh.

Nah, mau bagi-bagi cerita tentang apa yang saya lakukan ketika menghadapi sakit batuk-pilek-asma gini, nih.. Daripada saya geletakan gak berguna kek sarung kotor, mending nulis blog agak geje dikit, gapapa kan?hehe..

Pertama, kalau udah ngerasa tenggorokan agak nggak enak, ada tanda-tanda mau batuk, saya STOP minum es, makanan ringan macam chiki dkk, goreng-gorengan yang berminyak banget. Saya banyakin minum air putih, tapi paling enak ya minum teh/lemontea hangat agak panas. Di tenggorokan rasanya 'nyoss' legaa banget. Ini akan saya lakukan selama tenggorokan saya mulai gak enak, sedang batuk, atau sedang asma.

Kedua, kalau udah beneran batuk dan asma, saya olesin Vicks Vaporub di leher sampe dada, minyak kayu putih di perut, terus balut-balutin selendang di leher. Kipas angin atau AC DILARANG nyala, kecuali kalau udah mendesak banget. Dijamin deh, tidur akan terasa mandi keringat dingin, keringat mengucur deras, tapi harus ditahan.

Ketiga, akhir-akhir ini saya diperkenalkan dengan permen Fisherman's Friend yang cukup membantu melegakan tenggorokan, walaupun sifatnya agak temporary. Tapi kalau mau sabar, bisa kok sedikit menyembuhkan sakit tenggorokan/batuknya, selama belum terlalu parah. Dan, baru-baru ini juga, saya diperkenalkan dengan semacam obat cina, namanya Lo Han Kuo Infusion. Itu semacam bubuk yang dipadatkan, terus nanti dikasih air hangat kemudian diminum. Obat ini (atau jamu, lebih tepatnya) bisa mengencerkan dahak, menyembuhkan panas dalam, menguatkan paru-paru juga. Ini kata tulisan di bungkusnya, sih..hehe

Keempat, sekarang saya berusaha seminimal mungkin minum obat. Kalau udah gak nahan, baru minum obat batuk. Obat asma saja akhir-akhir ini gak pernah pakai. Dulu kalau minum obat asma, separo tablet aja udah tremor sebadan. Kalau pakai obat semprot, tetep tremor walaupun cuma di bagian tangan yang kerasa. Kalau bisa, saya cuma makan permen, minum-minuman hangat, kerokan.. Hehehe

Tapi intinya, sakit itu nggak enak. Sangat mengganggu aktivitas, merusak selera makan, menurunkan mood dan semangat. Jangan sampai sakit, deh, yaa...

Chapter 2 - ALAN


Aku memandangi surat berwarna krem di tanganku. ‘Aku sudah tahu, aku pasti lolos,’ pikirku sambil meremas kertas itu dan melemparnya ke sudut kamar. Aku duduk di kamar apartemenku yang kumuh. Sudah tiga bulan aku belum membayar sewa apartemen. Setelah ini, pasti akan aku lunasi biaya sewanya dan segera pindah ke tempat yang lebih baik.

Aku segera bangkit ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor manajemen artis yang telah meloloskanku di audisinya. Aku memakai kaos dan jeans casual, tidak mau terlihat antusias karena telah lolos audisi. Aku harus membuat mereka merasa merekalah yang membutuhkanku, bukan sebaliknya.
Setelah siap, aku bergegas menuju stasiun bawah tanah. Aku harus mengejar kereta ke arah MoonDale District pukul 9.00. Mungkin aku harus makan siang di sana, karena jadwal registrasi ulang peserta yang lolos audisi baru pukul 1.00 siang nanti.

Gudhiluvia memiliki lima distrik, yaitu Frontera, Smutek, EstrellaFall, MoonDale, dan PhoebusCrater. Frontera adalah distrik pinggiran, lebih sepi daripada distrik tempatku tinggal. Sangat sedikit orang yang tinggal di Frontera, mungkin karena daerahnya yang kurang bersahabat, terdiri dari hutan-hutan dan karang terjal dimana masih banyak hewan buas hidup di sana. Pemukiman penduduk di Frontera didominasi oleh orang-orang miskin yang hidup dengan mencari kayu bakar dan bekerja di pabrik pengolahan limbah di sana. Smutek, seperti juga Frontera, juga merupakan daerah pinggiran, hanya saja daerahnya lebih bersahabat daripada Frontera. Di Smutek, menjadi nelayan atau pedagang ikan menjadi mata pencaharian utama. Dikarenakan Smutek yang berbatasan dengan laut berpantai landai, yang memungkinkan perahu untuk menepi. Setelah Smutek adalah EstrellaFall, distrik yang menjadi pertemuan antara penjual dan pembeli barang murah dan barang mahal. Di sini banyak sekali pusat perbelanjaan, baik untuk kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas. Maka sudah pasti, EstrellaFall adalah pusat perbelanjaan terpadat dan terlengkap di Gudhiluvia.

MoonDale adalah bagian dari Kota Gudhiluvia yang menjadi pusat bisnis dan hiburan di kota tersebut. Pemukiman di distrik ini  didominasi oleh para pengusaha dan selebritis tingkat atas Gudhiluvia. Jika di EstrellaFall menjadi pusat jual-beli komoditas, di MoonDale dilakukan manajemen ‘balik layar’ komoditas-komoditas tersebut. Sedangkan PhoebusCrater adalah perbatasan Gudhiluvia dengan kota sebelahnya.

Walaupun MoonDale bisa disebut pusat kota, transportasi umum menuju distrik tersebut bisa dibilang tidak mudah. Hanya ada tiga kali kereta bawah tanah menuju distrik tersebut dari distrik tempatku tinggal, Smutek District, yaitu pagi pukul 8.00, siang pukul 3.00 dan malam pukul 9.00. Bisa jadi karena distrik tempatku tinggal adalah daerah pinggiran di Gudhiluvia, yang jarang sekali orang keluar dari distrik ini atau sebaliknya, menuju distrik ini. Jadi, mungkin pemerintah merasa kurang penting untuk memperbanyak jadwal transportasi umum dari/ke stasiun Smutek.

Aku berjalan cepat di trotoar yang sepi pejalan kaki. Jalan raya pun tidak ramai kendaraan. Sebagian besar penduduk distrik ini sibuk di pelelangan ikan atau pasar sayuran. Jarang yang bekerja di kantor, karena di sini yang disebut kantor hanyalah beberapa barbershop, tempat penukaran mata uang, bank, rumah sakit dan sekolah. Bisa dibayangkan betapa sederhananya kehidupan di distrik ini. Aku sendiri terpaksa memilih tinggal di sini karena hanya di sinilah aku bisa mendapat sewa apartemen yang sangat murah.

Akhirnya aku sampai di stasiun bawah tanah, tepat saat kereta memasuki stasiun. Stasiun itu tampak tidak terlalu sibuk. Hanya terlihat beberapa orang berpakaian seragam kantor yang mungkin akan berangkat kerja di MoonDale atau di stasiun distrik berikutnya, PhoebusCrater. Sebelum MoonDale ada EstrellaFall, distrik yang merupakan pusat perbelanjaan mewah. Di Gudhiluvia, jam kerja dimulai pukul 9.00 ke atas. Hanya beberapa instansi saja yang menetapkan jam kerja lebih awal dari itu, misalnya sekolah yang dimulai pukul 8.00 atau rumah sakit yang buka 24 jam.

Aku, bersama beberapa orang-orang berseragam itu, bergegas masuk ke kereta yang masih kosong. Stasiun ini adalah stasiun kedua, setelah stasiun kereta bawah tanah pertama di Frontera. Aku, seperti orang-orang lainnya, segera mencari sudut yang paling nyaman, karena untuk sampai di MoonDale akan dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

Aku melihat pemandangan laut dari kejauhan bergantian dengan rumah pemukiman penduduk yang masih jarang. Hanya sedikit suara terdengar di gerbong ini. Sayup-sayup terdengar obrolan pelan orang berseragam tadi, mungkin membicarakan pekerjaan. Aku tidak peduli. Aku sibuk menyusun rencana karir baruku sebagai artis. Jelas, aku tidak bisa belama-lama menikmati pekerjaan itu. Mungkin hanya dua-tiga film, beberapa iklan dan kesemuanya harus tanpa skandal yang terlalu mencolok, sebelum akhirnya aku harus kembali menarik diri ke masyarakat umum, bersembunyi menghabiskan uang hasil kerjaku selama beberapa tahun sebelum harus mencari pekerjaan lainnya. Ya, aku tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun demi bisa berbaur dengan tenang di dunia ini.

Tiba-tiba aku teringat gadis bergaun hijau saat itu. Jelas dia adalah makhluk Bintang Calvera lainnya. Kalau begitu, besar kemungkinan ada lebih banyak makhluk Calvera yang lari ke bumi ini daripada dugaanku sebelumnya. Apakah gadis itu memiliki keluarga? Dia bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan kekuatannya. Siapakah dia?

Hmm, jika dia lolos audisi ini, hari ini aku pasti akan bertemu lagi dengannya. Mungkin akan ada banyak kesempatanku menggali informasi tentang makhluk Calvera sebentar lagi. Ya, aku harus lebih berhati-hati. Jika gadis itu salah satu seperti ayahku, aku benar-benar harus lebih hati-hati.

GELAP: Au Revoir Ujang!! (Rest in Peace)

GELAP: Au Revoir Ujang!! (Rest in Peace): Lelaki itu berjalan dengan ceria Bersenandung akan lagu pujaan Perutnya yang tambun bergoyang riang Seirama dengan langkah kakinya ...

Rumah dan 'Rumah'

Masih melekat dalam ingatan, saat dulu aku belajar kata-kata Bahasa Inggris dengan Bu Guru, aku pernah bertanya, "Apa bedanya home dan house, Bu?". Saat itu bu guru tersenyum dan menjawab sekenanya, "Kalau house itu bangunan rumahnya, sedangkan kalau home itu rumah dimana ada keluargamu." Aku sempat bingung saat itu. Otak kecilku belum bisa membedakan antara rumah dan 'rumah'. Bukankah keluarga ya ada di bangunan rumah? Ah, aku jadi bingung menjelaskannya..

Tapi kini aku mengerti, perbedaan kata home dan house. Kau mungkin mempunyai banyak rumah di dunia ini. Kini pun aku memiliki lebih dari satu rumah untuk kutinggali, yaitu di Jember, dimana aku belajar dan beranjak dewasa, dan di Surabaya dimana aku merantau dan belajar dewasa. 

Keduanya rumah bagiku, dimana ada keluarga yang selalu menantikan kehadiranku di tengah-tengah mereka. Tapi hanya satu 'rumah' bagiku. Tempat dimana hatiku ingin pulang, sembunyi dalam sangkar yang aman. Dimana pun itu, di sanalah ada bapak dan ibu. Aku tidak peduli apakah itu di Jember, di Surabaya, atau di kota lain, aku merasa ada di 'rumah' saat di tengah-tengah mereka. 

Entahlah, apa aku merasa jenuh atau lelah akhir-akhir ini. Hatiku selalu membujuk untuk kembali ke 'rumah'. Di sana aku merasakan kehangatan, rasa aman dan ketenangan. Seakan-akan aku bisa menghabiskan bertahun-tahun hidup di rumah tanpa keluar kemana-mana. Seperti 'rumah' itu terus memanggil-manggilku untuk kembali. 

Ataukah sebenarnya aku ingin lari? Lari dari semua tanggung jawab di perantauanku? Tapi mau sampai kapan? Selalu kuingatkan diriku sendiri, bahwa aku sudah dewasa. Saatnya berusaha menjalani semua sendiri, pelan-pelan lepas dari punggung orang tua. Tidak mungkin selamanya aku bisa ada dalam pelukan mereka. Ah, bahkan aku mendengar suara bapak dan ibu di telepon saja sudah ingin menangis.

Bapak, Ibu, kalianlah 'rumah' pertamaku. Maafkan aku yang masih sering menghindar dari kedewasaan. Selalu ingin tenggelam dalam pelukan kalian. Aku masih belajar untuk 'hidup'. Aku masih sering mengecewakan dan merepotkan kalian, dengan tingkahku yang manja, malas, rewel. Aku malu. Bapak dan ibu selalu menuruti semua mauku, sedangkan aku masih sering lupa bersyukur. Suara bapak dan ibu di telepon, ingatan-ingatanku tentang gurauan, senyum dan tawa kalian, sungguh semua membuatku rindu. Bahkan omelan dan wajah cemberut kalian saat aku mulai berulah pun selalu membuatku ingin kembali ke masa kecil. Masa dimana aku sering merengek minta es krim atau sekedar mampir ke pasar malam. Dimana kalian sering melerai pertengkaranku dengan kakak. Memarahiku karena aku menyembunyikan novel di balik buku pelajaran. Begitu banyak kenangan indahku bersama kalian. Untuk itu, aku berusaha untuk menjadi anak yang membuat kalian bahagia. Maafkan aku, Pak, Bu, telah banyak mengecewakan kalian, membuat kalian marah dan sedih. Maafkan aku yang masih sering lupa menjalankan amanah kalian, melupakan tugasku sebagai putri kalian. Terima kasih untuk selalu ada di saat aku ingin pulang. Terima kasih, karena Bapak-Ibulah aku ada.
Aku rindu...

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...