New Year Again = UAS di Depan Mata

Wah, gak kerasa tiba-tiba tahun sudah berubah lagi. Benar-benar waktu berlari begitu cepat..Hmmm..Apa ada perubahan dari tahun-tahun sebelumnya? Apa ada rencana perubahan untuk tahun ini?

Kalau saya pikir-pikir lagi, sepertinya tidak ada perubahan apapun dari diri saya [poor me].. Memang saya adalah tipe orang yang tidak pernah mematok target A B C, bikin plan A sampe Z, membuat resolusi harus begini harus begitu.. Saya terbiasa mengalir begitu saja, mengikuti mood saya mengajak saya kemana. Yeah, mungkin dari sini terlihat sekali saya orang yang belum mempunyai pendirian, eh?

Tapi prinsip saya, saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Yah, intinya saya juga mau dong menjadi manusia yang lebih baik lagi, walaupun kalau diminta menjelaskan 'lebih baik lagi' yang bagaimana saya juga tidak bisa menjelaskan. Intinya, saya akan terus memandang ke depan, belajar dari kesalahan-kesalahan yang lalu dan berusaha memperbaiki yang bisa diperbaiki, tidak mengulangi yang tidak bisa diperbaiki. Dengan begitulah cara saya menjadi manusia yang lebih baik. Hehe...

Tahun 2012 ini, semoga kita semua tidak mengulangi kesalahan 2011, melanjutkan kebaikan 2011, menjadi manusia yang semakin berguna dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Dan ada doa terpenting di tahun baru ini. Semoga UAS berjalan lancar, diberi kemudahan, petunjuk, dan semoga ada keajaiban nilai-nilai saya lulus semua. Amiiiiin...

Fighting!! 

My Hometown (Jember) Travel Destination

Akhir-akhir ini sering sekali saya mendengar rencana teman-teman untuk berlibur di san-sini, bahkan cukup sering mendengar Kota Jember, khususnya Pantai Papuma, menjadi tujuan wisata. Wah, ternyata Pantai Papuma sudah mulai terkenal, nih. Dari pendapat beberapa teman dari luar kota yang sudah ke sana, sih, Papuma memberi kesan positif. Ada yang bilang bagus, bagus banget, hingga ada yang merekomendasikan lawan bicara untuk ke sana.

Begitu juga dengan teman saya yang ingin berlibur dan sedang survey tempat, sering menanyakan pendapat saya tentang Papuma, dengan asumsi saya kan orang Jember, jadi dianggap bisa memberi info yang akurat tajam terpercaya. Padahal saya sendiri jarang sekali ke sana. Pertama kali saya ke sana [yang saya sadar] hampir sekitar 3 tahun yang lalu. Dulunya sih [katanya] saya pernah ke sana, tapi waktu masih kecil, jadi saya lupa. hehe..

Menurut saya, sih, dari kunjungan terakhir saya ke Papuma [3 tahun lalu], Papuma cukup bagus dan indah. Pantainya cukup bersih, walaupun tidak bersih-bersih amat. Memang, saya jarang rekreasi ke pantai, tapi saya masih bisa kok memberi pendapat tentang bagus-tidaknya sebuah pantai. Jadi, intinya, Papuma adalah pantai yang cukup bagus untuk dikunjungi, asal tidak sedang waktu-waktu ramai. Bisa saya bayangkan, saat ramai Papuma akan seperti dawet, karena pantainya tidak terlalu luas. Plus, Papuma sudah menjadi tujuan 'kencan' pasangan-pasangan muda yang terkadang tidak enak 'dilihat'. Hehe..

penampakan dari atas. sepertinya sedikit ada editan tuh :p
Pas sepi
Nah, di sebelah Pantai Papuma, ada pantai Watu Ulo, yang merupakan pantai selatan sehingga ombaknya besar. Saya sendiri tidak pernah ke Watu Ulo-nya karena takut ombak besar. Hehe

Konon katanya, nama Watu Ulo yang dalam Bahasa Indonesia berarti Batu Ular, berasal dari legenda tentang seekor naga raksasa yang menjelma menjadi penunggu tanah pesisir selatan Pulau Jawa. Ada yang bilang kalau ular naga tersebut sangat besar. Ekor ular tersebut itu saja ada di pesisir kota Banyuwangi, sehingga tipe ombak di situ yang cenderung 'menyabet' dan berbahaya bagi pengunjung. Sedangkan badan ular tersebut berada di Watu Ulo yang ada di sebelah Pantai Papuma sehingga tipe ombaknya cenderung menggulung dan ganas. Oleh karena itu, Pantai Watu Ulo termasuk daerah terlarang untuk berenang para pengunjung. Dan kepala ular tersebut ada di Kota Puger, sehingga tipe ombak di daerah ini cenderung mencaplok dan juga berbahaya bagi pengunjung.

Selain Pantai Papuma dan Watu Ulo, ada tempat wisata lain di Jember yang masih jarang dibicarakan. Namanya Taman Nasional Meru Betiri atau nama lainnya Bandealit. Lokasinya di Desa Andongrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Jaraknya +/- 60 km dari kota. Di sana terdapat banyak tumbuhan [namanya juga taman nasional], khususnya tanaman berkhasiat jamu, juga ada olahraga turun tebing Gunung Sodung, ada Goa Jepang dengan tinggi 20dpl, ada Teluk Meru dan Teluk Bandealit dengan pasir putihnya yang bisa untuk olahraga jet ski, selancar angin, berenang, kano, memancing, dan lain-lain, bahkan perkembangbiakan penyu.

Dulu, saya pernah ke sana. Lagi-lagi di zaman kecil saya, tapi saya masih ingat karena efek perjalanan ke sana yang cukup keras. Jalannya masih berbatu [baca: bergelombang], yang bahkan Anda akan berasa naik perahu padahal naik mobil saking guncangnya. Jadi, jangan sekali-kali membawa mobil sedan untuk ke sana. Dulu saja saya naik ambulan. Hehe.. Tapi bisa disimpulkan, dengan akses jalan yang masih buruk seperti itu, keindahan alami lah yang akan didapat karena belum banyak tangan-tangan usil yang menjamah. Berdasarkan sisa-sisa ingatan masa kecil saya, saya menyimpulkan, Meru Betiri sangat recommended untuk dikunjungi.
indah banget yaa... :D
Banteng Jawa, jagoan di TN Meru Betiri. Mirip sapi ya?? Hehe..
Pantai Bandealit
Pantai Rajegwesi
Teluk Damai
Jembatan di TN
Selain itu, TN Meru Betiri memiliki potensi satwa dilindungi yang terdiri dari 29 jenis mamalia dan 180 jenis burung. Satwa tersebut diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), macan tutul (Panthera pardus melas),rusa (Cervus timorensis russa), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), bajing terbang ekor merah (lomys horsfieldii), merak (Pavo muticus), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu ridel/lekang (Lepidochelys olivacea) dan ajag (Cuon alpinus javanicus). TN Meru Betiri juga dikenal sebagai habitat terakhir harimau loreng jawa (Panthera tigris sondaica) yang langka dan dilindungi. Sampai saat ini, satwa tersebut tidak pernah dapat ditemukan lagi dan diperkirakan telah punah.

Ada lagi objek wisata alam Air Terjun Tancak. Kalau yang satu ini, saya tidak pernah mengunjungi. Jadi, saya beri fotonya saja, yaa.. hehe


Setahu saya, jalan ke air terjun ini juga masih cukup 'menantang' jadi bisa diperkirakan keadaan alamnya masih natural. Air terjun Tancak memiliki ketinggian 82 meter dan debit air 150 meter kubik per detik. Namun, sejak terjadi banjir bandang yang menyerang Desa Suci Panti, tempat keberadaan air terjun ini, pada tahun 2005, jalan satu-satunya menuju air terjun hilang, sehingga jarang sekali wisatawan yang berkunjung.

Sebenarnya masih ada lagi tempat wisata di Jember, tapi lebih bersifat komersil dan banyak campur tangan manusia, sehingga saya malas menulis di sini. Saya beri fotonya saja, yaa...

tempat wisata Rembangan
trek downhill di Rembangan
pemandangan sepanjang perjalanan ke Rembangan
Taman Botani. Katanya sih, ada kolam renang khusus muslimahnya, lho, sekarang :D

Oh iya, kalo datang di Bulan Agustus [kalau gak salah], biasanya di Jember juga ada acara hiburan yang bagus banget. Judulnya adalah Jember Fashion Carnival, sebuah karnaval dengan kostum unik yang temanya selalu berbeda setiap tahunnya. Jadi ini acara ibarat peragaan busana, yang biasanya unik, dengan catwalk jalan raya yang cukup jauh. Jadi para peserta harus berlenggak-lenggok dan menari di beberapa spot sepanjang jalan. Jadi, acara akan berlangsung dari siang hingga malam. Nih, beberapa gambarnya...






Nah, jadi, sekarang kalau mau liburan di Jember, jadi banyak pilihan kan mau rekreasi dimana? Lumayan, lah, daripada suntuk di Kota Surabaya yang rekreasi mall melulu..Hehe...

Curhat Sedikit Tentang Hasil Survey Hari Ini

Hari ini saya dan beberapa teman saya cuci mata ke Madura untuk survey tempat KKN saya bulan depan. Bagi beberapa teman saya, tadi adalah survey kedua, sedangkan bagi saya masih yang pertama.

Perjalanan ke sana berlangsung cukup menyenangkan. Pemandangan juga indah. Hamparan sawah luas sejauh mata memandang, gunung di kejauhan, rumah tidak terlalu rapat. Yah, seperti daerah-daerah desa pada umumnya. Jalannya pun cukup bagus, walaupun cukup sering menemui jalan yang tidak mulus dan aspal yang lubang-lubang, tapi semua masih bisa ditolerir.

Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di desa calon tempat tinggal kami selama sebulan. Serius, desanya masih desa sekali, bahkan lebih desa daripada Desa Pancakarya. Ya, memang saya tidak pernah tahu Desa Pancakarya yang sampai ke dalam-dalam sih, tapi dilihat dari kemudahan jangkauan transportasi dan tingkat kebersihannya sih bisa saya asumsikan bahwa Desa Pancakarya masih sangat 'kota' daripada desa yang tadi saya kunjungi.

Pertama kami datang, kami disuguhi teh manis [sekali] hangat. Saya dengar dari cerita teman pasca survey pertama, sih, air itu berasal dari air sungai. Tapi tadi saya melihat rupa airnya cukup jernih, seperti air teh pada umumnya, jadi ya saya minum saja. Alhamdulillah, sampai sekarang, sekitar 8 jam pasca minum, perut saya baik-baik saja. Saya lega, berarti saya masih bisa selamat dari dehidrasi di sana. 

Lalu kami berjalan ke rumah seorang ustad yang mengajar di TK dan Madrasah di sana. Perjalanan cukup menyenangkan, melewati pematang sawah yang lebar, tidak berlumpur [karena tidak hujan], juga tidak terlalu jauh. Tapi saya jadi tahu, kalau desa yang akan kami tempati itu panas. Jadi saya sepertinya tidak perlu khawatir terserang penyakit-akibat-kedinginan saya saat KKN nanti. 

Sebelum kami beranjak pulang, saya menyempatkan diri untuk melihat secara langsung ICON dari desa saya : Jamban Cemplung, yang mendadak terkenal sejak survey pertama teman-teman saya dan selalu menjadi trending topic setiap rapat kami. Kemarin-kemarin sih, saya akhirnya bisa menata mental melihat foto jamban itu. Tapi tadi, setelah saya melihat secara langsung, OH NO! Jamban itu dihiasi cipratan-cipratan berwarna kuning yang tidak jelas [maaf, agak jorok]!! Bagaikan melihat emas, saya akhirnya mundur teratur, mengurungkan diri untuk melihat lebih dekat. Sayangnya ingatan itu terlanjur melekat kuat di kepala saya dan mental saya yang sudah tertata kemarin-kemarin runtuh sudah.


jamban dari luar..monggo diintip...


ini namanya jamban cemplung, icon desa kami yang happening banget jadi bahan pikiran..


Akhirnya, kami pulang dengan berjuta cita-cita tentang program kerja kami nanti berdasar hasil survey hari ini. Saya sendiri semakin bingung dengan program kerja ekonomi karena melihat pola hidup mereka yang sudah stagnan, lahan yang potensial tapi belum dimanfaatkan, hasil bumi yang banyak tapi belum menambah nilai dan lain-lain. Sebenarnya ada cita-cita mau bikin ini-itu,tapi sumber daya manusia yang saya punya sepertinya tidak menguasai. Sampai akhirnya lamunan saya terpecah karena kami berhenti di puskesmas pembantu untuk bertanya masalah tingkat kesehatan desa.

Beberapa lama kami di sana, 'mewawancarai' bu bidan yang bertugas di puskesmas itu. Ya, bu bidan, bukan dokter, bersama suaminya yang perawat.puskesmasnya kecil saja, dengan 1 toilet pasien yang bersih, 2 ruang periksa, dan 1 ruang tunggu yang kecil. Puskesmas itu bersebelahan dengan rumah dinas bu bidan yang juga kecil tapi bersih. Kami duduk-duduk di ruang tunggu dan berbincang-bincang dengan bu bidan. Sampai akhirnya ada 1 pertanyaan penting [untuk cewek] yang sejak awal menjadi misteri bagi kami sekelompok.

Percakapan antara kami (K) dan Bu Bidan (B):
K: "Oh iya, Bu, kalau orang sini datang bulan, pakai apa, Bu?"
B: "Pakai softek kok, Mbak"
K: "Terus buangnya gimana? Dicuci dulu baru dibuang atau langsung dibuang begitu saja, Bu?"
B: "Nah, kalau orang sini ya langsung dibuang, Mbak...."
K: (berpikir, mencerna perkataan Bu Bidan)
B: "Masalahnya, mereka buangnya di sungai, Mbak..." (dengan wajah yang masih tenang)
K: (Shock) "Lhah, kan kalo minum pakai air sungai, Bu, tapi kok..." (sudah tidak sanggup berkata-kata)
B: "Ya itu dia masalahnya..."

Wah, berita di atas menjadi penutup perjalanan kami yang menakjubkan...

Dan pikiran yang masih tersisa di benak saya sampai sekarang, bagaimana bisa di dunia yang serba modern seperti sekarang ini, masih ada desa seperti itu yang tersisa..Wallahualam...

Guru itu...

Awalnya saya mengajari adik sepupu saya yang masih SMP mengerjakan soal-soal matematika. Saya heran kok sepertinya dia tidak bisa sama sekali mengerjakan soal faktorisasi aljabar. Lalu akhirnya saya semakin heran mendengarkan ceritanya tentang guru matematikanya. Guru itu akan marah jika ada siswa bertanya, bahkan mengancam akan mencoret wajah siswa yang bertanya. Nah lho, guru macam apa itu?

Bukankah guru seharusnya senang kalau ada siswa yang bertanya? Artinya, kan, siswa memperhatikan dan mau berpikir sehingga menemukan sesuatu yang tidak dia mengerti. Tapi juga jangan yang tanya terus juga sih, malu-maluin malah.. Hehe..

Menurut saya, guru zaman sekarang aneh. Banyak yang tidak suka menerangkan pelajaran di kelas dengan alasan supaya siswa lebih aktif mencari sendiri ilmunya. Padahal, menurut saya pribadi, siswa juga manusia, yang banyak dari mereka punya karakter X seperti saya yang akan malas mencari-cari sampai 'disodorkan' di hadapan saya. Jadi, bagaimanapun, menerangkan materi tetap menjadi kewajiban guru, lalu bisa dilanjutkan memberi tugas atau apa yang 'memaksa' siswa untuk eksplorasi sendiri. cmiiw

Keanehan yang kedua, guru selalu menekan siswa untuk mendapat nilai bagus. Sebenarnya bukan hanya guru, tapi juga orang tua dan lingkungan sekitar (agak oot nih), tapi orang tua dan lingkungan, kan, bisa dibilang 'guru' 
kita juga. Nah, tekanan tentang nilai ini merupakan hal yang bisa berimbas negatif untuk siswa. Akhirnya siswa 'terpaksa' untuk nyontek, ngerpek, dan lain-lain demi nilai bagus, tapi gak dapet ilmu yang sebenarnya. Dapet, sih, ilmu ngerpek. Hehehe, ini alibi bukan?

Jadi ingat film Gokusen dari Jepang, sama film God of Study dari Korea, yang menunjukkan sosok guru yang sesungguhnya. Menekankan pada siswa, bahwa yang penting adalah proses, bukan hasil. Bahwa guru memang adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Lha, guru sekarang justru memberi peluang untuk siswa nyontek saat UAN? Hehe..

Nih, sayakasih spoiler cover filmnya.. Hehee, gak penting --a
Film Gokusen dari Jepang

Film God of Study dari Korea

Saya jadi berpikir, bahwa guru berkewajiban tidak hanya mengajarkan kepada siswa pelajaran, melainkan guru juga harus menanamkan kesadaran pada siswa bahwa yang mereka butuhkan adalah ilmu, bukan nilai. Guru harus bisa memotivasi siswa supaya mau terus belajar bagaimanapun caranya. Bahkan guru tidak hanya wajib mengajari siswa tentang ilmu pelajaran, tapi juga mengajari moral kepada siswa. Itulah mengapa guru adalah orang tua kedua. Dan itulah mengapa guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Karena guru 'yang benar' memberi kita ilmu yang bermanfaat yang akan kita gunakan di kehidupan sampai kita mati. 

Banyak Pilihan, Memudahkan atau Menyulitkan?

swatch pilihan warna di kulit orang lain. Enaknya kalo 'mampu' beli langsung banyak gituu..hehehe

Pilihan warna produk. Ini masih satu produk, gimana kalo banyak??? Belum merk yang lain  >,<

Keberagaman, katanya sih akan memudahkan konsumen memilih barang mana yang paling cocok untuknya. Karena semakin banyak pilihan, konsumen bisa memilih satu per satu produk mana yang bernilai paling sesuai dengan nilai yang diharapkan konsumen. Namun, menurut saya pribadi, kenyataannya justru sebaliknya. Semakin banyak jenis barang, konsumen akan semakin sulit memilih mana yang paling baik untuk dirinya. Ataukah hanya saya saja yang merasakan demikian?

Jujur, saya adalah konsumen yang labil. Saya mudah sekali tergoda dengan iklan, yang umumnya menawarkan value produk yang menggiurkan. Intinya saya sering jadi korban iklan deh. Bisa dibilang, saya bukan konsumen loyal, yang akan memakai satu produk tertentu jika cocok. Saya cenderung akan mencoba produk lain walaupun sudah cocok dengan satu produk dan akan terus begitu sampai saya sadar bahwa tidak ada produk yang secocok produk pertama. Bisa dibayangkan betapa labilnya saya? Hehehee..

Ada satu kegiatan yang paling membuat saya kesal dalam hal 'banyak pilihan' ini, yaitu ketika ingin membeli produk kosmetik via online. Kenapa online? Karena lebih murah. Kenapa bingung? Karena terlalu banyak pilihan. Ada banyak sekali produk, dan masing-masing produk memiliki warna yang berbeda. Sulitnya ketika membeli kosmetik online adalah kita tida bisa mencoba langsung ke kulit kita dan melihat kecocokannya. Tidak seperti ketika membeli baju via online yang hanya lihat model, deskripsi produk, ukuran dan membandingkan harga dari satu toko ke toko lain, ketika membeli kosmetik online kita juga harus melihat review dari forum satu ke forum lain, bahkan mencari swatch warna kosmetik yang ada. Namun, sayangnya kulit tiap orang berbeda.

Yang membuat saya heran, dengan semua kerempongan itu, mengapa saya masih mau membeli kosmetik via online? Jawaban saya yang pasti, karena harganya jauh lebih murah daripada membeli via offline. Padahal, in my humble opinion, membeli kosmetik via online sejatinya justru akan menghabiskan lebih banyak uang kita. Mengapa? Karena akan menstimuli kita membeli beberapa warna sekaligus dengan asumsi 'sekalian ongkirnya deh,daripada beli satu ternyata warnanya nggak cocok?' Selain itu membeli kosmetik via online cenderung membuat kita memebeli dua kali, jika terlanjur beli satu atau beberapa ternyata nggak cocok dengan jenis atau warna kulit kita.

Menurut saya, semua itu pada dasarnya akibat begitu banyak pilihan produk di sekitar kita. Coba hanya tersedia satu produk atau beberapa produk dengan satu macam warna saja. Kita kan tinggal memilih berdasarkan harga, atau berdasarkan merk, atau dasar penilaian kita yang lain.
Jadi, apakah banyak pilihan selalu berarti baik??

Dahsyatnya Toko Online

Dewasa ini, hampir semua produk memasarkan produknya dengan memanfaatkan teknologi internet. Bahkan tidak jarang mereka menggenjot penjualan lebih besar fokus pada penjualan online.

Saya pertama kali membeli barang via online sekitar dua tahun lalu, tepatnya awal saya kuliah di luar kota. Maklum, rumah saya dulu tidak terjangkau pos (sepertinya), jadi saya tidak pernah coba-coba beli online daripada barang tidak sampai. Tapi sejak saya mencoba belanja online dulu, jujur saya sempat ketagihan. Setidaknya hampir setiap bulan saya belanja online satu kali. Bisa dibayangkan bagaimana borosnya saya?

Ya, saya merasakan sensasi tersendiri ketika membeli barang via online. Pertama, melihat-lihat barang yang sangaaat beragam di internet, lalu menemukan yang paling sreg dan yang paling murah di antara barang sejenis. Akhirnya deal untuk purchase barang tersebut, lalu transfer uang. Beberapa hari kemudian, biasanya 2 hari, barang sampai. Bapak jasa pengiriman datang dan berteriak, "Paket!" sambil ketok-ketok pagar dan menyerahkan bungkusan. Saat itu, saya berasa dapat kado, bingkisan, nggak sabar untuk segera membuka. Padahal, saya bayar kan untuk bingkisan itu, tapi entah mengapa kok tetap merasa seperti dapat kado. Hehehe..

Pernah, sih, setelah membeli barang timbul kekecewaan. Misalnya ketika beli baju online, ternyata bajunya kekecilan (yang kemudian disambut senyuman adik sepupu). Menyesal sekali, sudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak bisa dipakai. Tapi kadang-kadang barang yang saya beli memuaskan, tapi saya tetap menyesal. Mengapa? Hal itu biasa terjadi di pertengahan sampai akhir bulan ketika uang mulai menipis dan mulai timbul pertanyaan, 'ngapain kemarin beli barang nggak penting gitu, ya?'

Saya terkadang berpikir, apa saya saja yang merasa demikian? Merasa sensasi ketagihan dan penyesalan (kadang-kadang)? Dan ternyata jawabannya melegakan, karena saya tidak sendiri. hehehe... Beberapa waktu yang lalu, ada teman saya yang baru pertama kali membeli barang via online, beli baju lebih tepatnya. Sejak saat itu, saya lihat dia rajin sekali memantau perkembangan toko online dan membeli online lagi beberapa kali. Sempat juga saya bertanya kepada teman yang lain, apa pernah dia menyesal setelah belanja online? Dia jawab pernah. Kadang ketika akan transfer, tapi sudah terlanjur pesan dan nggak enak mau membatalkan pesanan. Kadang juga karena barang yang dibeli tidak cocok dan akhirnya tidak terpakai. Yes, ternyata saya tidak sendiri. Hehe..

Setelah lama saya amati, saya mulai mengerti mengapa toko online bisa berjaya. Alasan yang klise karena menarik, banyak pilihan, praktis, dan nggak sungkan kalau mau lihat-lihat atau tanya-tanya saja. Tapi menurut saya, yang paling membuat toko online laris adalah karena impuls membeli terjadi lebih cepat. Konsumen melihat barang yang menarik, bisa saja langsung memutuskan untuk membeli dan membuat perjanjian transaksi dengan penjual. Sedangkan di toko konvensional, pembeli bisa memilih barang jalan-jalan dulu, cobain barangnya dulu, banding-bandingin dulu, bahkan kadang kalau capek, malah nggak jadi beli. Hehehe..


Berdasarkan pengalaman, sebenarnya efek 'kecanduan' belanja online ini bisa dihilangkan, tapi butuh waktu juga sih.. Ini kalau saya, lho, ya.. Bisa juga karena saya mudah bosan, jadi di titik tertentu saya bosan deh belanja online. Rasanya sudah tidak ada yang menarik lagi gitu. Mungkin juga karena sudah beberapa kali saya 'dikecewakan' jadi malas beli online. Atau mungkin karena saya sudah tambah dewasa dan mulai memikirkan tabungan jadi sayang mau buang-buang uang?? Gak tau lagi deh.. Hehehee...

Intinya, coba tanyakan ke diri sendiri setiap melihat barang menarik, baik online atau langsung (konvensional). Apakah barang itu penting? Sudah punya atau belum? Benar-benar sreg atau tidak? Dan yang penting, uangnya masih ada atau tidak? Hehehe....

Zaman Dulu, Zaman Sekarang

Beberapa bulan yang lalu, saya kaget karena tiba" digit pertama umur saya sudah berubah.. Sungguh tidak terasa waktu berjalan..

Saya ingat, dulu ketika saya masih kecil, saya ingin sekali segera dewasa, tumbuh besar, tinggi, pokoknya pengen cepat-cepat besar deh. Alasan saya saat itu adalah karena saya ingin segera bisa ikut dandan pakai lipstik seperti ibu saya, memakai sepatu berhak seperti ibu saya, memakai pakaian seperti orang dewasa, dan lain-lain. Begitu pula dengan adik saya. Di usia yang terpaut jauh dengan saya, dia sudah mengerti bagaimana berdandan. Berbeda dengan saya, yang dulu hanya asal mencoreng-coreng mata,pipi dan bibir pakai lipstik milik ibu, adik saya sudah tahu apa dan bagaimana menggunakan alat-alat make up seperti foundation,eyeshadow, blush on, lipstik,mascara, dan lain-lain. Mungkin karena dulu di zaman saya wanita yang saya lihat ya ibu saya yang tidak pernah memakai make up apa-apa kecuali lipstik dan bedak, sedangkan adik saya saat ini memiliki panutan baru, yaitu kakaknya yang sedang masa-masa hampir tua. Hehehe...

Dulu, zaman saya masih kecil, tontonan saya dan kakak saya adalah Power Ranger, Satria Baja Hitam, Ultraman, itupun harus numpang nonton di puskesmas sebelah rumah saya dulu. Sedangkan adik saya saat ini lebih suka menonton Barbie, Tokyo Mewmew, pokoknya film anak cewek yang unyu-unyu, yang notabene di dalamnya sudah ada unsur percintaan. Wajar saja kalau anak sekarang sudah tahu pacaran (cinta monyet) sejak di bangku SD, dimana saya dulu masih memikirkan bagaimana bisa monster yang tadinya kecil bisa jadi besar sekali dan menginjak-injak kota. Hmmm...

Dulu, zaman saya TK sampai SD (lupa kelas berapa), saya suka mendengarkan lagu anak-anak, macam susan, trio kwek-kwek, Dea Ananda, dan lain-lain. Sedangkan adik saya sekarang, masih SD kelas 5, sudah hafal lagu Avril Lavigne, Katy Perry, Bruno Mars, dan lain-lain, yang saya sendiri gak hafal, kadang gak tahu lagunya.

Dari perbandingan-perbandingan di atas, saya jadi bisa mengerti mengapa anak kecil zaman sekarang menjadi lebih cepat dewasa. Tidak heran kalau banyak sekali ababil (ABG labil) dewasa ini. *nyambung gak sih?hehe..

Saya jadi ingat tulisan di salah satu slide mata kuliah saya, bahwa ketika kita tidak menyediakan fasilitas rekreasi yang sesuai untuk anak-anak, berarti kita merampas impian dan cita-cita mereka. Masuk akal, karena saat ini tempat rekreasi adalah mall, jadilah anak-anak tumbuh sebagai manusia konsumtif, berkiblat pada tren yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa [yang sudah bisa memilih mana yang penting untuknya dan mana yang tidak]. Anak-anak sekarang lebih suka terkungkung di dalam rumah, bersama televisi, komputer dan internet, dan handphone, yang itu semua tidak merangsang ide kreatif kekanak-kanakan mereka, yang mungkin bisa menjadi ide besar nantinya. Terbukti, adik saya sulit sekali diajak untuk keluar rumah, misalnya ikut ayah saya kerja, atau ikut ke rumah teman orang tua. Berbeda dengan saya dulu ketika masih kecil yang senang sekali diajak keluar rumah, walau hanya ke rumah teman orang tua.

Ternyata, zaman sudah benar-benar berubah. Apa beberapa tahun ke depan akan semakin banyak perubahannya? Jika ya, saya harap perubahannya ke arah yang lebih baik, bukan semakin buruk. Gara-gara melihat perubahan zaman ini, saya jadi kepikiran, kalau punya anak nanti, tv dan komputer saya gembok dan boleh dibuka di waktu tertentu aja di bawah pengawasan orang tua. Hehehe..
Tapi menurut saya, yang paling penting tetap penanaman agama dan akhlak pada anak sejak kecil, supaya mereka bisa memfilter informasi yang menyerang mereka yang mungkin belum waktunya mereka dapat.

Membaca dan Menulis Sejak Kecil

Hari ini, saya sudah mati gaya berlibur di kampung halaman saya. Karena kemarin saya pikir akan sebentar saja di sini, saya tidak membawa properti liburan saya, ssemacam buku bacaan, dvd, dan sejenisnya. Akhirnya, saya meminjam buku bacaan milik adik saya.

Namanya anak SD, buku bacaannya ya buku bacaan anak-anak, yang masuk kategori Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Novelnya tipis saja, dengan cover yang imut-imut. Sehari ini saja saya sudah selesai dua buku. Ceritanya cukup menarik, sih, dengan bahasa yang khas anak-anak, membuat saya tersenyum sendiri bukan karena ceritanya yang lucu tapi isi khayalannya yang super dan penggambarannya yang polos sekali.

IMHO, sudah hebat banget anak kecil umur 10 tahun (bahkan kurang), bisa menulis novel, walaupun tidak terlalu tebal. At least, mereka sudah pintar menuangkan pikirannya melalui tulisan. Padahal kita yang sudah besar saja, terkadang sulit sekali menulis dan merangkai kata-kata menjadi satu kalimat sederhana saja.

Saya ingat, dulu zaman saya SD kelas 2, ibu saya membelikan saya buku diary kecil bergambar Winnie the Pooh. Beliau meminta saya untuk menulis apa yang terjadi di hari-hari saya setiap hari. Kebiasaan menulis buku harian itu berlanjut sampai saya SMP. Sampai saat itu pula, saya merasa jauh lebih mudah menuliskan pikiran saya, daripada mengungkapkannya secara lisan. Namun sayangnya, sejak SMA saya tidak pernah lagi menulis buku harian karena malas. Setelah itu, saya benar-benar tidak menulis apa-apa dan mulai kesulitan membuat tulisan. Padahal, saya merasakan manfaat dari menulis buku harian. Paling tidak, bisa menjadi hiburan begitu membacanya ulang bertahun-tahun kemudian.

Jadi, saya pikir, mungkin akan sangat baik jika anak-anak dikenalkan dengan dunia tulis-menulis sejak dini. Mereka akan bisa menuliskan ide-ide kecilnya, yang mungkin suatu saat nanti akan menjadi ide besar. Dengan suka menulis juga, seorang anak akan suka membaca untuk mencari inspirasi atau ide sebagai bahan tulisannya. Dan hal itu otomatis akan memperkaya pengetahuan anak-anak. Saya rasa, Indonesia zaman sekarang sangat membutuhkan orang-orang cerdas yang mau membaca dan menulis, tidak hanya bersuara tanpa dasar ilmu seperti banyak orang yang ada di negara kita tercinta ini.

Nah, kalau begitu, mari jadikan membaca dan menulis sebagai hobi adik-adik kita dan anak-anak kita kelak! :D

Gurauan Jayus Dibutuhkan [in Particular Time]

Saya habis ditebaki adik saya nih, "penggaris bisa jadi apa aja hayo?"

Saya mikir, apa ya??penggaris kan ya penggaris.. --a

Lalu, adik saya jawab sendiri, "bisa jadi belek, bisa jadi iler, bisa jadi air mata.."

Saya mikir lagi, apaaa cobaa??? Dan saya bertanya, "maksudnya?"

Dia jawab, "penggaris plastik yang lemes elastis itu lho, Mbak, kan kalo dibentuk bulet, jadi belek, kalo atasnya kasih sudut jadi air mata, iler.."

Hah?? Saya langsung shock mendengar jawabannya, yang awalnya saya pikir jawabannya akan sedikit ilmiah, ternyata.... Bayangkan aja belekmu segede itu, udah gak bisa liat kalii.. --"
Yah,, namanya anak-anak, guyonan garing gitu ya mereka anggap lucu aja..

Dan berhubung saya lagi capek banget, tebakan adik saya tadi sukses bikin saya terbahak-bahak. Bukan karena lucu, tapi karena keanehan dan kegaringannya.. Hahaha..

Jadi saya simpulkan, terkadang kita butuh adanya guyonan jayus. Tidak perlu terlalu 'serius' membuat gurauan yang benar-benar lucu, karena menurut saya membuat gurauan lucu itu membutuhkan 'kecerdasan' tersendiri. Padahal di saat kita lelah, pasti kita membutuhkan suatu hiburan. Sekecil apapun hiburan itu, pasti akan sedikit mengangkat kelelahan kita. Bahkan guyonan jayus pun, di saat yang tepat, akan bisa menjadi guyonan yang sangat lucu. Asalkan jangan orang yang BT Anda suguhi kejayusan, bisa-bisa malah kena damprat. Hehehe..

Dedicated for My Best Friend

Dear, Sahabatku..

Kamu mungkin tidak membaca tulisanku ini. Mungkin kamu sibuk, mungkin kamu tidak mempunyai cukup waktu untuk hal sesimpel ini. Sungguh, aku mengerti kesibukanmu di tengah riuhnya hidup ini.

Di tengah semua masalah yang kau hadapi, aku tahu semua perkataanku padamu tidak semudah kedengarannya. Sungguh aku tahu beratnya beban yang kamu tanggung, Kawan. Jika aku adalah kamu, mungkin aku tidak akan sekuat kamu. Aku yang masih suka bersenang-senang, tidak peduli ada orang lain yang sedang bersedih. Aku yang masih tidak berpikir sulitnya mendapatkan uang untuk sekedar makan. Ya, Sahabatku, aku tahu aku tidak akan sanggup menanggung beban yang sanggup kau tanggung hampir seumur hidupmu. Tapi itulah kuasa Tuhan. Dia tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Itu artinya, kamu adalah orang yang kuat, Kawan. Janganlah kamu berkata, "aku gak kuat hidup seperti ini". Karena Tuhan tahu kamu sanggup

Sungguh, aku sangat ingin ada di sana. Menemanimu, walaupun mungkin aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mendengarkan keluh kesahmu, atau sekedar menangis bersamamu. Tapi aku tahu, kamu pasti paham dengan keadaan ini. Tidak mungkin untuk aku selalu ada di sana, dan tidak mungkin juga untuk kamu selalu ada di sini. Tapi walaupun aku tidak bisa secara nyata ada di sampingmu, ingatlah Kawan, aku akan berusaha untuk selalu ada untuk kamu berbagi. Aku akan berusaha.

Sahabatku, apa kamu tahu bahwa selama ini aku kagum padamu? Kamu adalah orang yang sangat kuat. Tidak pernah mengeluh di tengah semua masalah. Walau aku tahu betapa hancur hatimu setiap kamu berbagi cerita dan menangis denganku. Tapi kamu tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Sungguh, Kawan, kamu adalah orang yang hebat. Padahal aku, yang hanya menghadapi masalah kecil saja, yang tidak ada apa-apanya dibanding keadaanmu, seringkali mengeluh dan menunjuk orang lain yang salah. Ah, betapa kekanak-kanakannya diriku.

Kawan, bersabarlah di tengah semua masalah. Ikhlaskan semua keadaan yang menimpamu. Maaf, aku hanya bisa berkata itu dan tidak bisa berbuat lebih. Aku tahu, nasehatku sangat mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan. Tapi aku tidak punya kalimat lain yang bisa kuucapkan. Bahkan untuk menghiburmu saja aku tidak tahu harus berbuat apa. Maafkan sahabatmu yang tidak berdaya ini, Kawan. Mungkin semua cobaan ini adalah kunci surga untukmu jika kamu lulus melaluinya.

Maafkan aku, Sahabatku, aku tidak ada di saat kamu membutuhkanku. Ketegaranmu selama ini selalu menjadi pembelajaran bagiku dan orang-orang di sekitarmu untuk bisa lebih dewasa. Aku kagum padamu, Sahabatku...

Dedicated for my bestfriend out there..


*I cried hard over writing all of this

Apa Anda Konsumen Loyal?

Pertanyaan ini cukup menyindir saya. Ya, bisa dibilang saya bukan termasuk konsumen loyal. Saya sangat suka mencoba produk-produk dengan merek berbeda-beda. Jarang sekali setia membeli produk yang sama dua kali berturut-turut. Pernah saya berpikir, mengapa harus berganti produk kalau produk yang sekarang sudah cocok? Tapi entah mengapa, setiap saya berbelanja kebutuhan bulanan, walaupun sudah saya catat apa saja yang saya butuhkan dan sudah merencanakan merek apa yang akan saya pilih, begitu saya sampai toko dan melihat begitu banyak merek yang menjanjikan ini-itu, selalu saja saya bingung lagi ingin membeli yang mana. Apa Anda juga mengalami hal yang sama?

Kemudian saya menemukan jawabannya, ketika saya membaca buku pegangan kuliah dalam rangka akan ujian. Di zaman sekarang, dimana persaingan pasar terjadi dengan sangat ketat, semakin banyak produsen yang menawarkan produk yang hampir sama satu sama lain. akibatnya, semakin sedikit perbedaan produk yang terlihat secara nyata. Selain itu, setiap merek/produk melakukan promosi dengan sangat gencar. Coba saja Anda hitung berapa iklan yang Anda lihat di setiap jeda iklan sebuah sinetron? Hehe...

Kesimpulan saya, karena hampir semua produk mirip dan mereka masing-masing menjanjikan bahwa produk mereka yang terbaik dengan gencar, wajar saja kita sebagai konsumen dibingungkan untuk memilih produk mana yang pantas dibeli SETIAP berbelanja. Tentu saja hal ini cukup membuang waktu kita sebagai konsumen dan tidak jarang produk yang kita beli ternyata hasilnya mengecewakan yang artinya kita juga membuang uang. Dengan begitu, menjadi konsumen loyal di zaman sekarang sepertinya sulit sekali. Sungguh berbeda dengan para orang tua yang umumnya jika sudah cocok satu merek di zaman mereka muda dulu, sampai sekarang mereka tua pun akan tetap memakai merek yang sama, kecuali jika merek itu sudah stop produksi. Hehehe

Nah, yang saya pertanyakan sekarang, merek-merek yang menawarkan produk hampir sama itu dan promosi yang gencar sebenarnya menguntungkan konsumen atau tidak? Menguntungkan konsumen karena banyaknya pilihan atau justru menyulitkan konsumen karena membuat mereka bingung? Yang pasti, saya menyarankan, ketika kita membuat produk kita sendiri, marilah kita membuat produk yang memiliki diferensiasi sehingga bisa mendapat konsumen yang loyal dan yang pasti tidak membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli produk kita. Siiiiip ^^d

Chapter 2 - LUNA


Akhirnya datang juga hari ini,hari dimana hasil dari audisi minggu lalu akan diumumkan. Aku sangat tidak sabar menunggu hari ini sampai-sampai bangun pagi pun aku tidak perlu dibangunkan. Dengan semangat aku mengikat rambut panjangku tinggi ke atas kepala dan turun ke ruang makan untuk sarapan. Aku menuruni tangga sambil bersenandung riang. Lalu aku lihat ibu sedang memasak di dapur.

Aku menghampirinya dan mencium pipinya, “Selamat pagi, Bu! Ibu terlihat cantik sekali hari ini,” pujiku gembira.

Ibu memandangku tidak percaya. “Ada apa? Suatu kejadian langka kau bangun sepagi ini tanpa ibu perlu meneriakimu, apalagi dengan wajah gembira seperti itu,” kata ibu sambil menyipitkan mata curiga.

“Tidak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya sedang bersemangat hari ini,” jawabku mulai khawatir ibu curiga.

“Kau bohong. Kau tahu, ibu mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, tapi ibu tahu apa yang sedang kau rasakan. Ada apa, Luna?” tanya ibu menyelidik.

“Tidak ada.”

“Lalu mengapa kau tiba-tiba khawatir? Padahal beberapa detik yang lalu kau sangat bersemangat?”

“Er, nanti ibu juga tahu. Tidak sekarang, aku akan menceritakan semua pada ibu, tapi nanti malam. Oke? Sekarang aku ingin sarapan, Bu, aku lapar sekali.”

Sesungguhnya aku masih ragu untuk menceritakan semua pada ibu dan ayah tentang keikutsertaanku dalam audisi minggu lalu. Tapi bagaimanapun, jika aku lolos audisi, mereka harus tahu, bukan? Aku tidak lolos pun, aku tetap harus bercerita pada mereka, karena aku sudah terlanjur janji pada ibu. Dan kurasa mereka akan tetap memarahiku. Setidaknya kalau aku lolos audisi, dimarahi ibu dan ayah rasanya akan ringan sekali dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan kurasakan.

Aku segera menghabiskan segelas susu cokelat yang ibu buatkan untukku dan menonton ibuku menyajikan sepiring besar omelet pedas di meja makan. Aku pun cepat-cepat mengambil piring, roti dan sepotong besar omelet pedas buatan ibu yang lezat. Aku memakan sarapanku dengan riang, sampai akhirnya ayah memasuki ruang makan, dengan koran pagi di tangan kirinya dan sepucuk amplop berwarna krem di tangan kanan. Tidak seperti biasanya, ayah tidak mengomel tentang anak laki-laki pengantar koran. Tapi aku segera merasakan emosi kemarahan besar yang ditujukan padaku. Dan aku pun segera tahu, amplop krem itulah penyebabnya. Pengumuman audisiku.

“Er, Ayah, aku bisa menjelaskan semua ini..” kataku lirih, mencoba menenangkan ayah, sebelum kemarahannya meledak.

“Menjelaskan? Tidak ada yang perlu kau jelaskan, Nona! Bukankah selama ini kami sudah melarangmu mengikuti audisi semacam ini? Kami telah berkali-kali menolak keinginanmu untuk menjadi model, artis, atau apapun yang akan membuatmu menarik perhatian! Apa kau tidak pernah berpikir sesulit apa kami berbaur di dunia ini? Apa kau tidak paham bahwa ini semua kami lakukan hanya untuk melindungimu? Kau benar-benar...”

Ayah tidak bisa lagi berkata-kata. Aku ketakutan melihat wajahnya memerah karena kemarahan. Sekilas aku melihat bayang-bayang hitam di sudut ruangan, tapi bayangan itu tidak ada ketika aku menoleh ke arahnya. Lalu aku merasakan ketakutan yang amat sangat menyelimuti diriku. Ada apa ini? Aku menatap ayah masih terdiam kaku di tempatnya, lalu beralih memandang ibu yang sedang memasang wajah khawatir memandang ayah.

Beberapa menit ruangan hening, tidak ada yang berani bersuara, hingga ibu menyentuh lengan ayah dengan lembut dan memberi isyarat padaku untuk segera pergi dari hadapan ayah. Aku memutuskan untuk cepat-cepat berangkat sekolah. Berangkat sekolah pada hari-hari biasanya terasa sangat membosankan, tapi khusus untuk hari ini, aku berangkat sekolah tidak dengan perasaan bosan. Hidupku terasa hampa saat ini dan aku tidak ingin sendirian ada di dalam kehampaan ini. Seluruh sekolah harus merasakan hal yang sama.

UTS yang Kelam


Finally, saya kembali ngeblog.. Setelah 2 minggu kemarin terkungkung oleh penjara UTS yang memusingkan..
Sebenarnya, lagi-lagi, karena nggak nyicil belajar dari awal. Baru deh H- 1 minggu sebelum ujian heboh cari bahan slide, copy catetan temen, ngrangkum kitab pegangan dan slide seadanya. Kacau deh..


Dan hal ini terjadi setiap akan ujian, UTS maupun UAS. Mungkin dulu, ketika masih semester awal-awal sistem kebut seminggu masih manjur lah.. Yah, at least, masih bisa ditolerir karena materi tidak terlalu banyak. Tapi ternyata, sekarang sistem itu sudah out of date. Tapiii.. Biasanya paradigma seperti ini selalu saya ambil ketika akan, sedang, dan setelah musim ujian berlangsung. Pada masa-masa itu, tekad kuat membara untuk saya belajar lebih rajin di waktu kuliah. Namun entah kenapa, biasanya di minggu ketiga kuliah pasca UTS atau pasca liburan semester, tekad itu lenyap sudah. Yeah, I know me so well.

Mungkin sudah waktunya, makin tua saya untuk makin konsisten dengan tekad awal saya. Komitmen harus lebih dijaga dan itu butuh usaha ekstra melihat saya adalah orang yang sangat mudah bosan dan berubah pikiran sesuai suasana hati. Tapi kalau tidak saya sendiri yang memaksa diri saya sendiri, saya tahu, tidak akan ada orang lain yang bisa. Hehehe

Ingatlah, Kawan, yang tahu apa yang harus dilakukan untuk diri kita, ya diri kita sendiri. Karena setiap orang mempunyai cara khusus yang efektif untuk memperlakukan dirinya sendiri dan yang tahu itu ya diri kita sendiri.

"Jadilah orang yang pertama, jangan menjadi yang kedua, apalagi yang ketiga. Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk daripada kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka" (HR. Thabrani)

Makanya, mari kita mulai perbaiki diri kita terus menerus. Semangat! :)

Serasi Tidak Harus Sama

Tadi saat saya sedang mengumpulkan konsentrasi untuk belajar, tiba-tiba saya teringat sepasang suami-istri yang dulu pernah saya lihat ketika sedang jalan di mal. Saat itu saya kasihan sekali dengan si Bapak yang waktu itu 'hanya' memakai kaos oblong dengan celana panjang dan sepatu sandal. Si Bapak terlihat kumus-kumus, begitu juga dengan anak laki-lakinya yang masih kecil yang saat itu ikut bersama mereka. Sedangkan, si Ibu tampil modis, dengan kulitnya yang sangat terawat, wajahnya yang full make up, bajunya dress terusan sedikit mini. Can you imagine how contrarily is it?

Nah, saya jadi ingin membahas tentang hal ini: keserasian. Menurut saya, serasi itu tidak harus sama. Misalnya memakai baju sarimbit, couple tee, dan sejenisnya. Ya, itu juga bisa dibilang serasi dan menurut saya lucu sih, keliatan kompak gitu kalau memakai baju kembaran dengan pasangan. Tapi apa iya kalau keluar dengan pasangan mesti memakai baju kembar? Tidak harus begitu juga, dong?

Bisa juga, kok, Anda tampil serasi dengan pasangan tanpa harus berkembar-kembar ria. Poin pentingnya adalah, Anda berdua tidak terlihat 'berat sebelah'. Maksud saya di sini bukan dalam artian berat badan, lho, melainkan berat sebelah dalam arti penampilan. Bukan berarti juga, ketika pasangan Anda cuek dan acuh dengan penampilan, Anda yang harus mengimbanginya dengan acuh dengan penampilan Anda. Justru ketika pasangan Anda acuh dengan penampilan, berilah dia saran. Plus, Anda sendiri juga jangan dandan terlalu 'heboh' kalau hang out  dengan dia. Khawatir dia tersinggung atau jadi malas hang out dengan Anda? Menurut saya, kalau Anda memberi sarannya dengan baik-baik dan logis, sih, dia akan mengerti, kok. Jadi, selamat mencoba! Hehe..

Chapter 1 - ALAN


Hah, apa-apaan ini? Aku terpaksa mengikuti audisi semacam ini demi uang! Yah, tapi paling tidak ketampananku akan menunjang usahaku untuk menjadi artis. Yeah, aku harus bertahan untuk bergabung di antrian panjang ini. Hanya pekerjaan sebagai artis yang tidak membutuhkan ijazah sekolah dan menghasilkan banyak uang,’ keluhku.

Aku melempar pandangan berkeliling area pendaftaran audisi yang penuh dengan manusia berpakaian heboh. Lalu aku menangkap sosok gadis berbalut gaun hijau dengan sepatu supertinggi. Rambutnya ikal dengan semburat kemerahan tampak indah di atas gaun hijaunya.

Ah, ternyata ada pemandangan menarik, nih. Cukup untuk membantuku mengusir rasa bosan mengantri.

Gadis itu tidak ikut mengantri, melainkan hanya menonton kami ribut mencari posisi antrian terdekat dengan meja registrasi. Pandangannya tampak sombong dan merendahkan. Lalu tiba-tiba mata kami bertemu. Matanya gelap dan dipenuhi kilau kepercayaan diri menatapku tertarik. Aku sangat terbiasa dengan tatapan seperti itu.

Tapi, tunggu dulu.. Sepertinya aku merasakan sesuatu dari gadis itu. Ya, auranya tidak asing lagi. Aura yang sama dengan yang dimiliki ayahku yang brengsek. Apa mereka memang berhubungan atau ini hanya kebetulan? Tapi aku tidak pernah menemukan aura semacam ini di manusia-manusia lain yang pernah aku temui.

Lalu gadis itu berjalan dengan langkah pasti ke arah meja registrasi. Aku hanya memandanginya, ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Begitu juga dengan orang-orang lain di antrian, memandang gadis itu dengan penasaran. Gadis itu berbicara sesuatu dengan suara pelan. Tidak lama kemudian petugas administrasi memberi nomor pendaftaran ke gadis itu, tanpa dia perlu antri bersama kami! Aku melotot memandang hal itu, kesal sekali karena kami semua harus mengantri sedangkan gadis itu tidak perlu repot-repot mengantri.

Apa yang gadis itu lakukan? Memberi petugas itu uang suap? Tapi sepertinya tidak. Aku tidak melihat gadis itu memberi petugas itu sesuatu apapun. Apa mereka bersaudara? Sepertinya juga tidak, mereka sama sekali tidak mirip..

Aku masih berpikir ketika tiba-tiba ada sebuah suara memasuki pikiranku, “dan begitu juga dengan kalian semua, Kawan, akan melupakan tindakanku barusan.” Lalu aku merasakan perasaan dingin yang menenangkan dan aku melihat beberapa orang di depanku mendadak tampak tenang, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi, setelah beberapa detik sebelumnya memelototi gadis itu dengan marah. Dan ketika itu pula aku tahu jawaban mengapa gadis itu bisa mendapat nomor pendaftaran tanpa mengantri: kompulsi.

... Dan itu berarti, dia salah satu dari makhluk-makhluk sialan itu. Seperti ayahku..’

Aku memperhatikan gadis itu berjalan memasuki ruang tunggu audisi dengan langkahnya yang ringan. Kuharap kami bisa bertemu lagi karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan salah satu dari Mereka, selain ayahku tentunya. Aku masih bertanya-tanya ketika dia menghilang di balik papan pembatas. Apakah gadis itu termasuk manusia Bintang Calvera?

Ada Apa dengan Lagu Anak-Anak?

Saya sering bertanya-tanya, kemana aja nih para artis cilik? Maksud saya di sini, bukan artis cilik di zaman dulu saya kecil, yang notabene mereka sudah eksis sebagai artis remaja atau dewasa. Tapi, maksud saya, artis cilik seperti zaman saya kecil dulu, yang suka menyanyi lagu anak-anak. Sepertinya, para penulis atau pencipta lagu sudah tidak lagi berminat untuk menciptakan lagu anak-anak. Mengapa? Apa karena pasarnya kurang menjanjikan? Atau karena lagu anak-anak sudah tidak menarik lagi?

Saya ingat sekali, dulu waktu saya masih kecil saya suka sekali sebuah 'girl-boyband' yang judulnya Trio Kwek-kwek. Bahkan pernah ikut pentas tari dengan lagu mereka ketika saya masih TK. [Saat itu] saya juga suka dengan artis cilik lainnya, seperti Joshua, Maissy, Sherina, dan lain-lain. Bahkan Susan, yang setelah saya besar saya baru tahu ternyata dia adalah boneka biasa. hehehe..

Saya masih sedikit ingat lirik lagu seperti ini, "Masih kecil ku ditimaang-timang, dinyanyikan lagu sayang. Sekarang aku harus belajar, jangan bikin mamaku marah-marah." Seriously, lirik lagu itu sangat saya hayati, membuat saya ikutan rajin belajar. Ngefek banget kan? Itulah anak-anak, suka ikut-ikutan, apalagi untuk sesuatu yang dia terima terus-menerus.

Nah, lalu bagaimana dengan sekarang? Di saat artis cilik zaman saya dulu sudah semakin dewasa, apakah ada artis cilik pengganti mereka? Sepertinya tidak ada. Atau hanya saya saja yang tidak gaul dengan dunia anak-anak lagi jadi saya tidak tahu ke-eksisan mereka?? Jadi, kalaupun misalnya ada, berarti mereka kurang 'dikemas' dengan baik dan tidak menarik bagi dunia anak-anak yang semakin hari semakin 'gaul' saja. Bukannya saya menganggap artis cilik itu sebagai 'barang kemasan' tapi bukankah kita semua adalah 'produk' yang harus 'dikemas' dengan baik supaya disukai? Terlebih bagi para artis yang menjual 'kemasan' mereka. Ah, terlalu banyak tanda petik di sini.. Hehehee..

Oke, kembali lagi ke topik. Sejauh yang saya lihat, anak-anak zaman sekarang bahkan hampir semua hafal lagu-lagu orang dewasa, yang saya sendiri [yang sudah dewasa] tidak hafal, bahkan tidak tahu lagunya. Padahal, lagu orang dewasa hampir selalu berisi pesan-pesan atau cerita tentang kehidupan orang dewasa, cinta-cintaan dan sejenisnya. Jadi, jangan heran kalau zaman sekarang anak SD sudah tahu patah hati, selingkuh, cara menggombal, godain cewek.. xp  Hal ini mungkin diperparah dengan keberadaan sinetron Indonesia yang... ah, jadi OOT nih. Nanti kapan-kapan saya akan menulis tentang sinetron. Tunggu tanggal mainnya saja..

Nah, jadi kasihan, kan, adik-adik/anak-anak kita? Oleh karena itu, ada baiknya kita mulai 'membangunkan' musik anak-anak yang sedang 'hibernasi'. Bukankah lebih baik kita yang mendengarkan musik anak-anak daripada anak-anak yang mendengarkan musik kita??

Chapter 1 - LUNA (2)


Taman Heatburn ramai sekali pagi ini. Walaupun audisi belum dibuka, sudah banyak orang yang hendak mengantri untuk ikut audisi. Aku melihat jam tangan, untuk mengecek berapa lama lagi audisi akan dibuka.

Hmm, masih 2  jam lagi baru audisi akan dimulai. Berdandan tidak akan memakan waktu selama itu. Berganti baju di mobil yang sepertinya akan sedikit sulit, tapi tidak akan memakan waktu terlalu lama juga. Ah, tapi bagaimana aku bisa menyela dalam kerumunan itu? Sungguh, aku benci mengantri apalagi cuaca hari ini panas sekali,’ aku menggerutu dalam hati.

Aku pindah ke kursi belakang yang memang sudah kumodifikasi untuk menjadi studio pribadiku dan memulai dengan mengganti bajuku. Beruntung kaca mobilku gelap sehingga tidak terlihat dari luar. Aku memulai ritual berdandanku. Pertama aku memakai alas bedak kemudian menumpuknya dengan bedak tabur. Aku mulai merias mata dan bibirku senada dengan warna pakaianku. Dari kaca besar yang terpasang di jendela mobil belakang, kulihat ini adalah hasil dandanan tersempurna selama hidupku. Hari ini aku memakai gaun berbahan ringan berwarna hijau tua yang akan menonjolkan rambut ikal kemerahanku. Riasan wajahku kubuat senatural mungkin supaya tidak terlihat berlebihan di siang hari yang sangat panas ini. Tak lupa kuambil sepatu highheels kesayanganku yang berwarna hitam.

Sempurna. Hari ini adalah hari yang sangat penting. Hari yang akan menentukan debutku sebagai seorang artis,’ pikirku gembira. Aku pun keluar dari mobil untuk bergabung dengan kerumunan peserta audisi.

Ah, mereka semua terlihat biasa saja. Aku tidak menemukan hambatan sedikit pun untuk bisa lolos audisi,’ pikirku yakin. Aku berjalan dengan penuh percaya diri untuk menempatkan diriku lebih dekat dengan meja registrasi. Aku melihat jam, 15 menit lagi registrasi akan dibuka. Dengan tidak sabar aku memandang berkeliling. Lalu seketika pandanganku terfokus di satu titik, seorang laki-laki berbaju hitam dengan kalung rantai melingkar di lehernya. Entah mengapa ada suatu tarikan kasat mata yang cukup kuat membuatku ingin sekali berjalan menghampirinya. Tepat ketika aku hendak melangkahkan kakiku ke arahnya, petugas registrasi berjalan melewatiku. Segera aku urungkan niatku dan bergegas mendekat meja registrasi bersama ratusan peserta audisi lainnya.

Dalam beberapa detik saja, aku sudah tertinggal di belakang karena peserta audisi lainnya sungguh sangat brutal. ‘Malas banget kalo harus berdesakan dengan mereka. Bisa-bisa semua penampilanku kusut.’  Aku membiarkan mereka semua mengantri mendahuluiku, tapi aku mempunyai cara lain untuk bisa mendaftar tanpa mengantri. Senyum lebar mengembang di bibirku.

Aku berjalan mantap ke arah meja registrasi, melewati antrian panjang. Aku merasakan semua mata orang-orang di antrian memandang ke arahku, bahkan beberapa melotot curiga. Aku tetap cuek, meneruskan langkahku. Begitu aku sampai di depan meja registrasi, dimana terdapat petugas registrasi wanita sedang melayani pendaftaran seorang gadis mungil dengan dandanan heboh, aku mengulurkan kartu identitasku ke arah wanita petugas.

“Kau harus mengantri dulu, Nona,” kata petugas itu tegas. Orang-orang di antrian berhenti berbicara, menonton percakapanku dengan petugas wanita itu.

“Saya tidak punya banyak waktu untuk mengantri dan kau akan bersedia mendahulukanku untuk mendaftar,” ucapku yakin dengan suaraku yang menenangkan. Aku menatap mata pegawai itu dalam-dalam dan aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

“Baiklah, ini nomor audisi Anda, Nona. Semoga berhasil,” kata petugas itu dengan suara yang sedikit bergetar. Pandangannya masih kosong dan untuk terakhir kali aku menatap matanya lagi, berbisik, “Kau akan lupa semua ini, Nona, jangan khawatir.” Kemudian aku melayangkan pandanganku ke orang-orang di antrian, “dan begitu juga dengan kalian semua, Kawan.”

Lalu aku berjalan masuk tempat audisi dengan langkah riang, tidak menyadari ada sepasang mata yang mengamatiku  dengan seksama. Hari ini sungguh sempurna.

Cara Meredam Amarah yang Tidak Perlu

Marah mungkin adalah emosi yang paling sering kita rasakan ketika kecewa terhadap sesuatu. Kita bisa saja merasa marah karena orang lain bersikap tidak sesuai dengan keinginan kita, karena sakit hati, tersinggung, dan lain sebagainya. Intinya, banyak sekali hal yang bisa menjadi alasan untuk kita marah.

Namun, yang saya bahas di sini adalah apakah ada kemarahan tanpa alasan? Mungkin secara logika, jawabannya tidak ada. Tapi ternyata, dalam kenyataan, ada lho orang marah tanpa alasan! Bagaimana itu bisa terjadi?

Alasan yang saya maksud di sini adalah alasan yang pantas untuk membuat seseorang marah. Nah, ternyata tanpa ada alasan seperti itu pun seseorang bisa marah lho.. Mungkin karena mood sedang tidak bagus, mungkin juga karenaa.. pengen aja marah. Lho??

Begini ceritanya, saya mengamati beberapa teman. Mereka sendiri yang bercerita kepada saya bahwa mereka suka marah dengan pacar mereka (masing-masing). Ketika saya tanya, apa alasan mereka marah? Mereka jawab, 'nggak tahu, pengen aja.. Habis sebel.." Saya antara ingin tertawa dan terheran-heran ikut berduka. Anyway, kalau teman saya membaca posting ini, jangan tersinggung ya.. Saya hanya ingin share pikiran aja. Ingin tahu, saya yang aneh atau memang saya benar. Hehehe..

Singkat kata, setelah saya 'wawancara' lebih lanjut, saya bisa mengambil kesimpulan. Mungkin seorang wanita ingin dimengerti laki-laki dengan cara mereka marah atau ngambek, dengan harapan setelah mereka marah, si laki-laki akan mengerti tentang mereka lebih jauh. Bisa juga mereka marah karena ingin 'menyelidiki' tentang si laki-laki itu. Menyelidiki di sini artinya sangat luas dan saya sedang malas menjelaskan. Jadi, silahkan kamu menganalisis sendiri. Hehehe... Kesimpulan saya yang terakhir adalah marah bisa jadi cara supaya si laki-laki lebih perhatian ke si wanita. 

Tapi, apakah benar begitu kenyataannya? Kalau saya pikir-pikir, apa iya marah menjadi cara ampuh untuk hal-hal di atas? Bukankah kalau kita marah-marah si laki-laki malah akan sebel, terus males sama kita? Jadi menurut saya, tidak perlulah kita marah terus-terusan. Kan kasian laki-lakinya juga. Hati kita juga kasian. Capek, tau, marah itu. Capek hati, capek pikiran Ya gak?

Mungkin sudah waktunya bagi kita, untuk belajar mengendalikan emosi kita supaya tidak mudah meledak. Semakin dewasa kita, akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi, dan tidak mungkin kita marah pada semuanya. Bisa-bisa kita mati muda kalau marah terus-terusan.. hehe

Berikut ini cara yang bisa membantu kamu meredam amarah yang tidak perlu. Mungkin bisa bermanfaat untuk membantumu menekan emosi negatif di hatimu. Cara ini cukup ampuh, sih, menurut saya. 
1. Ingatlah kalau orang lain juga manusia, bukan malaikat. Coba deh pikir, emangnya kamu ga pernah bikin sebel orang lain?
2. Positive thinking, tekankan pada dirimu bahwa dia pun tidak dengan sengaja melakukan hal yang menyebalkan itu. Sungguh, tidak akan ada gunanya marah kepada sesuatu memang tidak disengaja. Lebih ringan jika kamu memaafkan dan move on ke hal-hal yang lebih penting.
3. Ikhlaslah. Tarik napas dalam-dalam dan berkatalah dalam hati, "Percayalah, suatu saat dia akan mendapatkan balasannya." Bukan saya mengajari untuk mendendam atau balas dendam. Perkataan itu saya maksudkan, untuk mengikhlaskan perlakuan orang-yang-nyebelin kepada Anda dan biarka Tuhan yang membalasnya. Karena Tuhan pasti tahu mana yang benar, mana yang salah.
4. Jadikan perlakuan menyebalkan teman Anda itu sebagai pelajaran, supaya Anda tidak berbuat yang sama kepada orang lain.

Selamat mencoba.. :)

Terlambat Lebih Baik Daripada Tidak Sama Sekali ??

Pepatah di atas telah sering kita dengar sejak kita kecil dulu. Mungkinkah karena pepatah itu jam karet masih tren banget di Indonesia?

Nah, sejak saya kuliah, nih, saya baru merasa bahwa pepatah populer itu telah mengakar kuat di pikiran mahasiswa. Dulu, waktu masih duduk di bangku sekolah, sejak TK sampai SMA, jam masuk sekolah ditentukan dan yang terlambat biasanya mendapat hukuman, minimal sanksi batin malu dengan teman-teman yang tidak terlambat. Tapi sejak kuliah, kan, jam masuk customized, dosen juga sudah menganggap mahasiswa sudah dewasa, sehingga masalah terlambat pun sudah jarang sekali diangkat ke permukaan.

Tapi tahukah kamu, ketika kamu terlambat kamu memaksa sekian puluh orang di kelas untuk tidak memperhatikan dosen selama sekian puluh detik? Saya, sebagai salah satu dari sekian puluh orang itu, sering merasa kesal ketika sudah mendapatkan feeling untuk memperhatikan dosen, lalu tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah mahasiswa [kadang berbondong-bondong] ke dalam kelas. Pengennya sih tetap fokus ke kuliah, tapi apa daya, hati saya selalu ngomel-ngomel pada si Penelat. Dan kejadian itu terjadi berkali-kali selama pelajaran. Minimal sampai 30 menit pertama dan maksimal sampai tidak terhingga karena mahasiswa juga sering keluar-masuk gak jelas secara bergantian selama kuliah. Bisa dibayangkan gimana hebohnya pintu kelas ber-kriat-kriut??

Seringnya, mahasiswa yang datang terlambat [di zaman sekarang] bukan karena terhalang sesuatu yang mendesak sehingga terlambat, tapi karena memang malas datang tepat waktu. Atau mereka memang sengaja datang terlambat supaya dilirik mahasiswa satu kelas [alias caper]? Hehe, no offense ya, kalau saya sih, malu sekali datang terlambat, lalu masuk dan semua mata memandang saya. 

Jadi apakah terlambat memang lebih baik dari tidak sama sekali? Mungkin iya untuk beberapa situasi. Misalnya dalam hal belajar, bolehlah kita mulai terlambat karena belajar tidak mengenal usia. Tapi kalau bisa semakin awal kita belajar, semakin baik bukan? Begitu pula jika kamu memang memiliki situasi yang memaksa untuk terlambat, mungkin masih tidak apa. Tapi bukankah situasi memaksa itu tidak terjadi setiap hari?

Saya sendiri pernah, kok, terlambat. Biasanya karena tidur kebablas jadi siap-siapnya jadi molor. Tapi kejadian itu masih bisa dihitung dengan jari satu tangan, alias jarang sekali terjadi. Menurut saya, ketika kita datang tepat waktu, artinya kita menghargai orang lain. Kalau kita menghargai orang lain, orang lain juga akan menghargai kita. 

Jangan terlambat lagi, ya!

3 Alasan Membaca Novel Versi Orisinal & Tipsnya

Mungkin beberapa teman saya sesama penggemar novel tahu bahwa saya lebih suka membaca novel versi asli, yang belum diterjemahkan. Mereka sering protes kenapa kok beli versi asli, bukan yang terjemahan saja? Jadi, supaya kamu bisa tertarik untuk mulai membaca versi asli sebuah buku, berikut ini beberapa sensasi yang saya rasakan ketika memilih membaca buku asli dibandingkan terjemahan:

1. Lebih Cepat Update

Alasan pertama saya lebih suka membeli novel versi asli adalah novel asli selalu terbit duluan. "Ya pastilah, namanya juga versi asli!" Eits, jangan sewot dulu. Maksud saya di sini, setelah pengamatan panjang saya, novel terjemahan terbit jauuuuh lebih lama daripada novel orisinilnya. Hal ini mungkin tidak berlaku untuk novel-novel hit semacam Harry Potter. Tapi saya sudah membuktikan bahwa novel orisinil terbit 1 tahun [bahkan lebih] lebih dulu sebelum terjemahannya. Jadi bisa dibayangkan, betapa updatenya Anda jika memilih membaca buku orisinil! Inilah hal yang paling saya senangi ketika membaca buku orisinil. Bangga rasanya ketika teman bertanya ada buku bagus baru gak? Dan saya jawab, ada tapi masih versi ori dan ceritanya keren banget! Hahaha...

2. Lebih Memahami Jalan Pikir Penulis

Alasan kedua saya, mengenai isi cerita. Hal ini jelas, karena ketika kita membaca bersi original yang ditulis langsung oleh penulis, kita bisa menangkap dengan tepat apa yang dimaksud oleh penulis. Sedangkan ketika kita baca buku terjemahan, belum tentu pesan yang kita dapat sama dengan maksud penulis. Atau kadang-kadang bahasanya jadi lebih ribet. Wajar saja, karena ada beberapa kata bahasa asing yang lebih get the point kalau tetap dalam bahasa asing itu.

3. Buku jadi Lebih Awet

Alasan terakhir adalah buku saya jadi awet. Kalau saya beli versi terjemahannya dan ternyata buku itu bagus, sudah pasti setelah saya selesai baca buku itu akan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Walaupun tidak rusak, however buku itu lebih lecek lah daripada kalau saya yang baca sendirian. Bukannya saya tidak ikhlas, saya ikhlas kok.. Bener deh, sueeer!


CHAPTER 1 - DON


“Car, apa kau tidak berpikir Luna sedang menyembunyikan sesuatu? Apa kau tidak mendengar jantungnya berdegup begitu kencang? Dia mungkin sedang berbohong tadi. Mengapa kau mengijinkannya pergi begitu saja?” cecarku pada Carla, kesal.

“Don, kalau tadi kita menahannya lebih lama hanya untuk bertanya-tanya hal yang tidak penting, dia pasti akan terlambat berangkat ke sekolah. Lagipula, siapapun akan gugup ketika meminta ijin pada orangtuanya untuk pergi kencan PERTAMAnya. Tidakkah kau pikir sungguh menyenangkan dunia Luna saat ini? Jatuh cinta, seperti kita dulu,”  kata Carla sambil tersenyum lebar.

“Tapi kita tidak tahu seperti apa laki-laki itu. Kau yakin membiarkan Luna pergi dengan laki-laki yang bahkan wajahnya kita tidak tahu?” tanyaku masih khawatir.

“Kau tenang saja, Don. Luna akan baik-baik saja. Dia putri kita, bukan?” jawab Carla lembut seraya menggenggam tanganku.

Kalau sudah begini, bahkan kekhawatiran tingkat akut pun akan hilang dalam sekejap.’ Aku memandang Carla yang menunggu jawabanku. ‘Ya, Luna sudah dewasa. Mungkin sudah tiba saatnya membiarkan dia hidup di luar bayang-bayang kami,’

‘Kau sudah paham sekarang, Don? Bahwa kita bukan manusia, bukan berarti kita akan hidup selamanya mendampingi Luna’ suara Carla  yang lembut berbisik di kepalaku. Aku hanya tersenyum memandang matanya yang bersinar-sinar gembira.

Mari Berbagi Ilmu

Apakah kamu lebih suka menyimpan informasi untuk dirimu sendiri? Apakah kamu senang menjadi satu-satunya orang yang tahu segalanya? Jika iya, sebaiknya kamu mulai bertanya pada diri sendiri, benarkah kamu 'bahagia'?

Sering sekali saya jumpai teman-teman yang menyimpan informasi untuk dirinya sendiri. Sampai saya dan teman yang lain tahu tentang informasi yang dipendamnya, dia tidak pernah cerita dan kemudian dengan bangga bilang bahwa dia tahu sejak lama. Mungkin dia menganggap dengan begitu dia terlihat update dengan informasi dan tahu segala hal. Tapi tahukah kamu bahwa saat kamu bersikap demikian, orang-orang di sekitarmu akan sakit hati? Tahukah kamu bahwa selanjutnya teman-temanmu akan merasa malas untuk memberimu informasi juga? Padahal adalah tidak mungkin bagimu untuk selalu tahu segala hal.

Ketika kamu mengucapkan kata-kata sakti untuk show off bahwa kamu tahu (seperti: iya emang, aku udah tahu kok. Udah dari kemaren tau ada berita itu..), orang yang berbicara denganmu akan merasa kesal dan mulai berjanji dalam hati untuk tidak lagi share pengetahuannya denganmu. Ujung-ujungnya, kamu juga akan rugi, kan?

Padahal, asal tahu saja bahwa informasi atau ilmu itu jika dibagi tidak akan pernah berkurang. Bahkan, semakin banyak kita berbagi ilmu, semakin banyak pula ilmu kita. Hal yang sudah kita ketahui akan semakin melekat di ingatan dan ilmu lain pun akan berdatangan dari orang-orang yang pernah kita beri ilmu bermanfaat. Selain itu, kamu tahu kan kalau ilmu bermanfaat merupakan salah satu tabungan untuk akhirat yang tidak akan pernah berhenti mengalir?

Jadi,  masih merasa berat kah untuk berbagi ilmu?

CHAPTER 1 - LUNA


Kriiiiiiiingg........ Suara alarm berbunyi nyaring mengganggu tidurku.

Ah, pagi sudah datang dan aku harus berangkat ke sekolah. Malas sekali. Mengapa harus ada hari Senin? Mengapa harus ada sekolah? Pada akhirnya pun aku tidak akan membutuhkan semua nilai itu setelah lulus. Bukankah untuk menjadi seorang model tidak memerlukan nilai ujian matematika, bahasa inggris, sains, dan semua pelajaran tolol itu? Ah, tapi bagaimanapun aku tetap terjebak dalam semua ketidakperluan itu dan harus mendapat nilai bagus supaya ayah dan ibu mau memberi uang saku,’ pikirku sambil menggeliat malas di tempat tidurku yang hangat.

“Luna! Ayo cepat bangun! Kau akan terlambat!” suara ibu yang nyaring menembus pintu kamarku. Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur yang nyaman dan keluar kamar untuk ikut sarapan bersama. Aku melihat ibu sedang di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Senandung lirih sedikit terdengar dari mulutnya, tapi aku tidak tahu dia menyanyikan lagu apa. Aku hanya bisa melihat bibirnya yang mungil berkomat-kamit dan mengeluarkan nada. Kadang aku heran, bagaimana bisa mulut kecil seperti itu menghasilkan suara nyaring yang bahkan dari kamarku saja terdengar sangat nyaring. Padahal kamarku ada di lantai dua.

Sambil terheran-heran (yang hampir selalu kurasakan setiap pagi) aku duduk di kursi meja makan. Tidak lama kemudian ayah muncul dari balik pintu teras, menyusul ke meja makan. Di tangannya terlihat dia sedang memegang koran pagi.

“Anak laki-laki pengantar koran itu lagi-lagi melemparkan korannya tepat ke wajahku! Apa dia tidak melihat aku yang sebesar ini sedang menyiram bunga di halaman? Sungguh menyebalkan! Lain kali akan kukejar dia untuk kuberi pelajaran!” kata ayahku bersungut-sungut. Ibu hanya menanggapi kejengkelan ayah dengan senyum manisnya. Tidak lama kemudian, wajah ayah kembali tenang, seakan tidak pernah ada kejengkelan sebelumnya.

Yah, ayahku memang sedikit emosional. Kesalahan kecil saja bisa membuatnya marah-marah, atau sedikitnya menggerutu. Tapi jika ada ibu bersamanya, ayah bisa lebih tenang. Aku juga tidak mengerti mengapa bisa begitu. Aku pikir siapapun akan merasa tenang jika berada di dekat ibu. Siapa yang sanggup marah-marah di depan tatapan ibu yang lembut dan senyumnya yang indah? Kurasa tidak ada yang akan sanggup.

Aku segera menghabiskan omelet lezat yang menjadi menu sarapan kami hari ini dan segelas susu cokelat kesukaanku. Kulihat ayah juga sedang asyik melahap omeletnya sambil membaca koran di tangan kirinya. Ibu masih bersenandung kecil sambil membereskan meja dapur. Sepertinya pagi ini semua orang sedang dalam suasana hati yang bagus.

Aku beranjak untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari ini aku akan mengikuti casting film dan orangtuaku tidak tahu tentang semua ini. Pakaian dan sepatu ganti serta alat berdandanku sudah aku masukkan diam-diam ke mobil semalam. Jadi yang kubutuhkan saat ini hanya menyiapkan alasan untuk pulang terlambat hari ini dan memasang wajah tenang.

Sebelum turun untuk (pura-pura) berangkat sekolah, aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku yang berdegup kencang karena hendak berbohong kepada ayah dan ibu yang pada dasarnya hampir mustahil dibohongi, kecuali ketika suasana hati mereka sedang sangat bagus sekali. Kuhitung sampai sepuluh, setelah itu aku berjalan menuruni tangga.

“Ayah, Ibu....,” kataku pelan. Mereka berdua menoleh kepadaku.

“Oh, Luna, kau mau berangkat sekolah sekarang? Sepulang sekolah nanti cepatlah pulang, aku ingin kita makan malam bersama,” kata ayahku sambil kembali mengalihkan pandangannya ke koran pagi yang belum juga selesai dibacanya.

“Eh, Ayah, aku.. Kurasa kalian terpaksa makan malam berdua saja. Aku ada janji dengan seseorang..” jawabku lirih, khawatir mereka curiga. Seketika pandangan ayah kembali padaku dengan sorot mata curiga. Sedangkan ibu mulai menyipitkan matanya kepadaku, tatapannya menyelidik.

“Aku.. Aku ada janji kencan, Ayah. Dia mengajakku makan malam,” tambahku cepat-cepat. Kurasa alasan kencan akan masuk akal untuk degupan jantung sekeras ini. Dan kurasa aku benar begitu melihat tatapan ibu kembali melembut dan tidak curiga lagi.

“Baiklah, Sayang, tapi tentu saja kau jangan pulang terlalu malam. Kami akan menikmati makan malam kami berdua. Kau juga harus bersenang-senang. Oke?” jawab ibu gembira.

“Eh, baik, Bu. Kalau begitu aku berangkat sekolah sekarang. Daaaa, Ayah,” kataku sambil berlari cepat-cepat ke garasi sebelum ayah yang sepertinya masih curiga mempengaruhi ibu yang sudah percaya.

Beginilah kalau berbohong ketika sebenarnya tidak perlu berbohong,’ pikirku sambil mendesah pelan dan menyalakan mesin mobil sport merahku. Aku pun berangkat ke Taman Heatburn, lokasi casting perdanaku.

Tentang Cita-Cita dan Masa Depan

Topik di atas adalah topik yang dilematis sekali bagi saya. Sejak dulu saat baru lulus SMA hingga sekarang saya lebih suka menjawab pekerjaan apa aja yang penting nyantai, tidak terikat waktu, jadi mudah untuk jadi part-timer sebagai ibu rumah tangga (#ehh?). Tapi, pekerjaan seperti apakah yang seperti itu? Dimana-mana, yang namanya bekerja yaa harus keras, disiplin, apalagi di zaman sekarang ini dimana sulit sekali mencari sesuap nasi untuk keluarga. Hehe..

Dulu sekali, ketika saya masih SD, orang tua saya suka menasehati saya supaya rajin belajar, jadi pintar, supaya nanti saya tidak perlu mencari kerja, tapi pekerjaan yang mencari saya. Saya baru paham sekarang, kalau sebagai manusia, kita harus punya diferensiasi, sesuatu keunikan yang tidak dimiliki orang lain, sehingga akan membuat kita dibutuhkan. Sama dengan sebuah produk, dimana setiap produk harus mempunyai kelebihan supaya konsumen mau membelinya. Untuk mendapatkan diferensiasi itu, kita harus memiliki keahlian yang bisa kita dapat dari proses belajar terus menerus.

Nah, sekarang saya coba untuk bertanya ke diri sendiri, bisa apakah saya? Saya sendiri bingung, sebenarnya keahlian saya apa? Bakat saya apa? Jujur saja, saya adalah tipe orang yang mudah sekali berubah-ubah, dalam artian memiliki banyak sekali kesukaan. Tapi ketika saya sedang asyik fokus dengan sesuatu, kesukaan saya yang lain bisa saya lupakan. Fleksibel memang, tapi akhirnya saya tidak memiliki sesuatu yang benar-benar saya tekuni dan saya baru menyadari sekarang, saat hampir tiba waktunya saya terjun ke dunia kerja yang penuh persaingan. Tapi, ya, sudahlah, belum terlambat untuk memperbaiki diri. Masih banyak waktu untuk kita terus menggali potensi diri dan belajar lebih banyak lagi. Bukankah ada hadis Nabi yang mengatakan, "Carilah ilmu sampai ke negeri Cina"?

"Maka, mari kita terus belajar dan menggali potensi diri kita. Semakin awal kita memulainya, semakin baik. Semakin banyak potensi diri yang tergali, akan semakin banyak diferensiasi yang kita miliki, maka semakin besar pula peluang kerja kita. Bukankah bekerja di bidang yang disukai adalah yang terbaik?"

"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...