Orang Sakti: Bisa Bilang "Tidak"

Saya baru saja membaca ulang catatan kuliah umum penuh inspirasi waktu itu dan menemukan catatan "Orang yang sakti itu adalah orang yang berkata tidak". Saya sadar, saya merasa sulit untuk menjawab 'tidak' di segala kesempatan. Sebisa mungkin saya menjawab 'iya', bahkan paling pol saya menjawab 'pikir-pikir dulu, deh' atau 'maaf yaa'. Jarang sekali sepertinya saya secara tegas menjawab 'tidak' untuk sebuah ajakan. Pasti muter-muter dulu bilang ini-itu yang intinya 'saya tidak bisa'. Hehee...

Berarti saya bukan orang sakti, dong? Tapi banyak kok orang tidak sakti di negara ini. Lihat saja di toko, kalau ada yang menawarkan barang, atau brosur sesuatu, biasanya walaupun orang yang ditawari tidak mau, paling tetap berjalan sambil pura-pura tidak melihat, atau hanya tersenyum, atau menerima brosur sambil lalu terus dibuang. 

Terkadang kalau seorang konsumen sudah bertanya-tanya tentang suatu barang kepada shopkeeper kemudian setelah dipikir-pikir lagi nggak jadi beli, konsumen cuma bilang 'kalo gitu ntar saya balik lagi ya mbak. Liat-liat yang lain dulu', atau malah bilang 'ya, minta nota ya mbak, saya mau jalan-jalan dulu' tapi ujung-ujungnya barang tidak diambil/dibayar di kasir. Hehe..

Apa mungkin karena di negara kita ada budaya 'tenggang rasa' yang intinya menjaga perasaan orang lain? Apa  dengan menjawab 'tidak' berarti kita mengecewakan perasaan orang lain? Wah, negara kita ini sopan sekali yaa ternyataa...
Hehehee...

Ironis, Belajar Ekonomi tapi Tidak Ekonomis

Judul di atas adalah kalimat yang sangat menusuk jiwa-raga saya saat kuliah umum hari Jumat lalu. Dengan santainya, Pak Dosen Tamu berkata demikian.

Banyak orang, khususnya saya sendiri, yang belajar ekonomi tapi tidak berperilaku ekonomis. Mungkin banyak yang bilang, kuliah di ekonomi nanti orangnya pelit-pelit. Tapi tidak dengan saya. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan keinginan, saya tidak pelit. Bahkan kalaupun keinginan saya itu bukan termasuk hal-hal yang dibutuhkan. Apalagi kalau sedang merasa banyak 'celah' yang bisa saya ambil dengan anggapan 'ah, bulan depan ditutup lagi'. Tapi ya begitulah terjadi terus sampai akhirnya saya sadar, 'celah' itu kian 'sempit'. Ah, terlalu banyak tanpa petik, tapi saya harap Anda mengerti maksud saya. Hehe

Baru ketika menyadarai 'penyempitan' itu, saya merasa bersalah telah boros selama ini. Tekad saya untuk menghentikan keborosan mulai timbul lagi dan semoga tekad ini bisa long-lasting. Mungkin saya harus menghentikan up date info di forum FD (mungkin ada yang tau forum ini) dan di online shop yang biasanya saya lihat setiap minggu. Mungkin saya harus menahan dengan menghela nafas saja kalo ada temen cerita lagi beli ini, sedang PO itu. Demi kemaslahatan tabungan saya di masa depan.

Memang suliiiiiiit sekali ketika kita sudah terbiasa boros untuk berubah menjadi hemat. Tapi, bagaimanapun harus berusaha untuk menghilangkan sifat boros itu. Ibu saya sering bilang, "Nduk, kamu itu perempuan, bagaimanapun besok kamu mengatur keuangan rumah tangga. Lha kalo kamu boros, berapapun pemasukan pasti akan kuraaaang ajaa. Kalo kamu udah biasa hemat, besok mau ngeluarin uang itu juga gampang. Tapi kalo kamu udah biasa boros, mau ngempet buat hemat itu sulit."

Perkataan itu ibu bilang ke saya lama sekali, tapi saya masih ingat, apalagi kalo sindrom beli-beli saya sedang akut. Itulah salah satu alasan saya merasa bersalah sekali, sudah menghamburkan uang beberapa bulan terakhir ini.

Saya menulis di sini, dengan maksud, selain sharing, saya ingin menjadikan diri saya malu sendiri kalo boros lagi, padahal udah nulis tulisan seperti ini di ruang publik. Semoga tekad hemat mulai sekarang bisa dijalani dengan istiqomah.. Amin..

Asian Skincare Regime

Sudah pada tau kan kalo kulit orang Korea sama Jepang tu rata-rata amazing bangeett.. Muluus, glowy, tak bercela sedikitpun. Emang sih, banyak dari mereka yang operasi plastik biar cantik, tapi gak bisa dipungkiri bahwa 'kesempurnaan' kulit mereka juga didapat dari kerajinan mereka merawat kulit. Diketahui juga kalo di negara-negara tersebut juga merupakan negara dengan konsumsi produk kosmetik dan skincare tertinggi di dunia. Cmiiw...

Ini nih, skincare regime orang-orang Korea-Jepang. Ada 9 tahapan setiap kali mereka mau pergi atau mau tidur. Terjawab sudah mengapa konsumsi skincare dan kosmetik mereka sangat tinggi, wong setiap orang memakai banyak produk dalam sekali rutinitas mereka. Selain itu, kita bisa tahu, jelas saja wajah mereka bisa semulus itu, sejalan lah dengan usaha yang mereka keluarkan. :D



Sebenarnya, itu masih bisa diperbanyak lagi. Coba dijabarkan lagi special treatment product-nya. Bakalan ada spot lightener atau concealer, make up base, make up primer dll. Untuk make up-nya juga masih ada sunscreen, foundation, blush on, bronzer, highlighter, eyeshadow, eyeliner, dll. Cream juga ada krim pagi, krim malam. Waaahh, pasti banyak banget ritual mereka setiap pergi ke luar rumah dan pulang dari bepergian.

Ada yang mau coba?

Ketergantungan Pengobatan Dokter Kulit

Jadi ceritanya nih, saya baru baca-baca di suatu forum tentang thread 'gimana melepas ketergantungan pengobatan dokter kulit'. Baca tulisan-tulisan di situ, saya merasa kok serem yaa, sampe segitunya efek ketergantungannya. Begitu lepas pake produk dokter, jadi jerawatan, bruntusan, kusam, black/whiteheads bermunculan dan masalah-masalah kulit lainnya. Sampe mereka nulis, stress tiap kali berkaca. Bisa dibayangkan gimana stressful-nya kalo lihat kaca bikin senewen? Padahal sebagai cewek, biasanya hobi tuh ngaca-ngaca. Hehehee..

Sejak SMP dulu saya udah pernah pergi ke dokter kulit, pakai produknya juga, tapi kalo gak pake produknya juga gak kenapa-kenapa. Dulu sih awalnya saya ke dokter kulit karena waktu kelas satu SMP muncul jerawat satu gedeeee banget sampe menyerupai tanduk (nb: agak lebay) dan ibu kasihan lihat saya dan bapak menyarankaan untuk dibawa ke dokter kulit aja. Dan sejak itu, kalo ada masalah apa-apa dengan kulit saya selalu ke dokter itu.

Dulu pernah sih dengar produk-produk racikan dokter yang katanya banyak yang berbahaya. Ada yang mengandung merkuri atau bahan-bahan lain yang berbahaya buat kulit kalau digunakandalam jangka panjang. Tapi selama saya pakai produk dokter kulit saya biasanya itu sih nggak ada masalah apa-apa. Katanya, kalo produknya 'keras' kulit muka jadi merah kalo kena matahari, ato kinclong dalam sekejap. Tapi saya nggak, palingan jerawat ilang dan tetep keluar jerawat kalo waktunya keluar, walaupun memang lebih cepet hilang lagi dan tidak berbekas.

Sekarang saya nggak pernah lagi pakai produk racikan dokter, kecuali kalo pas keluar jerawatan banyaaak saya baru ke dokter. Setelah jerawat hilang atau produk habis, saya nggak ke sana lagi. Mungkin dengan begitu juga, jadi gak muncul efek ketergantungan ke produk. Selain itu, lebih aman menurut saya langsung ke dokter spesialis kulitnya, gak usah ke klinik. Di klinik itu sering cuma orang ahli kecantikan, bukan dokter. Pokoknya dipastikan deh yang menangani itu beneran dokter SpKK. Dan yang penting, kulit itu sehat. Kinclong gak kinclong, kalo sehat kan pasti hati tenang setiap ngaca..  :D

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...