To Become an Adult


Questioning.
Complaining.
Unbelieving.

Worries.
Scared.
Insecure.

"What am I doing?"
"I'm waiting," a little voice whispered.
"Waiting for what?"
"Umm, I don't know. I'll know when I get it. What I know now, is that I'm waiting. I will wait. Until forever." the voice whispered again.
"Maybe that isn't for you, little girl,"


Hesitance.
Regret.


No.
Have no regret.
It's worth my time. My whole time.
To wait. To believe.
There will be answer.
I have new words. Better ones.


Patience.
Optimism.
Believe.
Trust.
Thankful.


Faith.

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part V - END)

Disclaimer: Terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya lebih 'nyambung'. Untuk pengalaman membaca yang lebih lengkap, beli bukunya yah^^

Cerita telah sampai pada akhirnya. 
Sebuah kejadian di kapal haji, yang mencungkil pertanyaan kelima di kapal itu. Sebuah pertanyaan dari seseorang yang selama ini menjadi tempat bertanya: Gurutta sendiri.

"[...] Aku tidak ingin melihat lagi ada yang terluka, Nak." Gurutta berkata lirih.

Kepada Ambo Uleng.

"Gurutta, kita tidak akan pernah bisa meraih kebebasan kita tanpa peperangan! Tidak bisa. Kita harus melawan. Dengan air mata dan darah." Ambo Uleng menggenggam lengan Gurutta. 

"Aku tahu, sejak kejadian di Aceh, meninggalnya Syekh Raniri dan Cut Keumala, sejak saat itu Gurutta berjanji tidak akan menggunakan kekerasan lagi. Melawan lewat kalimat lembut, tulisan-tulisan menggugah, tapi kita tidak bisa mencabut duri di kaki kita dengan itu, Gurutta. Kita harus mencabutnya dengan tangan. Sakit memang, tapi harus dilakukan."

[...]

Gurutta mendongak, menatap langit-langit ruangan. Lihatlah ya Rabbi, betapa menyedihkan dirinya. Orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, sekarang bahkan tidak berani menjawab pertanyaan diri sendiri. [...] Ia pengecut. Ia selalu lari. Tidak sedetik pun ia hadir dalam pertempuran melawan penjajah. 

Tapi malam itu, kelasi yang pendiam itu berhasil mencungkil penjelasan tersebut. Ambo Uleng, dengan wajah yakin, menggenggam tangan Gurutta, berkata perlahan, "Gurutta, aku masih ingat ceramah Gurutta beberapa hari lalu di masjid kapal. Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman."

"Ilmu agamaku dangkal, Gurutta. Tapi malam ini, kita tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasehati perompak itu dngan ucapan-ucapan lembut [...]"

Gurutta menyeka pipinya yang basah, menatap kelasi yang bahkan baru beberapa hari lalu bisa shalat dengan genap. [...] Saatnya ia menunaikan tugasnya sebagai ulama, yang memimpin di garis terdepan melawan kezaliman dan kemungkaran.


Berjuang.
Tidak hanya cukup dengan doa dan harapan.
Terus mencoba dan berbuat yang nyata.
Itulah perjuangan.

Regards,

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part IV)

Disclaimer: terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya lebih 'nyambung'. Untuk pengalaman membaca yang lebih lengkap, beli bukunya yah^^

Tidak ada yang lebih pahit bagi anak muda, selain cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi lebih pahit lagi jika saling mencintai tanpa restu orang tua.

Itulah yang dialami Ambo Uleng, salah satu tokoh sentral di novel Rindu.

"'Perjodohan ini dilakukan oleh ayahnya dengan teman dekatnya di masa kecil. Sudah disetujui oleh orang tua kami sejak putriku masih kecil. Putriku akan dijodohkan dengan pemuda yang lebih pantas. Lebih berilmu, lebih berpendidikan, lebih terpandang derajatnya. Pemuda itu murid seseorang yang sangat penting di Gowa. Kami akan malu jika membatalkan perjodohan itu, Nak.' Ibunya sambil menangis, memohon kepadaku agar melepaskan anaknya. Jangan sakit hati. Memintaku mengikhlaskannya."

"[...] Aku kalah. Aku berlari sejauh mungkin dari kota kelahiran kami. Lari dari seluruh kisah cintaku [...]"

Ambo Uleng masih menatap meja di hadapannya.

"[...] Seluruh ceritamu adalah pertanyaan itu sendiri. Apakah itu cinta sejati? Apakah kau besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah kau masih memiliki kesempatan?"

[...]

"Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. [...] Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? [...]"

"Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. [...] Kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi [...]"

"Dengan meyakini itu, maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. [...]"


Very nice explanation. Buat aku, kamu, kita yang pernah atau sedang patah hati. Dan dengan manis, Gurutta menutup malam itu dengan bersenandung,

"Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.

Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."
Dan saat kamu melupakan.
Saat itu pula kamu merindukan.
Karena bukan melupakan, melainkan melepaskan..


Regards,


[REVIEW] Detoxify Skin using Sukin Super Greens!

Good day everyone!
Lagi-lagi udah menjelang weekend yah.. Seminggu terasa cepet banget diisi hari-hari yang sibuk pagi sampai malam, ya? Dan kali ini, aku pengen share tentang produk yang baru aku coba dari Sukin Organics.

Kalau kamu udah baca postku sebelumnya, pasti tahu kalau aku lagi suka sama detoks dan bahan-bahan yang alami ataupun organik. Oleh karena itu juga, aku tergiur banget waktu di Instagram nemu IG account benscrub dimana banyaaaak banget produk perawatan kecantikan yang alami dan organik.

Sukin Organics sendiri adalah produk Australia yang dikenal dengan kandungan natural dan harganya yang terjangkau. Tapi yang paling bikin aku pengen coba kemarin adalah line produknya yang Sukin Super Greens dengan komposisi utama kale, chlorella dan spirullina, dimana ketiga bahan ini dikenal dengan khasiatnya yang sangat bagus untuk kesehatan.

Kale adalah sayuran yang memiliki nutrisi sangat tinggi dan ampuh untuk detoksifikasi tubuh sehingga dia dipercaya bisa mencegah kanker. Nah, selain untuk dimakan, kale juga bagus untuk dijadikan perawatan kulit dari luar. Aku sih percaya, apapun yang bagus buat kita makan, bagus juga buat kulit, tapi yang organik yaa..

Bahan berikutnya, adalah chlorella. Chlorella adalah sejenis alga di air tawar yang dipercaya bisa membantu menurunkan berat badan, bahkan mengeluarkan toksin seperti timbal berat yang ada di dalam tubuh.Banyak banget deh manfaatnya. 

Lalu bahan utama yang ketiga adalah spirullina. Pasti udah pada tahu kan kalo spirullina adalah bahan yang sangat kaya akan manfaat untuk kesehatan. Selain sehat untuk dikonsumsi, mengaplikasikan spirullina pada kulit diyakini bisa mencegah penuaan dini, juga meningkatkan kemampuan kulit meregenerasi dirinya sendiri.

Hebat banget ya! Ketiga 'super-foods' di atas dijadikan Sukin sebagai bahan utama di seri Super Greens nya. Dan yang lebih asik lagi, Sukin menyediakan Starter Kit untuk seri ini, dimana harganya bisa jauuuh lebih murah dibanding beli satu-satu.

Paket pengiriman dari Benscrub bagus banget, plus ada complimentary voucher yang bisa dipakai untuk next purchase

Di paket ini sudah terdiri moisturiser, facial scrub dan serum. Benar-benar paket lengkap untuk merawat kulit, tinggal tambah beli maskernya aja kalau mau. Ukurannya pun normal, bukan mini size seperti starter kit yang pernah aku temukan.

1. Facial Recovery Serum

Serum ini dikemas dalam botol pump terbuat dari kaca yang menjamin isinya aman ga tumpah-tumpah dan memudahkan kita untuk ngambil produknya tinggal pencet aja. Disertai tutup plastik yang melindungi pump dari kotoran. Ukurannya 30ml, aku rasa sama banyaknya dengan serum yang umumnya dijual. 

Di bagian depan botol ada claim 'Paraben Free', bahkan di bawahnya tertulis 'Skincare that doesn't cost the earth'. Eco-friendly banget kan? Plus di bagian belakang botol juga ada banyak claim 'No SLS, No SLES, No Synthetic Fragrances, No Animal Derivatives' dan banyak lagi, serta menjamin produk ini 100% vegan dan 100% carbon neutral. Menarik banget, bener-bener alami!

Aromanya sendiri lembut, ga harum ga nyengat, tapi ada semacam aroma herbal (?) tapi buatku lembut aja ga ganggu. Teksturnya tergolong cair dibanding serum-serum lain yang pernah aku coba, tapi cukup melembabkan banget saat diaplikasikan ke kulit.


Yang bikin aku sedikit kecewa adalah setelah 2 minggu dipakai, pump botol udah agak rusak. Entah karena pumpnya emang ringkih atau saking cairnya serum ini jadi dia gampang meleber.
Bocor, meleber keluar dari samping pump-nya :(

2. Nutrient Rich Facial Moisturiser

Sama dengan kemasam serumnya, moisturise seri Super Greens ini juga dikemas dalam wadah higienis dengan dilengkapi pump untuk mengeluarkan produknya. Bedanya, botol moisturise ini terbuat dari plastik. Claim di stickernya pun sama dengan serumnya, 100% vegan dan lain-lain.

Aromanya sedikit lebih lembut daripada serum. Untuk tekstur, kebalikan dari serum, moisturiser ini sangat sangat kental. Padahal isinya 125ml, jadi aku pikir moisturiser ini bakal ga habis-habis deh.

Saking kerasa kentalnya, aku masih ga pede pakai moisturiser ini untuk skincare pagi karena khawatir bakal bikin wajah lebih 'mengkilap' atau mudah berkeringat. Jadi, aku pakai moisturiser ini as night cream, jadi besok paginya kulit tetep lembab walaupun semalaman terpapar AC.

3. Detoxyfying Facial Scrub


Isi terakhir dari paket Starter Kit Sukin Super Greens ini adalah Facial Scrub.  Ukurannya terbilang kecil, hanya 50 ml. Dan tidak seperti moisturiser dan serum, facial scrub ini hanya claim 'Sulphate & Paraben Free', tapi buatku ga masalah karena aku rasa dia tetep organic dan eco-friendly.

Tekstur scrubnya lembut, jadi nyaman banget scrubbing tanpa takut perih. Aromanya ga jauh beda sama saudara-saudaranya dan yang aku suka adalah setelah dibilas, kulit terasa lembab.


Overall:
Aku udah pakai Sukin Organics Super Greens ini sekitar 2 minggu dengan urutan serum di pagi hari bareng skincare lainnya, moisturiser di malam hari sebagai night cream, scrub dipakai seminggu dua kali. Aku merasa produk ini cukup melembabkan kulit, tapi selebihnya I don't notice any different. Cuma ngerasa seneng aja produk yang aku pakai adalah produk organik dan aman buat lingkungan. Yah, walaupun aku masih pakai produk lainnya yang belum tentu eco-friendly nya sih hehehe..

Untuk harga mungkin cukup mahal ya. Aku beli di website Benscrub dengan harga diskon. Tapi kalau kita hitung dan bandingkan dengan beli satuan, bukan paket Starter Kit, harga ini jauh lebih murah, lho!

Kemasan? Overall oke, kecuali kemasan serumnya. Awalnya aku suka karena botol pump dari kaca, tapi begitu dia meluber keluar-keluar, aku jadi mikir kemasan serum itu tidak terlalu higienis. Karena saat dari dalam bisa keluar, artinya dari luar pun bisa masuk. Dan untuk dibawa kemana-kemana, aku rasa kemasan Sukin ini tidak terlalu oke sih. 

Score: 3/5 

Regards,
Hana

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part III)

Disclaimer: Terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya lebih 'nyambung'. Untuk pengalaman membaca yang lebih lengkap, beli bukunya yah ^^

"Sejak kami menikah, hidupku tak memiliki pertanyaan lagi, Gurutta. Aku sudah memiliki semua jawaban. Buat apa bertanya? Aku menghabiskan hari dengan pasti. Aku bahagia, bersyukur atas setiap takdir yang kuterima. Tapi hari-hari ini, aku tidak bisa mencegahnya. Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Kenapa harus terjadi sekarang, Gurutta? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci? Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tanagn melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?" Mbah Kakung bertanya dengan suara tuanya yang bergetar.

... Mbah Putri meninggal di atas kapal. 


"Yang pertama, lahir dan mati adalah takdir Allah. [...] Kang Mas, Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita.[...] Jika Kang Mas merasa berhak bertanya kenapa harus sekarang Mbah Putri meninggal, maka izinkan saya betanya, kenapa 12 April 1878, Kang Mas harus berjumpa dengan seorang gadis cantik di pernikahan saudara. Kenapa pertemuan itu harus terjadi?"

[...]

"Tapi kembali lagi ke soal takdir tadi, mulailah menerimanaya dengan lapang hati, Kang Mas. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. [...] Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya."

"Yang kedua, biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan, Kang Mas. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apa lagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. [...]"

"Dalam Al Quran, ditulis dengan sangat indah, minta tolonglah kepada sabar dan shalat. [...] Dalam situasi tertentu, sabar bahkan adalah penolong paling dahsyat. Dan shalat, itu juga penolong terbaik tiada tara. [...]"

"Yang ketiga, mulailah memahami kejadian ini dari kacamata yang berbeda, agar lengkap. Apa itu? Mbah Putri meninggal di atas kapal. Mungkin itu kelihatannya buruk. Tapi tidakkah kita mau melihat dari kacamata yang berbeda, Kang Mas, bahwa Mbah Putri meninggal di atas kapal yang menuju Tanah Suci, dan dia menghembuskan napas terakhirnya saat sedang shalat Shubuh."


Sebuah pertanyaan tentang takdir. Yang sering kita pertanyakan. Mengapa harus begini? berandai-andai, seandainya saja begitu maka akan begini. Seakan kita yang menentukan semua. Seakan kita tahu hasil akhir dari sesuatu.

Dan seakan kita berhak mengatur keputusan Tuhan.

Astaghfirullah, ampuni hamba-Mu ini, ya Allah.

We have to struggle for life, but either it throws you good or bad times, we have to keep smiling to it. And keep struggling. Trying. That all what's human can do.

Regards,
Hana

Mistake...

... is when you feel afraid of trying more.

... is when you hesitate to do something.

... is what you think you have done to others.

... is what make you feel lost.

... is why you stop believing on yourself.

... is why you get hate from others.




... is the process of your improvement.

... is the reason you live as human.



== Hana ==                               

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part II)

Disclaimer: Terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya 'nyambung'. Kalau pengen baca lengkap dan aslinya, beli bukunya yah^^

"Apakah aku bahagia, Gurutta? Aku tidak tahu." Daeng Andipati menunduk menatap meja.

"Aku memang memiliki semuanya, harta benda, nama baik, pendidikan, bahkan istri yang cantik, anak-anak yang pintar dan menggemaskan. [...] Apakah aku bahagia? Hidupku dipenuhi kebencian, Gurutta [...]"

"Sejak melihat Gurutta di masjid kapal, aku sudah ingin bertanya. Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? [...] Aku lelah dengan kebencian ini." 
 Gurutta berhenti sejenak. Menatap lembut Daeng Andipati di hadapannya.

"Bagian yang pertama adalah, ketahuilah, Andi, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat mebenci orang lain. Ketika ada orang jahat membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar [...] Itu hak mutlak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham."

"[...] Tapi coba pikirkan hal ini. Pikirkan dalam-dalam, kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-ngaturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri."

"[...] Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. [...] Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."

"[...] Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus  tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus yang canggih, dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong."

"Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi."
Thoughtful.
Penuh dengan inspirasi. Dikemas dengan sangat apik, mengajak pembaca untuk berkaca, Daeng Andipati tidak sendiri.

Banyak dari kita yang membenci orang lain. Atau terkadang, kita sudah merasa memaafkan, tapi sering mengungkit atau mengkaitkan si A dengan kesalahan A, B, C, D.

Dan itu adalah hal yang tidak sehat. Justru membuat sakit diri kita sendiri. Penyakit hati, yang menggerogoti tubuh dari dalam, tanpa kita sadari.

Hal utama setelah membaca bagian Daeng Andipati dalam novel Rindu ini adalah, Gurutta membuat diri ini berpikir: Apakah aku bahagia?

Regards,
Hana




Page Number X


Let's back to Page Number X.
That was the first.
She smiled, surprised.
She was the happiest girl in the world.
She felt she could beat the world.

Let’s back to Page Number X.
The happiness gone.
Time passed, things changed.
She couldn’t feel anything.
Her smile washed away.
Lost.

Let’s back to Page Number X.
Everything was so blurry.
She tried to find a way.
She decided to start a journey.
Where new life she hoped to be there.
Another chance, maybe.
Wished it would be a better one.

Another surprise.
Different, but same surprise.
‘Is it for me?’ ask her to herself.
Happy, she hugs the present.
‘This will be different,’ she thinks.
She changes, people changes, time changes.
Everything has changed.
Assured. Blessed. Happy.
Everything.

Let’s back to Page Number X.
No.
Not everything has changed.
Certain things remain the same.
She feels empty.
Will that Page Number X come over again?

2016, February 2nd      

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...