Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Alkohol Dimana-Mana

Akhir-akhir ini beberapa kali saya membicarakan topik ini dengan teman dan orang lain. Yaa, kebetulan aja sih, kok alkohol ini jadi trending topic di kepala saya.. hehe..

Sebelumnya, yang akan saya tulis di sini hanya pemikiran saya sendiri. Bukan berarti saya ahli agama atau apa, jadi besar kemungkinan apa yang akan saya tuliskan ternyata salah. Boleh kok berbagi pikiran melalui comment di bawah. Hehee..

Sudah jelas dalam agama saya, Islam, khamr adalah minuman yang diharamkan. Khamr ini, zaman sekarang sering disamakan dengan minuman beralkohol yang notabene memabukkan. Kenapa diharamkan? Karena membuat peminumnya yang mabuk kehilangan akal, tidak bisa berpikir jernih dan benar. Pada akhirnya, orang-orang berpendapat bahwa apapun yang beralkohol adalah haram.

Lalu, bagaimana dengan tape? Durian? Kan beralkohol semua? Nah, untuk dua makanan itu, halal kan? Selama makannya gak berlebihan. Kalo berlebihan, ya ujung-ujungnya mabuk.. Mabuk tape, mabuk duren.. Hehe.. Eh, eh, tapi kan bener kalau segala sesuatu yang berlebihan, walaupun tadinya halal, kalau belebihan jadi haram. Bahkan nasi pun kalau makannya berlebihan jadi haram, apalagi kalau sampai muntah-muntah makannya. Karena, IMHO, apapun yang berlebihan, akhirnya tidak akan membuat kita bersyukur. Coba kamu makan mi, terus kebanyakan, terus perutnya sakit, akhirnya ga bersyukur, malah badmood. Begitu pula untuk makanan yang kamu tidak suka/jijik, walaupun halal, jadi haram buat kamu. Karena kalau kamu dipaksa makan, kamu bukannya bersyukur bisa makan makanan itu, tapi malah ngomel-ngomel dalam hati. Hehehe

Balik lagi ke urusan alkohol. Ada pertanyaan, 'lah, kalau alkohol yang dicampur dengan cokelat, cake, obat, itu gimana?' Pertanyaan ini juga dilontarkan oleh teman saya beberapa hari yang lalu. Menurut saya, boleh-boleh saja, toh dalam mengkonsumsinya kan ga bikin mabuk. Lagi-lagi, selama mengkonsumsinya tidak berlebihan. Seperti membuat jamu, misalnya, untuk mencampur sari-sari bahan herbal tidak bisa kalau tidak pakai alkohol, karena bahan-bahan jamu biasanya berdasar minyak yang tidak akan bercampur jika menggunakan air. Hal ini pernah diterangkan oleh seseorang kepada saya. Lagipula, tujuan kita mengkonsumsi kan tidak untuk mabuk-mabukan. Berbeda dengan orang yang minum khamr, apalagi di Indonesia yang cuacanya panas [yang tidak butuh menghangatkan badan], kalau tidak untuk lifestyle, 'menghilangkan stres', dll.

Pernah juga saya kaget, membaca sebuah artikel bahwa kosmetik yang mengandung alkohol juga haram. Kaget sekali waktu itu dan segera saja saya membongkar kotak kosmetik dan skincare saya untuk melihat komposisi-komposisinya. Ternyata, hampir semuanya mengandung alkohol dan turunannya. Bahkan, saat itu saya baru saja beli skincare yang jelas-jelas beralkohol karena nama produknya saja 'Wine Therapy'. Segera saya browsing kemana-mana, dan akhirnya lega karena menemukan satu artikel yang mengatakan bahwa alkohol diharamkan karena dia diartikan sebagai khamr, yaitu minumana yang memabukkan. Yang haram adalah 'makna' alkohol yang memabukkan, bukan zatnya. Kalau tentang ini pernah ada hadis yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah mengharamkan khamr, para sahabat menumpahkannya di jalan-jalan. Nah, jika khamr najis, tidak mungkin Rasulullah membiarkan khamr itu tumpah di jalan-jalan.

Sekali lagi, yang saya tulis di sini adalah pendapat saya. Boleh kok kalau mau bertukar pendapat. Kita kan sama-sama belajar. :D

The 100th Post

Heheh, actually there's no topic in my mind to be written in here, but I want to complete my post number to 100. No point at all, is it? Kekeke..

So, today I did nothing.. I didn't go to campus, I didn't do my essay, I didn't do sewing.. Really nothing, but a job for office. So, I'm a bit tired right now, because I wasn't at home all day until night though. I went to my brother's house, visited him and his wife and my nephew-to-be, and gossiping all day long, then. :p

I ate Sambal Ikan Kayu for the first time too, my sister-in-law made, that was delicious. By browsing I found out that it is peculiar food from Aceh but Ikan Kayu my sister cooked was sent from Sulawesi. So I assume it is well-known in north part of Indonesia. #hammer

The taste is spicy-salty and a bit sour. It is mixture between red onions, chillies, and tomatoes plus Ikan Kayu itself, that been fried all together. Maybe that's all how to make Sambal Ikan Kayu, but actually I don't know, because my sister made it by herself, I didn't help her. :D

All I can say is, IT IS DELICIOUS!! This, I give you picture, but not the one I ate :D
Almost like this *drolling*
Okay, this is my 100th post. Thanks for you that read my posts till now :D

xoxo,

Pelajaran Hari Ini : Membuat Jamu Instan Sendiri

Berawal dari cari-cari ide untuk program kerja KKN, saya ngobrol-ngobrol dengan kakak saya dan ditawari untuk belajar membuat jamu. Saya pikir, karena tidak ada ide lain ya dicoba saja dulu. Lagipula pada waktu survey, pak desa bilang kalau orang desa situ suka minum jamu apa gitu, saya lupa. Akhirnya saya membuat janji dengan kakak untuk 'dikursusi' hari ini.

Pagi-pagi saya ke pasar untuk beli jahe [yang gampang dicari] untuk bahan utama. Pada dasarnya bahan apapun sama cara membuatnya, ya ada yang berbeda tapi beberapa saja. Tapi karena saya mencari yang paling sederhana membuatnya, ya jahe saja. Setelah itu agak siang saya berangkat ke rumah kakak dengan membawa jahe setengah kilo dan gula satu kilo. Begitu sampai, saya mendapat 'kuliah' tentang macam-macam cara penyimpanan bahan-bahan jamu supaya lebih awet dan pengolahannya. Walaupun 'kuliah'nya instan dan poin penting saja yang disampaikan, setidaknya saya mengerti intinya.Setelah beberapa menit mendapat teorinya, kami beranjak ke dapur dan memulai proses pengawetan jahe yang paling sederhana cara dan alat pembuatannya, yaitu dengan cara ekstraksi.

Pertama, jahe dicuci bersih lalu dipotong kecil-kecil dan diblender. Kalau tidak ada blender [seperti di desa saya nanti] bisa diparut. Lalu diperas untuk diambil sarinya saja. Kalau diparut, ya, berarti ditambah air dulu sedikit baru diperas. Banyaknya air custom, tergantung seberapa kuat rasa ekstrak jahe yang kita inginkan nantinya. Setelah dapat sarinya, ditambah gula sebanyak 4 kali atau 8 kali banyak sari jahe. Semakin banyak gula, semakin banyak hasil ekstraksi nanti dan semakin manis juga nanti rasanya. Setelah itu campuran tadi direbus dengan api keciiiil sekali sambil diaduk terus, tidak boleh berhenti. Di sinilah yang paling capek, mengaduk-aduk terus sampe tangan pegel gak boleh berhenti. Sampai akhirnya nanti jadi bubuk tuh campurannya. Jadi deh ektrak jahe seperti yang dijual kemasan di toko-toko.

Saya juga baru tahu kalau ternyata jahe yang digunakan sebenarnya bukan jahe seperti yang dijual di pasar, tapi nggak apalah, untuk belajar saja, yang penting sudah tahu caranya. Produk-produk minuman bubuk semacam nutrisari, angetsari, dan lain-lain, pokoknya minuman yang tinggal seduh itu, semua ternyata dibuat dengan cara sederhana tadi, hanya saja mereka dengan teknologi yang sudah canggih, jadi tidak perlu mengaduk sampai tangan berasa mau copot. Hehehe..

Berarti, besok saya bisa membuat ekstrak jus campur-campur. Membuat jamu macam-macam juga bisa. Benar-benar saya terheran-heran, kok bisa ya dari air banyak gitu jadi bubuk kering kerontang? Dengan tahu begini, kita jadi punya cara untuk menambah nilai suatu barang, kan? Jadi tambah pengen belajar banyak hal kalau begini. :D

Hasil karya saya, jahe bubuk instan.
Sudah dikemas, walaupun mengemasnya masih gak rapi.
Maklum, masih amatir..Hehe

"Seandainya saja..."

Apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi diratapi hingga membuat sakit hati. Tapi terkadang per...