Derma Bright - Day 4 (Serum Review)

Hehehe, this may be unimportant post to review a skincare product but I think is okay to share my opinion about this once a while. #endhel

Well, this is my first trying on serum product. I never buy one before because serums are often pricey for me, but this time, err, I bought it impulsively.  --v
FYI, I bought made-in-indonesia product this time, because.. Hmm, I don't know the reason WHY I bought it, okay?  
This product comes from Martha Tilaar, named Biokos, Derma Bright line. The shopkeeper said that it's good for brightening as well anti-wringkle, reduce hyperpigmentation and dark spots, brighten the skin tone and make it glows. It also slows aging process.
I've tried it for 4 days now and the result, hmm, I don't know. Maybe you or other people can see the before-after difference, because me myself can't notice my own appearance. Just sometimes I see my face turning brighter, glowy, a little bit more radiance and over all my face get better! But for dark spot, I think still no advance (still 4 days trial, remember?).

This the product picture
picture taken from thelivingroom14.blogspot.com

While this serum is pricey enough, about 260k for 30ml (yes, it IS expensive!) and I'm not the type of loyal consumer, means I rarely buy same things repeatedly. So, I think I will not repurchase this product and try another product/brand instead. Hehehe..

Cahaya Gelap

Bukan satu tapak yang kujalani. Selama ini ternyata aku hanya diam. Bahkan lebih buruk dari diam. Maju selangkah lalu mundur dua langkah. Ah, seperti permainan masa kecil. Padahal yang kuhidupi bukan permainan, tapi kenyataan. Atau selama ini aku melihat hidup ini hanya permainan?

'Hei, bangunlah', kata otak. 'Lihat di depanmu, hidup terus berjalan. Hidup harus berjalan atau kau mati hingga diam. Mereka menolak keberadaanmu, itukah alasanmu untuk sembunyi? Atau mereka mendiamkanmu lalu kau berlari? Apapun yang kau lakukan tidaklah berarti, tapi cukup untuk memberimu alasan untuk hidup. Untuk terus berjuang dan membuktikan bahwa kau ada!' Ah, seperti
kata Dewa 19, hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti. Dan jika kau berhenti, itu berarti kau mati.

Tapi apa esensinya jika aku mulai? Hanya akan selesai satu kemudian yang lain akan mulai lagi. Dan kembali lagi dari awal. Terus begitu hingga aku bosan. Ah, ini semua hanya gurauan. Toh apa yang aku dapat? Mungkin akan ada penolakan kedua, ketiga, dan seterusnya. Itu akan lebih menyakitkan. Mungkin diam lebih baik daripada aku maju dan kesakitan.

'Aku tahu kau ingin maju. Jauh di hatimu kau ingin melangkah, bukannya diam di sini, terperangkap. Cobalah, cari jawaban, bukan hanya diam dan mengira-ngira,' otak memberi alasan dan sedikit angin segar dalam pengapnya kepalaku.

Aku mulai goyah. Sedikit melihat secercah cahaya yang sudah menyala sejak lama. Namun cahaya itu begitu terang. Diriku yang begitu gelap, begitu kotor lama meringkuk di sini, terlalu silau melihatnya. Aku menutup mata. Aku tidak ingin terbakar melihat silaunya. Aku lebih tidak ingin cahaya itu meredup tertutupi gelapku.

'Sudahlah, jangan mencari alasan. Aku tahu kau telah mendapat jawaban, kau hanya tidak mau mengakuinya. Jadi, kau hanya akan terus sembunyi di sini? Dasar kau pengecut sombong! Selalu mencari-cari alasan untukmu tetap tenggelam,' otak mulai mencemooh kesal.

Aku terkesiap. Aku memang mencari-cari alasan. Karena tidak ada cahaya yang tertutupi gelap. Selamanya cahaya menerangi. Dan aku kembali bersembunyi di sudut, ketakutan menyadari kenyataan. Cahaya tidak bisa meraihku. Dia hanya sempat menyinari sedikit diriku, lalu kemudian hilang. Dan aku tenggelam.

Anak dan Harta

Semakin banyak saja saya lihat di mall dan pusat-pusat keramaian para orangtua yang jalan-jalan dengan membawa anak-anaknya, bahkan yang masih bayi dengan menggunakan kereta bayi. Kereta itu didorong ke sana kemari, dengan bayinya tidur, terbangun, raut muka bingung, ataupun bersemangat. Para orang tua itu tampak bangga dengan kelucuan bayinya, terkadang tampak tidak peduli dan sibuk dengan kegiatannya berbelanja sementara si bayi bersama dengan si mbak babysitter.

Apakah membawa bayi berbelanja merupakan bentuk perhatian orang tua yang tidak ingin meninggalkan bayinya sendiri di rumah? Apakah itu cara mereka menunjukkan kedekatannya dengan bayi mereka? Kalau ya, mengapa bayinya ditinggal dengan babysitter? Mengapa baju dan barang-barang toko tampak lebih menarik daripada melihat bayinya? Mengapa tidak berkumpul di rumah saja dengan suasana yang lebih nyaman dan tenang bagi bayi?

Pernah saya ngobrol dengan seorang teman tentang membawa bayi ke mall. Saat itu dia bilang, kalau punya bayi, dia  juga ingin membawa bayinya ke mall atau keramaian seperti itu. "Lucu, kan, Ci.. Ntar bayiku aku dandani lucuu, terus bertiga jalan-jalan.". Saya bertanya, "lalu apa gunanya? Supaya orang-orang tahu lucunya si bayi? Berarti pamer? Padahal bayi diajak ke tempat ramai gitu kan kasihan, dia nggak nyaman.. Walaupun tampaknya dia biasa saja atau tertidur, pasti dia capek." Tapi pada akhirnya teman saya tetap berpendapat hal itu baik-baik saja, tidak ada yang salah.

Begitu juga malam ini, saya ngobrol dengan seorang teman yang lain. Walaupun dia berpendapat nggak oke kalau masih bayi diajak jalan-jalan, tapi oke-oke saja kalau sudah anak-anak atau agak besar (baca: bisa jalan). Saya, sih, berpendapat ya nggak apa-apa kalau kadang-kadang diajak jalan, tapi nggak oke kalau sering.

Intinya, saya berpendapat sekarang semakin banyak orang yang suka 'memamerkan' anak-anak mereka. Sah-sah saja mengenalkan anak pada dunia luar, tapi jangan pamer. Pernahkah Anda mendengarkan seseorang bercerita tentang anaknya bisa begini-begitu, pintar ini-itu, sudah meraih gelar ini-itu dan seterusnya? Kalau tujuannya sharing pengalaman, sih, tidak apa-apa. Namun seringnya saya mendengarkan topik itu diangkat tanpa ada tujuan sharing di baliknya, hanya pamer belaka.

Mungkin itu yang dimaksud oleh firman Allah dalam Surat Al Kahfi ayat 46, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Allah (Tuhanmu) serta lebih baik untuk menjadi harapan." Allah juga mengingatkan, "Ketahuilah bahwa harta dan anak-anak kamu itu merupakan ujian, dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar," (QS. Al Anfal :28)

Seperti pada harta, manusia cenderung ingin 'memamerkan' kehebatan anak-anaknya dibanding anak-anak orang lain. Anak yang pintar, baik, sempurna, dan seterusnya, akan menjadi cobaan bagi orang tuanya untuk tetap rendah hati dan tidak pamer/sombong. Sedangkan anak yang nakal, tidak terlalu pintar, dan seterusnya merupakan ujian bagi orang tuanya agar sabar dan mau terus membimbing anaknya agar menjadi lebih baik.

Saya kurang setuju dengan sikap para orang tua zaman sekarang yang suka mengajak anaknya sejak dini ke mall atau pusat keramaian semacam itu. Selain 'rentan' pamer, menurut saya hal itu akan cukup memberi 'pelajaran' bagi anak tentang gaya hidup konsumtif sejak dini. Ini menurut saya, lhoo.. Saya sendiri belum merasakan memiliki anak. Silahkan jika Anda yang sudah maupun belum memiliki anak jika berpendapat lain. Kekekee :D

Oya, harta dan rezeki juga bisa jadi cobaan lhoo.. Selain bisa membuat kita mendekati kesombongan dan tindakan mubazir, juga membuat kita sibuk bukan main dan capek dalam 'menerima rezeki' tersebut. Contohnya, akhir-akhir ini pesanan produk DASTANE kami sedang banjir (ini pamer gak ya?) dan kami kewalahan nggarap orderan. Tapi karena rezeki tidak boleh ditolak, yaaa alhamdulillah saja lah yaa... Doakan saya dan teman-teman saya, ya.. Semoga lancar bisnis dan skripsi serta kerjaan lainnya.. Amin :)

Today, Had a Blast and Little Thoughts [about Hallyu]

Today, me and friends went to karaoke. By the way, this is the first time I go together with them, intentionally  to sing Kpop song. kekeke.. *devillaugh

Aaaand, they know sooo many Kpop song, while I know only a few of it AND I know most are SNSD's, T-Ara's, and f(x)'s. But it was fun though, karaoke-ing (I dunno the proper vocab, heheh) Kpop almost till the end. After we done karaoke-ing, we ate late lunch on a Korean resto. The food names, I don't know them. The price? Don't ask. Taste? So-so.. However, I love Indonesian food's taste more. :p

Sometimes, I think about this, Korean wave, or hallyu you call it? How can it happen in sudden? Yes, not so sudden, of course there must be a process but it is so fabolous for them managed this hallyu. The beautiful faces on TV, always make us, viewers, adore them MUCH! How can they be that pretty, handsome, have beautiful body? The drama, romance, lifestyle, up-to-date fashion, scenery, are great.

I noted, beauty in Korea is very important. Boys and girls, are the same. They very concerned about their appearance. Boys do make up, dressed well. I heard that there is motto 'there is no place for ugly people' there. Even government subsidize people's insurance for skincare and plastic surgery. Nearly 15% of the cost borne by the government. So, it's not weird that Korean very obsessed on their appearance. Plus, the artists there 'hypnotized' them with their beautiful faces and bodies EVERYDAY!

After all, I'm proud of Indonesia. We have our own beauty, not always white-pale-pink skin, sharp-edged nose, small face, wide eyes, etc..We might have brown/tanned skin, narrow eyes, not-so-sharp nose (read: pesek), but this is us. God creates you with blend of the best, harmonized perfectly. Do make up is okay, but remember the point: it just to make you looked fresh and clean, not to beautify you, because you are beautiful *Cherrybelle song as backsoung* #plakk

Lately, I'm not that Healthy

No, I'm not sick or being hurt or anything in between. But I think that lately I drink and eat not-so-healthy food and beverages. I drank too much soda and sweet beverages, ate too many fast food and grilled or fried or greasy meat. Not so many fruits and vegetables, some lazy time, some 'overthink things' time. Conclusion: Such unhealthy life!

So, finally I decided to sign a membership at a sport club with my friend this month. Last Friday was the first time for our attendance there. We did aerobic, dance, and try some fitness tools and the result is: MUSCLE SORENESS SINCE THEN!! Aww,, it's annoying you know, to feel uncomfortable while you move your body.

However, I have to endure it. Moreover I have paid the expense for next 2 months. Yeah, FIGHTING!!

By the way, our first attendance in dance class is the first time we (or only me??dunno..) were called by using 'cece' DIRECTLY!! So, should we call them back using 'meme'?? *thinkdeeply*

Aku dan Saya

Kadang aku lebih tepat daripada saya. Di lain waktu, saya lebih benar daripada aku. Entah apa beda antara aku dan saya, namun yang jelas kedua kata itu selalu saya pakai di waktu yang berbeda.

Di sini, dimana yang ada adalah saya, hadirlah seseorang yang diperuntukkan untuk konsumsi publik. Seseorang yang diijinkan untuk dikenali oleh banyak orang. Seseorang yang selalu muncul untuk berinteraksi dengan sekitarnya.

Namun di tempat lain, justru hanya ada aku. Sosok yang bersembunyi di balik bayang-bayang saya. Sosok yang tidak dikenal atau diketahui manusia lain. Mungkin hanya saya yang tahu aku dan sayalah yang menutupi aku. Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya aku, tapi cukup banyak orang yang mengenali saya.

Ahh, aku terkadang tersesat di dalam dunia yang ramai ini. Tidak benar-benar tahu apa yang ingin kulakukan. Hmm, yang seharusnya kulakukan, lebih tepatnya. Aku selalu saja bersembunyi di balik saya, seolah-olah hanya saya yang menguasai tubuh ini. Apa karena saya selalu tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan? Setidaknya untuk keperluan melindungi aku?

Saya sungguh egois. Tidak mengijinkan aku untuk muncul. Saya mengingkari apa yang kurasakan, yang kuinginkan. Saya sering bertolak pendapat denganku. Dan saya selalu menang. Aku lebih suka mengalah dan berpikir realistis. Karena memang saya yang benar, yang sesuai tuntutan realita. 

Tolooong, selamatkan aku dari saya. Aku tidak hilang, tidak akan pernah. Aku hanya bersembunyi. Hingga saat ini, hanya saya yang bisa menolong. Hanya saya yang peduli. Akankah suatu saat nanti hanya saya yang akan ada? Akankah suatu saat itu akan terjadi? Mungkin akan begitu jika tidak ada lain yang peduli. Lagipula, bagaimana akan peduli jika aku tidak dikenal? 


Oke, saya dan aku bingung.. Suatu saat kau akan tahu, apa beda aku dengan saya. Suatu saat...

Mata Empat, Bukan Empat Mata

Saya menyadari bahwa akhir-akhir ini saya mulai keranjingan baca novel, sampai-sampai uang bulanan pun habis di toko buku. Beneraan, saya lagi bosen banget, entah kenapa. Padahal ya tiap hari nggak ada sesuatu yang benar-benar membutuhkan ekstra tenaga atau pikiran. Yaaa, ada sih beberapa hal yang memeras pikiran dan tenaga, tapii not THAT much. Tapi yang jelas, setiap hari pengennya tiduran, baca novel, ngemil, dengerin musik, tidur, dst. Mualeees banget deh pokoknya.

Nah, kebiasaan saya dari dulu, kalau baca novel itu ya sambil tiduran. Kalau sambil duduk, saya nggak betah lama-lama. Yang leher capek lah, punggung pegel lah, pokoknya gak PW deh. Entah ada hubungannya atau tidak, sejak SMP saya akhirnya pakai kacamata, walaupun nggak tebel-tebel amat, tapi sangat membantu untuk membaca tulisan dari jauh atau berpapasan dengan orang dari jauh. Hehe..

Tapi sejak kuliah, saya jadi males pakai kacamata. Yang bikin sebel itu, ntar ada 'jejak' kacamata di hidung saya. Jadi gak oke kan.. #endhelmode:on Hehehe.. Pokoknya pengen gak pake kacamata. Jadinya saya pakai kacamata waktu kuliah tok, selesai kuliah langsung lepas. Lama-kelamaan kacamata jadi terlupakan, apalagi di saat sekarang, jarang ada kuliah dan jarang memerlukan membaca jarak jauh. Kacamata jadi tergeletak begitu saja. Anyway, sebenernya nggak pakai kacamata bikin wajah-wajah orang di sekitar kadang-kadang buram, jadi saya jarang ngeliat juga kalau ada wajah yang saya kenal. Dan gangguan itu saya hiraukan. :p

Intinya, akhir-akhir ini, entah kenapa sering sakit kepala, migrain.. Apakah ada hubungannya dengan absennya kacamata saya setelah sekian lama plus kebiasaan membaca yang mulai kambuh? Jadi males kan, sekarang jadi pakai lagi deh kacamata, males pula buat periksain mata.

Bagi Anda yang masih memiliki mata normal, sayangilah mata Anda. Karena mata adalah jendela dunia. #kekiklan

Maaf, hari ini sangat sangat random.

"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...