Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

[REVIEW] Hujan - Tere Liye

Hai Dear..

Back again with book review.
Dan lagi-lagi buku Tere Liye. Lagi jatuh cinta sih sama tulisan-tulisan dia. I amazed on how he 'serves' the story, that actually quite simple, into an amazing plot, events, setting, or whatever it is called in literature terms.

Sebelum Hujan, aku baru baca satu bukunya, yaitu Rindu yang aku bagi jadi 5 part review-nya di blog ini - saking banyaknya hal positif yang pengen aku share dari buku itu. Setelah Rindu, tanpa sadar aku membentuk persepsi di dalam otak, Tere Liye adalah penulis buku berisi nasehat-nasehat yang dikemas dalam sebuah perjalanan fiksional. Ceritanya mengalir indah, berkesan 'vintage' atau apa yaa... Aku ga bisa menggambarkan dengan tepat nih >,<

Kini Hujan, awalnya saja membuatku terpana. Sungguh berbeda. Kalau Rindu bersetting jauh di masa lalu, di zaman penjajahan, Hujan bersetting jauh di masa depan, di sebuah kota canggih berteknologi tinggi! Futuristik!

Dan lagi-lagi, aku terpana dengan betapa canggihnya Tere Liye menyajikan cerita yang cukup simpel - cinta dan melupakan - dengan kejadian-kejadian sekitarnya yang tidak biasa.



--------------------------------------------------[ T E A S E R]------------------------------------------------------

"Ada sebuah legenda yang pantas didengar kembali.

"Alkisah, ada seorang raksasa patah hati. Sebuah tragedi melukai hatinya. Raksasa itu berlari ke tengah lautan yang dalamnya hanya sebatas pinggangnya - saking besarnya raksasa itu. Dia menangis tersedu di sana, memuul-mukul nestapa permukaan laut. Meraung. Menggerung. 

"Berhari-hari kesedihan itu menguar pekat. Raksasa yang sedih membuat ombak lautan menjadi tinggi. Awan hitam bergulung. Petir dan guntur menyalak di antara raung kesedihannya. Badai melanda pesisir. Kekacauan terjadi di mana-mana. Sungguh malang nasib raksasa itu, kesedihannya seperti kabar buruk bagi sekitar. Penduduk tahu betapa menderitanya raksasa. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa pun

"Setelah sembilan belas hari raksasa itu masih menangis di tengah lautan, peri laut memutuskan melakukan sesuatu karena tempat tinggal mereka di laut dalam juga terganggu. Peri menemui raksasa. Menawarkan sebuah solusi yang tidak pernah terpikirkan. Bagaimana cara menghilangkan kesedihan sang raksasa.

"'Aku tahu betapa sesaknya rasa sakit itu. Setiap hela napas. Setiap detik. Laksana ada beban menindih hati kita. Tangisan membuatnya semakin perih. Ingatan itu terus kembali, kembali, dan kembali. Kau tidak berdaya mengusirnya, bukan?'

"Sebagai jawaban, raksasa tersedu lebih kencang.

"Aku bisa membuat seluruh kesedihan itu pergi selama-lamanya. Tapi harganya sangat mahal. Apakah kau sungguh-sungguh ingin menghapus kenangan yang menyakitkan itu?' peri menawarkan obat terbaik.

"Raksasa sudah tidak tahan lagi. Dia ingin melenyapkan semua ingatan. seluruh kesedihannya. Maka, tanpa berpikir panjang dia mengangguk.

"Malam itu, saat purnama tertutup awan, peri mengambil seluruh kesedihan milik raksasa dengan cara mengubah raksasa itu menjadi batu. Saking besarnya tubuh raksasa, batu itu menjadi sebuah pulau. Seketika tubuhnya membatu. Badai reda, awan hitam pergi. Seluruh kesedihan telah hilang."


Itulah kenangan. Itulah kesedihan. Sebuah bagian yang membentuk kita. Ketika dia hilang, hilang juga lah kita.

Menghilang. Mati.

Maka peluklah kenangan. Terimalah kesedihan.

Karena di setiap helai kenangan, di situ ada sepotong hidup kita.


Regards,
Hana

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part V - END)

Disclaimer: Terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya lebih 'nyambung'. Untuk pengalaman membaca yang lebih lengkap, beli bukunya yah^^

Cerita telah sampai pada akhirnya. 
Sebuah kejadian di kapal haji, yang mencungkil pertanyaan kelima di kapal itu. Sebuah pertanyaan dari seseorang yang selama ini menjadi tempat bertanya: Gurutta sendiri.

"[...] Aku tidak ingin melihat lagi ada yang terluka, Nak." Gurutta berkata lirih.

Kepada Ambo Uleng.

"Gurutta, kita tidak akan pernah bisa meraih kebebasan kita tanpa peperangan! Tidak bisa. Kita harus melawan. Dengan air mata dan darah." Ambo Uleng menggenggam lengan Gurutta. 

"Aku tahu, sejak kejadian di Aceh, meninggalnya Syekh Raniri dan Cut Keumala, sejak saat itu Gurutta berjanji tidak akan menggunakan kekerasan lagi. Melawan lewat kalimat lembut, tulisan-tulisan menggugah, tapi kita tidak bisa mencabut duri di kaki kita dengan itu, Gurutta. Kita harus mencabutnya dengan tangan. Sakit memang, tapi harus dilakukan."

[...]

Gurutta mendongak, menatap langit-langit ruangan. Lihatlah ya Rabbi, betapa menyedihkan dirinya. Orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, sekarang bahkan tidak berani menjawab pertanyaan diri sendiri. [...] Ia pengecut. Ia selalu lari. Tidak sedetik pun ia hadir dalam pertempuran melawan penjajah. 

Tapi malam itu, kelasi yang pendiam itu berhasil mencungkil penjelasan tersebut. Ambo Uleng, dengan wajah yakin, menggenggam tangan Gurutta, berkata perlahan, "Gurutta, aku masih ingat ceramah Gurutta beberapa hari lalu di masjid kapal. Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman."

"Ilmu agamaku dangkal, Gurutta. Tapi malam ini, kita tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasehati perompak itu dngan ucapan-ucapan lembut [...]"

Gurutta menyeka pipinya yang basah, menatap kelasi yang bahkan baru beberapa hari lalu bisa shalat dengan genap. [...] Saatnya ia menunaikan tugasnya sebagai ulama, yang memimpin di garis terdepan melawan kezaliman dan kemungkaran.


Berjuang.
Tidak hanya cukup dengan doa dan harapan.
Terus mencoba dan berbuat yang nyata.
Itulah perjuangan.

Regards,

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part IV)

Disclaimer: terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya lebih 'nyambung'. Untuk pengalaman membaca yang lebih lengkap, beli bukunya yah^^

Tidak ada yang lebih pahit bagi anak muda, selain cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi lebih pahit lagi jika saling mencintai tanpa restu orang tua.

Itulah yang dialami Ambo Uleng, salah satu tokoh sentral di novel Rindu.

"'Perjodohan ini dilakukan oleh ayahnya dengan teman dekatnya di masa kecil. Sudah disetujui oleh orang tua kami sejak putriku masih kecil. Putriku akan dijodohkan dengan pemuda yang lebih pantas. Lebih berilmu, lebih berpendidikan, lebih terpandang derajatnya. Pemuda itu murid seseorang yang sangat penting di Gowa. Kami akan malu jika membatalkan perjodohan itu, Nak.' Ibunya sambil menangis, memohon kepadaku agar melepaskan anaknya. Jangan sakit hati. Memintaku mengikhlaskannya."

"[...] Aku kalah. Aku berlari sejauh mungkin dari kota kelahiran kami. Lari dari seluruh kisah cintaku [...]"

Ambo Uleng masih menatap meja di hadapannya.

"[...] Seluruh ceritamu adalah pertanyaan itu sendiri. Apakah itu cinta sejati? Apakah kau besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah kau masih memiliki kesempatan?"

[...]

"Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. [...] Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? [...]"

"Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. [...] Kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi [...]"

"Dengan meyakini itu, maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. [...]"


Very nice explanation. Buat aku, kamu, kita yang pernah atau sedang patah hati. Dan dengan manis, Gurutta menutup malam itu dengan bersenandung,

"Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.

Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."
Dan saat kamu melupakan.
Saat itu pula kamu merindukan.
Karena bukan melupakan, melainkan melepaskan..


Regards,


[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part III)

Disclaimer: Terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya lebih 'nyambung'. Untuk pengalaman membaca yang lebih lengkap, beli bukunya yah ^^

"Sejak kami menikah, hidupku tak memiliki pertanyaan lagi, Gurutta. Aku sudah memiliki semua jawaban. Buat apa bertanya? Aku menghabiskan hari dengan pasti. Aku bahagia, bersyukur atas setiap takdir yang kuterima. Tapi hari-hari ini, aku tidak bisa mencegahnya. Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Kenapa harus terjadi sekarang, Gurutta? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci? Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tanagn melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?" Mbah Kakung bertanya dengan suara tuanya yang bergetar.

... Mbah Putri meninggal di atas kapal. 


"Yang pertama, lahir dan mati adalah takdir Allah. [...] Kang Mas, Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita.[...] Jika Kang Mas merasa berhak bertanya kenapa harus sekarang Mbah Putri meninggal, maka izinkan saya betanya, kenapa 12 April 1878, Kang Mas harus berjumpa dengan seorang gadis cantik di pernikahan saudara. Kenapa pertemuan itu harus terjadi?"

[...]

"Tapi kembali lagi ke soal takdir tadi, mulailah menerimanaya dengan lapang hati, Kang Mas. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. [...] Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya."

"Yang kedua, biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan, Kang Mas. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apa lagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. [...]"

"Dalam Al Quran, ditulis dengan sangat indah, minta tolonglah kepada sabar dan shalat. [...] Dalam situasi tertentu, sabar bahkan adalah penolong paling dahsyat. Dan shalat, itu juga penolong terbaik tiada tara. [...]"

"Yang ketiga, mulailah memahami kejadian ini dari kacamata yang berbeda, agar lengkap. Apa itu? Mbah Putri meninggal di atas kapal. Mungkin itu kelihatannya buruk. Tapi tidakkah kita mau melihat dari kacamata yang berbeda, Kang Mas, bahwa Mbah Putri meninggal di atas kapal yang menuju Tanah Suci, dan dia menghembuskan napas terakhirnya saat sedang shalat Shubuh."


Sebuah pertanyaan tentang takdir. Yang sering kita pertanyakan. Mengapa harus begini? berandai-andai, seandainya saja begitu maka akan begini. Seakan kita yang menentukan semua. Seakan kita tahu hasil akhir dari sesuatu.

Dan seakan kita berhak mengatur keputusan Tuhan.

Astaghfirullah, ampuni hamba-Mu ini, ya Allah.

We have to struggle for life, but either it throws you good or bad times, we have to keep smiling to it. And keep struggling. Trying. That all what's human can do.

Regards,
Hana

[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part II)

Disclaimer: Terdapat edit di sana-sini untuk keperluan penulisan post supaya 'nyambung'. Kalau pengen baca lengkap dan aslinya, beli bukunya yah^^

"Apakah aku bahagia, Gurutta? Aku tidak tahu." Daeng Andipati menunduk menatap meja.

"Aku memang memiliki semuanya, harta benda, nama baik, pendidikan, bahkan istri yang cantik, anak-anak yang pintar dan menggemaskan. [...] Apakah aku bahagia? Hidupku dipenuhi kebencian, Gurutta [...]"

"Sejak melihat Gurutta di masjid kapal, aku sudah ingin bertanya. Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? [...] Aku lelah dengan kebencian ini." 
 Gurutta berhenti sejenak. Menatap lembut Daeng Andipati di hadapannya.

"Bagian yang pertama adalah, ketahuilah, Andi, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat mebenci orang lain. Ketika ada orang jahat membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar [...] Itu hak mutlak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham."

"[...] Tapi coba pikirkan hal ini. Pikirkan dalam-dalam, kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-ngaturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri."

"[...] Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. [...] Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati."

"[...] Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus  tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus yang canggih, dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong."

"Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi."
Thoughtful.
Penuh dengan inspirasi. Dikemas dengan sangat apik, mengajak pembaca untuk berkaca, Daeng Andipati tidak sendiri.

Banyak dari kita yang membenci orang lain. Atau terkadang, kita sudah merasa memaafkan, tapi sering mengungkit atau mengkaitkan si A dengan kesalahan A, B, C, D.

Dan itu adalah hal yang tidak sehat. Justru membuat sakit diri kita sendiri. Penyakit hati, yang menggerogoti tubuh dari dalam, tanpa kita sadari.

Hal utama setelah membaca bagian Daeng Andipati dalam novel Rindu ini adalah, Gurutta membuat diri ini berpikir: Apakah aku bahagia?

Regards,
Hana




[REVIEW] Spoiler Alert! ~ Rindu - Tere Liye (Part I)

"Aku bekas seorang cabo, Gurutta." Bonda Upe berkata lirih, terisak. "Lima belas tahun lebih aku menjadi pelacur. Sekuat apa pun aku melawan ingatan itu, aku tidak bisa. Di kepalaku masih terlintas wajah-wajah pengunjung Macao Po. Aku bahkan masih mengingat detail tangga besar di ruang tengah yang berwarna emas. Lampu kristal, kursi-kursi panjang. Telingaku masih mendengar gelak tawa di ruangan, deting gelas minuman keras. Aku tidak bisa mengenyahkan kenangan itu, Gurutta."

"Bagaimana kalau anak-anak tahu? Bagaimana kalau Anna dan Elsa tahu guru mengajinya bekas seorang cabo? Bagaimana kalau ada penumpang yang tahu? Aku seorang cabo, Gurutta!" Bonda Upe berseru serak. Ia sudah hampir tiba di bagian paling penting, pertanyaan besarnya.

"Lantas... Lantas..." Dengan suara tergagap karena gemetar, "Aku seorang cabo, Gurutta. Apakah Allah... Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak meginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi... Apakah Allah akan menerimaku? Atau mengabaikan perempuan pendosa sepertiku... Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatkku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu dengan siapa pun."

Kabin kecil itu lengang sejenak. Pertanyaan itu telah tersampaikan.

Pertanyaan pertama. Yang aku yakin kita semua, makhluk pendosa, pernah mempertanyakan. Akankah Allah memaafkan perbuatan kita? Akankah rasa penyesalan kita diterima-Nya? Bagaimana jika orang lain tahu masa lalu kita? Seandainya saja begini, begitu..

Terlalu banyak pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya. Pertanyaan tentang masa lalu, penyesalan, dan berakhir dengan ketakutan menghadapi masa depan. Seakan hidup kita sudah sampai akhir jalan buntu.

Tapi Tere Liye, melalui Gurutta, memberi sudut pandang dan bahan renungan yang bagus untuk kita menjadi lebih yakin, masa depan masih tetap ada.

"Bagian yang pertama, kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan  hidup, Nak. Aku tahu, lima belas tahun menjadi pelacur adalah nista yang tidak terbayangkan. Tapi sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkerammannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala."

"Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu? Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia."

"Apakah mudah melakukannya? Itu sulit. Tapi bukan berarti mustahil. Di sebelahmu saat ini, ada seseorang yang dengan brilian berhasil melakukannya. Enlai. Dia berhasi menerimamu apa adanya, Nak. Dia tulus menyemangatimu, tulus mencintaimu. Padahal, dia tahu persis kau seorang cabo. Sedikit sekali laki-laki yang bisa menyayangi bekas seorang cabo. Tapi Enlai bisa, karena dia menerima kenyataan itu. Dia peluk erat sekali. Dia bahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti."

Terima diri kita sendiri. Jika memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, sekarang bisa apa selain menerimanya? Sekarang bisa apa selain meminta maaf pada Allah dan berusaha untuk tidak mengulanginya? Manusia selalu punya kesempatan untuk berubah kan?

"Bagian yang kedua, tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa kau sebenarnya. Maka ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis pakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain."

"Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri."

"Kita tidak perlu  membuktikan apa pun, kepada diapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu."

"Besok lusa, mungkin ada saja penumpang kapal yang tahu kau bekas seorang cabo. Tapi buat apa dicemaskan? Saudaramu sesama muslim, jika dia tahu, maka dia akan menutup aibmu. Karena Allah menjanjikan barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Itu janji yang hebat sekali. Kalaupun ada saudara kita yang tetap membahasnya, mengungkitnya, kita tidak perlu berkecil hati. Abaikan saja. Dia melakukan itu karena ilmunya dangkal. Doakan saja semoga besok lusa dia akan paham."

Aku tahu sekali, selama ini kita selalu cemas akan penilaian orang lain. Bahkan, jangan-jangan selama ini kita 'memalsukan' diri demi penilaian orang lain?

Dari diskusi antara Gurutta dan Bonda Upe, kita belajar untuk tidak lagi khawatir akan pandangan orang lain terhadap kita. Tidak lagi tenggelam dalam ketakutan orang lain tahu masa lalu yang pernah kita lewati. Jika mereka orang baik, tulus untuk berteman dengan kita, mereka tidak akan mempermasalahkan masa lalu, bukan?

"Bagian yang ketiga, terakhir, apakah Allah akan menerima seorang pelacur di Tanah Suci? Jawabannya, hanya Allah yang tahu. Kita tidak bisa menebak, menduga, memaksa, merajuk, dan sebagainya. Itu hak penuh Allah. Tapi ketahuilah, Nak, ada sebuah kisah sahih dari Nabi kita. Mungkin itu akan membuatmu menjadi lebih mantap."

"Izinkan orang tua ini mengutip dalil agama kita. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, 'Suatu saat ada seekor anjing yang berputar-putar di sekitar sumur. Anjing itu hampir mati karena kehausan, dan dia tidak bisa mengambil air di dalam sumur. Kemudian, datanglah seorang pelacur dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Pelacur itu melepas sepatunya dan mengambilkan air untuk anjing itu, dan dia pun meminumkannya kepada anjing itu. Maka, diampunilah dosa pelacur itu lantaran perbuatan itu.'"

"Apakah Allah akan menerima haji seorang pelacur? Hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa berharap dan takut. Senantiasa berharap atas ampunan-Nya. Selalu takut atas azabnya. Belajarlah dari riwayat itu. Selalulah berbuat baik, Upe. Selalu. Maka semoga besok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni. Mengajar anak-anak mengaji misalnya, boleh jadi itu adalah sebabnya."
 Semoga besok lusa, ada satu perbuatan baik kita yang menjadi sebab kita diampuni.


Regards,
Hana

[REVIEW] Rindu - Tere Liye (Intro)

Hai semua, selamat malam...

Ketemu lagi di weekend lagi, tapi kali ini aku ingin menulis review tentang buku yang baru-baru ini aku selesai baca. Dan sepertinya untuk me-review satu buku ini, aku akan bagi jadi beberapa part, karena topiknya masing-masing sangat menarik dan inspiratif (seenggaknya inspiratif buatku yah hehe).

Buku yang akan aku review, seperti tertulis di judul post ini, adalah novel tulisan Tere Liye yang berjudul 'Rindu'. Sebenarnya aku beli novel ini pun impulsif dan random aja, tanpa tahu sebelumnya novel ini tentang apa dan bahkan belum pernah sekali pun membaca coretan tangan seorang Tere Liye. Tapi setelah mencicipi satu novel 'Rindu' ini, aku jadi ketagihan pengen baca tulisan beliau lainnya >,<






"Apalah arti memiliki, 
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak juga saat menemukan?

Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu
yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga
rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."

Paragraf di atas, yang tertulis di bagian belakang novel-lah membuat aku tertarik untuk mengadopsinya dari abang-abang yang menjajakannya keliling dari warung ke warung. Mungkin buku yang aku beli palsu (?) *silly me* tapi tidak mengurangi rasa hormatku pada penulis, Tere Liye.

'Rindu' berisi tentang lima pertanyaan hidup, yang aku yakin pasti kita pernah mempertanyakannya dalam hati, setidaknya satu saja dari lima pertanyaan hidup. Lima pertanyaan yang dikemas apik dalam perjalanan panjang menuju Tanah Suci umat Islam, perjalanan haji.

Karena tulisan tentang review novel ini tampaknya akan panjang dan karena tampaknya aku tidak hanya akan mereview, tapi juga memasukkan beberapa pikiran dan komentarku, post ini lebih baik aku potong di intro ini saja ya? Bagi kalian yang tertarik pengen baca, silahkan tunggu post-ku berikutnya yaa...

Regards,
Hana

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...