Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2011

Zaman Dulu, Zaman Sekarang

Beberapa bulan yang lalu, saya kaget karena tiba" digit pertama umur saya sudah berubah.. Sungguh tidak terasa waktu berjalan..
Saya ingat, dulu ketika saya masih kecil, saya ingin sekali segera dewasa, tumbuh besar, tinggi, pokoknya pengen cepat-cepat besar deh. Alasan saya saat itu adalah karena saya ingin segera bisa ikut dandan pakai lipstik seperti ibu saya, memakai sepatu berhak seperti ibu saya, memakai pakaian seperti orang dewasa, dan lain-lain. Begitu pula dengan adik saya. Di usia yang terpaut jauh dengan saya, dia sudah mengerti bagaimana berdandan. Berbeda dengan saya, yang dulu hanya asal mencoreng-coreng mata,pipi dan bibir pakai lipstik milik ibu, adik saya sudah tahu apa dan bagaimana menggunakan alat-alat make up seperti foundation,eyeshadow, blush on, lipstik,mascara, dan lain-lain. Mungkin karena dulu di zaman saya wanita yang saya lihat ya ibu saya yang tidak pernah memakai make up apa-apa kecuali lipstik dan bedak, sedangkan adik saya saat ini memiliki panu…

Membaca dan Menulis Sejak Kecil

Hari ini, saya sudah mati gaya berlibur di kampung halaman saya. Karena kemarin saya pikir akan sebentar saja di sini, saya tidak membawa properti liburan saya, ssemacam buku bacaan, dvd, dan sejenisnya. Akhirnya, saya meminjam buku bacaan milik adik saya.
Namanya anak SD, buku bacaannya ya buku bacaan anak-anak, yang masuk kategori Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Novelnya tipis saja, dengan cover yang imut-imut. Sehari ini saja saya sudah selesai dua buku. Ceritanya cukup menarik, sih, dengan bahasa yang khas anak-anak, membuat saya tersenyum sendiri bukan karena ceritanya yang lucu tapi isi khayalannya yang super dan penggambarannya yang polos sekali.
IMHO, sudah hebat banget anak kecil umur 10 tahun (bahkan kurang), bisa menulis novel, walaupun tidak terlalu tebal. At least, mereka sudah pintar menuangkan pikirannya melalui tulisan. Padahal kita yang sudah besar saja, terkadang sulit sekali menulis dan merangkai kata-kata menjadi satu kalimat sederhana saja.
Saya ingat, dulu zaman …

Gurauan Jayus Dibutuhkan [in Particular Time]

Saya habis ditebaki adik saya nih, "penggaris bisa jadi apa aja hayo?"
Saya mikir, apa ya??penggaris kan ya penggaris.. --a
Lalu, adik saya jawab sendiri, "bisa jadi belek, bisa jadi iler, bisa jadi air mata.."
Saya mikir lagi, apaaa cobaa??? Dan saya bertanya, "maksudnya?"
Dia jawab, "penggaris plastik yang lemes elastis itu lho, Mbak, kan kalo dibentuk bulet, jadi belek, kalo atasnya kasih sudut jadi air mata, iler.."
Hah?? Saya langsung shock mendengar jawabannya, yang awalnya saya pikir jawabannya akan sedikit ilmiah, ternyata.... Bayangkan aja belekmu segede itu, udah gak bisa liat kalii.. --" Yah,, namanya anak-anak, guyonan garing gitu ya mereka anggap lucu aja..
Dan berhubung saya lagi capek banget, tebakan adik saya tadi sukses bikin saya terbahak-bahak. Bukan karena lucu, tapi karena keanehan dan kegaringannya.. Hahaha..
Jadi saya simpulkan, terkadang kita butuh adanya guyonan jayus. Tidak perlu terlalu 'serius' membuat g…

Dedicated for My Best Friend

Dear, Sahabatku..

Kamu mungkin tidak membaca tulisanku ini. Mungkin kamu sibuk, mungkin kamu tidak mempunyai cukup waktu untuk hal sesimpel ini. Sungguh, aku mengerti kesibukanmu di tengah riuhnya hidup ini.

Di tengah semua masalah yang kau hadapi, aku tahu semua perkataanku padamu tidak semudah kedengarannya. Sungguh aku tahu beratnya beban yang kamu tanggung, Kawan. Jika aku adalah kamu, mungkin aku tidak akan sekuat kamu. Aku yang masih suka bersenang-senang, tidak peduli ada orang lain yang sedang bersedih. Aku yang masih tidak berpikir sulitnya mendapatkan uang untuk sekedar makan. Ya, Sahabatku, aku tahu aku tidak akan sanggup menanggung beban yang sanggup kau tanggung hampir seumur hidupmu. Tapi itulah kuasa Tuhan. Dia tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya. Itu artinya, kamu adalah orang yang kuat, Kawan. Janganlah kamu berkata, "aku gak kuat hidup seperti ini". Karena Tuhan tahu kamu sanggup

Sungguh, aku sangat ingin ada di sana. Men…

Apa Anda Konsumen Loyal?

Pertanyaan ini cukup menyindir saya. Ya, bisa dibilang saya bukan termasuk konsumen loyal. Saya sangat suka mencoba produk-produk dengan merek berbeda-beda. Jarang sekali setia membeli produk yang sama dua kali berturut-turut. Pernah saya berpikir, mengapa harus berganti produk kalau produk yang sekarang sudah cocok? Tapi entah mengapa, setiap saya berbelanja kebutuhan bulanan, walaupun sudah saya catat apa saja yang saya butuhkan dan sudah merencanakan merek apa yang akan saya pilih, begitu saya sampai toko dan melihat begitu banyak merek yang menjanjikan ini-itu, selalu saja saya bingung lagi ingin membeli yang mana. Apa Anda juga mengalami hal yang sama?

Kemudian saya menemukan jawabannya, ketika saya membaca buku pegangan kuliah dalam rangka akan ujian. Di zaman sekarang, dimana persaingan pasar terjadi dengan sangat ketat, semakin banyak produsen yang menawarkan produk yang hampir sama satu sama lain. akibatnya, semakin sedikit perbedaan produk yang terlihat secara nyata. Selain …

Chapter 2 - LUNA

Akhirnya datang juga hari ini,hari dimana hasil dari audisi minggu lalu akan diumumkan. Aku sangat tidak sabar menunggu hari ini sampai-sampai bangun pagi pun aku tidak perlu dibangunkan. Dengan semangat aku mengikat rambut panjangku tinggi ke atas kepala dan turun ke ruang makan untuk sarapan. Aku menuruni tangga sambil bersenandung riang. Lalu aku lihat ibu sedang memasak di dapur.
Aku menghampirinya dan mencium pipinya, “Selamat pagi, Bu! Ibu terlihat cantik sekali hari ini,” pujiku gembira.
Ibu memandangku tidak percaya. “Ada apa? Suatu kejadian langka kau bangun sepagi ini tanpa ibu perlu meneriakimu, apalagi dengan wajah gembira seperti itu,” kata ibu sambil menyipitkan mata curiga.
“Tidak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya sedang bersemangat hari ini,” jawabku mulai khawatir ibu curiga.
“Kau bohong. Kau tahu, ibu mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, tapi ibu tahu apa yang sedang kau rasakan. Ada apa, Luna?” tanya ibu menyelidik.
“Tidak ada.”
“Lalu mengapa kau tiba-tiba khawatir? Padahal…

UTS yang Kelam

Finally, saya kembali ngeblog.. Setelah 2 minggu kemarin terkungkung oleh penjara UTS yang memusingkan.. Sebenarnya, lagi-lagi, karena nggak nyicil belajar dari awal. Baru deh H- 1 minggu sebelum ujian heboh cari bahan slide, copy catetan temen, ngrangkum kitab pegangan dan slide seadanya. Kacau deh..

Dan hal ini terjadi setiap akan ujian, UTS maupun UAS. Mungkin dulu, ketika masih semester awal-awal sistem kebut seminggu masih manjur lah.. Yah, at least, masih bisa ditolerir karena materi tidak terlalu banyak. Tapi ternyata, sekarang sistem itu sudah out of date. Tapiii.. Biasanya paradigma seperti ini selalu saya ambil ketika akan, sedang, dan setelah musim ujian berlangsung. Pada masa-masa itu, tekad kuat membara untuk saya belajar lebih rajin di waktu kuliah. Namun entah kenapa, biasanya di minggu ketiga kuliah pasca UTS atau pasca liburan semester, tekad itu lenyap sudah. Yeah, I know me so well.
Mungkin sudah waktunya, makin tua saya untuk makin konsisten dengan tekad awal saya.…