Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

New Year Again = UAS di Depan Mata

Wah, gak kerasa tiba-tiba tahun sudah berubah lagi. Benar-benar waktu berlari begitu cepat..Hmmm..Apa ada perubahan dari tahun-tahun sebelumnya? Apa ada rencana perubahan untuk tahun ini?
Kalau saya pikir-pikir lagi, sepertinya tidak ada perubahan apapun dari diri saya [poor me].. Memang saya adalah tipe orang yang tidak pernah mematok target A B C, bikin plan A sampe Z, membuat resolusi harus begini harus begitu.. Saya terbiasa mengalir begitu saja, mengikuti mood saya mengajak saya kemana. Yeah, mungkin dari sini terlihat sekali saya orang yang belum mempunyai pendirian, eh?
Tapi prinsip saya, saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Yah, intinya saya juga mau dong menjadi manusia yang lebih baik lagi, walaupun kalau diminta menjelaskan 'lebih baik lagi' yang bagaimana saya juga tidak bisa menjelaskan. Intinya, saya akan terus memandang ke depan, belajar dari kesalahan-kesalahan yang lalu dan berusaha memperbaiki yang bisa diperbaiki, tidak mengulangi yang tidak bisa …

My Hometown (Jember) Travel Destination

Akhir-akhir ini sering sekali saya mendengar rencana teman-teman untuk berlibur di san-sini, bahkan cukup sering mendengar Kota Jember, khususnya Pantai Papuma, menjadi tujuan wisata. Wah, ternyata Pantai Papuma sudah mulai terkenal, nih. Dari pendapat beberapa teman dari luar kota yang sudah ke sana, sih, Papuma memberi kesan positif. Ada yang bilang bagus, bagus banget, hingga ada yang merekomendasikan lawan bicara untuk ke sana.
Begitu juga dengan teman saya yang ingin berlibur dan sedang survey tempat, sering menanyakan pendapat saya tentang Papuma, dengan asumsi saya kan orang Jember, jadi dianggap bisa memberi info yang akurat tajam terpercaya. Padahal saya sendiri jarang sekali ke sana. Pertama kali saya ke sana [yang saya sadar] hampir sekitar 3 tahun yang lalu. Dulunya sih [katanya] saya pernah ke sana, tapi waktu masih kecil, jadi saya lupa. hehe..
Menurut saya, sih, dari kunjungan terakhir saya ke Papuma [3 tahun lalu], Papuma cukup bagus dan indah. Pantainya cukup bersih,…

Curhat Sedikit Tentang Hasil Survey Hari Ini

Hari ini saya dan beberapa teman saya cuci mata ke Madura untuk survey tempat KKN saya bulan depan. Bagi beberapa teman saya, tadi adalah survey kedua, sedangkan bagi saya masih yang pertama.
Perjalanan ke sana berlangsung cukup menyenangkan. Pemandangan juga indah. Hamparan sawah luas sejauh mata memandang, gunung di kejauhan, rumah tidak terlalu rapat. Yah, seperti daerah-daerah desa pada umumnya. Jalannya pun cukup bagus, walaupun cukup sering menemui jalan yang tidak mulus dan aspal yang lubang-lubang, tapi semua masih bisa ditolerir.
Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di desa calon tempat tinggal kami selama sebulan. Serius, desanya masih desa sekali, bahkan lebih desa daripada Desa Pancakarya. Ya, memang saya tidak pernah tahu Desa Pancakarya yang sampai ke dalam-dalam sih, tapi dilihat dari kemudahan jangkauan transportasi dan tingkat kebersihannya sih bisa saya asumsikan bahwa Desa Pancakarya masih sangat 'kota' daripada desa yang tadi saya ku…

Guru itu...

Awalnya saya mengajari adik sepupu saya yang masih SMP mengerjakan soal-soal matematika. Saya heran kok sepertinya dia tidak bisa sama sekali mengerjakan soal faktorisasi aljabar. Lalu akhirnya saya semakin heran mendengarkan ceritanya tentang guru matematikanya. Guru itu akan marah jika ada siswa bertanya, bahkan mengancam akan mencoret wajah siswa yang bertanya. Nah lho, guru macam apa itu?
Bukankah guru seharusnya senang kalau ada siswa yang bertanya? Artinya, kan, siswa memperhatikan dan mau berpikir sehingga menemukan sesuatu yang tidak dia mengerti. Tapi juga jangan yang tanya terus juga sih, malu-maluin malah.. Hehe..
Menurut saya, guru zaman sekarang aneh. Banyak yang tidak suka menerangkan pelajaran di kelas dengan alasan supaya siswa lebih aktif mencari sendiri ilmunya. Padahal, menurut saya pribadi, siswa juga manusia, yang banyak dari mereka punya karakter X seperti saya yang akan malas mencari-cari sampai 'disodorkan' di hadapan saya. Jadi, bagaimanapun, menerang…

Banyak Pilihan, Memudahkan atau Menyulitkan?

Keberagaman, katanya sih akan memudahkan konsumen memilih barang mana yang paling cocok untuknya. Karena semakin banyak pilihan, konsumen bisa memilih satu per satu produk mana yang bernilai paling sesuai dengan nilai yang diharapkan konsumen. Namun, menurut saya pribadi, kenyataannya justru sebaliknya. Semakin banyak jenis barang, konsumen akan semakin sulit memilih mana yang paling baik untuk dirinya. Ataukah hanya saya saja yang merasakan demikian?
Jujur, saya adalah konsumen yang labil. Saya mudah sekali tergoda dengan iklan, yang umumnya menawarkan value produk yang menggiurkan. Intinya saya sering jadi korban iklan deh. Bisa dibilang, saya bukan konsumen loyal, yang akan memakai satu produk tertentu jika cocok. Saya cenderung akan mencoba produk lain walaupun sudah cocok dengan satu produk dan akan terus begitu sampai saya sadar bahwa tidak ada produk yang secocok produk pertama. Bisa dibayangkan betapa labilnya saya? Hehehee..
Ada satu kegiatan yang paling membuat saya kesal d…

Dahsyatnya Toko Online

Dewasa ini, hampir semua produk memasarkan produknya dengan memanfaatkan teknologi internet. Bahkan tidak jarang mereka menggenjot penjualan lebih besar fokus pada penjualan online.
Saya pertama kali membeli barang via online sekitar dua tahun lalu, tepatnya awal saya kuliah di luar kota. Maklum, rumah saya dulu tidak terjangkau pos (sepertinya), jadi saya tidak pernah coba-coba beli online daripada barang tidak sampai. Tapi sejak saya mencoba belanja online dulu, jujur saya sempat ketagihan. Setidaknya hampir setiap bulan saya belanja online satu kali. Bisa dibayangkan bagaimana borosnya saya?
Ya, saya merasakan sensasi tersendiri ketika membeli barang via online. Pertama, melihat-lihat barang yang sangaaat beragam di internet, lalu menemukan yang paling sreg dan yang paling murah di antara barang sejenis. Akhirnya deal untuk purchase barang tersebut, lalu transfer uang. Beberapa hari kemudian, biasanya 2 hari, barang sampai. Bapak jasa pengiriman datang dan berteriak, "Paket!&…

Zaman Dulu, Zaman Sekarang

Beberapa bulan yang lalu, saya kaget karena tiba" digit pertama umur saya sudah berubah.. Sungguh tidak terasa waktu berjalan..
Saya ingat, dulu ketika saya masih kecil, saya ingin sekali segera dewasa, tumbuh besar, tinggi, pokoknya pengen cepat-cepat besar deh. Alasan saya saat itu adalah karena saya ingin segera bisa ikut dandan pakai lipstik seperti ibu saya, memakai sepatu berhak seperti ibu saya, memakai pakaian seperti orang dewasa, dan lain-lain. Begitu pula dengan adik saya. Di usia yang terpaut jauh dengan saya, dia sudah mengerti bagaimana berdandan. Berbeda dengan saya, yang dulu hanya asal mencoreng-coreng mata,pipi dan bibir pakai lipstik milik ibu, adik saya sudah tahu apa dan bagaimana menggunakan alat-alat make up seperti foundation,eyeshadow, blush on, lipstik,mascara, dan lain-lain. Mungkin karena dulu di zaman saya wanita yang saya lihat ya ibu saya yang tidak pernah memakai make up apa-apa kecuali lipstik dan bedak, sedangkan adik saya saat ini memiliki panu…

Membaca dan Menulis Sejak Kecil

Hari ini, saya sudah mati gaya berlibur di kampung halaman saya. Karena kemarin saya pikir akan sebentar saja di sini, saya tidak membawa properti liburan saya, ssemacam buku bacaan, dvd, dan sejenisnya. Akhirnya, saya meminjam buku bacaan milik adik saya.
Namanya anak SD, buku bacaannya ya buku bacaan anak-anak, yang masuk kategori Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Novelnya tipis saja, dengan cover yang imut-imut. Sehari ini saja saya sudah selesai dua buku. Ceritanya cukup menarik, sih, dengan bahasa yang khas anak-anak, membuat saya tersenyum sendiri bukan karena ceritanya yang lucu tapi isi khayalannya yang super dan penggambarannya yang polos sekali.
IMHO, sudah hebat banget anak kecil umur 10 tahun (bahkan kurang), bisa menulis novel, walaupun tidak terlalu tebal. At least, mereka sudah pintar menuangkan pikirannya melalui tulisan. Padahal kita yang sudah besar saja, terkadang sulit sekali menulis dan merangkai kata-kata menjadi satu kalimat sederhana saja.
Saya ingat, dulu zaman …

Gurauan Jayus Dibutuhkan [in Particular Time]

Saya habis ditebaki adik saya nih, "penggaris bisa jadi apa aja hayo?"
Saya mikir, apa ya??penggaris kan ya penggaris.. --a
Lalu, adik saya jawab sendiri, "bisa jadi belek, bisa jadi iler, bisa jadi air mata.."
Saya mikir lagi, apaaa cobaa??? Dan saya bertanya, "maksudnya?"
Dia jawab, "penggaris plastik yang lemes elastis itu lho, Mbak, kan kalo dibentuk bulet, jadi belek, kalo atasnya kasih sudut jadi air mata, iler.."
Hah?? Saya langsung shock mendengar jawabannya, yang awalnya saya pikir jawabannya akan sedikit ilmiah, ternyata.... Bayangkan aja belekmu segede itu, udah gak bisa liat kalii.. --" Yah,, namanya anak-anak, guyonan garing gitu ya mereka anggap lucu aja..
Dan berhubung saya lagi capek banget, tebakan adik saya tadi sukses bikin saya terbahak-bahak. Bukan karena lucu, tapi karena keanehan dan kegaringannya.. Hahaha..
Jadi saya simpulkan, terkadang kita butuh adanya guyonan jayus. Tidak perlu terlalu 'serius' membuat g…

Dedicated for My Best Friend

Dear, Sahabatku..

Kamu mungkin tidak membaca tulisanku ini. Mungkin kamu sibuk, mungkin kamu tidak mempunyai cukup waktu untuk hal sesimpel ini. Sungguh, aku mengerti kesibukanmu di tengah riuhnya hidup ini.

Di tengah semua masalah yang kau hadapi, aku tahu semua perkataanku padamu tidak semudah kedengarannya. Sungguh aku tahu beratnya beban yang kamu tanggung, Kawan. Jika aku adalah kamu, mungkin aku tidak akan sekuat kamu. Aku yang masih suka bersenang-senang, tidak peduli ada orang lain yang sedang bersedih. Aku yang masih tidak berpikir sulitnya mendapatkan uang untuk sekedar makan. Ya, Sahabatku, aku tahu aku tidak akan sanggup menanggung beban yang sanggup kau tanggung hampir seumur hidupmu. Tapi itulah kuasa Tuhan. Dia tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Itu artinya, kamu adalah orang yang kuat, Kawan. Janganlah kamu berkata, "aku gak kuat hidup seperti ini". Karena Tuhan tahu kamu sanggup

Sungguh, aku sangat ingin ada di sana. Men…

Apa Anda Konsumen Loyal?

Pertanyaan ini cukup menyindir saya. Ya, bisa dibilang saya bukan termasuk konsumen loyal. Saya sangat suka mencoba produk-produk dengan merek berbeda-beda. Jarang sekali setia membeli produk yang sama dua kali berturut-turut. Pernah saya berpikir, mengapa harus berganti produk kalau produk yang sekarang sudah cocok? Tapi entah mengapa, setiap saya berbelanja kebutuhan bulanan, walaupun sudah saya catat apa saja yang saya butuhkan dan sudah merencanakan merek apa yang akan saya pilih, begitu saya sampai toko dan melihat begitu banyak merek yang menjanjikan ini-itu, selalu saja saya bingung lagi ingin membeli yang mana. Apa Anda juga mengalami hal yang sama?

Kemudian saya menemukan jawabannya, ketika saya membaca buku pegangan kuliah dalam rangka akan ujian. Di zaman sekarang, dimana persaingan pasar terjadi dengan sangat ketat, semakin banyak produsen yang menawarkan produk yang hampir sama satu sama lain. akibatnya, semakin sedikit perbedaan produk yang terlihat secara nyata. Selain …

Chapter 2 - LUNA

Akhirnya datang juga hari ini,hari dimana hasil dari audisi minggu lalu akan diumumkan. Aku sangat tidak sabar menunggu hari ini sampai-sampai bangun pagi pun aku tidak perlu dibangunkan. Dengan semangat aku mengikat rambut panjangku tinggi ke atas kepala dan turun ke ruang makan untuk sarapan. Aku menuruni tangga sambil bersenandung riang. Lalu aku lihat ibu sedang memasak di dapur.
Aku menghampirinya dan mencium pipinya, “Selamat pagi, Bu! Ibu terlihat cantik sekali hari ini,” pujiku gembira.
Ibu memandangku tidak percaya. “Ada apa? Suatu kejadian langka kau bangun sepagi ini tanpa ibu perlu meneriakimu, apalagi dengan wajah gembira seperti itu,” kata ibu sambil menyipitkan mata curiga.
“Tidak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya sedang bersemangat hari ini,” jawabku mulai khawatir ibu curiga.
“Kau bohong. Kau tahu, ibu mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, tapi ibu tahu apa yang sedang kau rasakan. Ada apa, Luna?” tanya ibu menyelidik.
“Tidak ada.”
“Lalu mengapa kau tiba-tiba khawatir? Padahal…

UTS yang Kelam

Finally, saya kembali ngeblog.. Setelah 2 minggu kemarin terkungkung oleh penjara UTS yang memusingkan.. Sebenarnya, lagi-lagi, karena nggak nyicil belajar dari awal. Baru deh H- 1 minggu sebelum ujian heboh cari bahan slide, copy catetan temen, ngrangkum kitab pegangan dan slide seadanya. Kacau deh..

Dan hal ini terjadi setiap akan ujian, UTS maupun UAS. Mungkin dulu, ketika masih semester awal-awal sistem kebut seminggu masih manjur lah.. Yah, at least, masih bisa ditolerir karena materi tidak terlalu banyak. Tapi ternyata, sekarang sistem itu sudah out of date. Tapiii.. Biasanya paradigma seperti ini selalu saya ambil ketika akan, sedang, dan setelah musim ujian berlangsung. Pada masa-masa itu, tekad kuat membara untuk saya belajar lebih rajin di waktu kuliah. Namun entah kenapa, biasanya di minggu ketiga kuliah pasca UTS atau pasca liburan semester, tekad itu lenyap sudah. Yeah, I know me so well.
Mungkin sudah waktunya, makin tua saya untuk makin konsisten dengan tekad awal saya.…

Serasi Tidak Harus Sama

Tadi saat saya sedang mengumpulkan konsentrasi untuk belajar, tiba-tiba saya teringat sepasang suami-istri yang dulu pernah saya lihat ketika sedang jalan di mal. Saat itu saya kasihan sekali dengan si Bapak yang waktu itu 'hanya' memakai kaos oblong dengan celana panjang dan sepatu sandal. Si Bapak terlihat kumus-kumus, begitu juga dengan anak laki-lakinya yang masih kecil yang saat itu ikut bersama mereka. Sedangkan, si Ibu tampil modis, dengan kulitnya yang sangat terawat, wajahnya yang full make up, bajunya dress terusan sedikit mini. Can you imagine how contrarily is it?
Nah, saya jadi ingin membahas tentang hal ini: keserasian. Menurut saya, serasi itu tidak harus sama. Misalnya memakai baju sarimbit, couple tee, dan sejenisnya. Ya, itu juga bisa dibilang serasi dan menurut saya lucu sih, keliatan kompak gitu kalau memakai baju kembaran dengan pasangan. Tapi apa iya kalau keluar dengan pasangan mesti memakai baju kembar? Tidak harus begitu juga, dong?
Bisa juga, kok, An…

Chapter 1 - ALAN

Hah, apa-apaan ini? Aku terpaksa mengikuti audisi semacam ini demi uang! Yah, tapi paling tidak ketampananku akan menunjang usahaku untuk menjadi artis. Yeah, aku harus bertahan untuk bergabung di antrian panjang ini. Hanya pekerjaan sebagai artis yang tidak membutuhkan ijazah sekolah dan menghasilkan banyak uang,’ keluhku.
Aku melempar pandangan berkeliling area pendaftaran audisi yang penuh dengan manusia berpakaian heboh. Lalu aku menangkap sosok gadis berbalut gaun hijau dengan sepatu supertinggi. Rambutnya ikal dengan semburat kemerahan tampak indah di atas gaun hijaunya.
Ah, ternyata ada pemandangan menarik, nih. Cukup untuk membantuku mengusir rasa bosan mengantri.
Gadis itu tidak ikut mengantri, melainkan hanya menonton kami ribut mencari posisi antrian terdekat dengan meja registrasi. Pandangannya tampak sombong dan merendahkan. Lalu tiba-tiba mata kami bertemu. Matanya gelap dan dipenuhi kilau kepercayaan diri menatapku tertarik. Aku sangat terbiasa dengan tatapan seper…

Ada Apa dengan Lagu Anak-Anak?

Saya sering bertanya-tanya, kemana aja nih para artis cilik? Maksud saya di sini, bukan artis cilik di zaman dulu saya kecil, yang notabene mereka sudah eksis sebagai artis remaja atau dewasa. Tapi, maksud saya, artis cilik seperti zaman saya kecil dulu, yang suka menyanyi lagu anak-anak. Sepertinya, para penulis atau pencipta lagu sudah tidak lagi berminat untuk menciptakan lagu anak-anak. Mengapa? Apa karena pasarnya kurang menjanjikan? Atau karena lagu anak-anak sudah tidak menarik lagi?

Saya ingat sekali, dulu waktu saya masih kecil saya suka sekali sebuah 'girl-boyband' yang judulnya Trio Kwek-kwek. Bahkan pernah ikut pentas tari dengan lagu mereka ketika saya masih TK. [Saat itu] saya juga suka dengan artis cilik lainnya, seperti Joshua, Maissy, Sherina, dan lain-lain. Bahkan Susan, yang setelah saya besar saya baru tahu ternyata dia adalah boneka biasa. hehehe..

Saya masih sedikit ingat lirik lagu seperti ini, "Masih kecil ku ditimaang-timang, dinyanyikan lagu saya…

Chapter 1 - LUNA (2)

Taman Heatburn ramai sekali pagi ini. Walaupun audisi belum dibuka, sudah banyak orang yang hendak mengantri untuk ikut audisi. Aku melihat jam tangan, untuk mengecek berapa lama lagi audisi akan dibuka.
Hmm, masih 2  jam lagi baru audisi akan dimulai. Berdandan tidak akan memakan waktu selama itu. Berganti baju di mobil yang sepertinya akan sedikit sulit, tapi tidak akan memakan waktu terlalu lama juga. Ah, tapi bagaimana aku bisa menyela dalam kerumunan itu? Sungguh, aku benci mengantri apalagi cuaca hari ini panas sekali,’ aku menggerutu dalam hati.
Aku pindah ke kursi belakang yang memang sudah kumodifikasi untuk menjadi studio pribadiku dan memulai dengan mengganti bajuku. Beruntung kaca mobilku gelap sehingga tidak terlihat dari luar. Aku memulai ritual berdandanku. Pertama aku memakai alas bedak kemudian menumpuknya dengan bedak tabur. Aku mulai merias mata dan bibirku senada dengan warna pakaianku. Dari kaca besar yang terpasang di jendela mobil belakang, kulihat ini adalah…

Cara Meredam Amarah yang Tidak Perlu

Marah mungkin adalah emosi yang paling sering kita rasakan ketika kecewa terhadap sesuatu. Kita bisa saja merasa marah karena orang lain bersikap tidak sesuai dengan keinginan kita, karena sakit hati, tersinggung, dan lain sebagainya. Intinya, banyak sekali hal yang bisa menjadi alasan untuk kita marah.
Namun, yang saya bahas di sini adalah apakah ada kemarahan tanpa alasan? Mungkin secara logika, jawabannya tidak ada. Tapi ternyata, dalam kenyataan, ada lho orang marah tanpa alasan! Bagaimana itu bisa terjadi?
Alasan yang saya maksud di sini adalah alasan yang pantas untuk membuat seseorang marah. Nah, ternyata tanpa ada alasan seperti itu pun seseorang bisa marah lho.. Mungkin karena mood sedang tidak bagus, mungkin juga karenaa.. pengen aja marah. Lho??
Begini ceritanya, saya mengamati beberapa teman. Mereka sendiri yang bercerita kepada saya bahwa mereka suka marah dengan pacar mereka (masing-masing). Ketika saya tanya, apa alasan mereka marah? Mereka jawab, 'nggak tahu, peng…

Terlambat Lebih Baik Daripada Tidak Sama Sekali ??

Pepatah di atas telah sering kita dengar sejak kita kecil dulu. Mungkinkah karena pepatah itu jam karet masih tren banget di Indonesia?
Nah, sejak saya kuliah, nih, saya baru merasa bahwa pepatah populer itu telah mengakar kuat di pikiran mahasiswa. Dulu, waktu masih duduk di bangku sekolah, sejak TK sampai SMA, jam masuk sekolah ditentukan dan yang terlambat biasanya mendapat hukuman, minimal sanksi batin malu dengan teman-teman yang tidak terlambat. Tapi sejak kuliah, kan, jam masuk customized, dosen juga sudah menganggap mahasiswa sudah dewasa, sehingga masalah terlambat pun sudah jarang sekali diangkat ke permukaan.
Tapi tahukah kamu, ketika kamu terlambat kamu memaksa sekian puluh orang di kelas untuk tidak memperhatikan dosen selama sekian puluh detik? Saya, sebagai salah satu dari sekian puluh orang itu, sering merasa kesal ketika sudah mendapatkan feeling untuk memperhatikan dosen, lalu tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah mahasiswa [kadang berbondong-bondong] ke dalam kelas.…

3 Alasan Membaca Novel Versi Orisinal & Tipsnya

Mungkin beberapa teman saya sesama penggemar novel tahu bahwa saya lebih suka membaca novel versi asli, yang belum diterjemahkan. Mereka sering protes kenapa kok beli versi asli, bukan yang terjemahan saja? Jadi, supaya kamu bisa tertarik untuk mulai membaca versi asli sebuah buku, berikut ini beberapa sensasi yang saya rasakan ketika memilih membaca buku asli dibandingkan terjemahan:

1. Lebih Cepat Update

Alasan pertama saya lebih suka membeli novel versi asli adalah novel asli selalu terbit duluan. "Ya pastilah, namanya juga versi asli!" Eits, jangan sewot dulu. Maksud saya di sini, setelah pengamatan panjang saya, novel terjemahan terbit jauuuuh lebih lama daripada novel orisinilnya. Hal ini mungkin tidak berlaku untuk novel-novel hit semacam Harry Potter. Tapi saya sudah membuktikan bahwa novel orisinil terbit 1 tahun [bahkan lebih] lebih dulu sebelum terjemahannya. Jadi bisa dibayangkan, betapa updatenya Anda jika memilih membaca buku orisinil! Inilah hal yang paling sa…

CHAPTER 1 - DON

“Car, apa kau tidak berpikir Luna sedang menyembunyikan sesuatu? Apa kau tidak mendengar jantungnya berdegup begitu kencang? Dia mungkin sedang berbohong tadi. Mengapa kau mengijinkannya pergi begitu saja?” cecarku pada Carla, kesal.
“Don, kalau tadi kita menahannya lebih lama hanya untuk bertanya-tanya hal yang tidak penting, dia pasti akan terlambat berangkat ke sekolah. Lagipula, siapapun akan gugup ketika meminta ijin pada orangtuanya untuk pergi kencan PERTAMAnya. Tidakkah kau pikir sungguh menyenangkan dunia Luna saat ini? Jatuh cinta, seperti kita dulu,”  kata Carla sambil tersenyum lebar.
“Tapi kita tidak tahu seperti apa laki-laki itu. Kau yakin membiarkan Luna pergi dengan laki-laki yang bahkan wajahnya kita tidak tahu?” tanyaku masih khawatir.
“Kau tenang saja, Don. Luna akan baik-baik saja. Dia putri kita, bukan?” jawab Carla lembut seraya menggenggam tanganku.
Kalau sudah begini, bahkan kekhawatiran tingkat akut pun akan hilang dalam sekejap.’ Aku memandang Carla yang m…

Mari Berbagi Ilmu

Apakah kamu lebih suka menyimpan informasi untuk dirimu sendiri? Apakah kamu senang menjadi satu-satunya orang yang tahu segalanya? Jika iya, sebaiknya kamu mulai bertanya pada diri sendiri, benarkah kamu 'bahagia'?
Sering sekali saya jumpai teman-teman yang menyimpan informasi untuk dirinya sendiri. Sampai saya dan teman yang lain tahu tentang informasi yang dipendamnya, dia tidak pernah cerita dan kemudian dengan bangga bilang bahwa dia tahu sejak lama. Mungkin dia menganggap dengan begitu dia terlihat update dengan informasi dan tahu segala hal. Tapi tahukah kamu bahwa saat kamu bersikap demikian, orang-orang di sekitarmu akan sakit hati? Tahukah kamu bahwa selanjutnya teman-temanmu akan merasa malas untuk memberimu informasi juga? Padahal adalah tidak mungkin bagimu untuk selalu tahu segala hal.
Ketika kamu mengucapkan kata-kata sakti untuk show off bahwa kamu tahu (seperti: iya emang, aku udah tahu kok. Udah dari kemaren tau ada berita itu..), orang yang berbicara dengan…

CHAPTER 1 - LUNA

Kriiiiiiiingg........ Suara alarm berbunyi nyaring mengganggu tidurku.
Ah, pagi sudah datang dan aku harus berangkat ke sekolah. Malas sekali. Mengapa harus ada hari Senin? Mengapa harus ada sekolah? Pada akhirnya pun aku tidak akan membutuhkan semua nilai itu setelah lulus. Bukankah untuk menjadi seorang model tidak memerlukan nilai ujian matematika, bahasa inggris, sains, dan semua pelajaran tolol itu? Ah, tapi bagaimanapun aku tetap terjebak dalam semua ketidakperluan itu dan harus mendapat nilai bagus supaya ayah dan ibu mau memberi uang saku,’ pikirku sambil menggeliat malas di tempat tidurku yang hangat.
“Luna! Ayo cepat bangun! Kau akan terlambat!” suara ibu yang nyaring menembus pintu kamarku. Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur yang nyaman dan keluar kamar untuk ikut sarapan bersama. Aku melihat ibu sedang di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Senandung lirih sedikit terdengar dari mulutnya, tapi aku tidak tahu dia menyanyikan lagu apa. Aku hanya bisa melihat b…

Tentang Cita-Cita dan Masa Depan

Topik di atas adalah topik yang dilematis sekali bagi saya. Sejak dulu saat baru lulus SMA hingga sekarang saya lebih suka menjawab pekerjaan apa aja yang penting nyantai, tidak terikat waktu, jadi mudah untuk jadi part-timer sebagai ibu rumah tangga (#ehh?). Tapi, pekerjaan seperti apakah yang seperti itu? Dimana-mana, yang namanya bekerja yaa harus keras, disiplin, apalagi di zaman sekarang ini dimana sulit sekali mencari sesuap nasi untuk keluarga. Hehe..
Dulu sekali, ketika saya masih SD, orang tua saya suka menasehati saya supaya rajin belajar, jadi pintar, supaya nanti saya tidak perlu mencari kerja, tapi pekerjaan yang mencari saya. Saya baru paham sekarang, kalau sebagai manusia, kita harus punyadiferensiasi, sesuatu keunikan yang tidak dimiliki orang lain, sehingga akan membuat kita dibutuhkan. Sama dengan sebuah produk, dimana setiap produk harus mempunyai kelebihan supaya konsumen mau membelinya. Untuk mendapatkan diferensiasi itu, kita harus memiliki keahlian yang bisa …