Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Penyempurna

Terimalah, lalu lepaskanlah.
Jangan berhenti di koma
Atau hidup tidak akan sempurna

Menghirup udara lalu menghembuskannya.
Menerima rizki lalu membaginya ke sekitar kita.
Mendapat kesedihan, lalu akan ada kebahagiaan.

Hingga akhir nanti.

Kita telah menerima kehidupan.
Namun kematian adalah penyempurnanya.


"Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan" (al Anbiya': 35)

To Become an Adult


Questioning.
Complaining.
Unbelieving.

Worries.
Scared.
Insecure.

"What am I doing?"
"I'm waiting," a little voice whispered.
"Waiting for what?"
"Umm, I don't know. I'll know when I get it. What I know now, is that I'm waiting. I will wait. Until forever." the voice whispered again.
"Maybe that isn't for you, little girl,"


Hesitance.
Regret.


No.
Have no regret.
It's worth my time. My whole time.
To wait. To believe.
There will be answer.
I have new words. Better ones.


Patience.
Optimism.
Believe.
Trust.
Thankful.


Faith.

Mistake...

... is when you feel afraid of trying more.

... is when you hesitate to do something.

... is what you think you have done to others.

... is what make you feel lost.

... is why you stop believing on yourself.

... is why you get hate from others.




... is the process of your improvement.

... is the reason you live as human.



== Hana ==                               

My Kind of True Love

Who are you calling 'Your Half'? Is he someone you love? Is he someone you need? Does he mean so much for your life? Why?

I've read somewhere about true love. It's not someone who you love endlessly, forever. Because love fades. It's not someone who you adore by his looks, attitude or anything. Because people changes. True love is when you have someone and you can't stop caring about him. Forever. Your silence, his silence, it doesn't mean you stop caring. Until you both growing old, you just need him to be there. Just the presence is enough.

And I saw that kind of True Love. Not telling 'I love you', but I know the unspoken words that 'I care about you'. The woman is very straight forward, the man is the romantic one. The woman is the 'stay cool' type, and the man is more to 'tender' one. I saw the big gap of character between them, but still, they last until forever.

And one of them is sick now. I know how heartbreaking it is to the other person, but she remains strong.

I'm not a sweet girl who can tell romantic stories. But I write this, my-kinda-romantic-story, just to send them a big hope that everything will be alright. That their love will remains in my heart forever.

That I wish I will have this kind of True Love in my life.

That I believe, True Love is not as sweet as in fairytale.

Yeah, but I want it, though >,<.

Well then,

Regards,

Kalau Bukan Untukku, Untuk Siapa Lagi?

Dear readers,
Buat kamu yang sedang jenuh
Buat kamu yang sedang lelah
Buat kamu yang rindu keluarga di rumah
Buat kamu yang mempertanyakan apa yang kamu lakukan sekarang
Sering aku liat di shared photo timeline teman, atau status medsos mereka, atau sekedar link di Facebook, tentang 'cemoohan' buat pemuda-pemuda yang terikat jam kantor, terjebak kemacetan (khususnya Jakarta), usia muda dihabiskan untuk berangkat pagi-pulang malam. Atau 'sindiran' nikmatnya jadi bos di usaha sendiri daripada jadi cunguk di perusahaan gede.
Well, terserah sih seseorang mau share apa di medsos-nya. Mungkin kalo positive thinking, anggap aja dia bersyukur hidupnya ga terikat jam kantor, bisa ketemu keluarga kapan pun dia mau, atau bahkan punya bisnis sendiri. Tapi anggaplah aku hari ini lagi bete atau badmood, I can't see the point of your INTIMIDATING quotes. That's hurt, you know?
Kalau bisa memilih, siapa yang ga mau milih stay di rumah sendiri? Siapa yang ga mau milih kerja santai-santai tapi ngehasilin duit banyak buat nafkahin anak-istri? Siapa yang mau bangun pagi cuma buat gabung di kemacetan, terus kerja ngurusin usaha orang lain, pulang malam gara-gara kejebak macet?
Bahkan kalau bisa, kita mau kerja di rumah sambil berkumpul dengan keluarga, kuliah dengan dosennya yang dateng ke rumah jadi ga perlu kita jauh-jauh ke luar kota/negeri terus jadi anak kos susah di sana. Tapi bagaimana?
Life's a choice, bro. Who are you to judge other's choice? Oke, bukan nge-judge. Tapi status/quote itu cukup mengintimidasi orang lain. Cukup membuat seseorang menyesal akan pilihannya. Cukup bikin orang yang udah capek kerja/sekolah, rindu keluarganya, atau bahkan mulai jenuh dengan rutinitasnya, untuk semakin down.
Bersyukurlah buat kamu yang ga perlu jauh dari keluarga, udah bisa kerja bagus, sekolah tinggi, ga capek di jalan.
Tapi buat kamu yang 'kurang beruntung'?
Kamu beruntung. Keluar dari comfort zone, menghadapi tantangan-tantangan baru, bertemu dengan 'kehidupan' baru. That's life! Sudah pasti pengetahuan kamu bertambah. Mental kuat juga sudah dijamin kamu dapetin. Pengalaman-pengalaman itulah harta berhargamu.
Bertemu orang-orang baru yang beragam. Tinggal di lingkungan yang bisa saja sama sekali berbeda dari tempat asalmu. 'Terpaksa' menghadapi segala situasi sendiri. Semua itu ga ternilai. Kalau kamu lulus, dimanapun kamu berada, pasti kamu bisa hidup.
Terus berkembang. Terus berusaha. Untuk siapa? Untuk kamu sendiri. Yakin, dimanapun kamu berada, keluarga selalu mendoakan dan mendukungmu. Doa akan selalu 'mengumpulkan' kalian walaupun berjauhan.
Terus berjuang, kawan.
Xoxo

Di Sini, yang di Luar Ekspektasi

Jakarta.
Sebuah kota yang semua orang Indonesia pasti mengenalnya. Setidaknya, pasti pernah mendengar namanya di tv, radio atau minimal dari perbincangan orang lain. Simply, karena dia adalah ibukota negara kita. Dan banyak sekali pemberitaan yang menyangkut kota Jakarta, entah itu sepenting berita politik, kriminal, atau budaya, maupun berita tidak penting semacam gosip selebriti, hiburan, konser dan lain-lain.

Saya tidak pernah membayangkan akan pernah mencicip tinggal di kota ini. Saya tidak bercita-cita tinggi, menjadi presiden misalnya, yang sudah pasti akan bertempat tinggal di Jakarta. Yang saya bayangkan adalah tinggal di kota semacam Surabaya, yang hangat, nyaman dan penuh keramahan. Tapi Tuhan berkehendak lain: saya harus ke Jakarta.

Sejak saya kuliah, saya terbiasa ada di lingkungan yang 'ramah', dimana hampir semua (kalau tidak bisa dibilang semua) teman-teman saya berasal dari keluarga biasa saja, yang aware terhadap kewajiban beragama (seperti sholat 5 waktu, misalnya), hidup sederhana (yang memperhitungkan budget dan realisasinya) dan kebiasaan-kebiasaan lain yang mungkin 'anak kos banget'.

Lalu saya membayangkan Jakarta kota yang menyeramkan, keras, penuh bahaya. Karena semua teman saya yang pernah mencicipinya berkata demikian. Atau karena di televisi begitu banyak liputan mengkhawatirkan tentang ibukota ini. Kota hedonis, hura-hura, individual.. Tapi begitu saya di sini, saya melihat beberapa hal di luar image buruk tadi..

Pertama, di sini banyak ada banyak cara untuk berbuat baik. Kalau di kota lain kita mudah saja bawa kendaraan sendiri kemana-kemana, di Jakarta akan sedikit kesulitan karena macetnya yang ruar biasa, sehingga transportasi umum menjadi pilihan. Saya senang saat naik busway, saya melihat perempuan muda yang memberikan kursinya kepada ibu yang menggendong anaknya, atau kepada ibu-ibu lansia, atau wanita hamil.. Jadi tampak mudah sekali untuk mencari pahala di sini (kalau mau lho ya :p) Saya tidak tahu, apakah seperti itu juga keadannya di angkutan umum lainnya. Mungkin Tuhan sengaja menunjukkan kebaikan itu supaya saya ga negatif-negatif amat menilai Jakarta ya? Hehehe

Kedua, kota ini mengajarkan banyak bersabar. Sudah jelas ya, kita harus sabar ketika menghadapi macet yang pasti akan dihadapi kalo kamu ke Jakarta. Untungnya, untuk berangkat kantor dari kos saya, saya hanya tinggal menyeberang jalan saja, jadi saya tidak terlalu merasakan sensasi sabar menghadapi macet saat hectic berangkat kantor takut telat. Tapi pernah lah beberapa kali kalo saya pergi saat weekend atau visit lapangan pas jam kerja, saya ngerasain macet. Dan emang HARUS sabar. Ga bayangin deh kalo harus tiap hari merasakan hal itu.
Tapi yang pasti, saya harus sabar menunggu tanggal kepulangan saya yang jarang. Maklum, masih (calon) karyawan baru, belom dapet cuti. Gaji juga udah pas buat ini-itu, harus nabung dulu buat beli tiket. Yah, belajar sabar...

Ketiga, hmmm... Saya belom nemu poin ketiga. Mungkin next time yah saya update lagi post ini. Kekeke :p

Have a good day everyone^^

Regards,

'Essentials to Start the Beautiful You' Series - Part 3

Di part ketiga ini, kita akan bahas bareng-bareng hal yang paliiiing penting buat kita-kita tampil cantik. Bahkan di semua kontes kecantikan, para artes, duta-duta kecantikan dan lain-lain selalu ucapin ini kalau diminta untuk ngungkapin rahasia kecantikan mereka: CONFIDENCE

Kurang penting apa coba itu udah saya bold, caps lock, highlight, garis bawah :p 
Yap, confidence atau percaya diri, bisa membuat para wanita tampak lebih bersinar, aura memancar, dan menarik. Okay, saya sendiri ga bilang hal ini mudah. Tampil percaya diri itu susah. Banget. Semisal kita ada di suatu pesta, tamu-tamu lainnya tampil maksimal dengan pakaian indah, sepatu keren, dandanan sempurna. Dan kita dekil, salah kostum, awut-awutan.. Gimana caranya untuk percaya diri? Oke, ada orang yang cuek bebek aja, dan saya akui orang seperti itu hebat sekali!

Jadi saya bisa bilang, percaya diri ini butuh latihan. Saya juga masih belajar untuk lebih percaya diri. Bilang ke diri sendiri, that we are one of a kind in this world. Masing-masing dari kita unik, spesial, beda dari yang lain. Jadi, buat apa minder? Buat apa membanding-bandingkan diri dengan orang lain? Buat apa ingin menjadi seperti orang lain? Percaya nggak kalau saya selalu bilang itu ke diri saya sendiri setiap waktu, khususnya ketika mulai minder liat orang lain mulai sukses di hidup mereka sementara saya kayanya masih gini-gini aja. I'm trying my best, in my own way, for my own sake, jadi buat apa minder? *oke,mulai salah fokus*

Liat orang lain lebih cantik dari kita, lebih pinter dandan, it's okay. Kita juga cantik. Dengan versi kita sendiri. Ga ada orang jelek, serius. Cantik ga cuma dilihat dari wajah, girls. Tapi juga dari attitude. Kamu sopan, jujur, tulus, murah senyum, peduli orang lain.. Semua itu juga bikin cantik loh. Jadi percayalah pada dirimu, bahwa kita semua pada dasarnya cantik, tergantung bagaimana sikap kita pada orang lain.

Keep smile and keep humble^^
Best Regards,

Repost: Ayah

Sejujurnya, tulisan ini pernah saya post di note facebook duluuu banget jaman SMA. Entah kenapa, tadi saya scrolling timeline facebook saya, buka-buka note lama, judul ini tertangkap mata saya dan saya ingin post di blog juga. Mungkin banyak diantara kalian yang pernah baca dan sebenernya tulisan ini juga bukan orisinil tulisan saya. Saya sendiri copas punya orang kok. Silahkan bagi Anda yang ingin copas juga, semoga bermanfaat :)

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa yang lagi bekerja diperantauan, ato yang lagi ikut suaminya merantau di luar kota even di luar negeri,ato juga yang lagi sekolah/ kuliah jauh dari kedua orang tuanya akan sering merasa kangen banget sama IBUnya. 

kenapa gak sama Ayah?? 

Mungkin,, karena Ibu yang lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, 
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu? 

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita, membacakan dongeng untukmu, 
tapi tahukah kamu, bahwa sebenarnya setiap pulang kerja, dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa aja yang kau lakukan seharian? 


Saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil...... 

Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. 
setelah Ayah mengganggapmu bisa,Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu... 

Kemudian Ibu bilang : "Jangan dulu Yah, jangan dilepas dulu roda bantunya" . 
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.... 

Tapi sadarkah kamu? 
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA! 


Saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan baru,Ibu menatapmu iba. 
Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang." 

Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja yang semua tuntutannya akan selalu dapat dipenuhi? 


Saat kamu sakit pilek, 
Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata, 
"Sudah dibilang! kamu jangan minum air dingin!". 
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. 
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu. 



Ketika kamu sudah beranjak remaja.... 
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dengan berkata: "Tidak boleh!". 

Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? 
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangatsangat luar biasa BERHARGA.. 

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. 
sampai Ibu datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah.... 

Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya yang sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi Ayah HARUS menjagamu?? 


Ketika saatnya seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia.... :') 
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu? 


Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu,hingga kamu memaksa untuk melanggar jam malamnya. 
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir... 
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut... 
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. . 

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang? 
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah.." 



Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. 
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti... 

Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah. 



Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... 
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain . . . . 

Ayah harus melepasmu di stasiun. 

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? 
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati . . 
Padahal didalam hati, Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. 

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata, "Jaga dirimu baik-baik ya sayang" . 

Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi DEWASA. 



Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu,Ayah menjadi orang pertama yang mengerutkan dahi. 
Ayah pasti akan berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. 


Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan... 
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak . Tidak bisa!" 

Padahal dalam batin, Ayah sangat ingin mengatakan, "Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu". 
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?? 



Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. . . 

Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. 
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang." 


Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. 
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin.. 
Karena Ayah tahu..... 

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti. 


Dan akhirnya.... 
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia.... 


Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi ke belakang panggung sebentar, dan MENANGIS????? 

Ayah menangis karena Ayah merasa sangat berbahagia. 
Kemudian Ayah berdoa. 
Dalam lirih doanya kepada Allah,Ayah berkata: 

"Ya Allah, tugasku telah selesai dengan baik.. 
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... 

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..." 



Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk... 

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... 
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.... 


Ayah telah menyelesaikan tugasnya . . . . . 


Ayah, Papa, Bapak, Ebes, atau Abah kita... 
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... 
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis... 

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . 

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal . . 

Turning Point

Surely, we should have a turning point in life. Once you have your best day in life, next you will have the worst day ever. You may feel extremely happy some times, but sooner or later you'll be at your lowest point. Yeah, there's no such immortal things. We must prepare for the worst time while, at the same time, hope for the best.

One day you hate somethings, the next day you love them. One day you get mad of things, the other day you feel like dying without it. Nobody knows when will they have the turning point. Just to prepare for it, because that is one of God's secret, imo.

Life. A word that has so many things to hide. A word that make us do all these struggle. And turning point is just one of life's phase, face it.

Mother Day

Wahh,sudah lama sekali tampaknya saya tidak muncul di dunia blogger. Akhir-akhir ini, selain tidak ada topik menulis, saya juga lagi suka menceritakan pikiran saya melalui gambar. Kalau mau lihat,bisa follow di Instagram saya #promosi hehehe..

By the way, hari ini 22 Desember 2012, bertepatan dengan hari ibu. Wahh, jadi kangeen sama ibu. Hari ibu, menurut saya mungkin lebih memperingatkan kita bahwa ibu kita telah berjuang keras untuk membuat kita 'ada'. Tidak hanya ibu, sebenarnya, ayah juga. Tanpa mereka, kita tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang. Bahkan, kita tidak akan ada tanpa keberadaan mereka. 

Kebetulan, beberapa hari yang lalu kakak ipar saya melahirkan anak pertama. Mendengar ceritanya saat menjelang proses melahirkan, kebayang banget perjuangannya menahan sakit sebelum bayi lahir. Hmm, kita masih 'mau ada' saja udah menyakiti ibu yaa.. Masa' sekarang udah besar masih mau menyakiti lagi?

Nah, ingat-ingat deh, sudah berapa kali dalam hidup kita mengecewakan orang tua? Membohongi mereka, melawan mereka, membentak, tidak patuh.. Berapa kali kita melihat ibu menangis karena kita? Berapa kali pula ibu dan ayah memeluk setelah memarahi kita yang melakukan salah? Menasehati kita dengan lembut supaya tidak mengulangi kesalahan, supaya kita menjadi anak yang baik..

Dulu saat saya kecil, ibu selalu ngotot untuk mengajari matematika setiap hari. Saat saya tidak mood belajar, saya tidak paham-paham apa yang beliau ajarkan, sampai menangis pun kami berdua, beliau terus mengajari saya sampai bisa. Ibu pula yang dulu selalu memaksa saya untuk makan hingga suapan terakhir. Ibu yang hampir setiap hari mengantar-jemput saya sekolah dan les setiap hari. Menunggui hingga saya selesai belajar. Ibu yang memperkenalkan dengan buku cerita, novel dan tulis-menulis. Hingga saya SMA, ibu selalu menjadi orang pertama yang mendengarkan cerita saya dari sekolah setiap hari. Saya kuliah dan tinggal jauh dari beliau, hampir tidak ada yang terlewat tidak saya ceritakan pada beliau.

Ibu, sungguh banyak sekali cerita saya tentang beliau. Yang tidak mungkin saya tulis semua di sini saking banyaknya. Hari ibu tidak lebih hanya sebagai momen, dan kita harus selalu mencintai dan menghormati ibu setiap hari. Tidak hanya ibu, ayah juga.. 

Love you both, Mom and Dad..

Time is Running Out

Weekend ini menyenangkan sekali..Selain karena long weekend, dimana semuanya libur dan begitu pula bagi saya yang notabene sudah tidak punya rutinitas yang terlalu mengikat, juga karena orang tua saya yang menghabiskan long weekend ini di Surabaya. Artinya, saya bisa ndempel selama beberapa hari. Hehe..
Tadinya ada rencana untuk menghabiskqn long weekend ini ke Semarang, tapi karena suatu hal, rencana batal. Kalau saya sih ya seneng-seneng aja walaupun beberapa hati kemaren cukup excited membayangkan perjalanan ke luar kota yang udah jarang-jarang kami lakukan.  Tapi intinya, dimanapun bareng keluarga, saya senang sekali. Terlebih lagi, sepupu-sepupu juga liburan di sini. Ramee deh..
Kalau dihitung mulai rabu, 4 hari 4 malam cukup lama mengingat biasanya bisa kumpul rame-rame lama selain lebaran ya paling 2-3 hari saja. Tapi waktu yang cukup lama itu, dirasakannya sebentar sekali. Tahu-tahu saja besok sudah hari minggu, pagi-pagi ortu udah harus pulang.. nih, mulai deh mellow lagi..
Tapi ada yang saya renungkan, dan semakin membuat saya mellow total. Waktu berjalan cepat, jadi kalau kita santai-santai terus, yang ada ya waktu terbuang percuma begitu saja. Melihat orang tua saya, semakin hari semakin tua, tidak mungkin selamanya bisa ngeloni kita. Saya jadi gundah, memikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk mereka? Melihat mereka mau melakukan apapun untuk membuat kita bahagia. Ah, kalau begini saya jadi menggebu-gebu mencari cara untuk membuat mereka bahagia, membalas sebisa mungkin semua jasa mereka pada hidup saya. Walaupun tetap mustahil membalas SEMUANYA, paling tidak melihat mereka tersenyum bahagia melihat yang saya lakukan.
Yahh,besok adalah hari baru, mencoba melakukan awal yang baru. Bismillah..

GELAP: Au Revoir Ujang!! (Rest in Peace)

GELAP: Au Revoir Ujang!! (Rest in Peace): Lelaki itu berjalan dengan ceria Bersenandung akan lagu pujaan Perutnya yang tambun bergoyang riang Seirama dengan langkah kakinya ...

Rumah dan 'Rumah'

Masih melekat dalam ingatan, saat dulu aku belajar kata-kata Bahasa Inggris dengan Bu Guru, aku pernah bertanya, "Apa bedanya home dan house, Bu?". Saat itu bu guru tersenyum dan menjawab sekenanya, "Kalau house itu bangunan rumahnya, sedangkan kalau home itu rumah dimana ada keluargamu." Aku sempat bingung saat itu. Otak kecilku belum bisa membedakan antara rumah dan 'rumah'. Bukankah keluarga ya ada di bangunan rumah? Ah, aku jadi bingung menjelaskannya..

Tapi kini aku mengerti, perbedaan kata home dan house. Kau mungkin mempunyai banyak rumah di dunia ini. Kini pun aku memiliki lebih dari satu rumah untuk kutinggali, yaitu di Jember, dimana aku belajar dan beranjak dewasa, dan di Surabaya dimana aku merantau dan belajar dewasa. 

Keduanya rumah bagiku, dimana ada keluarga yang selalu menantikan kehadiranku di tengah-tengah mereka. Tapi hanya satu 'rumah' bagiku. Tempat dimana hatiku ingin pulang, sembunyi dalam sangkar yang aman. Dimana pun itu, di sanalah ada bapak dan ibu. Aku tidak peduli apakah itu di Jember, di Surabaya, atau di kota lain, aku merasa ada di 'rumah' saat di tengah-tengah mereka. 

Entahlah, apa aku merasa jenuh atau lelah akhir-akhir ini. Hatiku selalu membujuk untuk kembali ke 'rumah'. Di sana aku merasakan kehangatan, rasa aman dan ketenangan. Seakan-akan aku bisa menghabiskan bertahun-tahun hidup di rumah tanpa keluar kemana-mana. Seperti 'rumah' itu terus memanggil-manggilku untuk kembali. 

Ataukah sebenarnya aku ingin lari? Lari dari semua tanggung jawab di perantauanku? Tapi mau sampai kapan? Selalu kuingatkan diriku sendiri, bahwa aku sudah dewasa. Saatnya berusaha menjalani semua sendiri, pelan-pelan lepas dari punggung orang tua. Tidak mungkin selamanya aku bisa ada dalam pelukan mereka. Ah, bahkan aku mendengar suara bapak dan ibu di telepon saja sudah ingin menangis.

Bapak, Ibu, kalianlah 'rumah' pertamaku. Maafkan aku yang masih sering menghindar dari kedewasaan. Selalu ingin tenggelam dalam pelukan kalian. Aku masih belajar untuk 'hidup'. Aku masih sering mengecewakan dan merepotkan kalian, dengan tingkahku yang manja, malas, rewel. Aku malu. Bapak dan ibu selalu menuruti semua mauku, sedangkan aku masih sering lupa bersyukur. Suara bapak dan ibu di telepon, ingatan-ingatanku tentang gurauan, senyum dan tawa kalian, sungguh semua membuatku rindu. Bahkan omelan dan wajah cemberut kalian saat aku mulai berulah pun selalu membuatku ingin kembali ke masa kecil. Masa dimana aku sering merengek minta es krim atau sekedar mampir ke pasar malam. Dimana kalian sering melerai pertengkaranku dengan kakak. Memarahiku karena aku menyembunyikan novel di balik buku pelajaran. Begitu banyak kenangan indahku bersama kalian. Untuk itu, aku berusaha untuk menjadi anak yang membuat kalian bahagia. Maafkan aku, Pak, Bu, telah banyak mengecewakan kalian, membuat kalian marah dan sedih. Maafkan aku yang masih sering lupa menjalankan amanah kalian, melupakan tugasku sebagai putri kalian. Terima kasih untuk selalu ada di saat aku ingin pulang. Terima kasih, karena Bapak-Ibulah aku ada.
Aku rindu...

Rejeki Sudah Diatur


Hari ini saya mendapat kejutan. Walaupun sudah pernah membicarakan hal ini dengan teman-teman ‘sepermainan’ saya, tetap saja begitu kejadian ya kaget juga. Kami sudah tahu dari awal cepat atau lambat hal ini akan terjadi, tapi terkejut juga begitu kejadian.

Kebetulan, tugas kuliah KWU untuk membuat bisnis semester kemarin masih jalan sampai sekarang. Waktu itu sempet ngobrol sama salah satu temen, tentang contek-contekan barang. Sempet khawatir dan lain sebagainya. Sampai akhirnya kami mendapat kesimpulan, ‘Ya udah deh, kalo dicontek biar aja. Toh, rejeki sudah ada yang ngatur. Makanya itu, kita musti bikin inovasi terus’. Dan tenanglah kami setelah meyakini kesimpulan tersebut.

Tapi begitu kejadian beneran hari ini, yaa saya akui kaget juga sih. Sempet mikir, ‘Kok gitu sih?’ Tapi setelah ngobrol-ngobrol, yaa udahlah. Inget, ide yang mendasari kami juga berasal dari orang lain. Rejeki udah ada yang ngatur. Positifnya, bisa ‘memberdayakan’ orang lain.

Tenang deh. Dan bener, begitu kita mempercayakan pada Tuhan dan mengikhlaskan sesuatu, rasa tenanglah yang kita dapat. 

KANGEN

Memang kadang hidup ini penuh keanehan. Saat kita selalu menghadapi sesuatu secara terus-menerus, kita akan merasa itu biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bahkan kita ingin segera mengakhirinya dan terbebas dari sesuatu itu. Tapi di saat sesuatu tersebut sudah hilang, kita akan merindukan saat-saat kita berkutat dengannya.

Hmm, memang membingungkan terkadang. Dulu dari awal saya kuliah, saya selalu menikmati saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana saya terbebas dari tugas, ujian, kuis atau apapun yang berkaitan dengan kuliah. Di saat-saat kosong seperti ini saya selalu bisa bersantai, tidur seharian, atau jalan-jalan dengan teman-teman. Tapi begitu mendekati ujian, biasanya seminggu sebelum ujian, saya akan ke kos teman, belajar bareng, lalu saya ketiduran di sana, tiba-tiba sudah mau malam.. Ah, rindunyaaa.... 

Sekarang, semuanya telah berlalu. Hari ini adalah menjelang libur semester dan semester depan hanya ada mata kuliah penutup masa-masa kuliah saya. Diam-diam di kamar, sendirian, semua flashback tiga tahun ini muncul di ingatan saya. Saya kangen. Saya ingin kuliah lagi, nggak usah liburan. Atau liburan tapi bareng teman-teman, jalan-jalan.. Ahh, semuanya pada pulang kampung.

Masa lalu memang menyenangkan jika dikenang dan memang hanya bisa dikenang. Bagaimanapun waktu terus berjalan ke depan. Dan sekarang saya menemukan, bahwa menjadi orang yang disibukkan oleh ini-itu, direcoki oleh deadline dan teman-teman seperjuangan, terkadang menjadi hal yang sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan daripada tidur-tiduran di kamar sendirian, direcoki oleh keheningan yang sepi.

Teman-teman, saya kangeeeen.....

Lama Tidak Menulis - Sedikit Renungan

Hai semuanyaa...
Lama sekali saya tidak menulis di blog.. Entah mengapa, semangat menulis saya kendor akkhir-akhir ini. Terkadang dapat ide mau menulis tentang sesuatu, tapi karena ditunda-tunda, jadi kelupaan deh mau nulis tentang apa.

Akhir-akhir ini, tugas yang menggunung telah menyita waktu dan tenaga saya [agak lebay]. Setiap pulang kuliah, ngerjain ini-itu terus tidur, bangun malam buat ngerjain tugas kuliah yang deadline-nya paling mepet, terus tidur lagi. Begitu setiap hari. Kalaupun sedang malas mengerjakan tugas apapun, laptop tidak akan saya sentuh. Saya lebih memilih malas-malasan di kasur, baca-baca novel, dan kegiatan tidak produktif lainnya.

Tapi sungguh, di semester ini saya sedikit banyak mulai memahami arti 'keseimbangan', tidak kurang dan tidak lebih. Ketika saya merasa lelaaahh, saya merebahkan tubuh saya, rasanya subhanallah, tidak bisa diungkapkan nikmatnya. Tidur-tiduran terasa sangat nyaman. Walaupun biasanya pun rasanya nyaman, namun tidak senyaman tidur-tiduran setelah menyelesaikan tugas dan punggung terasa pegal. Berbeda ketika liburan, tidak melakukan apa-apa, tidur-tiduran seharian, rasanya menyenangkan tapi berefek badan lemas dan kepala pusing (saking males-e, hehehe)

Dan keseimbangan, tidak lebih dan tidak kurang itulah yang kemudian akan menjadikan hal kecil saja patut untuk disyukuri. Mungkin benar kata Bu Kartini, habis gelap, terbitlah terang. Karena setelah kita merasakan gelap, setitik cahaya saja akan bisa membuat kita bersyukur.Setelah kita merasakan sulit, hal yang tidak terlalu mudah pun akan terasa mudah. Bahasa mulai belibet, efek ngantuk.

Yahh, postingan gak jelas kali ini tampaknya hanya sebagai posting 'menyapa' dunia blogger saja, sebagai sedikit pengingat keberadaan saya. Heheheheheheee

Regards,

New Year Again = UAS di Depan Mata

Wah, gak kerasa tiba-tiba tahun sudah berubah lagi. Benar-benar waktu berlari begitu cepat..Hmmm..Apa ada perubahan dari tahun-tahun sebelumnya? Apa ada rencana perubahan untuk tahun ini?

Kalau saya pikir-pikir lagi, sepertinya tidak ada perubahan apapun dari diri saya [poor me].. Memang saya adalah tipe orang yang tidak pernah mematok target A B C, bikin plan A sampe Z, membuat resolusi harus begini harus begitu.. Saya terbiasa mengalir begitu saja, mengikuti mood saya mengajak saya kemana. Yeah, mungkin dari sini terlihat sekali saya orang yang belum mempunyai pendirian, eh?

Tapi prinsip saya, saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Yah, intinya saya juga mau dong menjadi manusia yang lebih baik lagi, walaupun kalau diminta menjelaskan 'lebih baik lagi' yang bagaimana saya juga tidak bisa menjelaskan. Intinya, saya akan terus memandang ke depan, belajar dari kesalahan-kesalahan yang lalu dan berusaha memperbaiki yang bisa diperbaiki, tidak mengulangi yang tidak bisa diperbaiki. Dengan begitulah cara saya menjadi manusia yang lebih baik. Hehe...

Tahun 2012 ini, semoga kita semua tidak mengulangi kesalahan 2011, melanjutkan kebaikan 2011, menjadi manusia yang semakin berguna dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Dan ada doa terpenting di tahun baru ini. Semoga UAS berjalan lancar, diberi kemudahan, petunjuk, dan semoga ada keajaiban nilai-nilai saya lulus semua. Amiiiiin...

Fighting!! 

Membaca dan Menulis Sejak Kecil

Hari ini, saya sudah mati gaya berlibur di kampung halaman saya. Karena kemarin saya pikir akan sebentar saja di sini, saya tidak membawa properti liburan saya, ssemacam buku bacaan, dvd, dan sejenisnya. Akhirnya, saya meminjam buku bacaan milik adik saya.

Namanya anak SD, buku bacaannya ya buku bacaan anak-anak, yang masuk kategori Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Novelnya tipis saja, dengan cover yang imut-imut. Sehari ini saja saya sudah selesai dua buku. Ceritanya cukup menarik, sih, dengan bahasa yang khas anak-anak, membuat saya tersenyum sendiri bukan karena ceritanya yang lucu tapi isi khayalannya yang super dan penggambarannya yang polos sekali.

IMHO, sudah hebat banget anak kecil umur 10 tahun (bahkan kurang), bisa menulis novel, walaupun tidak terlalu tebal. At least, mereka sudah pintar menuangkan pikirannya melalui tulisan. Padahal kita yang sudah besar saja, terkadang sulit sekali menulis dan merangkai kata-kata menjadi satu kalimat sederhana saja.

Saya ingat, dulu zaman saya SD kelas 2, ibu saya membelikan saya buku diary kecil bergambar Winnie the Pooh. Beliau meminta saya untuk menulis apa yang terjadi di hari-hari saya setiap hari. Kebiasaan menulis buku harian itu berlanjut sampai saya SMP. Sampai saat itu pula, saya merasa jauh lebih mudah menuliskan pikiran saya, daripada mengungkapkannya secara lisan. Namun sayangnya, sejak SMA saya tidak pernah lagi menulis buku harian karena malas. Setelah itu, saya benar-benar tidak menulis apa-apa dan mulai kesulitan membuat tulisan. Padahal, saya merasakan manfaat dari menulis buku harian. Paling tidak, bisa menjadi hiburan begitu membacanya ulang bertahun-tahun kemudian.

Jadi, saya pikir, mungkin akan sangat baik jika anak-anak dikenalkan dengan dunia tulis-menulis sejak dini. Mereka akan bisa menuliskan ide-ide kecilnya, yang mungkin suatu saat nanti akan menjadi ide besar. Dengan suka menulis juga, seorang anak akan suka membaca untuk mencari inspirasi atau ide sebagai bahan tulisannya. Dan hal itu otomatis akan memperkaya pengetahuan anak-anak. Saya rasa, Indonesia zaman sekarang sangat membutuhkan orang-orang cerdas yang mau membaca dan menulis, tidak hanya bersuara tanpa dasar ilmu seperti banyak orang yang ada di negara kita tercinta ini.

Nah, kalau begitu, mari jadikan membaca dan menulis sebagai hobi adik-adik kita dan anak-anak kita kelak! :D

Dedicated for My Best Friend

Dear, Sahabatku..

Kamu mungkin tidak membaca tulisanku ini. Mungkin kamu sibuk, mungkin kamu tidak mempunyai cukup waktu untuk hal sesimpel ini. Sungguh, aku mengerti kesibukanmu di tengah riuhnya hidup ini.

Di tengah semua masalah yang kau hadapi, aku tahu semua perkataanku padamu tidak semudah kedengarannya. Sungguh aku tahu beratnya beban yang kamu tanggung, Kawan. Jika aku adalah kamu, mungkin aku tidak akan sekuat kamu. Aku yang masih suka bersenang-senang, tidak peduli ada orang lain yang sedang bersedih. Aku yang masih tidak berpikir sulitnya mendapatkan uang untuk sekedar makan. Ya, Sahabatku, aku tahu aku tidak akan sanggup menanggung beban yang sanggup kau tanggung hampir seumur hidupmu. Tapi itulah kuasa Tuhan. Dia tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Itu artinya, kamu adalah orang yang kuat, Kawan. Janganlah kamu berkata, "aku gak kuat hidup seperti ini". Karena Tuhan tahu kamu sanggup

Sungguh, aku sangat ingin ada di sana. Menemanimu, walaupun mungkin aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mendengarkan keluh kesahmu, atau sekedar menangis bersamamu. Tapi aku tahu, kamu pasti paham dengan keadaan ini. Tidak mungkin untuk aku selalu ada di sana, dan tidak mungkin juga untuk kamu selalu ada di sini. Tapi walaupun aku tidak bisa secara nyata ada di sampingmu, ingatlah Kawan, aku akan berusaha untuk selalu ada untuk kamu berbagi. Aku akan berusaha.

Sahabatku, apa kamu tahu bahwa selama ini aku kagum padamu? Kamu adalah orang yang sangat kuat. Tidak pernah mengeluh di tengah semua masalah. Walau aku tahu betapa hancur hatimu setiap kamu berbagi cerita dan menangis denganku. Tapi kamu tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Sungguh, Kawan, kamu adalah orang yang hebat. Padahal aku, yang hanya menghadapi masalah kecil saja, yang tidak ada apa-apanya dibanding keadaanmu, seringkali mengeluh dan menunjuk orang lain yang salah. Ah, betapa kekanak-kanakannya diriku.

Kawan, bersabarlah di tengah semua masalah. Ikhlaskan semua keadaan yang menimpamu. Maaf, aku hanya bisa berkata itu dan tidak bisa berbuat lebih. Aku tahu, nasehatku sangat mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan. Tapi aku tidak punya kalimat lain yang bisa kuucapkan. Bahkan untuk menghiburmu saja aku tidak tahu harus berbuat apa. Maafkan sahabatmu yang tidak berdaya ini, Kawan. Mungkin semua cobaan ini adalah kunci surga untukmu jika kamu lulus melaluinya.

Maafkan aku, Sahabatku, aku tidak ada di saat kamu membutuhkanku. Ketegaranmu selama ini selalu menjadi pembelajaran bagiku dan orang-orang di sekitarmu untuk bisa lebih dewasa. Aku kagum padamu, Sahabatku...

Dedicated for my bestfriend out there..


*I cried hard over writing all of this

UTS yang Kelam


Finally, saya kembali ngeblog.. Setelah 2 minggu kemarin terkungkung oleh penjara UTS yang memusingkan..
Sebenarnya, lagi-lagi, karena nggak nyicil belajar dari awal. Baru deh H- 1 minggu sebelum ujian heboh cari bahan slide, copy catetan temen, ngrangkum kitab pegangan dan slide seadanya. Kacau deh..


Dan hal ini terjadi setiap akan ujian, UTS maupun UAS. Mungkin dulu, ketika masih semester awal-awal sistem kebut seminggu masih manjur lah.. Yah, at least, masih bisa ditolerir karena materi tidak terlalu banyak. Tapi ternyata, sekarang sistem itu sudah out of date. Tapiii.. Biasanya paradigma seperti ini selalu saya ambil ketika akan, sedang, dan setelah musim ujian berlangsung. Pada masa-masa itu, tekad kuat membara untuk saya belajar lebih rajin di waktu kuliah. Namun entah kenapa, biasanya di minggu ketiga kuliah pasca UTS atau pasca liburan semester, tekad itu lenyap sudah. Yeah, I know me so well.

Mungkin sudah waktunya, makin tua saya untuk makin konsisten dengan tekad awal saya. Komitmen harus lebih dijaga dan itu butuh usaha ekstra melihat saya adalah orang yang sangat mudah bosan dan berubah pikiran sesuai suasana hati. Tapi kalau tidak saya sendiri yang memaksa diri saya sendiri, saya tahu, tidak akan ada orang lain yang bisa. Hehehe

Ingatlah, Kawan, yang tahu apa yang harus dilakukan untuk diri kita, ya diri kita sendiri. Karena setiap orang mempunyai cara khusus yang efektif untuk memperlakukan dirinya sendiri dan yang tahu itu ya diri kita sendiri.

"Jadilah orang yang pertama, jangan menjadi yang kedua, apalagi yang ketiga. Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk daripada kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka" (HR. Thabrani)

Makanya, mari kita mulai perbaiki diri kita terus menerus. Semangat! :)

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...