The Warrior - Episode 1 (Prep)

Aku dilahirkan sebagai pengawal. Di sini, pengawal ada secara turun temurun. Ayah dan ibuku juga pengawal. Lebih tepatnya, ibuku kini sudah pensiun, sejak beliau melahirkan adikku.

Di sini, seorang pengawal wanita diberi dua pilihan setelah menjadi seorang ibu, untuk melanjutkan karirnya sebagai pengawal (yang artinya mendapat gaji 50% lebih besar dari sebelumnya) atau pensiun dan tidak mendapat apa-apa. Ibuku memilih opsi yang kedua, walau itu artinya kami hidup serba kekurangan, bergantung dari gaji ayahku. Tapi paling tidak, kami punya ibu yang bebas resiko mati demi orang lain.

Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Aku Nadezd, lahir di kota Agavia, dimana penduduknya terbagi menjadi 3 kelompok, bangsawan, pengawal, dan pekerja. Aku memiliki seorang adik laki-laki, Nic, yang saat ini masih balita. Ayahku adalah pengawal senior. Beliau dipercaya oleh kerajaan untuk mengawal salah seorang bangsawan terhormat anggota parlemen, Osten Sachine. Aku sendiri jarang bertemu ayahku, karena beliau bertugas di hampir seluruh waktunya, terutama ketika masa-masa politik atau ketika si Bangsawan melakukan tour keluar kota.

Terkadang aku merasa seluruh kehidupan yang kami jalani ini tidak adil. Kami diberi hidup hanya untuk melindungi orang lain. Hidup kami bukanlah untuk diri kami, melainkan demi kehidupan para Bangsawan yang sombong dan tidak peduli itu. Well, bukannya tidak ada Bangsawan yang baik, hanya sebagian besar dari mereka hanya hidup untuk bersenang-senang dan menghamburkan kekayaannya. Di samping kegemaran mereka berkelahi antar sesamanya, yang berarti kami lah yang bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan mereka demi sepercik anggur yang tidak sengaja tumpah mengenai pakaian sutranya.

Kalau kalian bertanya mengapa kami harus menjadi pengawal para Bangsawan itu, ceritanya panjang. Singkatnya, nenek moyang para Bangsawan itu dulunya adalah pemilik tanah hampir seluruh Agavia. Anggota Parlemen Agavia pun didominasi oleh para tuan tanah tersebut, sehingga peraturan pajak pun selalu memihak tuan tanah. Sementara untuk pindah ke kota lain tidak memungkinkan karena sistem hubungan penduduk dengan luar kota sangat dibatasi oleh Parlemen, pilihan kami sebagai rakyat biasa hanyalah bekerja keras demi membayar pajak. Hingga akhirnya sekelompok orang memberontak dan berusaha menyerang Parlemen yang mengakibatkan begitu banyak rakyat yang mati dihukum.

Sejak saat itu, Parlemen menetapkan pajak tanah semakin tinggi, yang menjadikan banyak dari kami menjadi budak para tuan tanah demi bisa melunasi pajak dengan tenaga kami. Namun serangan-serangan tidak pernah berhenti. Selalu ada tuan tanah yang mati, atau paling tidak terluka. Namun pada akhirnya, serangan-serangan itu bukannya berdampak baik bagi rakyat biasa, melainkan semakin memperburuk situasi. Nyawa budak bagaikan semut yang seenaknya dibunuh, sebagai 'tameng' tuannya.

Kalau dipikir-pikir, keluargaku masih cukup beruntung karena masuk ke dalam kelompok pengawal. Setidaknya, kami masih diberi bayaran atas pekerjaan yang kami lakukan, meskipun bayaran yang kami terima masih membuat ibuku harus mencari cara lain untuk menjaga dapur tetap mengepul. Salah satunya adalah dengan menjadi pengasuh bayi-bayi istri muda para bangsawan.

Ah, sudah cukup membicarakan para bangsawan. Aku harus segera bergegas ke lapangan pelatihan pengawal muda hari ini. Ya, ini hari pertamaku harus mengikuti pelatihan pengawal sejak minggu lalu usiaku genap menginjak 15 tahun. Aku merasa sedikit gugup karena ayahku termasuk salah satu pelatih pengawal, yang itu artinya ayahku akan melihat hasil latihanku saat tes kemampuan nanti. Sudah 10 tahun aku melatih kemampuan bertarungku secara otodidak. Terkadang ayah menyempatkan diri untuk menjadi lawan bertarung, meski lebih sering aku berlatih sendiri dengan kayu latihan di rumah. Dan hari ini akan menjadi hari penentuan kelas kemampuan, dilihat oleh ayahku. Sungguh perpaduan yang menegangkan!

Aku sungguh berharap tes hari ini berjalan lancar. Jika hasil tesku bagus, aku memiliki kesempatan untuk masuk kelas kemampuan yang lebih tinggi, yang berarti aku memiliki kesempatan lebih besar untuk mengawal kaum Elite. Menjadi pengawal kaum Elite berarti gaji yang lebih tinggi, meskipun resiko mati lebih besar. Tapi menurutku itu sepadan. Toh kita digaji untuk hidup dan kalaupun aku mati di pertempuran aku tidak membutuhkan uang lagi, kan?

Oh iya, aku lupa aku harus segera bergegas. Aku akan update lagi nanti. Doakan aku semoga berhasil!

"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...