Showing posts with label memories. Show all posts
Showing posts with label memories. Show all posts

Sebuah Tanya

Saat senyap memenuhi udara
Dan tiada kawan untuk kusampaikan rasa
Hanya menahan sedu yang kubisa

Ditemani seberkas ingatan
Tentang lembutnya senyuman yang kau berikan
Dan halusnya ucapan yang kau katakan

Semua pikiran yang kita bagi
Atau rasa yang kita simpan
Terkadang menyusupkan tanya
Apakah kau merasa yang sama?

All the struggle, it will be worth it

We were young. Playing around. Not taking things seriously. Just having fun and see life as playground.

But sun is up now! Wake up and go chase your dream!

I know it's hard.
I know it's frightening.
But, still, it's exciting!

I see your struggle.
I witness your patience.
It will be worth it.
Trust me, it will be worth it.

You said, do the best and let God does the rest.
Yes, God will do the rest.
Just do your best.

---
With love.

Not because she doesn't care, she just doesn't want to care.

...

There always times when the question comes up. About the past. About the truth. A little voice in her mind always ask for an answer: Was it all true? All the things that made them apart, was it true?

But again, she doesn't want to know. She closes her eyes, her thoughts, from it. It is in the past now. She trusts him. She wants to. All she wants now is, look ahead. Look what's coming.

And she will always be there for him. However hurt her heart is, when she remembers how it was, she will always be there.

She can only pray to God, that He will protect him. Protect them. Pray that everything is getting better.

And all the hurt feeling, she will always keep for herself.

...

Another History, Another Family

Dear readers,

Again, long time no see you guys. After last 'busy' rotation, got chance to experience a WONDERFUL journey.

Dulu, sekitar 10 tahun lalu, zaman masih SMP, aku gabung di tim inti Pramuka di SMP. Waktu itu sih niat gabung ya supaya nambah temen, nambah aktivitas di sekolah dan entah kenapa waktu pemilihan bisa kepilih gitu. Padahal aku ringkih gini kan, tapi yaudahlah dengan menguatkan tekad aku maju dan ga mengundurkan diri.

Dulu sih di Pramuka, kita digembleng untuk ga menye, survive di alam luas yang minim fasilitas, belajar disiplin dan kuat. Kulit item, rambut kusam, bukan masalah. Yang utama sih harus kompak, kerja sama, persamaan. Satu salah, semua push up. Waktu dihukum push-up, lupa halsduk (itu loh dasi merah-putih) ga dimasukin baju trus kena tanah, dihukum lagi push up. Dikit-dikit push up, lari, sit up.

Dan yang paling aku ingat,waktu mau lomba PBB, kami dilatih oleh tentara. Kalo sikap hormat salah, tangan dipukul-pukul ke tanah sampe bener sikap tangannya. Semua harus bener, disiplin. Tapi yaa jaman SMP dulu paling latiannya di sekolah. Atau campingnya di area perkemahan yang walaupun alam terbuka, masih tergolong gampang lah, ga ekstrim. Jadi tekanannya lebih ke pelatihannya, bukan di medannya.

Tapi, tiga hari kemarin aku dapet pengalaman baru dari acara Character Building MDP Smartfren. Challenge sama: disiplin, kerja sama, saling percaya, mental dilatih biar ga menye PLUS medannya bener-bener di hutan, sungai, dan bukit yang 5 kali lipat lebih berat daripada jaman sekolah dulu. Lebih real lah tantangannya.

Sejak hari pertama, baruu aja sampai di kantor untuk kumpul dan mau berangkat ke lokasi, kami lagsung dihukum push-up karena terlambat. Berangkat naik truk tentara, sampai lokasi di Bogor, dihukum lagi untuk berguling-guling. Terus disuruh menghilang dalam 10 detik (yang kami semua bingung gimana caranya menghilang coba hahaha). Akhirnya kami semua lari ke arah rerumputan dan pepohonan. Karena waktunya singkat, aku terjun ke semak-semak terus tiarap.Terus dihitung lagi untuk lari balik ke posisi semula. Sport jantung banget lah sumpah >,<

Lalu kami berangkat ke site perkemahan. Melewati sungai yang airnya masih jernih dan dingiiiin banget, lompat dari batu ke batu. Terus mendaki bukit, turun bukit. Aku hampir jatuh ke jurang waktu turun bukit dengan berpegangan tali. Gara-gara kurang olahraga nih kayanya, jadi ototnya ga kuat nahan badan sendiri :(

Tapi syukurlah hari itu sampai dengan selamat di dataran perkemahan. Bangun tenda, makan siang, sampe akhirnya masak buat makan malam pake kayu bakar dan hari ditutup dengan me-review lesson learnt dari pengalaman yang didapat dari perjalanan sejak pagi hingga malam.

Tidur malam di tenda nyaman banget sih. Beda sama jaman sekolah dulu yang tendanya ala kadarnya, kemarin tendanya udah modern dan kita dikasih matras + sleeping bag satu-satu. Jadi alas tidurnya empuk dan badan hangat. Tidur nyenyak diiringi suara serangga-serangga malam walaupun sempat kebangun bentar karena merasa tidur udah lama tapi belum ada suara dibangunin (takut bangkong ga punya alarm), tapi over all tidur malam itu enaaaak banget rasanya.

Besoknya pagi biasa aja sholat Subuh jamaah, renungan pagi, sarapan daaaan tracking LAGI! Medannya lebih berat dan lebih jauh. Atau bisa jadi karena udah capek jadi kerasa lebih berat. Tapi menyenangkan sih, challenging gitu. Tujuan kita saat itu adalah air terjun, untuk nantinya body rafting! Waaaah, seumur hidup, ini nih yang belum pernah aku lakuin. Rafting pake perahu karet aja belom pernah, ini cuma pake rompi pelampung! EXCITED!

Sepanjang jalan kita cuma dibawain clue di kertas gitu. Semacam lintas alam tapi medannya lebih riil agak berat gitu. Dan dengan adanya kegiatan seperti itu, kerasa banget pentingnya kerja sama tim, saling percaya, saling bantu. Seneng banget! Setelah lamaaa kita jalan dan paha udah kerasa panasnya, sampe deh di sungai.

Turunnya pake tali karena tanahnya miring dan licin. Masuk air langsung cesssss, duingin banget! Dingin harus ditahan karena nunggu gantian kita bergerak mengikuti arus, sambil dibrief dasar-dasar cara lompat ke dalam air. Dan finally, kita disuruh lompat ke air dari atas air terjun ke bawah! Ga tinggi banget sih emang, paling sekitar 8-10 meter, tapi lumayan juga sensasi adrenalinnya. Another first >,<

Setelah kedinginan, foto-foto, terus naik bukit lagi makan ubi rebus plus teh manis hangat terlezat seumur hidup, kita jalan lagi menuju air terjun kedua dan lompat lagi ke bawah. Ga setinggi yang pertama, jadi lebih nyantai lah. Dari ujung kepala sampai kaki basah kuyup dingin banget. Selama ini setiap ada acara masuk air di setiap outing/ospek/kemah yang aku ikutin, ga pernah sama sekali aku masuk air karena takut dingin. Tapi kemarin aku merasa harus bisa dan alhamdulillah semua baik-baik saja.

Akhirnya kita jalan lagi balik mendaki bukit. Terasa sedikit lebih susah karena sepatu basah dan lebih licin, badan juga gemeteran kedinginan. Tapi akhirnya kita sampai dengan selamat di bumi perkemahan. Mandi, bersih-bersih, sholat, makan siang.. Lalu sore, jalan LAGI untuk berburu.

Aku pikir berburu bagaimana. Ternyata berburunya itu, udah ada bahan makanan di dalam plastik di tempat-tempat tertentu gitu. Kita disuruh ambil dibekali senapan paintball, dan ada sniper di atas gitu yang nembakin kita. Lucu banget dah, kita tiarap-tiarap berusaha maju sambil nembakin sniper yang (udah pasti) missed tembakannya. Sedangkan sniper di atas keliatan kita banget yang kepalanya nongol-nongol ga jelas ditambah skill nembak mereka luar biasa. Tapi alhamdulillah bahan makanan berhasil terambil dan makan malam kita saved!

Masak pake kayu bakar kaya malam sebelumnya, tapi malam itu aku dapet skill tambahan: nyalain bara api dengan niup-niup pake mulut! Hahahaha, diajarin mas-mas tim trainer gegara aku ga kebagian piring atau apapun buat ngipasin kayu. Hebat ya mereka survival skill nya >,<

Overall malam itu lebih tenang, kita tidur awal. Dan sebelum tidur ngobrol sama temen satu tenda, aku berhusnudzon bahwa malam akan baik-baik aja sampe besok pagi. Ga ada jurit malam. Ga ada ditakut-takutin malam-malam. Dan kita tidur dengan nyenyak, sampai ngigau. Hingga entah jam berapa, malam masih gelap, tenda goyang-goyang hebat sambil ada suara teriak-teriak. Antara masih mimpi, linglung belum sadar betul, cari-cari kerudung di kegelapan, kita keluar tenda dengan muka cengok diiringi para pelatih teriak bangunin kaya marah-marah gitu. Cuma aku ga takut atau apa karena mencerna kata-kata aja masih belum sanggup hehehe.

Ternyata ada acara tengah malam. Bukan jerit malam. Namun semacam disuruh merenung gitu deh. Kita disebar sendiri-sendiri di titik-titik tertentu dibekali lilin, korek api, dan garam. Disuruh bawa matras dan sleeping bag. Terus disuruh nulis harapan kita untuk masa depan, ucapan terima kasih untuk coach selama program MDP, sama surat untuk orang yang paling dicintai. Dingin, gelap, sendirian.. Otomatis dapet banget feelnya nulis begituan, apalagi pas bagian surat untuk orang yang paling dicintai. Nangis banget sampe bingung mau buang ingus gimana ga bawa tisu apapun (kok jadi jorok ya?)

Sampe pagi deh itu acara renungan walaupun waktu menjelang Subuh kita udah balik ke saung tempat kumpul, terus kita diajarin cara tidur berkualitas (walaupun tanpa diajarin aku juga pinter banget kalo urusan tidur). Sampe siang acara beres-beres bersih-bersih dan akhirnya pulang ke peradaban.

Kalo di review lagi, outbond kemarin lebih banyak menyenangkan dari pada menakutkannya. Capek iya, tapi saya tetep ngerasa tenang karena toh ada tentara, trainer dan banyak teman-teman, jadi pasti aman lah. Ga kayak perjalanan dulu ke Pulau Sempu yang bareng orang-orang ga berpengalaman hahaha. Kalau pengen tau ceritanya, dulu pernah aku share di sini (waktu belom punya blog).

Aku yakin acara kemaren pasti akan jadi memori ga terlupakan seumur hidup. Dan aku bersyukur banget dipertemukan dengan teman-teman hebat, yang selalu memotivasi, saling support, udah kayak keluarga. Semoga kita semua tetep rukun sampe selamanya, aamiin.


Regards,

Catatan Surabaya

Assalamualaikum.. Gimana nih kabarnya di minggu pertama segala rutinitas kembali ke semula? Akhir-akhir ini Surabaya diguyur hujan terus. Setiap menyentuh waktu dhuhur, mendung sudah mulai mempersiapkan diri menutupi kota. Jam-jam ashar, biasanya udah gelaaap banget, disertai guntur kadang keras kadang kalem. Hujannya sih deres ga deres yah, tapi lamaaa turunnya. Bikin betah banget tiduran dan malas-malasan.

Tapi sayangnyaa, masih ada satu kewajiban yang belum selesai. *Udah sadar ada kewajiban, masih aja pura-pura lupa nih, kekeke

Anyway, dipikir-pikir lama juga ya aku udah domisili di Surabaya. Kota kelahiranku, tapi bukan kota aku beranjak dewasa. Bisa dibilang aku merantau di kota ini, walaupun yahh ga merantau-merantau amat sih. Keluarga banyak di sini juga, kos juga nggak. Hahaha.. Tapi jauh dari orang tua iya.

Kalau mau flashback, dulu emang aku pengen banget merantau ya ke Surabaya dan awal mula merantau ya waktu kuliah. Padahal dulu ga jelas juga mau kuliah apaan, pokoknya di Surabaya. Banyak sekali tes ujian masuk universitas yang aku ikuti, habisnya cita-citaku juga ga jelas, jadi random aja milihnya.

Hehehe, ga random juga sih. Ada satu jurusan yang aku pengen, cuma ga yang 'harus itu!' sekedar pengen, tapi tetep cari alternatif jurusan lain kalo-kalo ga kesampaian. Alternatif lainnya itu yang random. Dan bener aja ga kesampaian dan yang dapet malah alternatif-lain-yang-random itu. Pertimbangan aku milih alternatif-alternatif jurusan, selalu bidang yang lumayan aku suka atau yang memungkinkan bisa masuk profesi apa aja atau ortu yang pilihin. Hehehe..

Nah, sejak kuliah di Surabaya ini pula aku mulai sadar begitu besaaaaarnyaaaaa peran orang tua di kehidupan kita. Ajaibnya, alternatif-lain-yang-random dan aku ketrima pun adalah pilihan ortu yang digerakkan oleh Tangan Tuhan nunjuk jurusan ini harus kumasukkan dalam pilihan. Jadi, legowo aja menerima aku keterimanya di jurusan ini, mungkin emang Tuhan yang mengarahkan, insyAllah.

Dulu perjalanan pencarian universitas, hampir setiap sabtu bapak saya mengantar ke Surabaya. Kadang beliau sopiri sendiri, kadang bawa sopir. Terus minggunya pulang lagi. Tak terhitung berapa formulir pendaftaran yang beliau belikan. Oke, ini agak lebay, bisa dihitung tapi aku udah lupa ada berapa. Yang jelas, terasa sekali pengorbanan beliau untukku, putrinya yang selama ini sering melawan, sering bohong, sering nakal, hehehe. Sampai sekarang pun kalo ingat-ingat itu, aku masih terharu banget. Ini udah hampir 5 tahun yang lalu lohh..

Di Surabaya pula aku mendapat banyaaak sekali pelajaran hidup. Belajar menjadi lebih dewasa, menerima apapun yang terjadi pada kita dengan lapang dada *tsah. Tapi tapii, aku ngerasa bersyukuuuur banget keterimanya di jurusanku sekarang.

Jadi, aku kuliah di jurusan ekonomi syariah. Dulunya sih mikir yah, jangan-jangan temen-temen kuliahku ntar pada pake jilbab besar-besaaar, pada pinter bahasa Arab, pada ngerti banget agama.. Secara dulu aku ga terlalu ngerti agama, sekarang pun bisa dibilang masih pas-pas an juga pengetahuan agamaku. Intinya, dulu sempet takut n parno ga cocok sama temen kuliahnya. Tapi alhamdulillah, aku ketemu sama temen yang baik-baik. Dan ternyata jurusanku ga gitu-gitu amat, yaa biasa aja seperti mahasiswa pada umumnya, walaupun menurutku mereka cukup jago-jago gitu pemahaman agamanya.

Yang bikin aku bersyukur, aku kuliah di sini ga cuma dapet ilmu teori ekonomi, tapi juga banyaaaak banget pengetahuan Islam yang baru. Selain dari kuliah yang sering nyerempet-nyerempet ke-Islam-an, juga dari dengerin obrolan temen-temen. Alhamdulillah deh, semoga barakah yaa ilmunya dunia-akhirat. Emang sih, mungkin masih banyak kekuranganku dalam aplikasi pengetahuan Islam itu, masih banyak juga yang belum aku tau. Tapii kita ga berhenti belajar kan ya??

Surabaya. Walaupun hanya 5 tahun aku di sini, sangat sedikit porsinya dalam hidupku selama 22 tahun ini, tapi cukup menjadi saksi dalam banyaaak perubahan diriku. Entah ya perubahan apa aja, tapi aku cukup merasakan aku sekarang dengan aku 5 tahun yang lalu cukup berbeda. Seenggaknya perbedaan usia lah yaa *yaiyalah*.

Surabaya kota yang ngangeni sih. Rame, tapi ga rame banget kayak Jeketi ato kota-kota besaaar lainnya. Suasananya pun bersahabat denganku yang notabene ga terlalu suka dingin-dingin. Karakter orang di sini juga beda dan aku suka. Ga ribet gitu orang-orangnya, tapi masih peduli dengan orang lain juga. Ibarat kata, mereka care tapi ga lebay. Mereka peduli orang lain, ga suka ikut campur urusan orang lain. Menurutku lohh yaaa.. Pokoknyaa, Surabaya selalu di hati deh.

Tulisan ini mungkin random banget yah, tiba-tiba aja nulis beginian, kayak mau ninggal kemana aja. Hanya sharing aja sih, aku gatau habis ini aku bakal tetep di sini atau merantau ke tempat lain atau malah back to hometown. Jadi paling gak, aku udah nulisin pesan dan kesan buat Kota Pahlawan iniii^^

Makasih buat yang berkenan mampir dan mau membuang waktunya baca tulisan ini sampe habis. God bless you guys...
xoxo

Surat dari Masa Lalu – September 2007


PROLOG:
Sebelum membaca, perlu saya beritahu dulu, di bawah ini bukan hasil tulisan saya, tapi cukup menginspirasi saya selama ini dalam 'mengarahkan' pikiran saya. Mungkin juga bisa berguna bagi Anda, para pembaca. Tulisan ini sudah saya edit di sana-sini supaya bisa menjadi konsumsi umum. 


Beberapa tahun lalu, saat usiaku 17 tahun, aku pernah berdoa,
                “Kini aku memohon pada-Mu Tuhan, tolong aku supaya menjadi dewasa, bukan lagi bersenang-senang, melainkan mempertimbangkan masa depan. Belajar menjadi dewasa ternyata susah, harus bisa mengalah, tidak berat sebelah. Bukan ‘lari dari..’ melainkan belajar memecahkan masalah dan mau meminta maaf jika bersalah. Menjadi dewasa berarti jujur terhadap dunia, tidak berpura-pura, menyimak yang baik, mengabaikan yang tidak baik, dan memperbaiki yang buruk. Aku harus belajar melihat dua puluh tahun ke depan, apakah aku akna menjadi orang yang bertanggung jawab, mau berkorban, dan penuh pengabdian? Apakah aku mawas diri? Apakah kualitas kepribadian ada pada diri sendiri, mampu memberi, mau melayani? Bukannya meminta.. Tolonglah aku mempercayakan diri dan berpasrah bahwa Tuhan besertaku bertumbuh ke masa cerah. Dampingilah aku aku bertumbuh ke kedewasaan, matangkan diriku untuk berperilaku. Tolonglah aku saat membuat pilihan dan tolonglah aku berkembang agar aku pantas menjadi pilihan. Aku percaya seseorang telah Kau siapkan, Kau matangkan dan Kau dewasakan. Sebab itu, pada-Mu kupercayakan diri. Engkau punya maksud indah, sehingga hidup bukan kuhadapi seorang diri, melainkan bersama Engkau, Tuhan, teman hidup sejati.”

Dalam perjalanan hidup ini, seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai saja. Sungguh semua itu menghadirkan nelangsa di dalam jiwa manusia. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu.

Manusia diciptakan memiliki kehendak tetapi tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tidak perlu kita tangisi. Rejeki, jodoh, dan kematian, memang menjadi bagian dari diri kita selama hidup di dunia dan pasti akan Tuhan sampaikan. Tapi apa yang memang bukan milik kita, tidak akan bisa kita memilikinya, meski ia di dekat kita, menghampiri kita, meski kita mati-matian mengejarnya.

Terkadang, kita tidak sadar sedang mendikte Tuhan, bukannya meminta yang terbaik. ‘Pokoknya harus itu, Tuhan, harus dia.. Karena aku sangat mendambakan itu semua, blablabla...’ Seakan-akan kita lebih berkuasa dari-Nya, seakan kita yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya, kalaupun Tuhan memberikannya, maka tidak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Tuhan tidak mengulurkannya dengan kelembutan, melainkan melemparkan dengan marah karena niat kita terkotori. Setelah ini, harus benar-benar dipikirkan, karena seorang yang baik tidak hidup untuk dunia, namun menjadikan dunia untuk hidup yang sesungguhnya. Maka janganlah kita tangisi apa yang bukan milik kita.

Aku tuliskan kembali itu semua, sebagian pelajaran dan nasehat tentang perjalanan hidupku. Aku pernah nyaris melupakannya. Aku mencintai terlalu sangat hingga aku tidak menyadari, aku sungguh terbang terlalu tinggi karena itu jatuhnya pun sangat sakit. Aku juga terlalu cepat membuat piringnya penuh hingga aku terjatuh dari pinggirnya. Aku sempat berhenti meski sejenak, lalu aku berjalan lagi. Aku berjalan dengan luka yang masih melekat di tubuhku dan aku tidak punya pintu lagi untuk dibukakan.

Ada lima peraturan sederhana untuk hidup bahagia:
1.  Bebaskan dirimu dari kebencian
2.  Bebaskan pikiranmu dari kesusahan
3. Jangan hidup berlebihan
4.  Berilah lebih
5. Kurangilah harapan

Tiada seorang pun bisa kembali dari awal  dan memulainya lagi dengan memutar kembali waktu. Setiap orang bisa mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru. Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, panas tanpa hujan. Tuhan menjanjikan kekuatan untuk hari ini, air mata untuk kebahagiaan dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai ‘polisi tidur’, akan memperlambatmu sesaat tetapi selanjutnya kau akan menikmati jalan rata. Karenanya, janganlah berhenti terlalu lama, berjalanlah terus! Ketika kau kecewa tidak mendapatkan apa yang kau kehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang menyiapkan yang lebih baik untuk dirimu.

Saat sesuatu terjadi padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya. Suatu kejadian dalam kehidupan, mengajarimu bagaimana lebih sering tertawa dan menangis tidak terlalu keras.

-Anonim-

Teringat Lagi Euforia KKN Waktu Itu

Hmm, sebentar lagi beberapa teman saya akan menjalani KKN, tepatnya liburan semester besok. Saya melihat, mereka begitu bersemangat, excited, khawatir, cemas, dan lain sebagainya. Kemudian saya teringat, dulu saya juga seperti itu.

Tepatnya, beberapa hari yang lalu saya diwawancara oleh (beberapa) teman saya tentang pengalaman KKN dulu. Dan ya, dulu saya khawatir setengah mati dan takut ini-itu, apalagi tempat KKN saya waktu itu, Desa Asem Nonggal Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang Madura, teramat sangat desa dibandingkan tempat KKN teman-teman terdekat saya yang lain.Segera saya menyiapkan membawa ini-itu yang bahkan ternyata sesampai di sana keluar dari koper saja tidak. hehe..

Sedikit introspeksi, dulu sepertinya saya membawa terlalu banyak barang yang ternyata tidak dibutuhkan. Saya membawa terlalu banyak celana panjang dan baju rapi (seperti kemeja dll) karena ternyata kegiatan di luar sedikit, banyak di rumahnya. Dan saya membawa terlalu banyak makanan. Bekal makanan saya waktu itu ternyata hampir satu tas sendiri, itu masih ada yang saya selipkan di koper baju padahal. Tapi alhamdulillah, bisa dibuat camilan rame-rame sama teman-teman.

Satu lagi yang saya bawa terlalu banyak, yaitu kekhawatiran. Itu memang sifat dasar saya sih, yang parno duluan. Tapi pada intinya, semua akan menyenangkan kalo dijalani dengan menyenangkan. Nggak usah bawa barang banyak-banyak sepertinya nggak masalah, pokoknya bawa barang yang paling urgent. Plus, nggak usah aneh-aneh pas di sana, deket sama semua teman sekelompok, pasti semua akan asik..

Semangat yaa teman-temaann :D

KKN-BBM 45 Unair Kab. Sampang Kec. Jrengik Desa Asem Nonggal - Chapter 4 : Laskar Pelangi Versi Madura

Ternyata, tidak usah jauh-jauh ke Belitong, kita bisa melihat SD seperti dalam film Laskar Pelangi. Di tempat saya KKN ada sebuah SD yang kondisinya sangat memprihatinkan. SD ini pernah saya bahas sebelumnya dalam posting saya sebelumnya, yaitu SD Asem Nonggal 3.

Pada awal masa KKN kami, kami mengira di Desa Asem Nonggal hanya terdapat dua sekolah dasar negeri saja, yaitu SD Asem Nonggal 1 dan SD Asem Nonggal 2. Namun ketika kami akan mengadakan suatu program kerja di SD Asem Nonggal 2, pak kepala sekolah bertanya kepada penanggung jawab proker hari itu, apa kami tidak mau mengadakan acara di Asem Nonggal 3 juga? Kalau tidak salah begitu cerita awal mula datangnya informasi mengenai keberadaan SD Asem Nonggal 3. Maaf kalau salah, karena penanggung jawab acara yang dimaksud bukan saya, alias saya menceritakan kembali cerita yang pernah saya dengar sesuai memori otak saya. #halah

Nih, foto SD Asem Nonggal 3:










Melihat foto-foto itu, yang paling membuat saya terharu adalah tulisan di papan tulis. Walaupun katanya guru di sana hanya datang seminggu dua kali jika cuaca mendukung [dan tidak datang sama sekali jika cuaca buruk], tulisan yang membanggakan guru masih tertulis di papan tulis. Hmmm, saya tidak tahu keterharuan saya ini sedikit bernada sarkastik atau tidak, yang jelas tulisan di papan tulis itu eye catching sekali. Hehehe..

Oya, katanya sih SD Asem Nonggal 3 ini sudah tidak lagi menerima siswa baru kira-kira 2 tahun ini, jadi siswa termuda duduk di kelas 3. Dan katanya, jika sudah lulus semua, SD Asem Nonggal 3 ini akan ditutup. Jadi, tentang bagaimana nasib pendidikan anak-anak di sana [di Dang Mati] yang menurut saya tidak mungkin bagi mereka untuk pergi ke SD lainnya, seperti SD Asem Nonggal 1 atau 2. Hal ini karena letak Dang Mati sendiri sangat sulit dijangkau dan jauh dari 'peradaban' Desa Asem Nonggal. Ketika kami sekelompok mengadakan program kerja di sana, kami sempat mengambil beberpa foto di beberapa spot yang mungkin bisa menjelaskan bagaimana 'terasing'nya daerah Dang Mati itu.











Bisa membayangkan bagaimana kasihannya anak-anak kecil itu jika sekolah mereka terpaksa ditutup hanya karena faktor kurang murid, biaya, dan alasan konyol lainnya? Bukankah pendidikan adalah hak semua manusia?

Saya sendiri merasa saya tidak punya apa-apa selain doa yang bisa saya berikan untuk adik-adik di sana, yang mungkin bisa membantu mereka. Saya hanya bisa mengambil hikmah dari fenomena. Selama kita semua mendapat kemudahan mencari ilmu, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Toh akses kita ke informasi sangat mudah. Toh fasilitas yang kita butuhkan sudah ada semua. Tapi mengapa terkadang kita masih malas dan tidak memanfaatkan semua kemudahan itu? Hmmm, saya rasa jawabannya ada di diri kita sendiri.

KKN-BBM 45 Kab.Sampang Kec.Jrengik Desa Asem Nonggal - Chapter 3 : Niat baik yang Tertunda

Sepertinya setelah ini akan ada banyak postingan dilengkapi foto yang menunjang tentang kisah KKN saya karena akhirnya saya sudag dapat softcopy foto-foto yang ternyata banyaknya bukan main. Baru saja saya buka-buka folder foto dengan tujuan awal mencari foto yang bisa membangunkan sisi melankolis, tapi ternyata foto yang membuat saya teringat kejadian konyol justru membatalkan niat saya untuk posting foto-foto mellow.

Mungkin bagi beberapa pembaca kejadian tidak ada lucu-lucunya tapi entah mengapa begitu saya lihat bukti kebodohan kami berupa foto kok ya saya jadi tertawa sendiri mengingatnya. Jadi, sebelumnya saya minta maaf kalau ternyata hal yang saya pikir lucu ini ternyata garing bagi Anda.

Ceritanya begini, pada hari kesekian setelah kedatangan kami di Desa Asem Nonggal, ada pengajian pertama yang menurut kami sebaiknya kami hadiri. Hitung-hitung sebagai ajang kenalan, mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar, dan lain sebagainya. Intinya, niat kami saat itu sangat baik, antara ikut pengajian yang artinya mengaji dan berdoa juga bersilaturahmi. 

Jadilah, setelah maghrib kami bersiap-siap untuk berangkat ke lokasi pengajian. Seperti biasa, para wanita selalu berdandan dulu kalau mau kemana-kemana. Kalau teman yang cowok, sih, cuma bingung cari sarung. Sebenarnya waktu berdandan kami tidak lama, cuma berganti baju yang sekiranya pantas untuk menghadiri pengajian, pakai jilbab, selesai. Tapi, begitu kami selesai bersiap, kami foto-foto dulu. Maklum, sudah lama kami tidak berpakaian rapi karena hari-hari sebelumnya hanya mendekam di rumah [seingat saya waktu itu belum ada program kerja yang jalan]. 

Setelah sesi foto-foto, kami keluar rumah, bergabung dengan teman cowok yang juga akan menghadiri pengajian. Saya ingat saat itu Pak Kepala Desa juga ikut menunggu kami bersiap-siap. Lalu, cucu Pak Kepala Desa datang naik sepeda ontel. Pak Kepala Desa bertanya ke cucunya, apa pengajiannya sudah mulai? Lalu si cucu menjawab, "Mareh lah.." Artinya: Sudah selesai. Kami yang sudah siap mau berangkat, langsung terdiam. Krik.. krik.. krik...

Nih, saksi bisunya:







Setelah gagal ikut pengajian itu, seingat saya pengajian berikutnya kami tidak lagi ribut mau ikut. Tapi saya sempat sukses ikut muslimatan di dusun sebelah pada satu malam, walaupun saat itu ikut pengajian memang 'ada udang di balik batu'. Mungkin kesuksesan ikut pengajian ba'da maghrib di sana adalah tidak foto-foto dulu sebelum berangkat. #guyonankeringkerontang

KKN BBM 45 Kabupaten Sampang Kecamatan Jrengik Desa Asem Nonggal - Chapter 2: Anak-anak Hebat


Lagi, tentang KKN BBM 45 UNAIR yang sangat berkesan bagi saya.

Lokasi KKN kami, seperti di post saya sebelumnya, bertempat di Pulau Madura, tepatnya Kabupaten Sampang Kecamatan Jrengik Desa Asem Nonggal. Secara geografis, desa tersebut terletak di perbatasan antara Bangkalan dan Sampang. Artinya, Desa Asem Nonggal relatif lebih dekat dengan Surabaya dibanding desa-desa lainnya di Kecamatan Jrengik. Dari situ, jika dibayangkan seharusnya desa ini lebih maju daripada desa lainnya. Kan, lebih dekat.

Untuk mencapai desa Asem Nonggal, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam setelah lepas dari Jembatan Suramadu. Dengan jalan yang berkelok-kelok dan gelap gulita ketika malam hari dan macet parah pada siang hari (karena melewati beberapa pasar yang bahkan sapi bisa bebas di tengah jalan), perjalanan menuju Asem Nonggal cukup bisa dinikmati dengan iringan lagu-lagu dangdut maupun pop dan berjoget ria dengan gaya pegang ulekan (itu loh, alat buat ngulek #gataubahasaindonesianyaapa).

Setelah beberapa lama, kita akan menemukan sebuah jalan yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil di kanan jalan. Jalannya bagus, beraspal mulus sekali dengan diapit oleh hamparan sawah hijau di kanan-kiri sejauh mata memandang. Itulah jalan menuju Desa Asem nonggal, melewati Desa Margantoko. Waktu survey awal, saya pikir desa itu sudah bagus kalau jalannya aspal begini. Dan ternyata, jalan aspal mulus itu putus setelah ada semacam gapura dari bambu yang menandakan perbatasan antara Desa Margantoko dan Desa Asem Nonggal. Jalanan tanpa aspal itu berbatu dan berlumpur (jika hujan) walaupun pemandangan sawah yang spektakuler masih tetap mengiringi perjalanan. Jarak antara jalan besar ke Desa Asem Nonggal itu cukup jauh. Saya tidak ahli dalam mengestimasi jarak, tapi saya perkirakan sekitar 1-2 km (lebih atau kurang ya?).

jalan mulus beraspal, tapi terputus begitu masuk Desa Asem Nonggal




Si model fotogenik :p


Di Desa Asem Nonggal terdapat tiga sekolah dasar. Dari beberapa kegiatan yang kami lakukan di SD di sana, setiap SD memiliki siswa yang jumlahnya tidak sampai angka 40. Bahkan, di SD Asem Nonggal 2, kelas hanya ada 2 yang setiap kelas diisi oleh 3 angkatan. SD Asem Nonggal 3 lebih parah lagi, bangunannya ambruk sejak tahun 1987 (katanya), jadi siswa yang jumlahnya tidak sampai 20 belajar bersama di teras semi outdoor dengan papan tulis yang sudah bocel sana-sini.

SD Asem Nonggal 3



Tenaga guru di sana juga sangat minimal. Di SD Asem Nonggal 3, guru hanya datang seminggu dua kali, itupun jika cuaca sedang bagus. Kalau hujan, bisa dipastikan tidak ada guru yang datang karena akses jalan ke SD Asem Nonggal 3 sangat sulit. Jaraknya jauh dari pusat desa (baca: rumah pak klebun) dan melewati banyak sawah dan banyak tambak dengan jalan yang offroad. Nih, foto perjalanan ke SD Asem Nonggal 3..













Yang saya kagumi, di tengah semua keterbatasan itu, anak-anak di sana sangat antusias menerima materi. Hal itu paling saya rasakan ketika kami mengadakan penyuluhan di SD Asem Nonggal 3, SD yang paling melas diantara tiga SD yang ada. Ketika penyampaian materi, mereka lebih perhatian dan terlihat antusias menerima materi, seakan mereka haus akan pengetahuan dan tidak peduli siapapun yang menyampaikan.

Jika mengingat semua ini, saya merasa malu sekali. Bagaimana bisa mereka yang penuh keterbatasan bersemangat sekali sekolah, sedangkan saya yang sudah ada fasilitas dan tinggal memanfaatkannya suka bermalas-malasan, bahkan fasilitas yang ada tergeletak begitu saja. Hmm, saya kalah jauh dengan anak-anak kecil itu.

Oh ya, kabarnya SD Asem Nonggal 3 akan ditutup setelah siswa-siswanya lulus SD semua. Bahkan sekarang SD Asem Nonggal 3 sudah tidak menerima murid lagi. Hmmm, bagaimana nasib masa depan anak-anak kecil di sana, hanya Tuhan yang tahu.

Ini saya lampirkan beberapa foto lagi. Maaf tidak terlalu banyak foto karena saya belum dapat kumpulan foto lengkap dari kamera teman-teman. Yang saya tampilkan di sini hanya foto hasil jepretan ponsel saya, hehe..
SD Asem Nonggal 2

pemandangan dari pintu kelas SD Asem Nonggal 2. Mewah kan... :)

para anak-anak hebat :')

yang baju kuning itu, calon bunga desa yang selalu jadi sasaran foto  teman-teman.

Siswa Asem Nonggal 1, dari kelas 1 sampai kelas 6, berjumlah 35 orang! Amazing...


KKN BBM 45 UNAIR - Asem Nonggal, Jrengik, Kabupaten Sampang -- Chapter 1: Pengenalan Tokoh


Ahh~
Akhirnya bisa ngeblog juga setelah sekian lama saya mendekam dalam kesenangan di pulau seberang. FYI, saya baru pulang KKN alias Kuliah Kerja Nyata di Pulau Madura, lengkapnya di Kabupaten Sampang, Kecamatan Jrengik, Desa Asem Nonggal. Sebenarnya kepulangan dari Madura sudah beberapa hari yang lalu, tapi saya lalu terbawa ke kota tercinta saya selama beberapa hari dan kebetulan jaringan internet di sana sedang mati.

KKN, menurut saya hampir sama dengan rekreasi edukasi, dimana kegiatan di dalamnya amat sangat menyenangkan. Sekali lagi, ini pendapat saya pribadi yang mungkin berbeda dengan pendapat orang lain. Saya menemukan keluarga baru yang semuanya baik dan menyenangkan. Saya sangat bersyukur ditempatkan di tengah-tengah mereka, yang semuanya meninggalkan kesan dan pelajaran tersendiri untuk saya.

Mungkin akan lebih baik jika saya perkenalkan teman-teman KKN saya dan bagaimana mereka memberi kesan mendalam kepada saya selama 24 hari masa KKN kami:

Ade Dzikri aka Ablee
Ketua kelompok KKN saya, atau bisa juga disebut Koordinator Desa (Kordes) Asem Nonggal. Berdasarkan ceritanya tentang asal-usul nama panggilannya, Ablee berasal dari kata ‘able’ yang artinya ‘bisa’ yang selanjutnya bisa diartikan bahwa dia serba bisa. Namun saya kurang yakin sejarah itu benar atau tidak karena ekspresi Bapak Kordes ketika serius, bercanda, dan berbohong tidah jauh berbeda. Namun sejauh pengamatan saya, Ablee yang tampak sangar seperti preman akan menciut nyalinya jika dihadapkan dengan makhluk mistis dari negeri antah-berantah. Ablee juga suka kabur ketika anggota rumah sedang sibuk masak atau bersih-bersih rumah akibat penemuannya tentang teori attitude.

Rendy
Dulunya diangkat sebagai wakil ketua, tapi seiring berjalannya waktu jabatan wakil ketua menjadi jabatan yang tidak fix dan tidak dibahas. Selama 20 hari plus pra pemberangkatan KKN, Rendy adalah laki-laki pendiam [menurut saya, lho] tapi belakangan tampaknya dia sudah mencapai aktualisasi dirinya setelah menjadi PJ acara penutupan KKN Desa Asem Nonggal. Terbukti dia jadi suka mengucapkan kata ‘Helloo helloo’ dengan sedikit ‘melambai’ dan mulai suka ikut nimbrung bergosip dengan ibu-ibu PKK.

Dikky
Dipanggil Ndewo ato Dikky saja, biasanya menjabat sebagai sopir tetap Desa Asem Nonggal – no offense. Dikky memiliki keahlian bersih-bersih rumah yang super sekali dan sangat suka mengucapkan kata ‘ndewo’ dan ‘kenthir’ yang saya tidak bisa menemukan artinya dalam kamus besar bahasa Indonesia. Dikky, berkolaborasi dengan Mbak Pipin [akan dibahas nanti] adalah duo maut urusan kerumahtanggaan di rumah tinggal kelompok KKN.

Adam
Terkenal sebagai pejabat Dinas Perikanan Kabupaten Sampang yang berlokasi di taman tak berpenghuni. Daya imajinasinya sangat kuat, bahkan J.K Rowling saja tidak ada apa-apanya dibandingkan Adam. Dia menyembunyikan tombol pijat otomatis, sehingga siapapun yang meletakkan kaki atau kepala di depannya selalu menjadi pasien pijat urat. Mungkin dengan ilmu akuntansinya, di masa depan dia akan membuka Panti Pitrat No.1 di Asem Nonggal *Just kidding

Musa
Seorang laki-laki sok imut dan sok ganteng yang mengaku pernah ganteng ketika rambutnya gondrong. Sempat menjadi topik rasan-rasan teman sekelompok akibat sifat pendiam yang menghanyutkan di awal pertemuan kelompok KKN. Suka mengatakan kalimat ‘Sek,pikir-pikir dulu’, ‘gak ada ide’, ‘biasa, orang ganteng’, dan ‘aku trauma’. Belakangan, dia bersahabat sekali dengan suara kodok yang berdasarkan penemuannya bisa menjadi terapi pipis yang mujarab.

Rizal
Laki-laki yang sangat suka makan, sejalan dengan badannya yang amat sangat besar. Apapun makanan yang tersisa, bisa masuk ke perutnya. Ahli mengucapkan kata AWT (baca: E double yu ti) yang ternyata singkatan dari Automatically Without Thinking alias asbun (asal bunyi). Rizal suka berfoto dengan gaya sok cool dengan wajahnya yang longor – no offense again

Pipin
Pasangan maut Dikky dalam bidang kerumahtanggaan yang membawahi divisi perdapuran. Ahli memasak segala macam makanan, juga menjadi ketua ibu-ibu PKK yang ahli moderator ‘lapak’ atau urusan gosip-menggosip. Suka mengatakan ‘ayo, dibuka lapak-e’ dan ‘bodho!’. Pipin juga memiliki banyak pengalaman yang so sweet dan so pahit di dunia percintaan yang terkadang menjadi objek renungan bersama ibu-ibu PKK. Belakangan sangat suka mendengarkan dan menyanyikan lagu Judika yang judulnya saya lupa semua.

Inneke
Seorang wanita lemah yang rentan sakit dan suka berbicara dengan kalimat penuh sindiran. Salah satu anggota PKK, yang sejalan dengan Pipin, Inneke juga pernah merasakan pahitnya percintaan yang sama dengan Pipin. Inneke yang tidak bisa memasak, selalu menjadi objek ledekan karena membeli Saori Saus Tiram 3 botol akibat ketidakakuratan perintah membeli oleh juru masak.

Sandra
Anggota PKK ketiga yang so judes dan ternyata merupakan kakak angkatan penulis yang dulu tidak disadari keberadaannya. Sandra memiliki kebiasaan tidur yang aneh, yaitu mendominasi kasur dengan pantatnya, entah bagaimana caranya. Sandra ahli menirukan kebiasaan orang lain dengan akurat dan merupakan partner tetap urusan masak-memasak saudari Pipin.

Ersti
Ibu negara, yang juga merupakan anggota tiga serangkai urusan perdapuran. Ersti selalu tidur paling awal dan selama KKN, saudari Ersti-lah yang paling membaur dengan warga setempat dengan style berpakaiannya yang madura banget sekaligus logat berbicara yang sedikit aneh.

Yuyun
Sempat menjadi incaran pak klebun tapi syukurlah tidak terjadi apa-apa selama masa KKN. Yuyun suka main UNO duel dengan Musa dan selalu menangan. Merupakan PJ Kesehatan yang rajin keliling desa bersama bu bidan. Awalnya Yuyun tidak suka bergosip, tapi belakangan menjadi anggota ibu-ibu PKK yang suka rasan-rasan ini-itu.

Maya
Sekretaris kelompok sekaligus memegang jabatan tukang foto karena salah sendiri dia bawa kamera. Memiliki pengalaman di dunia percintaan yang tidak kalah seru dibandingkan Inneke dan Pipin. Di awal masa KKN, Maya menjadi ‘tempat sampah’ curhatan kegalauan anggota rumah Asem Nonggal akibat sepak terjangnya di fakultas psikologi dan akhirnya hampir semua manusia galau itu terobsesi untuk menggambar pohon.

Husna
Wanita dari fakultas psikologi yang ahli dalam ilmu perkembangan manusia. Dia sanggup berbicara secara sistematis dan ‘mak jleb’ tentang kesehatan sebuah hubungan percintaan. Dalam sifat tenang dan pendiamnya [yang tidak terlalu pendiam sebenarnya], Husna menyimpan misteri tersendiri yang baru akan terungkap jika disodori sebuah pertanyaan.

Mita
Pada awal KKN ketahuan bahwa dia pernah menjadi kakak kelas masa SMP penulis dan sekarang berkuliah di jurusan matematika. Semua anggota kelompok KKN patutnya berterima kasih kepada Mita karena dialah satu-satunya orang dalam kelompok yang membawa kasur beneran. Sempat menjadi bahan tertawaan ketika pemberangkatan dengan bus akibat kasur serius yang dibawanya, namun seiring berjalannya waktu, dengan tidak tahu malu kasur itu digunakan beramai-ramai sampai Mita sendiri baru merasakan keempukan kasurnya di akhir masa KKN.

Dini
Seorang wanita pendiam yang merupakan calon dokter gigi. Entah mengapa Dini selalu tertawa sampai menangis jika melihat wajah Ablee. Sampai sekarang sebab musabab tertawa seorang Dini masih menjadi misteri. Dia suka menjadi bank waktu main monopoli dan juga suka main UNO.

Nisa
Seorang wanita yang sama pendiamnya, bersahabat dengan cucu pak klebun dan sering menghabiskan waktu dengan membaca buku, mengaji dan hal-hal bermanfaat lainnya di dalam kamar. Selain itu, dia suka bersepeda ke tambak bersama Dini juga nongkrong di gerombolan atlit UNO. Nisa tidak suka makan mi instan, dan maksimal dia makan mi instan sekali dalam seminggu. Sungguh hebat!

Hana aka Cici
Seorang wanita yang sering diece ‘Arek cilik melu-melu!’ atau ‘Arek cilik iki njaluk diguwak nang tambak’ oleh saudari Pipin. Penyebabnya adalah terlalu seringnya Cici berkumpul dengan ibu-ibu PKK yang notabene lebih tua darinya. Cici adalah pengantuk yang hobinya tidur di sebelah hutan belantara dan biasanya kebagian tugas memungut sampah lalu mengkresekinya dan setelah penuh mengganti dengan kresek yang baru. Selebihnya penulis speechless untuk berkomentar tentang Cici akibat terlalu standarnya kebiasaan Cici selama KKN. Paling tidur,bangun,mandi,tidur lagi,makan,dengerin ibu-ibu PKK rumpi,tidur lagi,dst.

Itulah 17 anggota KKN BBM 45 yang berlokasi di Desa Asem Nonggal Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang. Dengan segala tingkah laku dan keunikan masing-masing, ketujuhbelas manusia tersebut hidup dalam damai dan kebahagiaan selama 24 hari. Saya pribadi merasa sangat bersyukur bertemu dengan mereka semua dan senang sekali. Dari mereka banyak sekali pelajaran yang saya ambil, yang bahkan tidak mungkin saya tulis di sini saking banyaknya.

Mungkin untuk kali ini, ini dulu yang saya tulis, karena akan sangat banyak jika semua ditulis.
Best Regards

Hati yang Kuat

Saat diri ini mantap Dengan hati yang kuat Untuk meninggalkan aku yang dulu Lekas pegang erat keinginan itu Ingat, niat baik sanga...