[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part I)

"Aku bekas seorang cabo, Gurutta." Bonda Upe berkata lirih, terisak. "Lima belas tahun lebih aku menjadi pelacur. Sekuat apa pun aku melawan ingatan itu, aku tidak bisa. Di kepalaku masih terlintas wajah-wajah pengunjung Macao Po. Aku bahkan masih mengingat detail tangga besar di ruang tengah yang berwarna emas. Lampu kristal, kursi-kursi panjang. Telingaku masih mendengar gelak tawa di ruangan, deting gelas minuman keras. Aku tidak bisa mengenyahkan kenangan itu, Gurutta."

"Bagaimana kalau anak-anak tahu? Bagaimana kalau Anna dan Elsa tahu guru mengajinya bekas seorang cabo? Bagaimana kalau ada penumpang yang tahu? Aku seorang cabo, Gurutta!" Bonda Upe berseru serak. Ia sudah hampir tiba di bagian paling penting, pertanyaan besarnya.

"Lantas... Lantas..." Dengan suara tergagap karena gemetar, "Aku seorang cabo, Gurutta. Apakah Allah... Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak meginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi... Apakah Allah akan menerimaku? Atau mengabaikan perempuan pendosa sepertiku... Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatkku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu dengan siapa pun."

Kabin kecil itu lengang sejenak. Pertanyaan itu telah tersampaikan.

Pertanyaan pertama. Yang aku yakin kita semua, makhluk pendosa, pernah mempertanyakan. Akankah Allah memaafkan perbuatan kita? Akankah rasa penyesalan kita diterima-Nya? Bagaimana jika orang lain tahu masa lalu kita? Seandainya saja begini, begitu..

Terlalu banyak pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya. Pertanyaan tentang masa lalu, penyesalan, dan berakhir dengan ketakutan menghadapi masa depan. Seakan hidup kita sudah sampai akhir jalan buntu.

Tapi Tere Liye, melalui Gurutta, memberi sudut pandang dan bahan renungan yang bagus untuk kita menjadi lebih yakin, masa depan masih tetap ada.

"Bagian yang pertama, kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan  hidup, Nak. Aku tahu, lima belas tahun menjadi pelacur adalah nista yang tidak terbayangkan. Tapi sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkerammannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala."

"Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu? Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia."

"Apakah mudah melakukannya? Itu sulit. Tapi bukan berarti mustahil. Di sebelahmu saat ini, ada seseorang yang dengan brilian berhasil melakukannya. Enlai. Dia berhasi menerimamu apa adanya, Nak. Dia tulus menyemangatimu, tulus mencintaimu. Padahal, dia tahu persis kau seorang cabo. Sedikit sekali laki-laki yang bisa menyayangi bekas seorang cabo. Tapi Enlai bisa, karena dia menerima kenyataan itu. Dia peluk erat sekali. Dia bahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti."

Terima diri kita sendiri. Jika memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, sekarang bisa apa selain menerimanya? Sekarang bisa apa selain meminta maaf pada Allah dan berusaha untuk tidak mengulanginya? Manusia selalu punya kesempatan untuk berubah kan?

"Bagian yang kedua, tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa kau sebenarnya. Maka ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis pakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain."

"Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri."

"Kita tidak perlu  membuktikan apa pun, kepada diapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu."

"Besok lusa, mungkin ada saja penumpang kapal yang tahu kau bekas seorang cabo. Tapi buat apa dicemaskan? Saudaramu sesama muslim, jika dia tahu, maka dia akan menutup aibmu. Karena Allah menjanjikan barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Itu janji yang hebat sekali. Kalaupun ada saudara kita yang tetap membahasnya, mengungkitnya, kita tidak perlu berkecil hati. Abaikan saja. Dia melakukan itu karena ilmunya dangkal. Doakan saja semoga besok lusa dia akan paham."

Aku tahu sekali, selama ini kita selalu cemas akan penilaian orang lain. Bahkan, jangan-jangan selama ini kita 'memalsukan' diri demi penilaian orang lain?

Dari diskusi antara Gurutta dan Bonda Upe, kita belajar untuk tidak lagi khawatir akan pandangan orang lain terhadap kita. Tidak lagi tenggelam dalam ketakutan orang lain tahu masa lalu yang pernah kita lewati. Jika mereka orang baik, tulus untuk berteman dengan kita, mereka tidak akan mempermasalahkan masa lalu, bukan?

"Bagian yang ketiga, terakhir, apakah Allah akan menerima seorang pelacur di Tanah Suci? Jawabannya, hanya Allah yang tahu. Kita tidak bisa menebak, menduga, memaksa, merajuk, dan sebagainya. Itu hak penuh Allah. Tapi ketahuilah, Nak, ada sebuah kisah sahih dari Nabi kita. Mungkin itu akan membuatmu menjadi lebih mantap."

"Izinkan orang tua ini mengutip dalil agama kita. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, 'Suatu saat ada seekor anjing yang berputar-putar di sekitar sumur. Anjing itu hampir mati karena kehausan, dan dia tidak bisa mengambil air di dalam sumur. Kemudian, datanglah seorang pelacur dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Pelacur itu melepas sepatunya dan mengambilkan air untuk anjing itu, dan dia pun meminumkannya kepada anjing itu. Maka, diampunilah dosa pelacur itu lantaran perbuatan itu.'"

"Apakah Allah akan menerima haji seorang pelacur? Hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa berharap dan takut. Senantiasa berharap atas ampunan-Nya. Selalu takut atas azabnya. Belajarlah dari riwayat itu. Selalulah berbuat baik, Upe. Selalu. Maka semoga besok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni. Mengajar anak-anak mengaji misalnya, boleh jadi itu adalah sebabnya."
 Semoga besok lusa, ada satu perbuatan baik kita yang menjadi sebab kita diampuni.


Regards,
Hana

[REVIEW] Rindu - Tere Liye (Intro)

Hai semua, selamat malam...

Ketemu lagi di weekend lagi, tapi kali ini aku ingin menulis review tentang buku yang baru-baru ini aku selesai baca. Dan sepertinya untuk me-review satu buku ini, aku akan bagi jadi beberapa part, karena topiknya masing-masing sangat menarik dan inspiratif (seenggaknya inspiratif buatku yah hehe).

Buku yang akan aku review, seperti tertulis di judul post ini, adalah novel tulisan Tere Liye yang berjudul 'Rindu'. Sebenarnya aku beli novel ini pun impulsif dan random aja, tanpa tahu sebelumnya novel ini tentang apa dan bahkan belum pernah sekali pun membaca coretan tangan seorang Tere Liye. Tapi setelah mencicipi satu novel 'Rindu' ini, aku jadi ketagihan pengen baca tulisan beliau lainnya >,<






"Apalah arti memiliki, 
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak juga saat menemukan?

Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu
yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga
rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."

Paragraf di atas, yang tertulis di bagian belakang novel-lah membuat aku tertarik untuk mengadopsinya dari abang-abang yang menjajakannya keliling dari warung ke warung. Mungkin buku yang aku beli palsu (?) *silly me* tapi tidak mengurangi rasa hormatku pada penulis, Tere Liye.

'Rindu' berisi tentang lima pertanyaan hidup, yang aku yakin pasti kita pernah mempertanyakannya dalam hati, setidaknya satu saja dari lima pertanyaan hidup. Lima pertanyaan yang dikemas apik dalam perjalanan panjang menuju Tanah Suci umat Islam, perjalanan haji.

Karena tulisan tentang review novel ini tampaknya akan panjang dan karena tampaknya aku tidak hanya akan mereview, tapi juga memasukkan beberapa pikiran dan komentarku, post ini lebih baik aku potong di intro ini saja ya? Bagi kalian yang tertarik pengen baca, silahkan tunggu post-ku berikutnya yaa...

Regards,
Hana

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...